Menikahi Ustadz Idolaku

Menikahi Ustadz Idolaku
MUI : Persyaratan Tak Masuk Akal


__ADS_3

"kamu menyandera keluargaku kan?"terka Dian.


"betul sekali tebakanmu"seringai Rendi.


"apa yang kau lakukan dengan mereka? Mau mengancamku lagi. Kamu mau apa dariku? Kamu mau Harta atau mau nyawaku?"tanya Dian yang membuat suasana di sana dingin tapi mencekam juga.


"Aku bukan mau nyawamu tapi aku tertarik mengajukan persyaratan kepadamu"ucap Rendi membuat Dian berpikir sejenak. 


"Tunggu dulu. Sebelum itu aku penasaran dengan ambisimu yang terus mengusik hidupku. Apa alasanmu melakukan itu kepadaku ? Bukankah seharusnya aku yang melakukan seperti ini padamu?"ucap Dian tidak habis pikir dengan tindakan Rendi selama ini padanya. 


"kau ingin tahu kenapa aku melakukan hal ini? Karena aku tak terima kau dan keluargamu bahagia diatas penderitaanku"ucap Rendi yang sesekali mengeratkan kepalan tangannya.


"bahagia diatas penderitaanmu ? Kau konyol Rendi. Atas dasar apa ? Sepatutnya aku yang melakukan ini sejak dulu. Membalas penghinaanmu itu."ucap Dian lama lama geram dengan tuduhan tadi.


"kau membunuh istriku"tuduh Rendi. Semuanya terbelalak kaget dengan itu dan menatap Dian yang seperti biasa biasa saja dengan tuduhan itu. Walau tadi ia sempat geram.


Em.. Istrinya Rendi meninggal dunia saat sedang mengandung anaknya masih usia 8 bulan. Saat itu terjadi kecelakaan di jalan alternative semarang dekat perkebunan dan pemakaman warga sekitar. Rendi mengenang peristiwa tersebut sebab tiba tiba ingat dengan istrinya.


Flashback on


"sayang kamu mau kemana hemm?"tanya Rendi yang melihat istrinya sudah rapi memakai kerudung putih dan menenteng tas. 


"kamu gimana sih mas? Bukannya kita mau jenguk kedua orangtuaku. Sudah lama tidak nyekar sewargi (ziarah almarhum)"ucap Ratma sedikit cemberut dengan pertanyaan suaminya itu. 


"oiya mas lupa. Jangan ngambek gitu dong"ucap Rendi. Ia membujuk Ratma agar tersenyum kembali. Bujukannya berhasil yang terlihat sebab istrinya sudah tersenyum lagi dengan manis. 


"yaudah, mas mau siap siap dulu yaa. Kamu tunggu sebentar"pinta Rendi segera berlari ke kamar untuk berganti pakaiannya. 


Kehidupan mereka sangatlah bahagia dan berbeda jauh dengan Dian yang saat ini sedang ada dijakarta sepertinya sebab tolakan lamaran dari Rendi. Ratma sempat berpikir jika suaminya sangatlah jahat kepada Dian. 


Bagaimanapun ia juga wanita yang akan merasa sakit akibat itu. Bahkan ia ingin berjumpa Dian untuk sekedar berbincang bincang lalu meminta maaf karena perbuatan suaminya kepada gadis itu. Namun dari beberapa waktu ia tak sempat bertemu dengan Dian karena ternyata sudah di amanahkan mengandung seorang anak hasil buah cinta suaminya. 


Siang hampir menjelang dan sedikit redup dengan hembusan angin yang damai menerpa setiap orang diluar. Akhirnya mereka berjalan kaki menuju pemakaman dimana kedua orang tuanya Ratma. Pemakaman itu harus menyebrangi jalan raya dan sangatlah jauh dari pemukiman warga sekitar. 


"mas"panggil Ratma menoleh menatap Rendi yang masih senantiasa menggandengnya.


"iya?"sahut Rendi tersenyum menatapnya.


"kamu tahu Dian berada dimana?"tanya Ratma sedikit ragu. Rendi pun menghentikan langkahnya lalu menatap istrinya saat ini.


"mungkin di jakarta"singkat Rendi. Ia terus saja berkata seperti itu saat istrinya bertanya.


"mas, kamu harus ingat sesuatu. Bagaimapun Dian telah disakiti hatinya olehmu. kita harus minta maaf dengannya. Agar hatiku tenang. Aku yakin Dian akan memaafkanmu sepenuh hati."terang Ratma seraya menggenggam jemari milik suaminya. 


Rendi terdiam. Ia berpikir apa yang dikatakan oleh istrinya itu benar sekali. Sampai sekarang ia takut menemui Dian. Gadis yang telah ia permalukan keluarganya dan sakiti hati polosnya yang murni. Sungguh dirinya ingin sekali meminta maaf secara langsung. 


"nanti saja. Mas akan ajak menemuinya di jakarta. Tapi harus fokus dengan calon bayi kita lebih dulu."ucap Rendi.


"syukurlah. Aku mulai tenang mas"simpul Ratma yang tersenyum manis secerah matahari pagi. Senyumnya begitu indah dan manis menatap Rendi yang mendadak melongo sebab terpesona. 


"mas, ayo beli bunga dulu"rengek Ratma yang melihat sedikit lagi melangkah menuju pemakaman orangtuanya. 


"eh…iya tungguin. Jangan kemana mana sebelum mas selesai membelinya"perintah Rendi diangguki oleh Ratma dengan senyuman. 

__ADS_1


Laki laki itu melangkah membeli bunga dan beberapa keperluan berziarah ke makam mertuanya. Ratma menatap kearah jalan raya yang berliku liku itu dengan sesekali mengelus perutnya yang sudah membuncit besar. 


Perhatiannya terus saja berlanjut dengan seekor tupai yang berjalan kearah tengah jalan raya. Ia pun penasaran dengan apa yang dilakukan binatang itu. Ratma berjalan menghampiri tupai tersebut dan mengusirnya agar tak tertabrak. 


Tupai tersebut benar benar berlari kembali kearah pemakaman. Ratma tersenyum dan berjalan kembali untuk menghampiri suaminya yang nampak telah selesai membeli bunga. 


Saat Ratma sudah hampir mencapai gapura ternyata ada mobil yang melaju kencang untuk menghindari truk dari arah berlawanan. Ratma berjalan santai awalnya namun mendadak terkejut sebab mobil tersebut malah mengarah padanya lebih dekat. 


"Ratma, awass!!" pekik Rendi yang berlari menuju tempat tersebut namun langkahnya sia sia sebab sudah terlajur Ratma tertabrak keras mobil tersebut dan terlempar cukup jauh. 


Jantungnya mendadak berhenti dan seketika dunianya hancur dengan pemandangan yang mencekam di depan matanya. Ratma tergeletak di dekat pagar pembatas jalan dengan berlumuran darah bahkan perutnya yang membuncit terus saja mengalirkan darah segar. 


"ma.. Mas"cicit Ratma yang telah melihat Rendi sudah menggapai tubuhnya. Terlihat suaminya tidak bisa berbicara dan hanya menangis. 


"maaf … maaf… maaf… sampaikan maafku kepadanya maas… pastikan Dian memaafkanku. Ini sebab diriku yang merebutmu darinya."lirih Ratma sesekali meringis kesakitan. 


"sa..sayang itu bukan sebab dirimu, ku mohon bertahanlah. Kita akan sama sama meminta maaf. Tapi…"ucap Rendi terhenti sebab suara mobil yang menabrak istrinya melaju. Ia hanya melihat sekilas nopol mobil itu tapi tak ia hapalkan sebab Ratma mengerang kesakitan.


"Arghh… sakit!!"


Pekikan keras itu terdengar mencapai tempat penjual bunga. Penjual itu langsung saja menghubungi polisi dan ambulans sebab jalan raya didepannya sudah terdapat darah yang mengalir. Setelah itu ia mencoba menghampiri siapa yang kecelakaan. 


"sayang"tangis Rendi yang terdengar sudah tercekat di ujung tenggorokannya. 


"mas.. mungkin… kita hanya sampai disini… doakan aku bisa bertemu lagi denganmu di lain tempat dan waktu… aku minta maaf dan tolong sampaikan maafku…kepadanya..."pesan Ratma yang kemudian menutup matanya dan saat itu pula nyawanya tak tertolong.


"tidak… tidak…RATMA!!"


Hanya tangisan yang memilukan terdengar oleh penjual bunga tersebut. Ia saja ikut menangis sebab keadaan wanita hamil itu sangat menyayat hatinya. Tak lama terdengar suara mobil polisi dan ambulans berdatangan.


"aku merindukanmu sayang"bathin Rendi yang mengingat Ratma. Dan saat inilah dendamnya semakin membesar karenanya kecelakaan, darah, dan pekik kesakitan Ratma yang tercetak jelas dibenaknya. Ia bahkan lupa pesan terakhir dari istrinya sebab sibuk dengan dendam.


"membunuh istrimu? Pikiranmu itu sungguh kejauhan. Coba kau pikirkan dan pahami lebih dulu perkataanku ini."


"jika aku membunuh istrimu ketika sudah beberapa bulan bahkan nyampai satu tahun. Itu bukan perlakuanku. Balas dendam denganmu apa gunanya. Sedangkan aku sudah tidak merasa apapun denganmu bahkan 2 jam sudah tak mau tau lagi tentang kehidupanmu. Istrimu meninggal saat ia hamil 8 bulan bukan ? Bahkan aku sedang ujian kelulusan di sekolah ku dan sedang berjuang demi mendapatkan beasiswa. Apakah aku sempat untuk membunuh istrimu pada saat itu."terang Dian panjang lebar.


"salah satu orang dikeluargamu yang mengunakan mobilnya untuk menghindari truk. Lalu menabrak istriku yang sedang menyebrang tanpa belas kasihannya."balas Rendi yang nampak terus mencari dan mengulik kejadian saat itu.


"bisa mengendarai mobil saja aku tidak mampu. Bahkan jika aku melihat mobil milik kak Umay atau mas Agung. mobil mereka mulus tanpa ada goresan dan perlu kau catat jika mereka belum pernah kecelakaan. Kelihaian mereka dalam mengendarai mobil ditikungan bukanlah sertifikat palsu tapi teruji secara sah dan fakta. Kamu jangan ngada ngada sembarangan"jelas Dian. 


Rendi terdiam memikirkannya. Jika dipikir pikir dendamnya ini tanpa sebab kepada Dian maupun keluarganya. Sedangkan ia sendiri tidak tahu pasti siapakah yang dibalik kecelakaan pada saat itu. Tapi jika di ingat ingat lagi, kania pernah penyelidiki siapa yang terlibat dan tertera di surat keterangan tersebut terbukti bahwa Dian lah yang terlibat. Entah itu keluarganya atau keluarga suaminya sekarang.


"kau pasti hanya memutar balikkan fakta. Aku hanya ingin mengajukan persyaratan untuk membebaskanmu dari tuduhanku."ucap Rendi yang tak mau mendengar alasan lagi dari Dian. Sedangkan Dian sudah malas menjelaskan panjang lebar tentang ia dan keluarganya bukanlah pembunuh atau penyebab kematian istri Rendi.


"ah baiklah kl begitu. Mau kujelaskan panjang panjang dan sampai berbusa mulutku pun kau tak mau menerimanya. Silahkan persyaratan apa yang kau ingin ku penuhi. Apapun itu aku akan menyanggupinya jika memang manusiawi dan demi suami serta keluargaku terbebas dari sandera mu"timpal Dian. 


Ustadz Alfi mendadak merasa khawatir dengan apa yang akan disampaikan Rendi kali ini. Ia tak mau istrinya kenapa napa lagi. Tak mau ditinggal pergi jauh dari sisinya lebih tepatnya seperti itu. Sementara semuanya juga berdebar debar dengan apa yang akan diajukan kepada Dian. 


"aku ingin mengadakan sebuah permainan. Jika ada 5 orang di pihakmu yang menyelamatkan yang saat ini aku sandera, terluka bahkan meninggal maka kau akan kalah. Penalty yang kamu berikan adalah kau harus dijebloskan ke penjara mau salah atau tidak."ucap Rendi yang membuat semuanya melebarkan mata serempak. 


"apa maksudmu Rendi!"Marah Ustadz Alfi yang sudah tak tertahan lagi. Dian menjadi diam dengan semua itu dan tak mendengar jika suaminya marah sebab persyaratan itu. 


"haii ayolah bukankah itu sudah standar."seringai Rendi kembali muncul. 

__ADS_1


Suasana menjadi sepi diantara kedua belah pihak. Dian terdiam dengan pikirannya. Tiba tiba saja Komandan Agha yang memakai seragam dinasnya lengkap sehabis melatih muncul dilayar komputer. Sehabis itu muncul Raka dan Brian yang sama sama seperti atasannya memakai seragam lengkap ikut berjejer dengan komandan Agha. Mereka bertiga bertukar pandangan lalu mengangguk pasti.


"setuju."tegas komandan Agha yang tak main main dengan keputusannya. 


Dian terjengkit kaget akibat suara tiba tiba itu bak hantu yang memunculkan wujudnya. Ia pun mengelus dadanya perlahan lahan untuk menetralkan jantungnya. Sesungguhnya ia tak boleh kaget sedikit. Dadanya akan nyeri dan terasa di setrum.


"kau baik baik saja?"tanya Dokter Marissa yang juga ada diantara mereka. Dian hanya mengangguk saja dan wajahnya mulai memucat lagi membuat semuanya merasa khawatir. Tapi semua itu kembali normal sebab Dian bisa mengendalikannya. 


"bagaimana, keputusan ada ditanganmu. Tapi sepertinya kalian setuju"ucap Rendi memecah keheningan.


"apa apaan kau ini. Aku belum setuju. Enak saja"kesal Dian. Namun tatapan tajam menusuk kearah komandan Agha yang memasang wajah sedatar teripleks itu. 


"apa maksudmu menyetujuinya?"tanya Dian yang menatap menyelidik kearah laki laki di depannya.


"coba kau pikirkan. Rendi itu licik dan kau juga harus bersyukur jika sampai saat ini keluargamu belum melayang nyawanya. Nah sudah tahu jika rendi itu menghalalkan segala cara. Nanti jika kamu menolak apa yang akan terjadi selanjutnya."ucap komandan Agha. 


"aku tahu otak liciknya sudah over dosis. Tapi jika persyaratan ini disetujui akan tidak baik baik saja. Nyawa manusia dipermainkan disini, diatas keputusanku."marah Dian bakan ia menggebrak meja saking kesalnya lalu berdiri dan siap berdebat dengan suami dari sahabatnya. 


"dian, aku tentu tahu apa yang kau pikirkan saat ini. Walaupun begitu dan langkah ini sangat extrem tapi tetap ku lakukan. Lagipula anak anak sudah siap Ujian prakter nyata bukankah ini hal yang mereka inginkan. Membela dan menyelamatkan warga negara. Bahkan andai sekarang aku katakan, mereka akan mau. Kau tahu mereka menawar jika ujian mereka hanyalah simulasi dan kau adalah kakak pelatih mereka tentu saja akan bersedia membantumu kapanpun itu."terang komandan Agha.


"betul itu, semangat mereka sangatlah mengalahkan rasa kekhawatiranmu. Mereka siap melawan komplotan mafia seperti itu"timpal Raka.


(guys, inget yaa ini cuma fiktif dan gak nyata. imajinasiku aja 🙏)


"pokoknya aku gak mau, titik !!"ucap Dian yang kembali duduk tak mau menatap komandan Agha yang masih membujuk.


"menurutku… ucapan komandan agha itu benar yan. Memang benar apa ucapanmu tadi tapi dari pada mengorbankan nyawa banyak lebih baik sedikit tapi kita dapat meraih mereka bersama. Anggaplah saat ini yang kamu ingin ajak perlawanan ialah pejuang yang pantang pulang sebelum meraih sesuatu tujuan mereka. Ingatlah bahwa ada anak dan keponakanmu yang butuh pertolongan darimu. Keputusan semua ada ditanganmu, kamu mau pilih yang mana"terang dokter marissa. 


Dian terdiam dan menghela nafasnya berat. Kepalanya sangat berat sampai ke bahunya. Bebannya kenapa tambah terasa menguburnya. Hati dan logikanya bahkan tak sesuai. Di tangannya terdapat keputusan dan tanggung jawab besar. 


"aku tidak ingin tapi keadaan menghimpitku sampai sesak"pikir Dian. 


Semua ikut terdiam. Saat ini segala keputusan ada ditangan Dian. Tapi terlihat sekali Dian menjadi tertekan dengan pikirannya sendiri. Mereka juga tak bisa membantu sebab berada di pihak hadiah atau pihak lemah yang akan berpindah tangan ke siapa saja.


"putuskanlah segera"ucap dokter marissa yang mengelus pundak milik Dian. Pundak yang terdapat banyak sekali beban saat ini.


"Baik.. Aku putuskan untuk menerima syaratmu. Namun jika kau kalah maka urusan kita telah selesai saat itu juga"ucap Dian yang sudah bulat. 


Komandan Agha, Raka dan Brian nampak tersenyum mengangguk. Mereka akan menyusun dan menyiapkan semuanya untuk besok. Hem.. Seperti ingin perang saja yaa.


"bersiaplah, kami akan melawanmu terang terangan. Tunggulah dan ingat kau harus menjamin keselamatan keluargaku sampai aku menemukan mereka."ucap Dian yang telah bertekad akan melawan dengan kekuatan bukan keikhlasan di tindas seperti waktu itu. 


"semoga keputusanku benar. Lancarkanlah langkahku ya Allah"doa Dian di dalam hatinya


bersambung...


🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢


Hallo permirswah, gimana epsnya neh?


Alhamdulillah episodenya sudah terupdate dan bila ada typo yang buat gak nyaman bacanya, mohon dimaafkan yaa


Stay Tune dan Nantikan Notif Updatenya,

__ADS_1


Salam sehat & Terimakaseh, see you di next eps. Sayang²nya akyuu.... Mwuach 😘


__ADS_2