Menikahi Ustadz Idolaku

Menikahi Ustadz Idolaku
MUI : Extra Part 2 (Last)


__ADS_3

"ABI !!"


Suara yang lebih tepatnya seperti pekikan panik dari seorang gadis kecil memenuhi ruangan tersebut. Semuanya mendadak terfokus dengan Hafsa yang berlari cepat menuju Ustadz Alfi.


"ada apa sayang? Ucapkan salam terlebih dahulu"Ustadz Alfi yang ikut kaget dengan Hafsa yg sudah berada di depannya.


"as…assalamualaikum..hosh hosh"salam Hafsa sambil menormalkan nafasnya.


"waalaikumsalam"kor semuanya.


"kenapa Hafsa lari lari? Nanti terjatuh nak"Ustadz Alfi menjajarkan tinggi tubuh Hafsa dengannya lalu memberikan air mineral miliknya. Hafsa kemudian meminum air tersebut dan mulai berbicara kembali.


"Abi, gawat"panik Hafsa.


"gawat kenapa?"tanya Ustadz Alfi.


"umi perutnya sakit abii, Hafsa takut dedeknya kenapa napa"rengek Hafsa terlihat panik sekali.


"astaghfirullah, bagaimana bisa?"tanya Ustadz Alfi yg mewakili pertanyaan semuanya yg mendengar.


"Hafsa gak tahu pasti abi, tante dokter yang tahu. Tante bilang umi kesakitan trus mukanya pucat di depan aula."terang Hafsa yg membuat Ustadz Alfi terlihat tambah panik


"lalu dimana umi?"Ustadz Alfi terlihat panik sekali sekarang.


"di rumah dan tante dokter yang lagi periksa"jawab Hafsa. 


Ustadz Alfi segera berlari menuju rumah. Pikirannya dipenuhi oleh rasa takut yang berlebih dan khawatir jika masalah ini serius. Langkahnya terhenti ketika melihat Hafsa kesulitan mensejajarkan larinya. Jadi, dengan cepat Ustadz Alfi menggendong Hafsa. Ia tak tega jika Hafsa kelelahan sedikitpun.


Kemudian disusul Azzam, Aisyah, Farhan, Dayu, Wahyu, Rita, Faqih, Melinda, Intan dan lain lain berjalan mengikuti dari belakang langkah extra lebar Ustadz Alfi. Tak perlu lama lama lagi, akhirnya mereka telah sampai dan di ruang tamu wajah para orang tua sangat khawatir sambil menanti hasil pemeriksaan dokter Angelica. 


Kemudian Ustadz Alfi masuk dengan langkah pasti. Di dalam sana, Dian sudah terbaring dengan keringat dingin di wajahnya dan air mata yang mengalir seiring desisan rasa sakit luar biasanya dialami olehnya saat ini. Ustadz Alfi merasa tak tega dengan istrinya menahan rasa sakit itu. Posisinya belum masuk sebab dokter Angelica berada di ambang pintu.


"tolong ustadz temani, saat ini sudah pembukaan terakhir. Saya akan berusaha membuat bayi di dalam perut bisa lahir dengan normal serta ibu dan anak selamat. Ada masalah di dinding rahim Dian dan bayi terhalang untuk keluar, tapi semoga berhasil dan saya mohon doa untuk kelancarannya"


Ucapan dokter Angelica membuat kaki Ustadz Alfi lemas seketika. Bagaimana bisa ada masalah di dinding rahim istrinya, padahal waktu itu terakhir pemeriksaan bisa melahirkan secara normal dan baik baik saja. Semuanya ikut menjadi sedih.


"mas hiks hiks sakiit"tangis Dian tak terhingga lagi. Ustadz Alfi segera menghampiri dan menggenggam erat tangan wanitanya.


"Dek, kamu harus kuat. Berjuanglah, mas akan ada disini. Anak kita butuh semangat dan doronganmu, agar ia bisa keluar melihat dunia."support dari Ustadz Alfi yang menciumi tangan Dian dengan air mata yg tanpa sadar bercucuran di pipinya. 


Sedangkan Dian berbaring di ranjang dengan tangisan yg tak berhenti. Hanya sedikit anggukkan tanda Dian mendengar lalu merespon suaminya. Sedangkan semuanya melihat pasangan suami istri tersebut merasa haru dan terus berdoa. 


Pintu mulai tertutup kembali. Tak lama terdengar jeritan dan pekikan Dian yg berusaha keras untuk bayinya agar bisa keluar. Orang orang yg mendengarnya diluar tak kuasa menahan tangis, bagaimana perjuangan seorang ibu itu sungguh luar biasanya. Namun rasa bahagia menyambut sebab terdengar lengkingan tangis bayi.


"Alhamdulillah"


Ustadz Alfi merasa sangat bersyukur akan kelancaran proses persalinan istrinya. Demi apapun, ia tak bisa mengungkapkan rasa bahagia bercampur haru menjadi satu. Dokter Angelica membersihkan tubuh mungil yang masih tersisa bercak darah lalu membedongnya.


"Assalamualaikum abii, umii. Aku jagoan"ucap dokter Angelica seraya menggendong bayi yang seperti duplikat Ustadz Alfi namun bedanya ini masih kecil. 


"Waalaikumsalam, Masya Allah"Ustadz Alfi tersenyum bahagia menggendong anaknya yang baru saja lahir dan ternyata laki laki. Sedangkan Dian hanya tersenyum dengan mata yang sayu lalu menutup matanya.


"ada apa dengan dek Dian dok?"panik Ustadz Alfi. 


"Harus melakukan pemeriksaan pasca lahiran untuk ibunya. Jadi Ustadz sudah bisa keluar dan biarkan saya memeriksanya"ucap dokter Angelica mengeluarkan perkakas andalannya untuk memeriksa pasien.


Ustadz Alfi menghela nafasnya berat dan juga merasa sedih dengan keadaan Dian yang sangatlah lemah sehabis melahirkan. Ia menurut lalu menggendong bayinya keluar.


Pintu terbuka dengan menampilkan tubuh tegap nan jangkungnya Ustadz Alfi yang sedang menggendong bayi mungilnya. Terlelap dan sesekali bergerak sedikit demi sedikit di gendongan sang abi.


"Masya Allah, apa jenis kelamin anakmu Alfi?"Abi Abdurrahman menatap bayi mungil di gendongan putranya dengan binar gembira.


"laki laki abi"Ustadz Alfi tersenyum begitu memancarkan rasa gembira.


"adzankan dulu le"Ayah Ahmad mengingatkan menantunya. 

__ADS_1


Ustadz Alfi mengangguk mengiyakan lalu duduk di sofa dan sedikit membenarkan posisi anaknya agar nyaman. Lalu mengambil nafas dan mulai mengadzankan putranya untuk yang pertama kalinya. Suaranya mendayu dan merdu didengar. Terlihat bayi mungil tersebut bibir kecilnya bergerak dan membentuk senyuman.


Akhirnya, selesai juga Ustadz Alfi memgadzankan putranya. Ia berniat memberikan kesempatan pada para kakek nenek yg tak sabar untuk menggendong. Namun belum sempat tangan Ustadz Alfi terlepas dan benar benar digendong oleh para nenek, ternyata bayi itu menangis.


"oeek,,, oeek,,, oeek,,,"Tangis bayi mungil itu terdengar seperti melengking.


"cup, cup, cup jangan menangis. Abi disini sayang"bujuk Ustadz Alfi yang mengusap air mata bayi mungil itu. Tak lama kelopak mata bayi itu terbuka sedikit menampilkan mata bulat yang berkaca kaca menatap Ustadz Alfi dalam lalu kemudian tangisnya berhenti.


"mungkin dik bayi gak mau lepas dari abi"seru Hafsa yang seakan tahu penyebab adiknya menangis. 


"betul itu. Oiya Kak, siapa nama keponakanku yang tampan ini?"Aisyah menoel noel gemas pipi keponakannya dan membuat bayi itu bergerak tak nyaman. Azzam langsung saja menangkap tangan istrinya.


"jangan ais, kasihan jadi keganggu tidurnya"tegur Azzam yang membuat Aisyah cemberut. Ustadz Alfi menggeleng kepalanya lalu nampak berpikir nama yg cocok untuk anak keduanya. 


"Hamzah Hazman Al Fahri"


Finally! Ustadz Alfi memberi nama putranya dengan nama tersebut. Entahlah itu keputusan yang sangat cepat ia ambil. Sebenarnya Ia dan Dian sudah ada nama untuk laki laki sejak awal sebelum Hafsah lahir. Ternyata nama itu terpakai juga saat ini.


"dik maza"cetus Hafsa 


Loh loh, kok panggilan rada melenceng yah. Semuanya mendadak terdiam dan mencoba mencerna panggilan sayangnya sang kakak kepada adik laki lakinya.


"kok, maza hafsa. Kan bisa dipanggil Ham atau azman"bingung Aisyah.


"hafsa gak mau manggil Ham nanti dikira singkatan Hak Asasi Manusia lagi."ucap Hafsa membuat Ustadz Alfi membulatkan matanya kaget.


"kamu tau dari mana sayang tentang Hak Asasi Manusia?"tanya Ustadz Alfi.


"Pernah denger aja abi"Hafsa mengangkat bahunya dan terlihat biasa biasa saja. Sungguh ingatannya sangat kuat walau hanya mendengar sekilas atau melihat. Semuanya menjadi kagum dengan kemampuan mengingat Hafsa yang baik.


"dik.. kamu mau dipanggil Maza kan?"tanya Hafsa mendekat ke arah adiknya yang masih digendong abinya. Terlihat Hamzah kecil bergerak lagi dan lagi membentuk senyuman. Sungguh luar biasa, mungkin nanti menjadi orang yang murah akan senyuman seperti Ustadz Alfi.


"Maza, panggilan yg bagus"


"dek, alhamdulillah kamu sudah sadar"Ustadz Alfi yang memilih berdiri dan mempersilahkan Dian duduk di sofa bekasnya tadi. Dian tersenyum lalu duduk dengan perlahan.


"Alhamdulillah, sudah sedikit lebih baik"balas Dian yang menyakinkan dokter Angelica karena terlihat masih ada gurat khawatir di wajah cantik dokter tersebut. Kemudian Ustadz Alfi memberikan Hamzah kepadanya.


"kamu harus banyak beristirahat dan oiya semuanya memang baik baik saja saat ini. Tetapi rahim milikmu sudah tidak bisa mengandung lagi. Apakah tidak apa apa?"Dokter Angelica menjelaskan dengan rasa sendu di wajahnya. 


Dian menatap Ustadz Alfi. Terlihat suaminya menjadi merasa khawatir dan sedih mendengar kenyataannya. Takut dirinya terpuruk lagi namun kenyataannya ia baik baik saja. Dian tersenyum penuh arti dan ikhlas menerima kenyataannya seraya menggenggam tangan laki lakinya. Ustadz Alfi ikut tersenyum paham akan kode batin dari istrinya dan membalas dengan anggukkan.


"tidak apa apa. Lagipula Doa kami sudah dikabulkan memiliki anak sepasang."ucap Ustadz Alfi mewakili Dian


"merasa bersyukur Hamzah hadir. Itu lebih dari cukup"timpal Dian mengelus dahi Hamzah kecil di gendongannya


🐐🐐🐐🐐🐐


Waktu terus berjalan dan tanpa sadar berlalu begitu saja. Semua tak lepas dari kekuasaan sang Ilahi yang terus mengiringi kehidupan di dunia ini. Tak ada rasa kesusahan tanpa kemudahan, tak ada rasa kesedihan tanpa kesenangan dan begitu sebaliknya. 


Ustadz Alfi dan Dian tak sadar jika usia pernikahan mereka telah lama berjalan. Yang awalnya bertemu di cafe dan sampai memiliki Hamzah dan Hafsah yang melengkapi kehidupan berumah tangganya.


"dek"seru Ustadz Alfi.


"ya mas"sahut Dian.


Mereka berdua sedang menghabiskan waktu di sofa ruang tamu. Oiya rumah mereka di Jakarta sudah dijual dan menjalani kehidupan di Jogja dengan rumah yang tak jauh berbeda. Bahkan keluarga mereka berada di daerah Jawa dan tersebar. Ustadz Alfi juga sudah tidak go publik lagi dan memilih menjadi pengajar ngaji anak anak di masjid terdekat dari rumahnya.


"kamu masih ingat tentang pertemuan kita yang pertama?"tanya Ustadz Alfi mengelus hijab panjang milik Dian. 


"masih…"senyum malu Dian. Ia menjadi mengingat awal kisah cinta mereka. Rasanya tak bisa menyembunyikan kekagumannya saat itu pertama kali melihat Ustadz Alfi walau tertutup masker.


"kamu cantik dek. Mas akui gak bisa menghapus bayanganmu saat itu"Ustadz Alfi tersenyum senyum menerawang mencoba mengingat ingatnya kembali.


"itu dulu kan pas masih muda. terus sekarang masih gak?"tanya Dian yang pura pura galak.

__ADS_1


"masih dong. Bagi mas, kamu cantik walau umurmu sudah berkepala 4. Bidadari surganya Alfi hehe"jawab Ustadz Alfi yang menyadari bahkan umurnya sudah masuk kepala 5. Dian mencubit tangan laki lakinya untuk menyembunyikan rasa malu dan blusingnya.


"adduh dek, sakit tau."keluh Ustadz Alfi yg meringis dan masih cengengesan aja.


"lagian gak sadar sama umur mas. Masih aja gombal"oceh Dian.


"loh itu buat mengikat erat erat tali pernikahan kita sayang."senyum Ustadz Alfi yang menular membuat Dian ikut terkekeh geli mendengarnya.


"Assalamualaikum"salam dari dua orang yang tak asing didengar telinga mereka.


"waalaikumsalam"jawab Ustadz Alfi dan Dian serempak. Kemudian muncullah tubuh tegap milik Hamzah yang diikuti dengan munculnya senyuman manis dari Hafsah.


"Masya Allah anak anak umi"Dian terharu menatap kedua anaknya saat ini. Bagaimana tidak, Hamzah dan Hafsah memakai pakaian khas wisuda yg dilengkapi selempangnya.


"Hamzah Hazman Al Fahri M.Pd" 


"Hafshah Cahyani Al Fahri M.Psi"


Hamzah dari kecil berminat untuk menjadi seperti abinya dan mengambil studi pendidikan Agama Islam sedangkan Hafsah berminat di bidang psikolog sejak kejadian uminya yang depresi. Gadis yang sudah tumbuh dewasa itu ingin orang orang yg depresi bisa sembuh seperti uminya saat ini. 


Mereka memperoleh nilai tinggi dan mendapat predikat cumlaude. Hafsah menempuh pendidikan di Universitas Surabaya sedangkan Hamzah menempuh pendidikan di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. Semua biaya ditanggung sepenuhnya oleh beasiswa tentu kedua orang tua mereka hanya menyediakan biaya tinggal, makan dan lain lainnya. Bahkan Hafsah dan Hamzah tinggal di asrama. 


"umi"Hamzah mencium punggung tangan milik umi yang telah lama ia rindukan disusul Hafsah. Lalu tanpa sadar membuat Dian tak bisa menahan air mata bahagianya dan memeluk kedua anaknya.


"Terimakasih Ya Allah, putra putriku mendapatkan apa yang dicita citakan"ucap Dian mengelus bahu Hafsah dan Hamzah bergantian.


"kami kangen umi"seru Hamzah yang diangguki oleh Hafsah.


"abi gak di kangenin nih?"tanya Ustadz Alfi yang berdehem karena merasa terasingkan wkwk.


"kami juga kangen abi"ucap Hafsah yang terkekeh kecil beralih menarik Hamzah menuju abinya. Dengan patuhnya Hamzah mengikuti kakaknya seperti anak bebek hehe.


"selamat atas usaha keras kalian selama ini. Tentu abi sangat bangga"ucap Ustadz Alfi memeluk kedua anaknya. Lalu mengajak untuk duduk di sofa. 


Hamzah dan Hafsa duduk dekat umi mereka. Si dedek bontot menyandarkan kepalanya di bahu Dian sedangkan Si gadis kecil yg sekarang sudah besar bergelayut manja di lengan kiri Dian.


"Haii, wanita yang kalian peluk adalah milik abii. Jauh jauh sana, sudah besar juga masih aja"oceh Ustadz Alfi. What, si Ustadz cemburu sama anak anaknya pemirsa semua haha


"yee, ini kan milik kita juga abi"sahut Hamzah.


"tapii itu istri abi"timpal Ustadz Alfi.


Beginilah yang terjadi jika sedang berkumpul. Hamzah dan Ustadz Alfi selalu berdebat lalu Hafsah sebagai penengahnya. Sedangkan Dian yang diperebutkan hanya bisa menepuk keningnya pelan. Anak anak akan manja kepada umi mereka tentu hal wajar. Yang gak wajar tuh Ustadz Alfi, bisa bisanya cemburu sama anak sendiri.


"sudah, sudah… sekarang kita foto dulu nanti umi cetak dan membeli bingkainya"ajak Dian yang membuat semuanya mengalihkan perdebatan itu. 


Dan jadilah sekarang. Dian sudah rapi dengan dress batik syar'i nya dan Ustadz Alfi sudah rapi dengan gamis yang di kantung sakunya ada ukutan batik serta kopyah. Mereka bersiap berfoto.


"bersiap ya"ucap Dian mengaba aba dan mengatur dirinya di antara suami serta anak anaknya. 


Cekreekk


Bunyi jepretan kamera terdengar dan menghasilkan sebuah foto yang berarti. Gaya formal yakni posisi Dian bersama Ustadz Alfi duduk di sofa sedangkan Hamzah dan Hafsah berdiri di belakang orangtuanya. Lalu berlanjut gaya bebas yakni masing masing memeluk pawangnya. Hamzah memeluk Uminya dan Hafsah memeluk Abinya. Seakan terlihat bahwa masing masing mereka memiliki wajah yg mirip dengan pawangnya hehehe…


🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢


Assalamualaikum


hehe aku hadir kembali nih...


Alhamdulillah akhirnya benar benar kisah ini berakhir... Semoga membuat semuanya terpuaskan dengan extra partnya yaa


Jika ada salah kata dan penulisan, mohon dimaafkan. Aku izin pamit mengakhiri kisah Ustadz Alfi dan Dian. Maaf juga jika alurnya membingungkan bagi pembaca semua...


terimakasih, dadah 👋

__ADS_1


__ADS_2