Menikahi Ustadz Idolaku

Menikahi Ustadz Idolaku
MUI : kecewanya Dian


__ADS_3

Sudah sekitar 3 jam ustadz Alfi berbincang dengan sahabatnya. Minum teh hangat bersama di cafe seperti seorang bujang wkwk. Alasan kenapa memilih meminum teh daripada kopi karena mereka tipe laki laki yang tidak suka kopi , malah memilih teh pahit atau teh manis.


"samawa Al. Ciee udah gak ngebujang lagi anta. Cepet cepet beri ana keponakan."ucap ustadz Fauzi.


"iya aamiin. anta juga cepat cepat punya istri biar gak kesepian"ledek ustadz Alfi.


"hmm, itu mah masih jauh didepan mata Al. Oiya istri anta masya allah cantiknya. Kl semisal anta buang, boleh deh ana pungut haha"canda ustadz Fauzi yang membuat jitakan mendarat di keningnya.


Pletak


Awws


"enak saja anta bilang seperti itu Zi, memang istri ana barang"kesal ustadz Alfi yang gak tau orang kalau soal cemburu.


"hehe maaf. Ana bercanda."sesal ustadz Fauzi yang membuat ustadz Alfi beristigfar saja. Sungguh temannya ini tidak berubah walaupun menjadi dosen juga.


"sepertinya sudah siang Al, ana mau kerumah umi sama abi di karawang. Anta juga dirumah pasti sudah ditunggu sama istri. Lebih baik kita akhiri sampai sini saja. Insya allah lain waktu bisa bertemu kembali."ucap ustadz Fauzi yang kemudian langsung meneguk habis tehnya dan tak lupa membawa pesanan kentang untuk di perjalanan nanti.


"yasudah kl begitu sampaikan salamku pada kedua orangtua anta"ucap ustadz Alfi. Lalu sahabatnya pergi pamit dan ia menghabiskan minumannya serta bergegas kembali.


Namun...


"kak afi"panggil seorang wanita yang tiba tiba duduk di depannya tanpa dipersilahkan. Tampilannya juga membuat ustadz Alfi merasa tak nyaman.


"astagfirullah, mau apa kamu kania?"ucap ustadz Alfi malas dan tidak mau memandang lawan bicaranya.


"tentu saja aku mau menemuimu. Boleh kah aku bicara denganmu kak? Hanya sebentar."pinta kania. Ustadz Alfi pun ingin rasanya meninggalkan tempat itu tapi untuk kali ini ia memberikan kesempatan dan peringatan terakhir juga.


"baiklah, cepat sedikit. Istriku menunggu suaminya pulang"tekan ustadz Alfi yang membuat mimik wajah kania berubah. Namun kembali seperti biasanya.


"kak afi gak ada rencana buat poligami ?"tanya kania tanpa ragu


"tidak ada"singkat ustadz Alfi.


"kak. Kalau tidak ada poligami, ceraikan saja dia, aku pengen disampingmu."ucap kania yang menambah rasa kesal laki laki pujaan hatinya.


"astagfirullah, saya tidak akan pernah menceraikannya"tegas ustadz Alfi yang kemudian berdiri hendak meninggalkan kania. Ia ingin cepat pulang segera.

__ADS_1


Kania pun mencoba mencegah dengan berdiri juga seraya menatap Ustadz Alfi sendu. Namun pandangannya menangkap dian yang baru datang dan mencari ustadz Alfi. Ia pun punya rencana. Dengan sengaja kania menjatuhkan dirinya dan membuat ustadz Alfi kaget dengan sontak menghadap kania. Seakan akan dibuat ia sedang memeluk kania padahal tidak.


Dian yang melihat itu mendadak membeku tepat di dekat mereka dan mulutnya seakan kaku untuk berbicara memanggil Ustadz Alfi. Bak di pukul bambu yang tebalnya gak kira kira, kakinya menjadi tak kuat menompang sampai hpnya pun terjatuh.


"ya Allah, kenapa mereka berdua saling memeluk seperti itu? Mas, kamu berbohong padaku? tega sekali"bathin Dian yang menatap sepasang orang itu dengan penuh rasa sesak di hati.


"dek"kaget ustadz Alfi sampai menghempaskan kania hingga terjatuh dan membuat kania terpekik sakit.


"mas, aku ganggu yah"lirih dian yang menatap sendu suaminya, wajahnya meredup dan berkaca kaca


"dek ini gak seperti yang kamu lihat"ucap ustadz Alfi


Dian hanya terdiam melihat ustadz Alfi yang mencoba menjelaskan semua namun hatinya tidak mau menerima ucapan itu. Sedangkan kania, yang tadi terjatuh duduk akibat dorongan ustadz Alfi pun akhirnya bangkit dan tersenyum kemenangan.


"iya kamu mengganggu kami"jawab kania yang membuat ustadz Alfi geram.


"apa apaan kamu kania. Jangan mengada ngada"geram Ustadz Alfi.


"dek, percayalah padaku. mas tidak mungkin berbuat seperti ini"ucap ustadz Alfi yang mencoba membantah semua yang dikatakan kania.


"sepertinya aku terlambat. Kalau begini jadinya yassalam deh. Bakal ada perang dunia ke tiga atau lainnya."bathin azzam yang datang terlambat mencegah semuanya terjadi. Karena ia berfirasat buruk tapi bagaimanapun tidak bisa mencegah suatu peristiwa dengan cara apapun.


"sedang mendiskusikan masa depan kami yang cerah dan kamu yang mendung seperti cuaca saat ini"senyum sinis kania dengan segala kepedean bahwa ia menang dan bertujuan membuat dian sakit hati lalu akan membuat mereka pisah. Begitulah yang ia pikirkan.


Akibat ucapan itu, dian sudah tak tahan lagi menampar kania. Tapi rasanya itu tidak baik, karena mereka sedang ada di tempat umum. Ia pun mengambil ponselnya lalu berlari menjauh dari sana dan bergegas mengendarai motornya.


Sebelum dian pergi, ustadz alfi melihat hal yang ia takutkan dan ia hindari. Buliran air mata dari istrinya seperti pisau yang tajam menancap di hatinya. Sungguh merasa menjadi seperti laki laki yang berengsek di luaran sana. Hatinya hancur tapi emosinya meningkat melihat kania.


"saya peringatkan untuk terakhir kalinya. Tidak pernah sekalipun untuk ada niatan menduakannya atau menceraikannya. Dan perlu di garis bawahi, saya sangat jijik dengan apa yang kamu lakukan. Jangan mengganggu rumah tangga saya. Ingat itu!"tegas ustadz Alfi yang berlari menyusul dian.


Azzam pun ikut serta dengan menyetir mobil dan melarang sahabatnya. Sebab dengan emosi yang lagi tidak stabil bisa saja ustadz Alfi mengalami kecelakaan. Sedangkan kania hanya bisa merasa terus ingin membalas semuanya tak terkecuali ustadz Alfi.


"ini baru permulaan untuk kalian. Selamat menikmatinya kak afi, kamu akan menyesal menikahinya"bathin kania yang sangat mengharapkan dian mengucapkan kata cerai yang sangat dibenci oleh ustadz Alfi dan tanpa sadar menjatuhkan talak.


(sok tempe kamu kania, yang buat kan aku kenapa kamu yang ngatur hehe)


Azzam menghentikan langkah Ustadz Alfi yang hendak memasuki mobilnya. Terlihat wajah Ustadz Alfi masih terselimutkan amarah tapi juga sedih seperti orang patah hati. Azzam menutup pintu mobil milik sahabatnya ini dengan tiba tiba

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan zam? aku ingin mengejarnya?"suara Ustadz Alfi naik satu oktaf.


"tenangkan dirimu dulu dan bersihkan hatimu yang berisi emosi."jawab Azzam menahan dengan sekuat tenaga.


"tapi aku ingin mengejarnya, pasti dek Dian sudah mengira aku sudah membohonginya dan bagaimana nanti jika ia sudah tak mau lagi percaya denganku"panik Ustadz Alfi yang menarik tangan azzam dari pintu tersebut.


"haish, ayolah kau ini lagi emosi. Kalian sama sama sedang emosional. Jika dipaksakan nanti malah beradu pendapat trus berantem. bagaimana kalau tanpa sengaja dari kalian berdua mengucapkan talak. Itu sangat berbahaya"terang Azzam.


Sedangkan Ustadz Alfi terdiam dan berhenti memegang pintu mobilnya. Ia pun menghela nafasnya dan menetralkan dirinya sendiri dengan berdzikir dalam hati serta memilih mengusap wajahnya di wastafel berkali kali.


πŸ¦‰πŸ¦‰πŸ¦‰πŸ¦‰


Sementara dengan dian, ia seperti mayat hidup yang mengendarai motor. Buliran bening itu terus saja mengalir tanpa ia suruh. Perdebatan antara hati dan logikanya terus berputar putar seperti lomba debat saja. Suasana mendung nan sepi mengiringinya menuju perjalanan pulang. Sampai butir butir air sudah tidak tertahankan lagi dari langit seperti buliran bening yang mengalir di pipi dian.


Tik...tik...tik...


Suara rintikan hujan begitu terdengar di telinganya. Jalanan sangat sepi bahkan seperti hanya dirinya yang melewatinya saja. Namun ternyata tidak hanya ia tapi ada 2 orang yang selalu mengawasi pergerakannya. Mereka dengan sengaja menyenggol stang motor itu, sampai sang pengendara tidak menjaga keseimbangannya.


Brukk


"aww"pekik dian yang memecah keheningan jalan tersebut.


Beruntung tidak menyebabkan ia harus dirawat di RS. Tapi hanya luka ditangannya yang menahan agar tidak membuat kepalanya terbentur tiang rambu dilarang parkir. Darahnya menetes hingga begitu menodai aspal tersebut.


"ya allah sakit sekali"


"aku harus cepat cepat sampai rumah, jika tidak luka ini akan infeksi"


Ucapnya dalam hati lalu menaburi darahnya dengan pasir agar tidak ada yang tahu ketika melintas disitu terjadi kecelakaan kecil termasuk jika suaminya lewat nanti. Dengan segara ia pun melanjutkan perjalanannya.


"siapa yang ingin mencelakaiku? Padahal aku tidak pernah sekalipun berniat mencelakai orang lain. Hmm,apes"gumam dian tersenyum miris. Ia masih menerka nerka pemilik dari mobil tersebut yang tidak bertanggung jawab sama sekali dan memilih untuk meninggalkannya seorang diri.


bersambung...


🐒🐒🐒🐒🐒🐒🐒🐒🐒🐒


Hallo semuanya, Salam sehat >_<

__ADS_1


Alhamdulillah episodenya sudah terupdate dan selamat membaca... Bila ada typo yang buat gak nyaman bacanya, mohon dimaafkan yaa


Stay Tune dan Nantikan Notif Updatenya, Terimakasih 🌷


__ADS_2