
Setelah membeli perlengkapan si kecil beberapa hari lalu. Kini ustadz Alfi ada kegiatan tausiyah di jakarta timur lebih tepatnya di masjid dakwah islam utan kayu. Ia nanti di jemput azzam dan farhan beserta umay.
"mas kamu beneran ninggalin aku dirumah."ucap dian yang menyatukan jari telunjuk kanan dan kirinya.
"iya. kamu gak sendiri dek, ada umi sama ibu"sahut ustadz Alfi yang memakai kopyahnya seraya membenarkan jam tangannya.
Dian nampak murung. Padahal ustadz Alfi tausiyah. Biasanya ia ditinggal juga gak ada apa apa. Tapi sekarang menjadi gak rela. Ustadz Alfi melihat dian murung menjadi tak tega, sungguh ia tidak mau meninggalkan istrinya sendiri mendekati hplnya. Ini untuk terakhir dan setelah itu ia meliburkan dirinya yang menolak panggilan untuk tausiyah.
Kemudian mereka keluar menuju ruang tamu untuk menunggu kedatangan 3 pengawal yang setia menemani ustadz Alfi kemanapun. Tak lama, terdengar ketukan pintu yang kemudian dibukakan oleh ustadz Alfi.
"assalamualaikum"salam tiga serangkai.
"waalaikumsalam"jawab dian dan ustadz Alfi
"gimana nih kabarnya ponakan ku"ucap umay yang melihat perut adik sepupunya
"alhamdulillah om"jawab dian menirukan suara anak kecil.
"alhamdulillah. Gak sabar melihat ponakan nanti lahir"ucap umay kembali.
"oiya ustadz, bukankah waktu itu kecelekaan koq keningnya gak ada luka"heran farhan
"em...iya bang. Sudah hilang"sahut ustadz Alfi yang melirik dian dengan senyuman.
"koq bisa??"serempak tiga serangkai itu.
"bisalah, aku yang menghilangkannya dengan ramuan herbal untuk menghilangkan luka dan menambah glowing"jawab dian yang mengelus perutnya.
"wahh mau tuh. Bagi resepnya"ucap azzam yang antusias.
"enak aja. Gak boleh"ketus dian membuat azzam tersenyum kecut.
"hahaha"tawa umay, farhan dan ustadz Alfi pecah.
"sebaiknya kita berangkat sekarang"ucap umay yang melihat jam tangannya.
"mas, aku gak mau ditinggal"rengek dian yang memegang erat lengan atas milik ustadz Alfi
"kan ditemani sama umi, mas janji kl ini terakhir lalu gak akan kemana mana"ucap ustadz Alfi.
Setelah dian tenang akhirnya mereka barulah berangkat. Umi shita dan bu mira menemani dian di dalam kamar untuk istirahat. Ketika sudah pulas, mereka meninggalkan dian karena mau membuat makanan takut bumil ini meminta untuk makan.
Pada pukul 10 pagi...
Dian terbangun merasakan ingin buang air kecil. Ia pun berhati hati ke dalam kamar mandi. Setelah itu duduk dikasur dan hendak merebahkan dirinya kembali untuk melanjutkan tidurnya.
Namun tiba tiba sekali perutnya sangat sakit. Keluar keringat dingin di dahinya. Serta wajahnya berubah pucat. Dian menahan nafas dan menutup matanya untuk menghalau rasa sakit di perutnya.
"akh sakit"pekik dian yang sudah tak tahan dengan rasa sakitnya.
"akh sakit...umi !! Bu!!"
"sakit...akh!! Umi tolong"
"akh!! Tolong bu!!"
"akh sakit !! MAS !!!"
Teriak dian dengan kencang, lalu memilih menghubungi ustadz Alfi. Namun tidak dijawab. Ia pun kembali berteriak untuk memanggil seseorang.
"sakit hiks hiks, akh akh sakit"
"TOLONG"
Semua mendengar teriakan langsung berlari kearah suara. Sepertinya suara itu berasal dari dalam kamar milik dian. Ayah ahmad dengan cepat membuka kamar tersebut. Beliau melihat dian terus mengeluh kesakitan dan mengusap perutnya.
"sakit ayah...sakit"adu dian yang terus menangis.
"kayaknya mau lahiran, sebentar umi telpon alfi dulu"ucap umi shita.
"alfi kenapa gak diangkat siih"geram umi shita. Ia kemudian menelpon umay.
Sementara dengan umay di tempat tausiyah mendadak langsung membuka hpnya yang berdering terus menerus. Ia pun menjauh dari kerumunan dan heran menatap siapa yang menelponnya.
Umay : Assalamualaikum umi
__ADS_1
Umi shita : Alhamdulillah waalaikumsalam umay. Cepat pulang dan segera kasih tahu alfi sekarang juga
Umay : Loh kenapa umi. Apa yang terjadi kenapa begitu panik
Umi shita : Dian umay. Dian mau lahiran
Umay : Oh baik umi.Wassalamualaikum
Umi shita : Waalaikumsalam. Cepat ya umay
Umay yang sehabis menerima telpon bergegas menuju panggung. Azzam dan farhan sudah siap di mobil setelah umay memberitahunya. Ustadz Alfi melihat umay berlari kearahnya menjadi penasaran.
"ustadz, dian mau melahirkan. Kita segera kembali"bisik umay.
"apa ?! Baiklah"kaget ustadz Alfi.
"ada apa ustadz?"heran panitia.
"mohon maaf yang sebesar besarnya. Saya harus segera pulang. Istri saya mau melahirkan"jelas ustadz Alfi yang berusaha bangkit dari duduknya
"oh tidak apa apa. Silahkan ustadz. Semoga persalinannya lancar"ucap panitia yang diamiinkan oleh ustadz Alfi.
Sesampainya di depan rumahnya, ustadz Alfi segera menemui dian. Hatinya jadi tidak tenang. Pintu terbuka memperlihatkan dian yang kesakitan bersama aisyah dan dayu. Dayu meringis akibat cengkeraman mbanya yang kuat ditangannya.
"tarik nafas kak"ucap aisyah memperagakan apa yang dikatakannya.
"huff huff huff akh sakit"pekik dian.
Ustadz Alfi mengucap salam dan menghampiri dian. Kemudian aisyah dan dayu menyingkir ke kumpulan para orangtua. Dian melihat ustadz Alfi berada di sampingnya seketika air matanya luruh.
"mas sakit"keluh dian menidurkan kepalanya di bahu ustadz Alfi.
Ustadz Alfi segera mengangkat tubuh dian dengan sedikit kesusahan dan berjalan kearah mobil. farhan segera turun dari mobil dan beralih ke mobil umay berada di halaman. Umi shita memasukkan pakaian untuk si kecil nanti dan pakaian dian. Bu mira, dayu, ayah ahmad berangkat duluan dengan membawa tas yang berisi perlengkapan.
Di perjalanan dian terus mengeluh kesakitan dengan meremas kuat lengan ustadz Alfi. Si empunya tangan seakan tidak peduli lagi rasa sakit akibat remasan dan cangkaran yang membuat tangannya lecet.
"duh sakit hiks...hiks..."keluh dian yang bahkan membuat umay yang menyetir keringat dingin.
"sabar ya dek, dikit lagi sampai"ucap ustadz Alfi yang menyeka keringat berbentuk jagung di kening dian.
"seandainya jika diizinkan, aku bersedia menggantikan rasa sakit itu. Tapi apa yang harus ku perbuat, melihatnya seperti ini membuatku tak tega"bathin ustadz Alfi.
Dokter berlari segera menuju ruang tersebut. Memeriksa keadaan dian. Ternyata masih pembukaan ke 7. Ustadz Alfi menjadi lemas seketika, bagaimana tidak lemas. Sedangkan istrinya baru pembukaan ke 7 yang bahkan ia tak tega melihat kesakitan itu.
Semuanya sudah menunggu di depan ruangan tersebut. Mereka memanjatkan memohon pertolongan untuk keselamatan ibu dan bayi. Umay menjadi tidak tenang, ia mondar mandir gak karuan.
"ya allah apakah masih lama? Menunggu beberapa jam lagi"decak umay.
"mas tenangkan dirimu, berdoalah dian pasti berhasil"ucap rida yang menenangkan si suami over protektif dan kekhawatiran berlebih jika berhubungan dengan adik adiknya.
Akhirnya pembukaan sudah mencapai puncaknya, dokter pun bersiap memberi aba aba. Tampak dian malah ketakutan, takut sesuatu hal yang tidak tidak. Ia menatap ustadz Alfi dengan raut yang tidak bisa diartikan.
"mas takut"lirih dian
"pasti bisa. Istrinya mas kuat. Jangan takut, ada aku disini"ucap ustadz Alfi yang melantunkan shalawat di dekat telinga dian.
"baiklah. Ibu bersiap ya. Ikuti aba aba dari saya. Bismillah... Satu...dua ...dorong"pinta dokter yang sedikit menekan perut bagian atas.
"aargh...."pekik dian yang sampai membuat tubuhnya terangkat sedikit.
"ayo bu kepala bayi sudah muncul....sekali lagi... Satu...dua...dorong"pinta dokter
"argh...hiks..hiks"teriak dian yang menatap ustadz Alfi.
"sakit mas, gak kuat"keluh dian
"percayalah pertolongan dari Allah tidak akan pernah hanya sebuah kata kata. Semangat aku ada disini bersamamu. Ikuti perintah dokter yaa"ucap ustadz Alfi yang mencium sekilas pipi milik dian.
"ayo bumil, kamu pasti bisa"ucap dokter mita yang berada di ruang persalinan tersebut. Seakan menjadi energi, dian pun mengejan tanpa aba aba dari dokter.
"aaarghh"
"aaarghh"
Semua yang berada diluar ruangan menjadi ikut tegang serta merinding karena teriakan dan pekikan dian begitu terdengar sampai keluar pintu. Perjuangan seorang ibu baru sudah menjadi ******* nih sebab terdengar tangisan bayi
__ADS_1
"oek...oek...oek.."tangisan bayi terdengar memecah suasana tegang menjadi haru.
"alhamdulillah bayinya sehat dan bayi perempuan"ucap dokter
Dokter mengangkat bayi yang masih merah bercampur darah lalu ia membersihkan tubuh kecil itu dengan sebuah handuk khusus. Ustadz Alfi sampai meneteskan air matanya dengan selalu mengucap syukur di dalam hatinya.
"makasih dek. Makasih atas perjuanganmu tadi. Si kecil ternyata perempuan, bahkan masya allah cantik seperti dirimu"ucap ustadz Alfi yang mengecup seluruh wajah dian yang terlihat penat.
"aw manis sekali wajahnya"puji dokter mita yang kesempatan mendekat kearah si kecil yang sudah bersih dan di bedong
"silahkan pak, diadzankan dulu"ucap dokter seraya memberikan kearah ustadz Alfi.
Awalnya abi baru ini begitu gugup menggendong bayi.Tapi setelah dapat instruksi dari dokter mita, ia jadi bisa. Kemudian menyerukan adzan pertama di telinga anaknya. Sungguh tidak bisa diungkap dengan kata kata kebehagiaan ustadz Alfi sekaranh Para dokter dan suster di dalam menjadi nangis bombay akibat ikut merasa terhanyut dalam suara adzan yang begitu merdu dari ustadz Alfi. Tiba tiba ustadz Alfi jadi panik melihat dian menutup matanya.
"ada apa dengannya dok? Apa yang terjadi"panik ustadz Alfi
"tenang. Dian hanya kelelahan dan jadinya pingsan."jelas dokter mita
"sebaiknya bapak langsung keruangan rawat inap bersama bayinya. Kami akan melakukan pemeriksaan pasca lahiran untuk ibunya"ucap dokter tersebut.
Ustadz Alfi menggendong bayinya menuju ruang inap yang sebelumnya sudah di pesan. Semua melihat ustadz Alfi keluar menjadi bahagia sebab melihat bayi yang di gendong. Kemudian berjalan beriringan menuju tempat tujuan.
***
"masya Allah, cucu utii manis sekali."ucap bu mira yang gemas melihat bayi yang masih digendong oleh ustadz Alfi
Dian sudah berada di dalam ruangan yang masih anteng menutup matanya. Ustadz Alfi tetap terus menanti dan sesekali menghampirinya. Si kecil tanpa nama sudah jatuh ditangan umi shita.
"wajahnya mirip sekali dengan nduk dian waktu lahir"ucap bu mira yang mendekat.
"matanya persis seperti alfi. Biar umi dan abi gak iri ya sayang"ucap umi shita yang gemas sebab mulut si kecil bergerak gerak dan membentuk senyuman.
"uluh uluh senyumnya manis banget yaa"ucap dayu dan aisyah tersenyum geli menangkap senyuman dari ponakan mereka.
"alfi siapa namanya?"tanya abi abdurahman
"em..gak tau abi. Nanti saja dinamainnya tunggu dek dian bangun"jawab ustadz Alfi. Tak lama tangan dian bergerak disertai lenguhan.
"alhamdulillah"serempak semuanya.
"haus"lirih dian serak. Ustadz Alfi dengan sigap mengambil air putih dinakas dan menuntun dian untuk minum.
"cukup?"tanya ustadz Alfi yang diangguki oleh dian.
"mas berikan nama untuknya"ucap dian yang duduk bersender di bantal yang bersusun rapi oleh ustadz Alfi.
"kamu aja dek."singkat ustadz Alfi.
"bilang aja kamu belum menyiapkannya mas"ledek dian yang tersenyum lebar.
"hihi betul. Aku belum kepikiran"balas ustadz Alfi yang menggaruk tengkukny yang tak gatal sama sekali.
"baiklah, biar aku aja"
"bagaimana jika Hafshah Cahyani Al Fahri. Hafshah itu nama istri Rasulullah Saw. selain itu ia juga penghapal Al Qur'an dan berarti adil. sedangkan Cahyani itu artinya cahaya lalu Al - Fahri itu bisa di artikan kebanggaan ."
"aku ingin jika suatu saat nanti ia akan bisa menghapal Al-Qur'an dan bersikap adil kepada siapapun. kedua ... lihatlah mukanya bercahaya dan cantik, itu sangat cocok kepadanya. yg terakhir ... selain Tentang keluarga dari abinya, aku ingin saat besar nanti ia akan selalu diberi kemuliaan, kehormatan dan kemurahan hati oleh Allah..."jelas Dian. semuanya pun takjub dengan penjelasannya
"penjelasanmu sangat masya allah dek"puji ustadz Alfi. Kemudian hafshah diberikan kepada dian.
"assalamualaikum sayang. Afsa cantik sekali nak"ucap dian yang menciumi bertubi tubi di wajah imut dan gemesinnya anaknya, ustadz Alfi memeluk kedua perempuan kesayangan miliknya .
Membuat semuanya tersenyum senang dengan terpancarnya rasa bahagia tak terhingga dari pasangan suami istri yang sudah menjadi orangtua. Tak lama hafsa mencebik mulutnya dengan tangisan kecil.
"kenapa? Hafsa haus yaa"ucap dian yang meletakkan telunjuknya di mulut hafsa dan mulut itu terbuka dengan mata yang tertutup. Selain ustadz Alfi, yang lainnya segera keluar dan faham apa yang akan diminta oleh hafsa kecil. Setelah cukup dengan ASInya, hafsa kemudian tertidur pulas di dekapan uminya dan memegang erat pakaian dian seakan akan tak mau lepas.
"akan susah aku dekat dengan dek dian kedepannya."pikir ustadz Alfi yang menidurkan dirinya di sofa.
Bersambung....
π’π’π’π’π’π’π’π’π’π’
Hallo permirswah, gimana epsnya neh?
Alhamdulillah episodenya sudah terupdate dan bila ada typo yang buat gak nyaman bacanya, mohon dimaafkan yaa
__ADS_1
Stay Tune dan Nantikan Notif Updatenya,
Salam sehat & Terimakaseh, see you di next eps. SayangΒ²nya akyuu.... Mwuach π