
Pagi yang cerah dan telah memberi efek semangat untuk beraktifitas semua orang. Disambut dengan pemanasan dan bersiap untuk melakukan tugas besar menyelematkan seseorang.
Setelah kemarin menyetujui persyaratan, mereka semua latihan dari yang ringan dengan yang besar. Selain itu semua keperluan sudah siap dan berbagai koneksi sudah tersebar dengan baik. Dari ambulans sampai persenjataan telah lengkap semuanya.
Benar benar hari ini akan terjadi perlawanan dari pihak B, yang mempunyai target untuk meraih sanderanya Pihak A, si Mafia terkenal pikirannya yang licik itu. Beberapa mobil telah berjejer rapi demi mengangkut anggota yang berkisar 150 anak didik serta 10 tenaga medis.
Komandan Agha melihat serius peta yang menggambarkan titik dimana markas Rendi di kota Aceh ini berada. Letaknya terbebas dari endusan kota atau tempat tinggal para warga. Nah bisa dibilang tempat yang terpencil di dalam hutan dan cocok menggunakan senjata seperti pistol atau sejenisnya.
"bagaimana Agha, apakah sudah terbayang tempatnya dimana?"tanya Om Darman. Beliau akan turun tangan membantu Dian sebab kasihan telah berpisah dengan keluarganya lama. Ada rasa tak tega di dalam hatinya.
"sudah ayah."jawab Komandan Agha.
"ya sudah, sebaiknya kita harus segera berangkat sekarang. Jangan ditunda lagi, mengingat persiapan kita sudah full. Oiya jangan lupa lewat jalan hutan saja nanti menjadi perhatian banyak orang jika kita melewati jalan raya."terang Om Darman.
"Baik ayah. Tapi tunggu dulu, Dian sepertinya sedikit lagi datang kesini"ucap Komandan Agha sesekali sekeliling demi mencari keberadaan Dian dan Istrinya.
Tak lama Caca dan Dian datang bersama menuju tempat berkumpul. Mereka berdua sama sama memakai atasan hitam dan bawahan pakaian silat. Kerudungnya juga senada dan sepatunya merk PDL wanita yang terlihat bening diterpa sinar cahaya matahari.
"kalian sudah siap?"tanya Om Darman.
"siap komandan"kompak Dian dan Caca memperagakan tindakan hormat dengan senyumannya yang membuat Om Darman tersenyum. Tapi Netranya menangkap anaknya sedang terpesona dengan menantunya yakni Caca.
"agha"tegur Om Darman.
"eh.. Iya kenapa ayah?"linglung Komandan Agha.
"kenapa.. Kenapa… ayoo katanya mau berangkat gimana sih kamu"ucap Om Darman menggelengkan kepalanya. Sedangkan anaknya ini tersenyum tanpa dosa lalu berjalan cepat mengendarai mobil. Ia akan memimpin sebagai pemandu jalan.
Mereka berangkat bersama melewati jalan hutan yang berliku liku. Perjalanan menuju lokasi tersebut sedikit ada tantangan tersendiri dimana komandan Agha serta supir lainnya harus extra fokus dan memilah jalan yang mayoritas terdapat bebatuan.
Tak lama sampailah mereka semuanya di depan pagar yang telah terbuka sejak dini hari demi menyabut kedatangan mereka. Mobil pun terparkir di berbagai titik dari rumah tersebut seperti terlihat mengepung dan mengelilingi bangunan 2 lantai tersebut.
Rumah bercat putih dan terawat rapi. Sepertinya anak buah Rendi yang selalu membersihkannya rutin. Benar benar anti kotor sekali. Pagar pun terlihat bagus dipandang mata karena bercat hitam dan dipadukan warna gold di bagian tertentu. Sepertinya ini bukanlah markas tapi mansion mewah berkelas atas.
"selera mafia itu sungguh mewah yaa"seloroh Melinda yang telah turun dari mobil.
"ah iya tentu saja. Rendi memang punya kekayaan yang berlimpah sejak dulu. Keluarganya itu termasuk pegusaha sukses."sambung Dian merapikan bajunya yang menekuk sebab telah duduk beberapa waktu di dalam mobil.
"sayang sekali jika harus ada pertempuran didalamnya. Rasanya tidak tega mewarnai cat tersebut menjadi kusam"ucap Om Darman.
"ayah… tidak usah menyayangkannya. Karena nantinya bangunan ini juga akan diruntuhkan jika kita bisa melumpuhkan mereka"santai komandan Agha.
Sudah seperti biasanya terkenal jika komandan Agha bagaikan macan kumbang yang baru saja bebas dari kandang di dalam misi menjalankan tugas sebagai abdi negara. Om Darman tak kalah berprestasinya dari anak laki lakinya ini. Beliau pernah dijuluki raja rimba sebab garang sekali jika berhubungan dengan negara yang terusik oleh lalat lalat pengacau namun santai dalam bertindak dan sesuai rencananya.
Om Darman bersama 2 sahabatnya memimpin 60 orang peserta ujian. Komandan Agha memimpin 25 orang. Caca bersama 15 orang wanita. Rita yang notabenenya sudah lulus tapi mengabdi di asrama bersama dengan 20 orang. Dian bersama Intan dan Melinda. Raka bersama 15 orang peserta sedangkan Brian bersama 15 orang juga. Sisanya seperti 4 dokter cantik bersama 10 tenaga medis menunggu di luar tempat dimana 2 ambulans terparkir.
Dibagi menjadi 3 tim lagi. Bagian kanan terdapat pemimpinnya Komandan Agha, Raka, Brian. Menerobos masuk kedalam pemimpinnya Om Darman beserta 2 sahabatnya. Sedangkan bagian kiri pemimpinnya Caca, Rita dan Dian. Para wanita menjadi satu padu dengan 1 pemimpin yakni Rita. Selesai membagi tugas mereka berpencar sesuai pembagian.
Kini Dian, Intan dan Melinda telah berdiri di salah satu titik dimana diyakini tempat disandera nya. Tapi belum yakin juga dengan terkaan mereka bertiga. Sedangkan Caca dan yang lainnya menyusuri halaman belakang bersama yang lainnya.
"kira kira tingginya sekitar 2 meter lebih. Mel kamu bisa manjat tidak?"ucap Dian yang menyiapkan tali dari tas ransel Intan. Tas itu semacam kotak doraemon, apa saja ada. Mulai dari 3 pistol beserta isinya, kotak p3k sampai makanan ada didalamnya.
"aku bisa kak."yakin Melinda tersenyum.
"yasudah kamu langsung ke tali itu. sepertinya terhubung langsung ke dalam ruangan. Nanti aku menyusul bersama Intan di balkon itu."ucap Dian yang di anggukki oleh kedua gadis muda tersebut.
Melinda sebelum memanjat terlebih dahulu memakai handsfree kecil di telinganya dan menguncir rambut panjangnya itu barulah memanjat. Sedangkan Dian dan Intan juga sama memakai handsfree kecil yang memang di siapkan untuk semua anggota.
__ADS_1
Tak perlu berlama lama, Melinda telah sampai di jendela tersebut. Dian pun melongo sebab gadis muda itu seperti kera yang memanjat pohon kelapa. Sangat cepat sekali. Kemudian Intan hanya terkekeh kecil melihat reaksi Dian yang sedikit berlebihan.
"ya Allah, Melinda itu perempuan kah?"pikir Dian. Ia lalu menggelengkan kepalanya dan fokus dengan kegiatan manjat memanjatnya.
Melinda telah sampai di titik tersebut. Ia pun memegang tali bersamaan jendela yang terbuka itu. Hap.. Ia mendarat dengan selamat sentosa. Lalu menyusuri ruangan luas tersebut.
"heem.. Dimana yaaa letaknya"gumam Melinda sesekali menoleh ke kanan ke kiri. Dan taraa… terlihat banyak orang di sekeliling ustadz Alfi terikat oleh tali yang kuat.
"syukurlah, haha akhirnya ketemu"pekik Melinda yang membuat semuanya menoleh. Tanpa sadar akibat pekikan itu Dian kaget dan melorot di tali tambangnya yang hampir meraih pegangan di balkon tersebut tapi intan menahan dari bawah.
"Melindaaaa!!"kesal Dian yang terdengar dari handsfree bahkan yang lainnya ikut mendengar.
"adduh kak telingaku"keluh Melinda menjauhkan benda kecil tersebut.
"dasar… main teriak aja. Aku hampir jatuh dari lantai 2 sebab dirimu"kesal Dian.
"haish, maafkan aku kak. Mereka telah ku temukan"ucap Melinda melirih seraya menggaruk dahinya tak gatal.
"sudahlah. Matikan handsfree nya."pinta Dian. Melinda pun mematikannya dan segera membantu membukakan tali.
"maaf ustadz, ku sentuh sedikit saja."ucap Melinda yang extra membuka tali itu.
Ustadz Alfi memakluminya sebab Melinda pun tak menyentuh kulitnya sama sekali. Bagaimana caranya membuka tali tanpa menyentuh kulit tanganku…pikirnya.
Akhirnya semuanya telah terlepas dari ikatan tali menyiksa ini. Melinda takjub dengan keluarga besar kakak pelatihnya dengan ustadz Alfi. Terdapat Umi Shita, Abi Abdurahman, Ayah Ahmad, Bu Mira, Dayu, Aisyah, Farhan, Azzam, Faqih, Umay, Rida, Zaki, Hafsa, dan Ustadz Alfi sendiri telah berkumpul menunggu kedatangan Dian.
"iih… lucu banget pipinyaa"gemas Melinda menoel noel pipi Hafsa maupun Zaki bergantian. Membuat siapa saja tak kuasa menahan tawa akibat ekspresi 2 bocah terhadap tindakannya.
"eum.. Kakak sakyiit"ucap Hafsa terdengar tidak jelas.
"… pipina mao pepas tata"oceh Zaki yang merasa pipinya kebas eh salah ngomong jadi mau lepas hehe.
"ekheem.. Ente belum hallal qih"dehem Ustadz Alfi mengingatkan. Sontak saja Faqih mengalihkan pandangannya. Aish, jomblo jomblo. Umurnya bahkan sudah lebih dari 20 tahun.
Tiba tiba saja lengan Hafsa dan Zaki ditarik oleh salah satu anak buah Kania yang entah datang dari mana. Semuanya terkejut akan itu dan berupaya meraih keduanya.
"heii, apa apan kau ini? Mereka masih kecil. Janganlah ditarik seperti boneka"galak Melinda. Ia menyalakan handsfreenya, kebetulan Dian telah sampai di depan pintu.
"kak, anak dan keponakanmu di tarik tangannya sampai merah"ucap Melinda yang membuat Dian segera ingin masuk.
Brak…
Tring…
Baru saja Umay dan Ustadz Alfi bertindak tapi semuanya dikejutkan dengan bunyi dobrakan yang disertai jatungnya handle pintu begitu nyaring. Terlihat Dian yang langsung menerobos masuk bersama Intan yang santainya mendekati Melinda. Melinda saja masih terbengongkan.
"umi..hiks..hiks"adu Hafsa yang merasa sakit ditangannya.
Tanpa basa basi lagi, Dian memukul tangan yang memegang erat tangan 2 bocah yang tak berdosa itu. Zaki dan Hafsa sudah terlepas dan bersembunyi di balik badan Dian.
"pitu, om na pampe pedang tanan jati tama tata apca meyah. Umi yan pabok om na aja (itu, omnya sampai pegang tangan zaki sama kakak hafsa merah. Umi yan tabok omnya aja)"oceh zaki membuat Umay menggelengkan kepalanya. Padahal terlihat jika tangan Hafsa saja yang merah tapi Zaki menambah bumbu diatas minyak goreng wkwk.
"dasar tidak punya hati. Menyerang anak kecil apakah kau benar benar laki laki ?"sindir Dian. Apapun yang keluar dari mulutnya saat merasa terusik pasti sangat menusuk lawan bicaranya.
"kau.."geram laki laki itu.
"kalian berlindung dulu."pinta Dian.
__ADS_1
"umi yan mau napain?"polos Zaki. Semuanya bukan merasa cemas tapi mejadi hampir tertawa dengan polosnya zaki. Bahkan Hafsa menepuk keningnya.
"katanya mau nabok omnya"balas Dian heran.
"oh beditu. Oceh"simpul Zaki yang berlari menghampiri bundanya.
Tapi belum Dian bersiap siap, tenyata laki laki di depannya langsung menyerang. Sontak saja Ustadz Alfi maju menghalangi serangan itu bahkan memelintir lengan tersebut.
"tanganmu tak pantas menyentuh istriku seujung kuku sekalipun"ucap Ustadz Alfi datar dan wajah yang menahan amarah.
"argh, sakit"keluh laki laki itu. Ustadz alfi langsung menarik lengan itu lalu memutarnya sampai tubuh itu terpelanting jatuh ke lantai.
Bruk…
Terlihat wajah Ustadz Alfi sungguh galak melebihi komandan Agha membuat Melinda dan Intan terpaku sesaat. Mereka berdua berpendapat jika seorang laki laki yang baik akan menjadi seram kalau orang yang disayangnya dalam bahaya di depan matanya. Setelah tubuh anak buahnya kania itu jatuh dan tak berdaya akibat serangannya. Ia berbalik kearah Dian dengan wajahnya yang kembali normal.
"kamu gak apa apa dek?"khawatir Ustadz Alfi memeriksa tubuh istrinya seksama.
"aku gak apa apa mas"senyum Dian. Lalu ia mencium tangan kanan suaminya yang dibalas pelukan hangat dari Ustadz Alfi.
"mas"malu Dian yang menyembunyikan wajahnya dalam dekapan suaminya. Sementara Azzam dan Faqih serempak meledek.
"ya tuhan, kenapa mereka berdua kalem tiba tiba sedangkan tadi wajahnya saja menyeramkan"gumam Riko si anak buah Kania.
"iri bilang bos"ucap Dian yang tersenyum manis meledek.
"makanya nikah bro. Jangan jadi jahat, biar jodoh dilancarkan"senyum Ustadz Alfi penuh arti dan seratnya yang telah melepas pelukan hangat lalu mengelus pucuk kepala Dian yang tertutup hijab.
"umi"cicit Hafsa yang berlari menghampiri Dian. Sedangkan Dian menyamakan tinggi putrinya lalu merentangkan tangannya.
"sayang"senyum bahagia Dian ketika Hafsa jatuh kedalam pelukannya.
"umi hafsa kangen"lirih Hafsa yang sekuat tenaga tanpa menangis dan ketika bertemu uminya saat ini harus bahagia.
"umi juga. Sangat kangen sekali"sahut Dian yang memeluk erat Hafsa seakan akan tak mau berpisah lagi.
"alhamdulillah"serempak semuanya. Tersenyum bahagia ikut merasakan perasaan rindu yang sudah menggebu di antara ibu dan anak itu.
Terlihat Dian menggendong Hafsa yang masih memeluknya dan disusul Ustadz Alfi melengkapi mereka. Keluarga kecilnya kembali lagi. Hanya ada senyuman diwajah mereka yang membuat semuanya ikut terharu melihatnya.
"auw so sweet"kor dayu, aisyah, melinda, dan intan.
"akhirnya"gumam Ayah Ahmad yang senang bukan main melihat anak pertamanya telah kembali di dalam lingkaran keluarga kecil itu.
"jati mao itut duda"pekik girang zaki yang langsung memeluk kaki Dian.
Diatara mereka sejenak melupakan kekhawatiran akan penyanderaan dan tertawa gemas akibat zaki yang ikut ikutan. Tak lama Dian melepaskan pelukan hangat itu.
bersambung…
iya zaki kamu juga bagian dari keluarga punya kakak apca kok mwehehe 😆
🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢
Hallo permirswah, gimana epsnya neh?
Alhamdulillah episodenya sudah terupdate dan bila ada typo yang buat gak nyaman bacanya, mohon dimaafkan yaa
__ADS_1
Stay Tune dan Nantikan Notif Updatenya,
Salam sehat & Terimakaseh, see you di next eps. Sayang²nya akyuu.... Mwuach 😘