Menikahi Ustadz Idolaku

Menikahi Ustadz Idolaku
MUI : Meraih Sebuah Harapan


__ADS_3

"berhenti"seru Dian terlihat waspada dan menghentikan langkahnya.


"ada apa nduk?"tanya Ayah Ahmad yang pas sekali di belakang anak pertamanya ini.


"ada beberapa langkah yang menuju kesini dan seperti sedang berlari saling kejar mengejar. Mungkin kah itu anak buahnya rendi ayah, aku tidak tahu"jawab Dian. 


Ayah Ahmad ikut mendengarkannya namun lama lama suara langkah kaki itu bergerak menuju ke arah mereka. Semuanya jadi merasa was was. Azzam, Faqih dan Farhan bergerak ke belakang sedangkan Umay dan Ustadz Alfi bergerak maju tepat dibelakang Dian. 


Sementara Intan membuka ransel lalu membagikan sebuah pistol yang sudah terisi peluru ke tangan Melinda dan Dian. Untuk Ayah Ahmad dan Abi Abdurrahman, melindungi sisanya terutama Istri serta anak cucu mereka. 


"sepertinya aku kenal kamu kak."bisik Intan yang mendapati Rida berdiri di dekatnya memasang kuda kuda. 


"oh ya?"bisik Rida yang menjawab. 


Drap…


Drap…


Langkah kaki dari beberapa orang sangatlah dekat. Terlihatlah 5 orang berwajah sangar melewati mereka semua dan tak lama Wahyu bersama dengan yang lainnya mengejar terus 5 orang tersebut. Wahyu menarik pelatuk pistolnya dan membuat suara nyaring di koridor yang sepi nan senyap. 


Dor…


"kurang ajar"umpat salah satu dari 5 orang yang dikejar Wahyu. 


Peluru yang ditembakkan sangat tepat mengenai kaki dan tentu jalannya lambat dari kawanannya. Wahyu berhenti sejenak sebab pistolnya tak bisa menembak lagi dan yang lain memilih mengejar sampai dapat. Wahyu baru saja menyadari bahwa pelurunya habis dan Ia pun lupa jika ranselnya dibawa oleh Farel yang masih saja mengejar ke depan. 


"Intan, kau punya peluru di tas ransel mu?"pinta Wahyu yang melihat adanya sosok yang ia kenal.


"ada. Sebentar"jawab Intan. Ia segera membuka ransel itu dan mengambil beberapa peluru. 


"terima kasih"balas Wahyu. 


Laki laki itu terlihat ngos ngosan dengan ditandai beberapa bulir keringat sebiji jagung di dahinya. Rasa lelah tentu saja terlihat dari matanya. Namun ia masih saja terus mengejar 5 orang yang tadi telah pergi bersama temannya yang lain. Dian melihat kanan dan kiri dari koridor ini. Yang ia cari tidak ada dan membuat Wahyu yang sedang mengatur nafasnya menoleh.


"dimana pemimpinmu?"tanya Dian.


"oh komandan berada di bawah. Aku dan Farel mengejar 5 laki laki berwajah sangar itu. Kau tahu kak? Kak Raka dan Kak Brian terluka cukup parah di bagian tangan sebab mereka"jelas Wahyu.


"apa? Tak mungkin Raka dan Brian terluka. Mereka berdua bahkan yang mengajariku menembak. Lalu bagaimana keadaannya?"kaget Dian.


"mereka itu licik seperti induknya kak, karena itu juga kak Raka dan Kak Brian Terluka. Tenanglah kak, Em.. Mungkin sedang ditangani sama dokter soalnya tadi Dokter Rinai yang membawa keduanya ke ambulans."ucap Wahyu.


Dian mengangguk. 2 orang telah terluka dan ia memiliki 3 kesempatan lagi. Selama itu, merenungi tentang persyaratan yang kemarin disepakati. Ia berharap jika kali ini perjuangannya tak sia sia dan keluarganya bisa terbebas dari jeratan Rendi. Pikirannya mulai cemas akan hasil yang didapatkannya nanti. Apakah berhasil atau tidak? Itu semua tergantung sisa kesempatannya. 


"huff, kenapa sudah ada 2 orang? Ya Allah tolong lancarkanlah urusanku."pikir Dian.


"baiklah. Terimakasih informasinya. Sekarang susul teman temanmu dan jangan sekali sekali berpisah dengan pemimpin kalian. Oiya jangan main main apalagi kejar kejaran seperti tadi. Kayak kucing memburu tikus. Setidaknya bersama dengan komandan Agha. Selalu waspada."ucap Dian.


"okey kak. Kl begitu aku pamit, assalamualaikum"pamit Wahyu yang kini sudah meninggalkan tempatnya. 


"waalaikumsalam"serempak semuanya membalas salam dari Wahyu.


Tak lama terdengar kembali suara langkah kaki. Dian, Intan dan Melinda langsung saja bersiap dengan pistol mereka. Sedangkan yang lain ikut waspada dengan suara itu. Ternyata yang mempunyai langkah kaki tersebut ialah Rita dan beberapa wanita dengan wajah terkejut bahkan tangan terangkat seperti pencuri di geledah polisi.


"ehe… bisakah pistolnya diturunkan kak. Kami tidak bisa bernafas."pinta Rita memohon.

__ADS_1


"ku kira siapa. Kalian benar benar mengejutkan kami"ucap Dian yang telah menurunkan pistolnya. Intan dan Melinda juga menurunkan pistolnya. Yang lain juga mengendurkan formasi.


Rita dan beberapa wanita lainnya bergabung dengan pihak Dian sekarang. Tak lupa helaan nafas lega mereka semua yang tadi dikira pihak musuh. Ketika hendak melanjutkan perjalanan lagi, hal yang tak terduga terjadi begitu saja. Sebuah peluru melayang menuju arah sekumpulan mereka. 


"menunduk"pinta Dian kepada semuanya. 


Peluru itu semakin mendekat ke arahnya dan hampir mengenai tangan kanan miliknya. Terlihat semuanya telah menunduk dengan segera, Dian mengelak dari peluru itu. Semuanya tentu panik bahkan Melinda dan Intan lemas terduduk saat mereka benar benar melihat peluru itu yang hanya beberapa centi saja menembus tangan Dian. Sedangkan Dian, bernafas lega karena peluru nyasar tanpa tuan itu tidak menyentuhnya sedikitpun.


"kamu gak apa apa dek?"tanya Ustadz Alfi khawatir. 


"aku gak apa apa mas."jawab Dian meyakinkannya dengan sedikit senyuman. Ia sesungguhnya masih merasa tremor dengan insiden peluru itu. Pandangannya mengarah ke depan yang entah sadar atau tidaknya mereka jika sudah terdapat banyak orang dari anak buahnya Rendi akan menembak mereka semua.


"astaghfirullah"ucap mereka serempak karena terkejut dengan apa yang dilihatnya. 


Dian mencari sesuatu yang berguna untuk menutupi keluarganya atau melindungi lah istilahnya di sekitar tempat mereka. Tatapan matanya tertuju di satu pintu sebuah ruangan. Ia berinisiatif untuk mendobrak pintu kayu itu dengan segar mungkin. Letaknya di dekat sebelah kirinya.


"semuanya,, cepat masuk ke dalam ruangan ini. Hanya kita yang bisa melawan karena mereka menggunakan pistol."ucap Dian. Semuanya menurut dengan segera memasuki ruangan itu. Ustadz Alfi berpesan agar mereka yang akan menghadapi terkhusus Dian selalu berhati hati. Ia menurut tapi didalam hatinya terdapat banyak sekali kekhawatiran dan ketakutan apa yang akan terjadi selanjutnya.


"bolehkah aku membantu?"tawar Rida.


"em.. Apakah kau yakin kak?"tanya Dian yang sesekali menatap Umay.


"sangat yakin. Jangan meragukanku dan tak ada waktu untuk berdebat lagi. Kalian butuh aku, aku tentu bisa menggunakan senjata itu. Sudah menjadi sarapan setiap latihan."seru Rida sangat mantap. 


"oh iya benar, aku pernah bertemu dengan kakak ini. Cepatlah pakai ini kak, untuk melindungimu."sambung Intan. Ia menyerahkan pistol dan pakaian hitam yang disertai dengan anti peluru. 


Rida meraihnya segera lalu mengganti pakaiannya di dalam kamar mandi. Ruangan itu adalah sebuah kamar yang luas namun tak berpenghuni lagi namun tetap bersih. Sementara menunggu Rida berpakaian, mereka sudah siap dengan senjata masing masing. Mengatur posisi yang nyaman dan teratur. 


"hah! Kalian para wanita tentu akan kalah dengan kami yang banyak ini"remeh salah satu dari beberapa orang yang berada di depan hadapan para wanita.


"jangan meremehkan kami, belum tentu kalian menang"ucap Dian dengan sedikit nada kesal.


"mari kita buktikan"senyum licik salah satu dari laki laki tersebut yang nyatanya ialah riko.


Rida telah selesai, ia keluar dari ruangan dan bersiap melawan. Setelah itu, terdengar suara perang peluru dari luar yang membuat Zaki maupun Hafsa ketakutan sampai bergetar hebat menghampiri ayah mereka. Ustadz Alfi dan Umay langsung memeluk anak mereka yang sedang merasa sangat ketakutan. 


Dor…. Dor…. Dor….


Suara tembakan terus saja bergema di koridor. Satu persatu anak buah Rendi terkulai lemas di lantai. Pintu ruangan terbuka lebar dan semuanya yang melihat ikut cemas bercampur tegang luar biasa. Terlihat para wanita yang menghadapi anak buah Rendi sesekali menghindar, menunduk dan menyerang maju atau mundur. Keringat merembes dari dahi masing masing tapi terus terfokus dengan lawan mereka.


"tinggal berapa orang di depan ?"tanya Dian yang terus menembak.


"sekitar 10 orang lagi kak"jawab Melinda yang cepat cepat mengambil peluru lalu menggantinya. 


"tetap waspada semuanya"pekik Rida.


"baik"kor serempak mereka. Dian, Melinda, Intan, Rita dan yang lainnya membalas ucapan Rida. 


Sungguh mereka harus teriak teriak sebab tak suara tembakan mengalahkan suara lembut mereka. Peluru terdengar seperti sebaran koin di lantai. Suasana begitu mencekam karena banyak yang hampir kelelahan dengan serangan bertubi tubi diantara mereka. Rida yang sudah pernah pendarahan hebat saat melahirkan Zaki membuat tenaganya cepat terkuras habis. Al hasil konsentrasi Rida berkurang dan tak sadar jika peluru hampir mendekat kearah tubuhnya.


"kak"pekik Dian melihat peluru menuju Rida langsung mendorong kakak iparnya masuk ke ruangan itu. 


Brukk..


Rida terjatuh ke dalam ruangan dan itu membuat Dayu membantunya berdiri kembali. Sedangkan Dian mundur cepat menghindari peluru lalu disambung bunyi keluh rasa sakit dari mulutnya serta bunyi jatuh badan seseorang di dekat pintu. Rida melihat itu, berlari dan membuka pintu demi memeriksa keadaan . Di dalam hatinya diduga jika Dian terkena peluru. Pintu terbuka, terlihat Dian menidurkan dirinya memegang pinggangnya.

__ADS_1


"astaghfirullah, kamu baik baik aja yan?"panik Rida. 


"sakit kak"keluh Dian meringis. Ustadz Alfi sontak menghampiri lalu mengangkat tubuh Dian kedalam ruangan. Sempat ia terkejut sebab suaminya menggendongnya tapi kemudian mengalungkan tangannya memegang bahu kekar itu.


"aww"pekik Dian kembali saat Ustadz Alfi meletakkannya di kasur yang sedikit berdebu. Nampak sekali wajah suaminya itu menahan tangis.


"apa yang sakit?"tanya Ustadz Alfi berkaca kaca.


"pinggangku mas,,, terasa mau patah"jawab Dian.


"eh.."kor Rida dan Ustadz Alfi yang merasa ada yang salah di terka.


"kamu gak ditembak kan ?"tanya Ustadz Alfi kembali, memastikan sesuatu.


"gak lah mas, buktinya aku masih bisa membuka mata saat ini"kesal Dian memukul bahu suaminya.


"duh..sakit dek"keluh Ustadz Alfi. Semuanya bisa lega sesaat akibat perkataan Dian walau kata kata itu tanda kekesalan.


"pijitin mas"rengek Dian. 


Ustadz Alfi akhirnya memijat pinggang itu sampai Dian enakkan. Namun jika ia terkilir kenapa tidak merasa sakit akibat sentuhan tangan dari Ustadz alfi. Dian mendadak termenung memikirkannya. Hatinya bahkan menjadi senang dan semangat. Jangan lupakan kekesalannya tadi. Bukankah ia bisa menjawab tanpa ada rasa kesal kan. Tapi anehnya tak butuh waktu 5 detik, ia langsung merengek minta di pijit. Huff ada apa dengan dirinya, pikir Dian. 


Dor...


"akh"keluh Rita yang terbaring dengan darah yang mengalir di tangan kirinya membuat Dian bangun dari tempatnya berlari ke arah wanita itu. Begitupun dengan Rida sama tak kalah paniknya. Inilah baru rasa sakit akibat tembakan. 


"Ya Allah Rita"panik Dian yang memangku wajah pucat Rita. Terlihat sudah tak ada lawan lagi yang mereka hadapi. Intan, Melinda dan beberapa wanita menghampiri Dian yang memangku wajah pemimpin regu mereka.


"kenapa bisa begini?"tanya Dian khawatir.


"shh.. aku lengah dan mulai lelah kak… jadilah tertembak"ringisan Rita. 


"bagaimana ini kak? Kita juga tinggal punya 2 kesempatan"ucap Melinda.


"hubungi tim medis"pinta Rida yang merobek kain pakaian tadi yang telah ia lepas untuk menekan darah agar tak banyak yang keluar. 


Tak butuh waktu lama, Dokter angelica datang bersama 2 orang tim medis membawa tandu. Mereka bertiga ialah tim medis dan punya jaminan nyawa yang tak terhingga serta tak terhitung musuh dari pihak lawan. Karena kewajiban mereka sebagai tim medis yakni membantu menyembuhkan luka. Sebelum dibawa pergi, Rita mengajak bicara Dian.


"Aku benar benar hanya membuat kesempatan kakak berkurang"sesal Rita yang sangatlah sedih sebab dirinyalah kesempatan Dian berkurang.


"jangan berbicara begitu, kamu sudah berusaha sekuat tenaga. Aku mengucapkan terimakasih banyak telah membantuku. Saat ini sepertinya menuntunmu untuk beristirahat memulihkan tenaga yang terkuras serta rasa lelahmu dari kemarin latihan."balas Dian yang menggenggam telapak tangan milik Rita seraya tersenyum.


"terima kasih kembali kak. Maafkan aku"ucap Rita.


"iyaa.. Jangan lupa istirahat dan tidak boleh berpikiran apapun. Fokuslah dengan kesehatanmu. Oiya sampaikan rasa terimakasih ku kepada Raka dan Brian jika bertemu yaa"seru Dian yang memberikan semangat kepada Rita. 


Semuanya ikut tersenyum dengan interaksi mereka berdua apalagi sebab Dian, Rita akhirnya tersenyum tanpa rasa sesal dibalik rasa sakitnya. Dokter Angelica bersama tim medisnya pamit undur diri membawa Rita menuju Ambulans dan segera melakukan pengobatan luka tersebut. Setelah benar benar menghilang dari pandangan, Dian akhirnya menemukan jalan dimana mereka semua bisa terbebas dari mansion ini dengan melewati area pekarangan belakang.


bersambung…


🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢


Hallo permirswah, gimana epsnya neh?


Alhamdulillah episodenya sudah terupdate dan bila ada typo yang buat gak nyaman bacanya, mohon dimaafkan yaa

__ADS_1


Stay Tune dan Nantikan Notif Updatenya,


Salam sehat & Terimakaseh, see you di next eps. Sayang²nya akyuu.... Mwuach 😘


__ADS_2