
Ustadz Alfi sangat malu dengan tingkah lakunya tadi. Melihat semua orang menyaksikan dirinya dan kini bertambah malu sebab ada mbah Kyai guru istrinya ini. Dian juga sama persis dengan apa yg dirasakan oleh ustadz Alfi saat ini. Ke absurdan dan kenarsisan suaminya benar benar membawa petaka si baginya. Rasanya melebihi kata malu.
"em..kakung"lirih Dian seraya tersenyum canggung. Ustadz Alfi mencium punggung tangan kyai lebih dulu.
"bagaimana kabarmu saat ini nduk?"tanya Kyai tersenyum hangat untuk menyakinkan Dian berbicara nyaman dengannya dan juga untuk ustadz Alfi.
"Alhamdulillah baik kakung."balas Dian.
Kyai hanya menganggukkan kepalanya saja. Dian segera menghampiri Kyai dan sungkem sekaligus. Semua hanya bisa menatap kagum kepadanya sebab sangat menghormati sang guru. Kyai mengelus kepala dari cucu almarhum sahabatnya ini dengan hati senang.
"alhamdulillah ya allah. Mas, ternyata cucu mu masih hidup dan aku tidak akan merasa penuh rasa bersalah lagi sebab telah gagal menjaga serta ingkar dengan janjiku padamu"batin Kyai.
"mugi mugi Allah paringi sehat lan ilmu sing diajarke berkah. Kakung bangga kangge njenengan nduk (semoga Allah beri kesehatan dan ilmu yg dianjarkan bisa menjadi berkah. kakung bangga denganmu nduk)"ucap Kyai mendoakan Dian.
"aamiin"ucap mereka serempak walau tidak mengerti apa yg diucapkan oleh kyai namun apapun itu tertebak jika beliau sedang mendoakan.
"terimakasih kakung."balas Dian seraya mencium punggung tangan kanan kyai bolak balik. Lalu ia membenarkan posisi berdirinya sehabis bungkuk sedikit.
"sebaiknya kita masuk, Lebih nyaman jika berbicara di dalam"ucap Agha.
"benar, kakung pasti lelah dan harus istirahat"timpal Dian.
"tidak nduk, kamu juga harus ikut. Kakung ingin berbicara denganmu"seru Kyai.
"tapi…"bingung Dian. Ia kan masih harus mengambil nilai anak didiknya.
"tidak apa apa, biar raka dan brian yang menilai mereka. Masuklah kedalam ikut kami, jangan terlalu lelah"ucap Agha.
"baiklah kl begitu"simpul Dian manut keputusan Agha.
"kalian berdua ambil nilai dan untuk semuanya harus bersungguh sungguh. Nanti saya menyusul"tegas agha.
"baik komandan" "assalamualaikum"kor mereka serempak.
"waalaikumsalam"
Kemudian Gus Agung, Agha, Kyai, Dian dan Ustadz Alfi berjalan menuju rumah besar yang didalamnya sudah ada Caca dan Vira. Mereka berdua juga telah menyiapkan kudapan untuk semuanya.
__ADS_1
Sesampainya di dalam, semua telah duduk di sofa. Sedangkan Dian dan Kyai di sofa dekat jalan yang tembus ke gudang (rumah Dian ketika disini). Tampak Ustadz Alfi melihat terus ke arah mereka berdua.
"nduk, kakung ingin berbicara dan berharap kamu paham apa yang di ucapkan"ucap Kyai seraya menatap serius ke arah Dian.
"silahkan. kakung ingin berbicara apa"bingung Dian.
"nduk selama ini kamu bahagia gak menikah sama nak Alfi?"tanya Kyai.
Dian mendadak diam memikirkan pertanyaan itu. Sebenarnya tanpa dipikirkan lagi, tentu dirinya sangat tahu tentang hal itu. Ustadz Alfi langsung menatap dan menanti Dian menjawab.
"bahagia kakung"jawab Dian. Ustadz Alfi lega dengan jawaban itu sedangkan Kyai dan reaksi semuanya manggut manggut saja.
"apakah selama ini pernah suamimu tidak membuat dirimu betah dicintai olehnya?"tanya Kyai. Dian yang awalnya santai mendadak menatap dirinya
"apa maksud kakung?"tanya Dian.
"kakung ingin kamu berbicara jujur"senyum Kyai penuh arti.
"em… Ia tidak berbuat hal yg mendorong diriku tak betah dicintainya. Justru selalu membuatku bahagia seperti apa yg aku jawab tadi kakung"jelas Dian.
"hmm…baiklah. Apakah kamu masih mencintainya ?"tanya Kyai sekali lagi.
"kamu sudah tidak mencintainya"simpul Kyai. Ia sengaja melakukan itu sebab dirinya ingin Dian bersikap lebih perhatian dan berbuat lebih baik lagi kepada suaminya.
Dian terhenyak dengan ucapan itu. Bagaimana mungkin, sedangkan apapun yg dilakukannya semata mata untuk melindungi orang yg dicintainya. Terkadang cinta membuat seseorang harus berkorban demi melihat orang yg dicintai bisa hidup dengan baik.
"kakung…"keluh Dian.
"kenapa? Kakung salah bicara nduk. Perlakuanmu selama ini kepada suamimu menunjukkan bahwa kau tak mencintainya lagi."
"apakah tidak terpikirkan olehmu? Suamimu rela datang dari Jakarta dan jauh jauh kesini hanya untuk melihatmu, rindu denganmu dan senang ternyata istrinya masih hidup."
"tapi kamu nduk seperti tidak menghargainya. Seakan akan kau membuat kedatangannya yg ingin menemuimu dengan senang hati menjadi sesak hati."
Ujar Kyai penuh serius dengan setiap ucapannya. Dian hanya bisa menunduk kepala seraya menggenggam erat ujung pakaiannya menahan air mata yang hendak luruh. Ustadz Alfi yang melihat itu segera ingin berdiri namun tertahan oleh Guz Agung.
"jangan ustadz, biar Dian bisa bersikap baik denganmu"cegah Guz Agung.
__ADS_1
"tapi guz, jika seperti ini aku takut dek Dian akan semakin jauh denganku. Aku lebih rela jika ia bahkan membentak daripada nanti mendiamkanku"ucap Ustadz Alfi sendu.
Semuanya terdiam hening dengan ucapan itu. Ustadz Alfi benar benar tidak bisa membiarkan seolah olah Dian terpojok sebab tidak seperti biasa dengannya. Bagaimana jika istrinya benci dan berpikir dirinya mengadukan kepada Kyai sedangkan ia saja tak tahu kehadiran kyai ke sini.
"hufh…inget nduk. Suami harus dihormati karena dia adalah imammu dan kamu menghormatinya karena posisimu makmum. Seorang makmum akan selalu berada di belakang imam. Senantiasa mendukung, membuatnya nyaman dan diperhatikan oleh istrinya. Kamu dosa besar jika menolak keinginan suami atau tidak menurut."
"jika suamimu berani dan tega denganmu mungkin sudah dipukul rotan karena membantah perkataannya"tegas Kyai
"aku….melakukan itu….ada alasannya"ucap Dian terbata bata dengan air mata yg sudah mulai turun satu butir satu butir.
"apapun alasannya kamu salah nduk. Sebab alasan itu kamu mengabaikan kewajiban dirimu dan haknya"ucap Kyai yang sudah tak tega lagi memberi peringatan itu.
Dian terdiam lama dengan air mata yg tetap mengalir. Sepertinya ia tidak akan merespon lagi. Ia takut salah bicara apalagi kurang ajar dengan gurunya karena saat ini hati dan pikirannya berperang.
"semoga apa yang kakung katakan tadi membuat kamu mengerti dengan baik nduk. Jangan menyia nyiakan usahamu jika hati suami yg kau cintai sakit hati padahal usahamu untuk kebaikannya juga."seru Kyai yang diakhiri dengan beliau meminum teh hangat di dekatnya.
Dian membalas dengan anggukkan lalu beranjak ingin berdiri. Tak sengaja ia beradu pandang dengan Ustadz Alfi yang juga tengah memperhatikannya. Mata itu menyiratkan cinta yang tulus seperti biasa dan tetap terjaga. Itu membuatnya kalut akan apa yg akan ia lakukan selanjutnya.
Dengan menghapus air matanya dan segera pamit ke dalam rumahnya untuk merenungi setiap bait kata yg disampaikan kakungnya ini. Perginya Dian juga disusul oleh Ustadz Alfi.
"mbah hanya ingin kalian berdua tetap menyatu. Banyak ujian yang harus dilalui bersama, maaf jika terlalu masuk begitu dalam dengan urusan kalian"ucap Kyai menghela nafasnya.
"tidak apa apa mbah. Terimakasih"senyum Ustadz Alfi.
Walaupun ia tidak setuju jika harus dengan cara seperti itu tetapi tetap harus menghargai. Tersenyum seperti biasanya namun matanya menyirat beribu rasa takut. Kyai pun paham dengan itu, ia memilih untuk segera beristirahat di kamar yg telah disediakan.
Gus Agung, Vira dan Caca berjalan menuju ruang rapat dimana dokter Marissa bersama dengan yang lainnya sedang berkumpul. Sedangkan Ustadz Alfi sudah berada di belakang Dian yang berjalan perlahan lahan menuju kamarnya.
bersambung...
🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢
Hallo permirswah, gimana epsnya neh?
Alhamdulillah episodenya sudah terupdate dan bila ada typo yang buat gak nyaman bacanya, mohon dimaafkan yaa
Stay Tune dan Nantikan Notif Updatenya,
__ADS_1
Salam sehat & Terimakaseh, see you di next eps. Sayang²nya akyuu.... Mwuach 😘