
"si siapa yg maluu.. Oiya keadaan umi bagaimana? Sehat kan bii"ucap Hafsa yg mengalihkan pembicaraan.
"oh…umi alhamdulillah sehat"ucap Ustadz Alfi yg segera meletakkan kotak kue milik hafsa ke dalam kulkas lalu melanjutkan mencuci kotak kue miliknya.
"oh gitu yaa bi."senang hafsa. Ia menunggu abinya sampai selesai mencuci kotak kue itu sambil memikirkan sesuatu sampai termenung.
Ting…
"hafsa, tolong ambilkan hp abi nak. Ada pesan"pinta Ustadz Alfi yg mengelap tangannya yg basah. Namun tak ada jawaban dari Hafsa.
"sayang _"tegur Ustadz Alfi yg terhenti sebab melihat Hafsa termenung sepi. Ia melambaikan tangannya di depan wajah manis anaknya ini.
"ada apa dengannya?"Itulah yg ada dibenak Ustadz Alfi. Lama lama ia pusing sendiri sebab pikirannya tanda tanya itu seperti benang kusut di otaknya.
"hafsa"panggil Ustadz Alfi yg memegang bahu Hafsa.
"Allahu akbar"kaget Hafsa.
"ish abi ngagetin aja sih"seru Hafsa yang sudah berhenti lamunannya.
"hehe maaf, habisnya kamu melamun. Gak baik melamun begitu, kl kesambet gimana"seru Ustadz Alfi yg menatap mata cokelat milik Hafsa untuk mencari tahu penyebab lamunan tadi.
"gak apa apa abi"singkat Hafsa.
Bocah enam tahun lebih itu memilih berjalan ke kamar abinya untuk mengambil ponsel sesuai apa yg di suruh tadi. Ustadz Alfi menyusulnya juga sampai ke kamarnya.
Terlihat Hafsa mencari ponsel milik Ustadz Alfi dengan serius dan tak butuh waktu lama hafsa menemukannya. Lalu berjalan mendekati abinya yg sudah terduduk di ranjang.
"terima kasih"seru Ustadz Alfi menerima ponselnya. Tapi, ia merasa jika ada sesuatu yg disembunyikan oleh putrinya ini. Hafsa yg hendak keluar dari kamar terasa melayang sebab abinya sudah menggendongnya untuk duduk bersama.
"kamu kenapa? Cerita sama abi"pinta Ustadz Alfi yg menatap dalam wajah Hafsa.
"em.. Sebenarnya hafsa ingin…"ragu Hafsa
"hafsa ingin beli sesuatu? Abi akan belikan segera"ucap Ustadz Alfi bergegas mengambil kunci mobilnya di nakas.
"eh, abi bukan itu. Hafsa tidak ingin membeli barang"cegah Hafsa.
"lalu ingin apa?"tanya Ustadz Alfi kembali.
"Hafsa ingin telpon umi"jawab Hafsa menatap memohon abinya.
Ustadz Alfi terdiam sekilas, ia berpikir keras untuk memenuhi permintaan putrinya ini. Perlu diingat jika ia lupa minta nomor ponsel baru milik Dian. Tiba tiba…
Triiiing…tringg…
Bunyi dering ponsel milik Ustadz Alfi satunya yg berada di saku baju koko berbunyi. Dengan segera Ustadz Alfi memeriksa siapa yg menelponnya. Layar ponselnya menyala tapi nomor tidak dikenalnya.
"loh inikan foto umi, abi."binar bahagia Hafsa yg melihat foto profil nomor tersebut ialah foto Dian.
Ini sebuah kebetulan yg sangat membuatnya senang. Tadi Hafsa sangat ingin telpon uminya dan sekarang malah mendapati jika uminya sendiri menelpon ponsel abinya. Segeralah diangkatlah telpon itu oleh Ustadz Alfi.
+62… (Dian) : "Hallo Assalamualaikum"
Ustadz Alfi : "waalaikumsalam dek"
+62… (Dian) : "mas kamu sudah sampai di rumah?"
Ustadz Alfi : "sudah dek, alhamdulillah tadi dijemput sama abang abang tercinta"
+62… (Dian) : "alhamdulillah kalo gitu. Oiya kamu lagi apa mas?"
Ustadz Alfi : "mas lagi dikamar dengan Hafsa. Apakah kamu mau berbicara dengan anak kita dek? Mungkin kamu mau mendengar suaranya"
+62… (Dian) : "em.. Boleh mas"
Ponsel beralih ke tangan Hafsa yg kini memilih menjauh dari abinya dan duduk di sofa ruang tamu yg terlihat sepi. Ustadz Alfi pun mengerti jika putrinya ingin sendiri. Ia hanya beranjak keluar rumah lalu menutup pintu kembali.
Ustadz Alfi (Hafsa) : "ha…hallo umii"
Suara Hafsa terdengar dari luar. Yg diluar tentu penasaran dengan kelanjutan interaksi antara anak dan uminya yg telah lama berpisah. Diluar Ustadz Alfi bersama dengan Azzam, Farhan, Umay, Rida, Aisyah dan Dayu mendengarkan dengan seksama.
__ADS_1
Sementara dengan Dian disana. Ia merasakan darahnya berdesir dengan detak jantung yg berjalan cepat tanpa sadar. Rasanya tak kuat untuk berbicara karena ia mulai meneteskan air matanya tapi demi Hafsa, ia harus bisa berbicara. Kasihan putrinya ini jika di diamkan.
+62… (Dian) : "iya, Hafsa?"
Tes…
Air mata keduanya menetes secara bersamaan. Dian dan Hafsa menekan begitu kuat dengan perasaan hatinya masing masing. Mereka berusaha untuk bisa berbicara dan menanyakan kabar. Ponsel tersebut di loudspeaker yg bisa didengar juga oleh semuanya. Bahkan semuanya yg ada di luar mendengar jika suara Dian sedikit serak.
Dayu tersenyum dan mengeluarkan air matanya karena rindu terhadap kakak perempuannya yg selalu ada untuknya kini terdengar kembali suaranya. Sungguh sangat bahagia dan haru secara bersamaan.
+62… (Dian) : "Hafsa sehat kan nak?"
Ustadz Alfi (Hafsa) : "sehat umii, alhamdulillah."
+62… (Dian) : "Alhamdulillah kalau begitu. Umi senang bisa mendengar kabar hafsa sehat sehat saja dan senang mendengar suara anak umi setelah sekian lamanya. Rindu yg umi rasakan ini sedikit terobati"
Ustadz Alfi (Hafsa) : "...." hafsa tampak diam sebab tak bisa menahan ponsel milik abinya lagi karena ia sudah menangis dalam diam
Bruk…
Ustadz Alfi segera membuka pintu karena kaget dengan suara benda jatuh. Terlihat Hafsa duduk dengan berlinangan air mata dan sesenggukkan. Ia pun menghampiri Hafsa dan memeluknya.
+62… (Dian) : "Hafsa.. hafsa… kamu baik baik saja nak?"
+62… (Dian) : "apa yg terjadi ? Jawablah, umi khawatir hiks hiks"
Ustadz Alfi : "gak apa apa dek. Gak usah khawatir ada mas disini yg menemani" sungguh saat ini ia bingung mau nenangin yg mana, dua duanya sedang menangis begini.
+62… (Dian) : "aku khawatir mas hiks hiks hiks"
Hafsa terdiam dan segera menghapus air matanya. Ia melepaskan diri dari pelukan abinya dan menghembuskan nafasnya perlahan lahan. Kemudian mengambil ponsel itu di bawah. Ketika uminya menangis, hatinya hancur berkeping keping dan demi menenangkan uminya ia harus menjawab panggilan tersebut.
Ustadz Alfi (Hafsa) : "umi..hafsa baik baik saja"
+62… (Dian) : "hafsa sedang tidak baik baik saja saat ini, umi akan terbang sekarang juga ke sana"
("jangan yan, kamu sedang tidak fit saat ini" suara dokter marissa. Ternyata setelah beberapa jam Ustadz Alfi berangkat, Dian jatuh pingsan saat sedang melatih anak didiknya.)
Ustadz Alfi : "astaghfirullah ada apa denganmu dek?"
Ustadz Alfi : "jaga kesehatanmu dek. Kl begitu kita sampai disini dulu, kamu istirahat yg cukup"
+62… (Dian) : "tapi mas, Hafsa bagaimana"
Ustadz Alfi (Hafsa) : "gak apa apa umi, hafsa akan sedih jika umi sakit dan tidak bisa istirahat kl hafsa meminta berbicara terus"
+62… (Dian) : "baiklah. Kalian jaga kesehatan juga dan selalu berhati hati. Perasaanku gak enak saat ini"
Ustadz Alfi : "itu mungkin sebab kelelahan dek, jadi banyak pikiran. Ya Udah kalau gitu assalamualaikum"
+62… (Dian) : "mungkin, waalaikumsalam mas"
Telpon berhenti. Ustadz Alfi menyimpan nomor tersebut dan menamainya. Sedangkan nomor Dian yang lama dihapus, karena nomor dan hpnya sudah hilang ditelan bumi.
"Umi kalau lelah sakit ya abi? Apa gara gara buat kue untuk hafsa yaa?"tanya Hafsa.
"em.. umimu memang kl lelah langsung sakit. Tapi bukan gara gara hafsa juga. Sepertinya umi sedang banyak pikiran dan mungkin rindu sama kamu jadi jatuh sakit"jelas Ustadz Alfi.
"oiya tadi abi bukannya minta ponsel karena ada pesan. Periksalah abi"ucap Hafsa mengingatkan.
"hehe abi lupa"malu Ustadz Alfi yg melihat ponsel satunya lagi.
Hafsa hanya menggelengkan kepalanya dan memilih mengambil remote tv. Sore hari ini ada film kesukaannya tayang yakni 'shaun the sheep the movie' di channel tv miliknya itu.
Ustadz Alfi menatap serius layar ponselnya. Ia menimbang nimbangkan tindakan selanjutnya sebab pesan itu. Isi pesannya, menyuruhnya agar menemui seseorang yg besok akan menyelenggarakan pembukaan masjid dan ia mengisi acara tersebut.
"em… apa aku harus datang sekarang dan menyetujuinya ? Tapi jika aku tolak rasanya tidak pantas. Kok ketemuannya di daerah ini kenapa tidak di masjidnya saja. Ah sudahlah, aku datang bersama bang azzam saja."bathin Ustadz Alfi.
"hafsa"panggil Ustadz Alfi.
"iya abi?"sahut Hafsa yg sesekali menatap layar tv.
__ADS_1
"abi mau pergi keluar sama om azzam ya"ucap Ustadz Alfi.
"loh mau kemana abi?"tanya hafsa yg sepenuhnya menatap wajah abinya.
"mau ketemu sama orang yg besok bakal adain acara pembukaan masjid dan abi diminta untuk mengisi acara itu."jawab Ustadz Alfi.
"pulangnya jam berapa?"tanya Hafsa kembali
"entahlah nak. Mungkin malam tapi jika abi belum pulang kamu tidur duluan sehabis sholat isya yaa. Perjalanannya cukup makan waktu."jawab Ustadz Alfi.
"ikut abii, hafsa pengen ikut"rengek Hafsa yg sudah tak perduli dengan layar tv.
"sayang gak bisa, jauh loh. Nanti kamu capek"tolak halus Ustadz Alfi.
"ikut abii"rengek Hafsa yg memeluk erat abinya.
"tapi…"ucap Ustadz Alfi terhenti sebab kedatangan semua orang.
"ada apa ini le? Kenapa dengan hafsa yg memelukmu begitu erat"tanya ayah Ahmad.
"Alfi mau pergi keluar dulu ayah dan pulang malam sepertinya. Tapi Hafsa minta ikut."jawab Ustadz Alfi yang mencoba membujuk Hafsa agar lepas darinya.
"abi pergi dulu nanti abi belikan snack ya pas pulangnya"bujuk Ustadz Alfi.
"gak mau hiks hiks….ikuuut… hafsa pengen ikut huwaaa"tangis Hafsa. Dibujuk malah semakin menjadi.
"nduk, abi pengen keluar. Mungkin penting. Hafsa dirumah saja sama utii yaa"bujuk Bu Mira.
"abi gak boleh pergi… hafsa takut… hiks hiks.. Takut abi kenapa napa… hiks hiks"sesenggukkan Hafsa yg menatap Ustadz Alfi dan masih duduk di pangkuan abinya.
"Sayang, abi perginya sama om Azzam. Jangan menangis lagi, abi baik baik saja insya Allah"ucap Ustadz Alfi yang menghapus air mata di pipi Hafsa.
"beneran ?"ucap Hafsa yg sudah berhenti menangis.
"iya"sahut Ustadz Alfi yg tersenyum saat melihat Hafsa sudah tak menangis.
"Kl gitu abi pamit ya. Ayah, Abi tolong jaga Hafsa. insya Allah alfi berusaha cepat pulang dan gak lama lama disana. Assalamualaikum"pamit Ustadz Alfi.
"Waalaikumsalam"ucap semuanya serempak. Hafsa mencium tangan abinya dan lanjut menonton dengan Dayu yg sama sama suka film tersebut. Aisyah pun ikut duduk bersama dengan keponakannya itu.
"ayo bang"ajak Ustadz Alfi dan Azzam mengangguk mengerti.
"iya, kalian hati hati dijalan"pesan Abi Abdurrahman.
Ustadz Alfi meletakkan ponsel yang satunya (publik) di kamarnya setelah menyalin alamat tempat ketemuannya. Karena ia bertekad membawa ponsel pribadinya saja lalu memakai jaket coklatnya dan benar benar berlalu dari rumah. Ia tampak masuk ke dalam mobil dan Azzam melajukan mobilnya dengan perlahan lahan.
🍂🍂🍂
Sementara dengan Dian…
"bagaimana keadaanku dok?"tanya Dian yang berbaring di tempat tidurnya. Sesekali ia memijat kepalanya yg pusing.
"semuanya baik tapi kamu hanya banyak pikiran akhir akhir ini"jawab dokter marissa yg dianggukki oleh dokter lainnya.
"mungkin… tapi apakah aku masih punya potensi kambuh lagi dok?"tanya Dian kembali.
"sejauh ini sudah tidak yan. Jaga kesehatan selalu dan jangan banyak pikiran. Berbagilah kepada kami semua"jawab dokter marissa.
Dian menyetujuinya. Semoga apa yg dipikirkannya ini hanyalah terkaan yg tidak benar. Ia sangat khawatir terutama dengan Ustadz Alfi yg di firasatkan olehnya mendapat bahaya atau musibah.
"ya Allah, apakah ini sebuah firasat? Hatiku sungguh tak tenang"ucap Dian dalam hati. Ia menutup matanya menghalau rasa pusing dan tanpa sadar terlelap begitu cepat.
Sebenarnya dokter Paula yang menyuntikkan obat tidur di tempat Infusnya. Tapi Dian tidak sadar sebab termenung dengan sejuta pikirannya. Sedangkan dokter Rinai menyelimuti tubuh Dian dengan benar. Mereka sungguh merasa sedih dengan wajah pucat Dian dan merasakan kegelisahan Dian. Jadi membiarkan Dian istirahat adalah hal yg tepat
Bersambung…
🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢
Hallo permirswah, gimana epsnya neh?
Alhamdulillah episodenya sudah terupdate dan bila ada typo yang buat gak nyaman bacanya, mohon dimaafkan yaa
__ADS_1
Stay Tune dan Nantikan Notif Updatenya,
Salam sehat & Terimakaseh, see you di next eps. Sayang²nya akyuu.... Mwuach 😘