Menikahi Ustadz Idolaku

Menikahi Ustadz Idolaku
MUI : kehilanganmu 2


__ADS_3

"umi....in..ini"ucap ustadz Alfi yang tercekat yang berhasil membuat semuanya menatap kearahnya. Sedangkan umi shita sudah tak bisa menahan air matanya. Rasa tak tega menjalar di seluruh tubuhnya menatap anaknya.


"alfi, em.... sebenarnya yang meninggal adalah dian nak"jawab umi shita.


"apa?"


Sontak wajah ustadz Alfi yang lelah terganti dengan pias. Detak jantungnya langsung bergerak cepat memompa. Dunianya berhenti. Hatinya hancur berkeping keping. Satu tetes air mata mengalir begitu saja tanpa sadar.


Berjalan ke dalam menuju peti itu. Ibu mira menyingkir dari tempat awalnya membiarkan menantunya untuk duduk ditempatnya tadi yang ia tempati. Semuanya sedih menatap ustadz Alfi terdiam sepi dalam jalannya. Bahkan kakinya saja berjalan tidak baik. Kaku dan lemas. Terduduk paksa karena sudah tak bisa menompang tubuhnya. Tangannya hendak membuka peti itu namun terhenti.


"nak, jenazah istrimu tak utuh"lirih umi shita yang setelah itu menutup mulutnya menahan suara.


Ustadz Alfi tidak jadi membuka. Ia terdiam lagi dan menatap bingkai foto tersebut. Ia ingat bahwa dirinyalah yang memfotonya saat itu. Miris sekali bukan dan detik ini juga sekelebat atau bahkan semua ingatan kembali berputar putar dan menari nari di benaknya.


Dian gak setara dengan ustadz, karna ustadz begitu sempurna....


Mas kalau tidur tampan hihi....


Bisa gak sih jangan buat aku kaget. Nanti bisa jantungan aku ini...


Aku mencintaimu ustadzku. Mas alfi cuma milikku...


Jangan ngambek mas. Kamu nomor 1 dihatiku...


Deraslah air matanya dengan menidurkan kepalanya di peti itu. Betapa ia tak menyadari ucapan terakhir dian sebelum berangkat. Kenapa ia izinkan? Menyesal juga percuma karena semuanya sudah terjadi. Benar, Semua telah terjadi walau dihindari namun tak bisa mengelak atau menundanya.


"aku terlambat...., padahal kau sudah berpesan untuk terakhir kalinya. Namun banyak sekali janjiku yang belum tuntas dan terwujudkan."


"apa kesalahanku? Jangan tinggalkan aku. Jika salah, bentaklah atau pukullah aku. Asalkan jangan menjauh."ucap ustadz Alfi yang tetap diposisinya dengan deraian air mata tak henti. Semuanya hanya bisa mendengarkan dan ikut merasa akan kesedihan itu.


"bukankah ketika ulang tahun pernikahan kita ke 5 kau ingin ke mekkah. Ingin pergi umrah bersamaku. Aku sudah menyiapkannya. Pasport, visa dan tiket penerbangan sudah ku siapkan jauh jauh jari. Bahkan jika ingin berhaji, tentu aku mengabulkannya."


(Dian pernah berkata jika ingin ke mekkah tempat kelahiran suaminya itu. Ingin melihat masjidil haram dan ka'bah. Jangan lupakan unta, ia ingin melihatnya juga. Ustadz Alfi pun menyetujuinya begitu melihat dian tampak antusias)


"siapa yang akan membuatkanku sarapan, menyiapkan semua keperluanku, menemaniku tausiyah, menyambutku dirumah dengan senyuman, dan siapa yang rela begadang hanya untuk menungguku sakit?"


"senyumanmu, manjamu, kesalmu, marahmu, cemberutmu dan canda tawamu apakah semua akan hilang tak bisa ku lihat dan rasakan lagi?hiks hiks"tangis ustadz Alfi.


Sudah 3 tahun usia pernikahannya. Dilewati dengan bahagia dan romantisnya rumah tangga yang ia bina. Semua sifat, sikap dan kelakuan sudah diketahui masing masing. Semua menjadi saksi bahwa mereka jarang bertengkar kalau tak ada sesuatu hal seperti beberapa tahun lalu.


"tidak ada yang membuatkanku kue. kue buatanmu enak dan manis seperti dirimu. Rasa kuenya tidak ada tandingannya. Toko kue taraf internasional pun kalah enaknya dengan buatanmu..... apapun buatanmu semuanya aku suka...."ucap ustadz Alfi terhenti karena tidak bisa melanjutkannya.


Matanya sembab, hidungnya merah, wajahnya selelah lelahnya dan keringat membasahi keningnya. Hanya tangisan saja yang bisa terdengar. Umi shita mengelus punggung yang terlihat bergetar. Ya allah putranya begitu terpuruk seperti ini.


"hiks...hiks...kenapa pergi hm..kenapa memilih sendiri hiks...hiks...ajaklah aku dek...hiks hiks mas ingin ikut"racau ustadz Alfi.


"sabar nak alfi, istigfar"ucap bu mira seraya mengikuti gerakan umi shita. Ternyata menantunya lebih merasakan kehilangan begitu dalam melebihi dirinya.

__ADS_1


Ustadz Alfi akhirnya berhenti menangis dengan mengucap istigfar berulang kali. Ia seakan lupa akan hasutan syetan yang muncul awalnya semacam dari perkataannya tadi. Ustadz juga manusia. Manusia yang terkadang akan khilaf dan berdosa .


"ganti pakaianmu dan beristirahatlah alfi"ucap umi shita yang hanya dibalas anggukkan.


Hendak berdiri dan berjalan kearah kamar. Sebuah salam dari seseorang di luar menjadi perhatian semuanya. Umi shita kemudian berdiri untuk bertemu dengan seorang laki laki yang ternyata adalah kurir.


"assalamulaikum"salam kurir tersebut.


"waalaikumsalam"jawab umi shita.


"mohon maaf ibu, ada paket dengan penerima atas nama Alfi YA. Pengirim dari Dian NC"ucap kurir tersebut.


"ya dengan saya sendiri"sahut ustadz Alfi yang sudah berada di belakang umi shita.


"silahkan pak tanda tangan disini"senyum ramah sang kurir. Kemudian ustadz Alfi menandatangani itu dan melihat sebuah kotak lumayan besar ada di tangan umi shita. Setelah tanda tangan, ia pun memilih masuk.


Sang kurir heran, biasanya ia mengantar kesini pasti ustadz Alfi membalasnya dengan senyuman. Namun sekarang tidak dan terlihat begitu datar serta dingin.


"maaf ibu, ada orang meninggal yaa. Saya turut berduka cita"ucap kurir tersebut.


"iya terimakasih. Menantu saya meninggal"balas umi shita. Sang kurir mendadak terkejut.


"ya allah tak menyangka ternyata mba dian meninggal. Memang maut tak pandang orang. Mba dian adalah orang ramah dan baik. Murah senyum kepada siapapun semoga khusnul khatimah aamiin"bathin kurir itu yang kemudian pamit.


Umi shita membuka kotak itu. Terlihat ada sebuah kertas yang bertuliskan "untuk hafsa, putri kesayangan umi" dan 2 boneka. Boneka kambing berukuran sedang hitam putih dan ada kalung bertuliskan nama sebutan boneka itu "kiki" sedangkan boneka kucing berukuran besar yang nampak duduk anteng berwarna hitam bernama "tata" di lehernya. Selain itu ada juga sebingkai sertifikat penghargaan yang sudah ditandatangani.


"hafsa, sini sayang"panggil umi shita. Hafsa yang di pojok ruangan menghampiri mbah utiinya.


"lihat, ini 2 boneka keinginan hafsa. Umi sudah membelikan ini dan menepati janjinya."ucap umi shita dengan menahan air matanya.


"wah...4 anak tuting ada umina dan temenna ugha. Namana ciapa utii"antusias hafsa.


"kucingnya namanya tata kl kambingnya namanya kiki"ucap bu mira sedangkan umi shita mengalihkan posisinya karna tak bisa menatap wajah polos cucunya yang membuat hatinya begitu perih.


Hafsa membawa kedua boneka itu kearah kamar kedua orangtuanya untuk mengambil keranjang 4 anak kucing miliknya. Ustadz Alfi yang dari dapur ingin ke kamar juga mendadak membeku menatap wajah hafsa.


Dengan mengalihkan pandangannya karena tak kuat menatap wajah itu yang mirip dian. Hafsa menatap nanar abinya yang masuk kamar. Ustadz Alfi sudah masuk kamar mandi barulah hafsa mengambil keranjang itu walaupun sedikit kesusahan. Sepertinya ia akan tidur dikamar lainnya karena tak mau mengganggu abinya.


"abi, tenapa endak mau natap apca? Umii apca penen peyuk abii"bathin hafsa ingin menangis namun ia harus kuat. Harus pengertian jika abinya perlu waktu.


***


Pagi hari disambut dengan hujan begitu deras. Paman wisnu beserta istri dan anaknya sudah berada di rumah ustadz Alfi. Caca yang berada di aceh langsung terbang ketika mendengar sahabatnya tiada. Gus agung dan vira juga langsung ke sana, kebetulan mereka berada di bekasi.


Hujan sudah reda. Jenazah almarhum dian sudah disholatkan dan siap dikebumikan. Rencananya akan di makamkan di makam keluarga ustadz Alfi. Semua keperluan untuk pemakaman sudah siap. Hanya beberapa tetangga yang ikut memakamkan jadi disewalah mini bus untuk mengangkut mereka sedangkan keluarga inti menggunakan mobil masing masing.


Peti tersebut di angkat oleh ayah ahmad, paman wisnu, umay dan ustadz Alfi sendiri. Ia nampak lebih tertutup dan pendiam. Tatapannya kosong seraya fokus menga ngkat peti yang berisi jenazah sang istri. Ia memakai koko berwarna hitam yang dihadiahkan oleh dian. Tadinya ingin dipakai saat ultah dian, eh malah buat mengantar ke tempat peristirahatan terakhir dian.

__ADS_1


Takdir memang tak menentu. Awal pertemuan, lamaran dan pernikahan begitu indah. Kebersamaan mereka terus teringat di benaknya. Tanpa sadar air matanya mengalir kembali namun tertutup dengan kacamata hitamnya.


Sesampainya dipemakaman itu...


Langit memang mendung tapi air hujan belum jatuh seperti tertahan sesuatu. Cuaca yang seperti ini begitu kontras dengan kesedihan mereka dan suram bagi hati ustadz Alfi.


Dian itu orangnya baik, friendly, ramah, punya simpati yang tinggi, penyabar, dan murah hati. Banyak orang yang menyukainya akibat sikap dan sifatnya. Senyumannya begitu menulari siapa saja yang melihatnya. Tapi kini hanya tinggal nama di atas batu nisan berbahan kayu.


Bu mira menaburkan bunga di atas pusara makam putrinya dengan masih seperti kemarin. Wajah ramahnya hilang dan berganti dengan air mata yang tertahan. Menaburkan bunga bergantian dengan anggota keluarga lainnya.


Ustadz Alfi hanya bisa menatap pusara tersebut. Gundukan tanah merah yang bertaburan bunga diatasnya dan juga banyak karangan bunga. Batu nisan bertuliskan nama yang dulu ia ucapkan saat ijab Qobul.


...innalillahi wa inna illaihi ro'jiun...


...Dian Nurul Cahyaningrat...


...binti Ahmadi ningrat...


...Lahir : Wonogiri, xx xxxx xxxx...


...Wafat : Jakarta, xx xxxx xxxx...


Sungguh tulisan itu begitu menyesakkan hatinya. Apalagi Figura foto yang menampilkan Dian tersenyum dengan gamis warna cream diletakkan juga diatas pusara itu. Miris sekali, foto itu ia yang memfotokannya.


Semua orang mulai meninggalkan tempat dan kembali ke rumahnya. Sedangkan umay dan faqih senantiasa menunggu namun sedikit menjauh serta membelakangi seseorang laki laki yang butuh privasi. ustadz Alfi yang menekuk kakinya sembari menatap serius apa yang ada di depannya.


"assalamualaikum"salam ustadz Alfi yang kemudian membacakan surat yasin dengan tartilnya. Diiringi doa agar almarhumah dilapangkan kuburnya.


"dek, begitu tak menyangka kau cepat meninggalkanku. Pada umumnya bukankah seharusnya aku duluan. Tapi ternyata kau lebih dulu dan menurutku ini terlalu cepat."


"kau pergi lalu bagaimana denganku dek. Aku sungguh tak sanggup merawat dan membesarkan sendiri anak kita"


"apakah kau tahu? Sekarang aku menjadi duda beranak satu hehe menyedihkan sekali. Bagaimana jika ada yang merebut posisimu nanti? Tapi itu tak akan pernah terjadi. Karena dihatiku hanya ada dirimu saja."


"tentang pesanmu itu....rasanya aku perlu waktu dek. Apalagi wajah anak kita begitu mirip denganmu. Tunggulah kami disana dan aku pamit. Insya allah aku akan terus mengunjungimu sampai kapanpun disini."


Begitulah ucapan ustadz Alfi yang seakan akan dian didalam sana membalasnya atau mendengarkannya. Menghapus air matanya dan merapikan karangan bunga yang sedikit bergeser. Sekilas menatap figura foto itu lalu berjalan bersama umay dan faqih di depannya. Ketika sudah hampir menjauh, ia menatap nanar tempat yang mencolok dari yang lainnya.


"ikhlaskan dan sembuhkan hati ini. Maka dek dian akan tenang di sana. Namun hatiku menolak untuk belajar move on darinya"bathin ustadz Alfi.


Bersambung....


🐒🐒🐒🐒🐒🐒🐒🐒🐒🐒


Hallo permirswah, gimana epsnya neh?


Alhamdulillah episodenya sudah terupdate dan bila ada typo yang buat gak nyaman bacanya, mohon dimaafkan yaa

__ADS_1


Stay Tune dan Nantikan Notif Updatenya,


Salam sehat & Terimakaseh, see you di next eps. Sayang²nya akyuu.... Mwuach 😘


__ADS_2