Menikahi Ustadz Idolaku

Menikahi Ustadz Idolaku
MUI : LDR-an


__ADS_3

"tita mau temana aghi abi,umi?"tanya hafsa


Mereka bertiga sudah selesai makan dan duduk sebentar untuk istirahat sehabis makan. Dian memangku hafsa dengan ustadz Alfi di depan duduknya berhadapan.


"sepertinya sudah cukup. Kita harus pulang untuk bersiap shalat dzuhur dirumah"jawab ustadz Alfi melirik jam tangannya.


"...."hafsa diam.


Dian dan ustadz Alfi menukar pandangannya, karena hafsa terdiam. Serasa waktu terus berjalan tanpa sadar uminya sudah mau pergi meninggalkannya membuat hafsa menurunkan bahunya lalu terdiam.


"hafsa"suara dian lembut


"em...ya umi?"sahut hafsa. Ia memutar tubuhnya menghadap uminya yang memangku dirinya.


"pulang yuk. Lain waktu saat umi udah pulang, kita jalan jalan."ucap dian.


"iya umi. Ayo tita puyang"balas hafsa yang tersenyum.


Mereka pun akhirnya pulang. Diperjalanan, suasana mobil nampak hening tak seperti waktu berangkat. Hafsa fokus meminum teh hangatnya. Dian hanya melihat kearah kaca mobil dan ustadz Alfi fokus dengan jalan raya.


Tak lama, mobil sudah berhenti. Dian dan hafsa turun lalu masuk kerumah. Disusul oleh ustadz Alfi. Membersihkan diri dan berwudhu karena sedikit lagi waktu dzuhur datang.


Sholat berjamaah bersama semuanya. Azzam dan farhan juga ikut. Mereka shokat dzuhur dengan khidmat dan dilaksanakan dirumah umi shita. Bersama sama lebih baik karena pahalanya juga berbeda dengan sendirian.


Shalat telah berakhir dengan tanda salam dari sang imam yaitu abi abdurahman. Mereka berdzikit bersama dan berdoa. Kemudian membaca beberapa ayat alquran sebelum selesainya sholat.


Kini Dian sudah siap dengan pakaiannya. Ia terduduk di cermin menatap kosong. Ada sedikit keraguan di hatinya. Rasanya berat sekali dan kecemasan yang tidak tau kapan datangnya.


Tiba tiba saja perutnya mual dan berlari menuju kamar mandi. Dikamar hanya ada dirinya sendiri karena ustadz alfi di luar sedang bersama hafsa dan lainnya. Memuntahkan sesuatu di wastafel namun tidak berwarna.


Tanpa berpikir panjang ia membersihkan dan memakai lip balm agar tak kelihatan pucat. Pikirannya berkecambuk. Antara berangkat dan tidak berangkat. Tapi ia tidak enak jika menundanya. Apalagi bang azzam sudah ada dan kopernya sudah di dalam bagasi mobil.


"berangkat aja deh, lagipula aku mungkin mengalami stress sebelum berangkat. Karna sudah 1 tahun lebih tak pergi jauh"bathin dian.


Dian pun keluar. Terlihat semuanya menunggu ia keluar dan sekedar mengantarnya. Dian mencium tangan serta berpamitan kepada umi shita dan abi abdurahman yang sudah dianggap sebagai orang tua keduanya.


"hati hati dijalan ya"ucap umi shita. Dian membalas senyuman.


Lalu menuju kearah ustadz Alfi yang sedang menggendong hafsa ditangan kirinya. Hafsa turun dari gendongan itu dan mempersilahkan uminya mendekat kearah abinya. Mencium tangan suaminya dan setelah itu ia memeluk seseorang yang pastinya nanti ia rindukan.


"duhh yang mau ldr-an."ledek azzam yang tersenyum menatap kedua pasangan suami istri itu lama berpelukan.


"harus puas peluk dulu kan nanti jarang pelukan kl lagi ldr-an."timpal farhan.


Kata farhan dan azzam ada benarnya juga. Semuanya terkekeh akibat itu. Lihatlah dian yang enggan melepas pelukan itu dan tidak mau menjauh dari ustadz Alfi.


"dek kamu mau peluk mas sampai kapan?"tanya ustadz Alfi.


"sebentar lagi mas. Aku ingin merekamnya, kan ini pelukan terakhirku. Nanti gak bisa peluk kamu lagi"manja dian.

__ADS_1


Deg!! Jantung ustadz Alfi memompa begitu cepat. Pikiran aneh pun menyerang benaknya begitu saja. Perasaannya tak enak dan tak tenang. Dian berkata seakan akan mau pergi jauh dan tak kembali. Makin sulit saja ia melepaskan istrinya pergi. Hendak berbicara protes namun terhenti akibat hafsa merengek ingin minta di peluk sama dian.


"umi apca uga mau di peyuk"rengek hafsa merentangkan tangannya. Dian pun beralih ke hafsa.


"sini sayang"ucap dian.


Dian menyamakan tinggi hafsa lalu Ibu dan anak itu berpelukan. Dian tak henti menciumi wajah hafsa. Lama berpelukan, ia Menatap lembut mata putri kecilnya. Ia tahu bahwa hafsa tak mau ditinggal namun anaknya begitu menghargai keputusannya.


"hafsa dirumah jangan nakal. Nurut sama abi, utii, kakung, aunty sama om yaa. Umi pergi dulu."ucap dian


Hafsa mencebik dan air matanya luruh. Ia ingin uminya tidak pergi tapi tidak bisa mengungkapkannya. Suasana jadi senyap dan semuanya ikut merasakan apa yang dirasa oleh hafsa.


"umi"lirih hafsa


"hafsa tidak boleh menangis. Umi hanya pergi beberapa waktu saja. Kl kangen, nanti hafsa bisa video call. Sebagai gantinya umi bikin hafsa nangis saat ini, kamu ingin apa sayang? Insya allah pasti dibelikan"bujuk dian mengalihkan fokus hafsa.


"memangna boleh inta?"ragu hafsa. Ia sudah tak menangis lagi dan tertarik dengan ucapan uminya.


"boleh dong. Mau apa? Boneka?"balas dian.


"apca mau boneca son de sip (shaun the sheep) cama boneca empus ende"ucap hafsa.


"lho hafsa sudah punya 4 boneka kucing."heran dian.


"empusnya biyay ada umina."jawab hafsa. Dian terkekeh.


"iya. Umi pasti beliin"ucap dian.


"janji"balas dian. Mereka berdua menautkan jari kelingkingnya. Semuanya lega dan azzam mengkode dian untuk segera berangkat. Dian pun mengangguk.


"kl gitu umi pamit yaa. Assalamualaikum"pamit dian seraya mengelus kepala hafsa yang berbalutkan hijab instan kecil.


"waalaikumsalam"kompak semuanya.


"jaga dirimu baik baik. Jangan lupa istirahat dan makan dengan teratur. Kl udah selesai harus pulang gak boleh kemana mana lagi. Oiya tepati janjimu dek"pesan ustadz Alfi.


"iya mas"balas dian.


"bang jaga dek dian dengan baik. Hati hati dijalan."ucap ustadz Alfi memeluk azzam. Lalu di balas tepukan dibahunya oleh azzam.


Dian pun berjalan menuju mobil bersama semuanya. Pagar terbuka lebar dengan mobil azzam sudah di jalanan. Pintu mobil tertutup dengan dian masuk kedalamnya. Azzam siap di kemudi. Sebelum berangkat dian membuka kaca mobilnya untuk melambaikan tangannya dan tersenyum manis sekali.


"tin.."klakson mobil berbunyi


Tanda azzam pamit dan berangkatnya mereka menuju tempat tujuan. Hafsa diajak aisyah untuk bermain. Ia ingin keponakannya tidak sedih lagi. Umi shita, abi abdurahman dan farhan masuk terlebih dahulu. Tinggallah ustadz Alfi yang menutup perlahan pagar hitam yang tinggi itu.


"Semoga apa yang aku pikirkan tidak terjadi dan dek dian lancar urusannya. Ya allah jagalah dia"bathin ustadz Alfi yang melangkah menyusul kedalam.


"hmm, bagus. Akhirnya aku ada kesempatan membalasmu. Hidupmu ada digenggamanku dian"senyum smirk seseorang wanita yang berada tak jauh dari rumah ustadz Alfi lalu menutup kaca mobil miliknya dan berjalan menuju bandara.

__ADS_1


Entah apa yang ia pikirkan. Dendam sudah mendarah daging di hatinya. Ia sungguh sangat ingin membalas dengan cara yang lebih manjur lagi. Ia sudah bekerja sama dan mengorek uang yang tak tidak sedikit hanya untuk menyingkirkan dian. Janjinya kepada dirinya sendiri. Kali ini harus berhasil.


Sementara itu....


Mobil azzam sudah masuk tol. Dian memakan makanan ringan yang ia beli ketika melewati supermarket. Azzam pun heran dengan tingkahnya yang tak berhenti memakan sesuatu dari tadi.


"dari tadi makan terus. Kamu emang belum makan ya singa?"tanya azzam.


"udah bang unta. Tapi aku ingin sekali"jawab dian.


"ck... Kayak lagi ngidam aja."decak azzam yang menggelengkan kepalanya. Sedangkan dian tidak perduli akan hal itu.


"biarin aja. Bang azzam udah punya gadis kandidat yang pas ?"ucap dian


"belum. Atau emang gak ada kandidatnya. Ada sebenarnya. Tapi ragu, apa dia mau sama seorang unta depok"lesu azzam.


"koq udah nyerah aja sih bang. Unta depok juga kan Bang azzam ganteng, sholeh dan baik. Masa sih gak ada yang naksir atau tertarik hehe"ucap dian. Azzam tersenyum.


"menurut bang azzam, aisyah lumayan kan. Cocok jadi calon loh."asal dian.


"diih koq ngomongin aisyah sih"gugup azzam yang menggerakkan tengkuknya gara gara ucapan asal dian.


"tapi cantik kan"goda dian yang semakin gencar buat ngerjain azzam.


"iya sih cantik memang... Eh"ucap azzam tak sengaja.


"haha cieee. Ketahuan nih suka sama aisyah."tawa dian pecah. Sedangkan azzam jadi salah tingkah sendiri.


"duhh bener bener istrinya si sulfur. Gak bisa bohongi. Kalah telak mulu"bathin azzam menjerit.


"Oiya kita langsung ke kediri aja atau kemana dulu." ucap azzam mengalihkan pembicaraan.


"em kita ke wonogiri dulu bang. Mau nyekar mbah. Trus bisa istirahat dulu dirumah sebentar dan baru lanjut jalan ke kediri"sahut dian.


"okey."singkat azzam.


"ciih, unta bisa ngeles ternyata. Mau bohong gak bisa hoho, aku selalu tepat sasaran"bathin dian yang tersenyum penuh arti.


Mereka larut di dalam kesibukan masing masing. Dian sibuk ngunyah makanan di belakang sedangkan azzam sibuk dengan kemudinya. Tampak di jalan tol Ada mobil pribadi, truk dan bus berlalu lalang dengan tujuan yang berbeda beda.


Perlu waktu hampir seharian menuju wonogiri. Dian berencana ingin ke makam almarhum mbahnya. Sudah lama ia tidak kesana. Selain itu, dian juga ingin bertemu dengan keluarganya disana. Entahlah hatinya sangat merindukan mereka.


Bersambung....


🐒🐒🐒🐒🐒🐒🐒🐒🐒🐒


Hallo permirswah, gimana epsnya neh?


Alhamdulillah episodenya sudah terupdate dan bila ada typo yang buat gak nyaman bacanya, mohon dimaafkan yaa

__ADS_1


Stay Tune dan Nantikan Notif Updatenya,


Salam sehat & Terimakaseh, see you di next eps. Sayang²nya akyuu.... Mwuach 😘


__ADS_2