
Masih dihari yang sama....
Azzam merasa bosan dengan acara rebahannya. Tadi akibat lukanya yang berasa lagi jadi disuruh rebahan sama bunda nis. Awalnya menolak tapi umay berwajah garang jadi kikuk deh.
"hish...kalian ini. Aku tak mau tiduran terusss"keluh azzam.
"gak boleh, langkah sedikit dari brangkar. Siap siap kedua kakimu digembok rantai"tegas umay.
Bunda nis terkikik geli akibat ketegasan umay sedangkan farhan hanya menghela nafasnya saja. Ia dengan umay hanya berbeda beberapa bulan saja dan bertemu saat ia mulai kenal dengan ustadz Alfi. Umay terkenal tegas dan lugas dari tim ustadz muda tersebut. Panutan lah istilahnya makanya azzam sangat takut di hadapan umay.
Azzam adalah orang yang gak bisa diem. Selalu sigap dalam keadaan apapun dan selalu bersama ustadz Alfi. Ia kerja bareng faqih untuk melakukan kerja pemberantas hackers dan masih banyak lagi. Jika keadaan dia sekarang seperti ini, tentu sangat tak nyaman. Farhan mendekat kearah azzam.
"kenapa, bosan? Kamu hanya disuruh istirahat azzam."ucap farhan. Ia sedikit tak tega dengan azzam yang terkekang begini gak bisa ngapa ngapain.
"iya sih. Tapikan hanya rebahan saja tak enak. Ke taman atau apa gitu jangan begini. Aku butuh nafas bang"greget azzam
"memang kamu sekarang gak nafas azzam?"tanya farhan.
"ck..pertanyaan apa itu bang. Ya allah"kesal azzam yang mengundang tawa diruangan tersebut.
"hehe yaudah. Mau ke taman, okey. Tapi harus pakai kursi roda."ucap farhan seraya mengambil kursi roda di sudut ruangan.
"tapi..."protes azzam yang terhenti akibat lirikan tajam dari umay. Ia pun kicep wkwk.
Azzam dibantu oleh umay untuk duduk di kursi roda sedangkan farhan memeganggi kursi beroda itu agar tak bergerak gerak. Setelah itu barulah farhan mendorong kursi roda yang sudah diduduki azzam. Umay memilih menunggu di dalam menemani bunda nis.
"jangan lama lama di taman nanti masuk angin zam."pesan bunda nis.
"iya bundaku tercinta"sahut azzam yang tersenyum penuh arti. Wah ciri ciri pengen lama nih keluarnya.
"kalau lebih dari dua jam. Jangan bermimpi untuk melihat matahari diluar ruangan."ucap umay dengan santai membaca koran di tangannya.
"iya bang umay"pasrah azzam.
Umay hanya tersenyum simpul lalu melanjutkan membaca surat kabar. Ternyata hilangnya almarhumah adik sepupunya sudah terlampir dan menjadi trending di media cetak maupun media sosial. Hmm, belum lagi harus konfirmasi atas kabar kematiannya. Ia yakin ini tidak akan mudah.
Farhan dan azzam pamit. Mereka seperti kakak beradik. Jangankan anggapan itu, azzam bahkan sudah menganggap farhan maupun umay sebagai kakaknya. Makanya ia takut dan hormati umay selayaknya seorang kakak laki laki. Ia tak terlalu takut dan malah selalu bercanda dengan farhan karena tidak segalak umay hihi.
Taman rumah sakit ini lumayan luas. Suasana sangat tenang namun juga tidak sepi. Ternyata tidak hanya azzam yang kebosanan didalam ruang rawat inapnya, pasien lainnya juga sama. Farhan menghentikan kursi roda itu dan duduk di bawah pohon. Azzam pun menghirup udara luar banyak banyak.
"kalian berdua sedang apa?"tanya ustadz Alfi yang tiba tiba seperti hantu haha.
"astagfirullah"pekik farhan dan azzam.
Ustadz Alfi mengernyitkan keningnya lalu berjalan kedepan keduanya. Wajahnya sama seperti tadi dan matanya menyiratkan rasa sedih. Azzam merasa minder di dekat sahabatnya itu. Ia masih penasaran, apakah ustadz Alfi membecinya? Tapi ia juga tak mau so'udzon jadi lebih memilih diam. Farhan ikut diam.
Mereka bertiga sunyi sepi dengan pikiran masing masing. Azzam yang berpikir bagaimana caranya berbicara dengan ustadz Alfi, ia selama ini kalau bicara langsung jeplak tapi sekarang nampak ragu. Farhan diam sebab tak tau berbuat apa untuk mencairkan suasana ini. Ustadz Alfi terdiam karena melihat sepasang suami istri yang tersenyum bersama 2 anaknya.
__ADS_1
"betapa bahagianya mereka. Sedangkan aku?.....(terjeda).....astagfirullahalazim, kenapa hati ini malah iri dengan kebahagiaan orang lain? Ya allah maafkan hamba"bathin ustadz Alfi memilih berdzikir dengan tasbih pemberian almarhum istrinya yang sudah dibetulkan seperti semula.
Sementara dengan umay dan bunda nis...
Terdengar bunyi ketukan pintu dari luar. Lalu tak lama pintu tersebut terbuka lebar. Menampilkan umi shita, abi abdurahman, bu mira, ayah ahmad dan faqih. Mereka ingin menjenguk azzam yang sudah sadar karena ustadz Alfi sehabis sholat baru memberitahukan lewat chat.
"assalamualaikum"
"waalaikumsalam"
Umi shita menghampiri bunda nis mengajak bu mira. Bunda nis memeluk umi shita. Mereka adalah sahabat lama yang sangat dekat. Pandangan semua orang yang baru datang menatap kearah brangkar.
"loh dimana azzam?"tanya umi shita.
"lagi ditaman umi. Keras kepala, dibilang istirahat malah mau ke taman"ucap umay yang meletakkan korannya lalu berdiri. Bunda nis dan umi shita terkekeh kecil.
"oiya kenalin ini besanku nis"ucap umi shita.
Bunda nis berkenalan dengan ayah ahmad dan bu mira. Mereka saling melemparkan senyum dan sedikit menunduk menghormati.
"Aku turut berduka cita atas meninggalnya almarhum putrinya mba mira dan mas ahmad"ucap bunda nis berbela sungkawa.
"iya terimakasih."balas keduanya dengan senyuman.
"sebaiknya kita menyusul azzam saja"ucap umay beranjak keluar diikuti oleh semuanya.
"em...alfi?"ragu azzam.
Ustadz Alfi menoleh kearah azzam bersamaan dengan datangnya rombongan keluarga mereka. Bahkan hanya beberapa langkah lagi. Azzam tanpa aba aba langsung memegang kaki panjang milik sahabatnya seraya meminta maaf.
"maaf aku tidak amanah. Seharusnya aku tak mengizinkannya. Kau boleh membenciku atas semuanya Al"ucap azzam yang sangat menyesal.
Azzam akan terus meminta maaf jika tak dengar ustadz Alfi memaafkannya. Ia tak memerdulikan luka diperutnya yang mulai terbuka akibat gerakan mendadaknya itu. Ustadz Alfi kaget dan menunduk memegang bahu milik sahabatnya. Ia lupa menanyakan keadaan azzam dan pasti akan salah faham dengan tindakannya.
"apa yang kau lakukan? Zam, kamu gak salah. Ini sudah takdir."ucap ustadz Alfi yang terdengar serak sebab sholat tadi ia mencurahkan hatinya kepada sang pencipta. Semuanya berhenti dan membiarkan keduanya berbicara.
"tapi tetap saja"kekeuh azzam yang memegang kaki ustadz Alfi erat.
"jangan seperti ini, aku sudah memaafkanmu. Kau sahabatku, untuk apa membenci hanya karena kejadian ini"ucap ustadz Alfi namun azzam terdiam dan tak bergeming dari tempatnya. Lama lama, ustadz Alfi gregetan sama azzam dan pura pura mengancam.
"kamu gak mau berdiri ya sudah. Lupakan kl kita sahabat."ancam ustadz Alfi.
"iya. Ini sudah berdiri shh"balas azzam meringis.
"lukamu kembali mengeluarkan darah, duduklah diam di kursi roda."perintah ustadz Alfi menuntun azzam kembali duduk.
"azzam"panggil bunda nis yang menghampiri putranya dengan khawatir namun saat telah sampai ia menyeringai dan menjewer azzam.
__ADS_1
"udah dibilangin bahwa semuanya butuh waktu. Masih aja ngeyel. Lukamu terbuka kan"omel bunda nis.
"aww awss bunda aduh aduh sakit"keluh azzam seraya memiringkan kepalanya mengikuti jeweran bunda nis. Sungguh sakit sekali rasanya daripada luka 3x tembakan ini π.
"bunda jangan dijewer."bela ustadz Alfi yang mendapat tatapan memohon dari azzam.
"kamu kenapa membela zam yang nakal, alfi. Anak ini sungguh....hmm sudahlah"ucap bunda nis yang sudah melepas jewerannya dan memalingkan wajah menatap sekitar.
Semuanya mengulum senyum bahkan membuat ustadz Alfi tersenyum tipis. Azzam sudah merasa mendingan dengan jeweran ditelinganya tapi merasa bundanya mendiamkan dirinya.
"bunda"
"bunda marah?"
"bunda maaf. Zam memang selalu nakal"
Ucap azzam yang menampar pipi kirinya sendiri lalu meraih tangan bunda nis. Bunda nis sebenarnya pura pura ngambek tapi tak tahan dengan tatapan memohon dan rengekan azzam seperti anak kecil. Yah putra kecilnya yang sekarang tumbuh menjadi dewasa tapi nakal. Azzam kembali menampar pipinya lagi agar bundanya bisa memaafkan.
"pipinya nanti memerah. Tidak boleh lakukan itu lagi"senyum bunda nis dan azzam pun mencium tangan kanannya bolak balik. Hanya bunda yang ia punya jadi sangat menyanyangi sekali serta berjanji selalu didalam hati akan menjaga beliau.
"lukanya tidak akan kering jika nak azzam bergerak terus"ucap ayah ahmad membuat azzam menoleh dan sedikit terhenyak.
"tadi ibu udah bawa buah untuk nak azzam. Makan buah biar sehat. jika sehat dan lukanya kering pasti bisa keluar sepuasnya."senyum bu mira.
Mereka berdua menghampiri azzam yang membuat azzam nampak kikuk dan tambah bersalah akan perhatian lebih ini. Kedua orangtua dari dian selalu menganggap teman atau tim ustadz Alfi bahkan ustadz Alfi sendiri sebagai anak. Maka tak heran jika keduanya sangat perhatian kepada semuanya.
"paman dan bibi ini...maaf azzam membuat paman dan bibi direpotkan"ucap azzam tak enak hati.
"tidak nak. Ini tidak sama sekali merepotkan"balas bu mira.
"maaf telah membuat paman dan bibi kehilangan dian"sedih azzam dan dimatanya masih begitu menyesal telah abai dengan amanah. Ya allah azzam bahkan rela bersujud dibawah kaki kedua orangtua yang diamanahkan olehnya.
"tidak apa apa nak. Kami tidak ada niatan menyalahkanmu. Justru sangat ingin nak azzam sembuh. Jika marah kepadamu maka kami tidak akan peduli"jelas paman ahmad. Semuanya selain umay tertegun, makanya sifat dian menurun dari ayah dan ibunya.
"apakah semuanya tak ingin mendengar perkataan terakhir dari dian?"tanya azzam tiba tiba.
Bersambung....
π’π’π’π’π’π’π’π’π’π’
Hallo permirswah, gimana epsnya neh?
Alhamdulillah episodenya sudah terupdate dan bila ada typo yang buat gak nyaman bacanya, mohon dimaafkan yaa
Stay Tune dan Nantikan Notif Updatenya,
Salam sehat & Terimakaseh, see you di next eps. SayangΒ²nya akyuu.... Mwuach π
__ADS_1