
Akhirnya acara terselesaikan dengan baik dan lancar. Sebelum pulang ustadz Alfi dan Dian berbicara di dalam masjid dengan kyai beserta anak anaknya.
"tabarakallah, semoga kalian selalu langgeng dan diberikan kebahagiaan serta disegerakan memiliki keturunan."ucap kyai yg memberikan doa kepada mereka berdua.
"aamiin, makasih kyai."jawab mereka berdua bersama sama.
"nak Alfi, saya tidak menyangka sudah menikah dan menikah dengan murid saya sendiri. Dian itu selain cucu dari sahabat juga murid silat saya yg selalu juara. Dulu sebelum masuk, sekitar diusia 4 tahun kalau ketemu saya pasti selalu minta gendong. Namun saat sudah belajar silat terlalu sungkan. Katanya malu"
Kyai bercerita masa masa dulu ketika Dian begitu sangat menghormatinya dan manja padanya. Yg dibicarakan tersenyum malu apalagi keabsurdannya itu diceritakan di depan suaminya.
"itu kan dulu sebelum jadi murid kyai."ucap dian.
"biasanya dulu dian manggil kakung. Rasanya jika di panggil kyai, terlalu sungkan."balas kyai yg ingin sekali di panggil kakung seperti dulu. Semua anak anak kyai hanya bisa memanggilnya abi. Sedangkan cucunya laki laki dan begitu menghormatinya berlebihan. Ia di panggil "mbah kyai" enggak ada yg berani panggil "kakung" selain dian waktu itu.
"Panjenengan iki guru kulo. Mboten saget di panggil kakung"ucap dian yg membuat semuanya tersenyum dan terkekeh kecil.
(anda ini adalah guru saya, tidak boleh di panggil kakung)
"saget. Sopo seng ngelarang? harus panggil kakung. Pokok'e harus nduk"senyum kyai mengembang tanpa mau dibantah. Dian pun pasrah.
(boleh, siapa yang melarang? harus panggil kakung pokoknya harus)
"enggeh kakung, dian manut"
(iya kakung, dian ikut saja)
Meledaklah tawa mereka melihat debat antara kyai dan muridnya ini cuma gara gara panggilan. Setelah itu kyai memberikan hadiah pernikahan yg berupa tasbih untuk dian dan sarung & kopyah untuk ustadz Alfi. Masing masing juga dapat sajadah.
"maaf hanya ini yg bisa kakung berikan untuk hadiah nikahanmu nduk dan maaf juga tidak bisa datang saat akad maupun walimah sebab ada urusan yg tidak bisa ditinggal"ucap kyai yg begitu merasa bersalah tidak datang.
"tidak apa apa kakung, doa aja sudah lebih dari cukup."jawab dian yg menangkap guratan kesedihan dari sahabat mbahnya yg paling muda. Bahkan baru mendapat 3 cucu yg umurnya masih 16 tahun, 15 tahun dan 12 tahun.
"betul, kami sudah sangat berterimakasih hadiah dan doa dari kyai."timpal ustadz Alfi.
"kl begitu kami pamit pulang. Assalamualaikum"pamit ustadz Alfi dan dian yg disusul oleh timnya. Sebelum pulang mereka sungkem dulu dan mendapatkan nasehat yg begitu berarti untuk rumah tangga bahkan kyai sangat berharap jika ustadz Alfi dapat menjaga dian dengan baik. Setelah itu menaiki mobil yg sudah siap.
"waalaikumussalam, hati hati dijalan"
__ADS_1
πππ
Siang hari kota jakarta terkenal dengan macetnya masya allah ini. Lampu merah sampai sampai terasa satu jam lamanya. Motor bisa saja menyelip nyelip sedangkan mobil? Gimana mau nyelip, kapasitas dan struktur mobil yg tidak muat dibandingkan motor.
Waktu Dzuhur sudah tiba dan umay memberhentikan mobil di depan masjid untuk sholat berjama'ah. Semuanya mengambil wudhu lalu segera sholat bersama dengan jamaah lainnya.
Sholat sudah selesai, Dian melipat mukenanya dengan rapi dan memasukkannya kedalam tas kecil. Lalu berjalan keluar untuk kembali ke dalam mobil. Sebelum itu ia memasukkan sedikit uangnya ke kotak amal.
Sudah terlihat bang umay masuk ke dalam mobil bersama bang azzam. Lalu dimana suaminya ? Dian melihat sekelilingnya tapi tidak ada di area masjid tersebut. Lalu ia berjalan menuju mobil dan ternyata ustadz Alfi sudah lebih dulu berada di mobil sebelum bang azzam & bang umay. Ustadz Alfi tertidur dengan melipat tangannya di dada dan posisi duduk.
"pasti capek. Dari tempat tausiyah ke rumah kakung saja sudah lumayan. Apalagi pulang kerumah" bathin Dian
Mereka melanjutkan perjalanan menuju ke rumah. Bang umay terfokus dengan jalanan di depan sedangkan bang azzam fokus dengan buku yang ia baca. Dian pun hanya bisa memakan keripik tempe yg ada di belakang mobil.
Sesaat kemudian ustadz Alfi membuka matanya sekilas sembari menatap dian yg di sampingnya serius makan keripik. Tanpa sepatah kata pun ia memilih menidurkan kepalanya tepat di pangkuan istrinya. Dian terdiam dengan tindakan ustadz Alfi tadi namun setelah itu ia membersihkan kedua tangannya lalu memijat kening tersebut.
"alhamdulillah kamu peka dek, kepalaku pusing sekali tadi dan sekarang jadi lebih baik karena kamu memijat kepalaku"bathin ustadz Alfi
Singkat Cerita...
Kini Dian sudah menutup pintu rumahnya. Bang umay dan bang azzam serta yg lainnya sudah pulang ke rumah masing masing. Mobil milik sang ustadz sudah terparkir di halaman berjejer dengan motor miliknya.
Suara gemercik air terdengar di kamar mandi dengan pintu yang tertutup bertanda bahwa seseorang sedang membersihkan diri. Tak lama suara air berhenti dan pintu terbuka yang memperlihatkan dian yang beranjak ke depan meja rias sekedar untuk menyisir rambutnya.
Setelah selesai dengan dirinya, lalu dian pergi ke dapur untuk membuatkan makan siang yang tertunda beberapa jam yang lalu. Dengan telaten ia memotong sayuran sembari menanti kulit ayam yang di goreng. Kali ini ia memasak sayur sop dengan lauk kulit ayam goreng dan tempe goreng sesuai perkataan ustadz Alfi kemarin malam. Sepertinya ini adalah makan kesukaan suaminya. Apakah masih ada lagi? Mungkin dian akan tahu nanti.
Makanan sudah selesai terhidang dimeja makan. Namun pintu kamar tertutup dan tidak menandakan bahwa ustadz Alfi keluar dari dalam kamar mereka. Akhirnya Dian pergi ke dalam kamar segera. Betapa terkejutnya, ia melihat seseorang sedang menggigil di bawah selimut
"mas, kamu kenapa?"
"bangun, mas"
Ucap dian yang panik melihat ustadz Alfi menggigil dengan mata yang tertutup dan mulutnya terus melantunkan dzikir.
Sepertinya ustadz Alfi sehabis mandi jadi kedinginan tapi tadi ia tidak merasa kedinginan. Dugaannya benar, ternyata ustadz Alfi sakit sebab suhu di tubuhnya begitu panas. Ia berlari kearah dapur untuk menyiapkan air kompres, obat serta makanan yang ia buat tadi.
Segera mungkin di kompresnya kening ustadz Alfi dengan perasaan cemas. Kain sudah kering langsung ia masukkan kembali di dalam wadah tersebut lalu di peras dan letakkan di kening begitu seterusnya. Tak lama, ustadz Alfi membuka matanya perlahan melihat wajah paniknya dian sedang merawatnya.
__ADS_1
"dek"panggil ustadz Alfi.
"mas kamu baik baik aja kan? Apa perlu aku bawa ke rumah sakit?"tanya dian dengan bertubi tubi.
"tidak usah. Dirawat sama kamu aja udah pasti sembuh dek. Hanya pusing dan demam sudah biasanya seperti ini."ucap ustadz Alfi.
"pasti ini sebab kemarin. Seharusnya tidak usah ke festival kuliner kl jadinya begini. Kamu jadi kecapekan mas"ucap dian dengan matanya yg sudah mau nangis. Ustadz Alfi kemudian duduk dan beralih memeluknya. Pecahlah tangis yg ditahannya.
"jangan nangis, mas baik baik saja. Lagipula kemarin agar kamu senang dek. Apapun untukmu pasti dilakukan agar kamu bahagia."jelas ustadz Alfi
"hiks hiks kamu membuatku jantungan kl begini mas hiks hiks"tangis dian tersedu sedu.
"udah dong jangan nangis, kamu ternyata cenggeng ya dek"ledek ustadz Alfi yang tertawa sebab hidung dian memerah parah jika menangis.
"ih mas kamu mah"kesal dian yang melepas pelukan itu.
"hehe maaf."ucap Ustadz Alfi yang tersenyum lebar seakan akan pusingnya hilang seketika. Tampak Dian cemberut namun dengan menahan senyum.
"mas laper dek"ucap ustadz Alfi yang sebenarnya sudah melihat ada makanan di sampingnya.
"makan aja sendiri"ucap dian yang beranjak dari ranjang tersebut. Belum bangun sudah ditarik lagi sama si ustadz yang hobinya narik tangan istri menuju pangkuannya.
"suapin" Ucap ustadz Alfi yang membuat dian mendelik kearahnya. Ya ampun, kepalanya yang sakit kan bukan tangannya.
"yaudah sini disuapin kang mas ku sing bagus dewe lan manja"ucap dian.
(yaudah sini disuapin mas ku yang ganteng dan manja)
Ia menyuapi ustadz Alfi yang kl bersamanya sangat manja sedangkan diluar begitu berkharisma dan pesonanya bukan maen. Bolehkah fansnya itu ilfeel ? Tapi malah bukan ilfeel, dian makin dibuat tersenyum setiap hari dengan tingkah laku suaminya ini.
Akhirnya makanan habis, ustadz Alfi meminum obat dan menidurkan tubuhnya kembali. Sedangkan Dian pergi ke dapur setelah ustadz Alfi benar benar tertidur. Lalu ia memakan di dapur lengkap dengan teh manis yang baru di buatnya.
bersambung...
π’π’π’π’π’π’π’π’π’π’
Hallo semuanya, Salam sehat >_<
__ADS_1
Alhamdulillah episodenya sudah terupdate dan selamat membaca... Bila ada typo yang buat gak nyaman bacanya, mohon dimaafkan yaa
Stay Tune dan Nantikan Notif Updatenya, Terimakasih π·