Menikahi Ustadz Idolaku

Menikahi Ustadz Idolaku
MUI : 5 Tahun??


__ADS_3

Dian yg sedang tertidur menyadari ada pergerakan di atasnya mulai memaksa terbangun. Namun sebelum benar benar membuka matanya, ternyata ada sebuah tangan menyenggol hidungnya. 


Tentu saja ia langsung membuka matanya. Menyesuaikan Cahaya yang masuk ke retinanya lalu melihat di depan wajahnya terdapat wajah seseorang yang ia tidak kenal. 


Ustadz Alfi melihat itu langsung menelan salivanya dan tidak bergerak dari posisinya. Sedangkan Dian menatap heran dan bingung berbarengan karena tidak mengenal siapa yg berada pada depan wajahnya ini.


"gawat ketahuan"batin ustadz Alfi.


"kamu siapa?"tanya Dian.


Ustadz Alfi yg dilanda ketakutan akan ketahuan menjadi menatap Dian tidak percaya. Apakah istrinya tidak ingat jika dirinya ini adalah suaminya?.


"kamu gak kenal aku dek"ucap ustadz Alfi malah balik bertanya. Dian pun menjadi tambah bingung.


"kamu dokter maris?"tanya Dian kembali. 


Namun jika ia pikirkan kenapa tidak mirip dengan ingatannya. Mereka berdua sama sama saling bingung dan membuat yang menonton menjadi bingung juga.


Dian pun mengamati lebih dekat wajah itu sambil mengingat ingat. Ustadz Alfi tetap diam dengan apa yg dilakukan olehnya.


"apa kau dokter maris? Tapi kenapa berbeda. kamu memiliki rambut yg pendek, memiliki alis yang tipis, punya hidung yang mancung, mata beriris coklat, punya rahang yg tegas dan punya sedikit jenggot. Yang paling membingungkan kau juga punya tonjolan di leher."ucap Dian menganalisa wajah di depannya seraya menunjukkan nunjuk apa yg ia sebutkan.


"aku bukan dokter marissa"seru ustadz Alfi.


"kau komandan agha?"


"bukan"


"em..kau om darman (ayah dari komandan agha yg sekarang tinggal di kalimantan)?"


"bukan"


"kau raka?"


"bukan"


"em..brian?"


"bukan"


"ah kau mas….mas.."ucap Dian berhenti mengingat seseorang. Wajah ustadz Alfi menjadi cerah.


"kau pasti mas agung?"tanya Dian yang membuat ustadz Alfi menghela nafasnya.


"bukan"jawab ustadz Alfi.


"lalu kau siapa? Kenapa ada disini? Aku tidak mengenalmu? Atau jangan jangan kau penjahat"terka Dian yg mulai mendekatkan diri ke dipan. Sambil memegang erat selimutnya. Lalu menatap takut ke arah ustadz Alfi.


"bu.. bukan.Aku bukan penjahat"kilah ustadz Alfi yg bingung dan terlihat mendekat. Namun Dian malah menangis ketakutan.


"dokter maris huhuhu, dokter….aku takut huhuhu"tangis Dian yg berontak ketika di dekati.


"kenapa menangis? Aku tak berniat jahat"ucap ustadz Alfi yg mencoba mendekati lagi. 


"bohong"ucap Dian seraya menepis tangan ustadz Alfi yg hendak memegang tangannya. Bahkan ia masih saja menangis membuat ustadz Alfi mendadak pusing.


"berapa umurmu dek sebenarnya?"tanya ustadz Alfi.


"sifatmu seperti anak kecil"pikirnya.


"heuh? Umurku?"seru Dian mulai berpikir dan menghitung umurnya lewat jari jari tangannya. 


"1...2...3...4...5.. umurku 5 tahun"hitung Dian lalu menyodorkan kelima jarinya ke depan. 


"5 tahun ?"heran ustadz Alfi seraya mengikuti kelima jari tangan Dian dengan menatap tak percaya yg di balas anggukkan wanita di depannya.


"ya allah, umur lima tahun bahkan lebih tua hafsa dong"pikir ustadz Alfi.


"kamu tanya umurku mau apa? Atau jangan jangan penculik yaa"terka Dian kembali. 


"bukan dek, aku gak niat jahat dan bukan penculik. percayalah padaku"ucap ustadz Alfi menyakitkan.

__ADS_1


"percaya padamu itu musyrik. Gak baik"ucap Dian dengan menggerakkan jari tangannya dan kepalanya ke kanan lalu ke kiri secara berurutan.


"astaghfirullah"ucap ustadz Alfi tepuk kening.


("inilah ketika seorang ustadz di nasehati sama anak kecil"senyum abi Abdurahman yg dibalas senyuman renyah dari semuanya.)


"tenanglah, mana mungkin aku menyakiti atau berniat jahat denganmu. Aku suamimu"seru ustadz Alfi.


"wah aku punya suami...eh tapi suami itu apa ya?"bingung Dian.


"intinya kamu sudah menikah dan punya suami yaitu aku."jelas ustadz Alfi dengan sabar. Di dalam hatinya ia harus mengoreksi setiap ucapannya sebab yg di hadapannya itu anak kecil.


"oh begitu. Aku juga pernah mendengar. Contohnya apa yang dilakukan oleh mas agung sama vira di ruang kamarku. Mereka mengatakan jika melakukannya harus sudah menikah dan hallal."ucap Dian.


"memangnya apa yg mereka lakukan di ruang kamarmu dek?"tanya ustadz Alfi penasaran.


"itu loh yg boleh dilakukan tapi harus sudah menikah katanya. Sedangkan aku tidak mengerti apa yg mereka lakukan"terang Dian yg mulai rileks berbicara dengan laki laki di depannya.


"hmm… yasudah kamu contohkan saja"simpul ustadz Alfi.


Dian pun mengangguk setuju seraya mendekatkan diri ke arah seorang di depannya. Ia pun terus mendekat dan wajah mereka berdekatan. Ustadz Alfi membelalakkan matanya sebab bibirnya merasakan sesuatu.


(semuanya melihat sampai terbingungkan lalu dengan serempak tangan rida menutup kedua mata zaki dan hafsa segera. Sedangkan gus agung dan vira sudah malu sekali. 


Kyai hanya bisa menghela nafasnya saja dan menggelengkan kepala sambil merutuki aktivitas anaknya dengan menantunya itu sampai membuat cucu muridnya yg jiwanya 5 tahun sudah terkontaminasi virus mematikan hehe)


Dian pun sudah kembali ke tempatnya melihat ustadz Alfi terpaku dan wajahnya tampak seperti seorang gadis yg dicuri ciuman pertamanya. 


"eng..kamu ta..tahu apa nama tindakan ini dek?"kaku ustadz Alfi seraya menggaruk tengkuknya tidak gatal. Telinganya memerah akibat tindakan Dian.


"endak tahu"polos Dian dengan memeluk guling di dekatnya. 


"ekhem.., oh ini namanya mencium."ucap ustadz Alfi yang ikut bersandar di dipan lalu berselonjor ria bersama Dian.


"berarti aku boleh melakukannya dong dengan semua orang. Katanya mereka menikah itu sama dengan pertemanan. Jadi aku boleh melakukan itu dengan orang lain?"tanya Dian.


"eh nggak semuanya"bantah Ustadz Alfi.


"Hanya aku saja yg di perbolehkan bahkan boleh kl sering sering hehe"sambung ustadz Alfi yang nampak tersenyum senyum sendiri. 


"namaku alfi, dek"singkat ustadz Alfi.


"Alfi, jadi itu namamu"simpul Dian.


"jangan memanggilku dengan nama. Tidak sopan sebab aku lebih tua darimu"ucap ustadz Alfi.


"oh jadi aku harus memanggilmu kakung (kakek)?"simpul Dian.


"bu..bukan"tolak ustadz Alfi 


"memanggilmu ayah?"


"bukan"


"panggil paman?"


"bukan"


"panggil om"


"ck..buuukaaan"


~begitulah perdebatan mereka hehe


"lalu apa?"cemberut Dian.


"memangnya kamu melihat aku sudah tua?"tanya ustadz Alfi.


"wajahmu memang putih dan halus di pegang"ucap Dian.


"aku ganteng yaa"narsis ustadz Alfi yg membuat azzam memutar bola matanya jengah di dalam ruang online tersebut.

__ADS_1


"iya sih"ucap Dian. Ustadz Alfi pun senang di puji seperti itu.


"tapi kamu sudah tua."timpal Dian kembali. Ia mengatakan tua sebab sekilas ada anak rambut milik laki laki di depannya berwarna putih walau hanya satu helai.


Ustadz Alfi merasa ketika sudah terbang eh malah nyungsep ke selokan, itu sangat sangat sakit sekali. (semuanya tertawa terbahak bahak dan para orangtua tertawa kecil)


"kau membuatku patah hati dek"drama ustadz Alfi seraya menyentuh dadanya seakan akan dirinya telah tertusuk sesuatu.


"em..aku harus memanggilmu apa?"ucap Dian yg meringis sendiri menatap aneh dengan drama seorang laki laki di sampingnya ini.


"coba kamu panggil aku dengan sebutan mas . Aku mau dengar"pinta ustadz Alfi. Dian menurutinya.


"mas Alfi"panggil Dian sambil tersenyum manis. 


"subhanallah, nikmat mana yang kau dustakan"seru ustadz Alfi yang kesemsem sama senyuman itu seraya menatap Dian intens.


"em..gak usah liatin gitu mas, aku malu"ucap Dian yang gugup.


"hehe ya... habisnya mas cinta sama kamu. Apalagi dengan senyumanmu yg memabukkan itu"cengengesan ustadz Alfi.


"mas, aku ingin bicara"seru Dian yang sudah kembali serius. 


"bicaralah apapun itu. Aku akan mendengarkannya."balas ustadz Alfi. 


"aku akan bicara tapi bisakah kau mengambil sebuah amplop diatas lemari itu."pinta Dian yg menunjuk ke arah lemari pakaiannya. 


Ustadz Alfi dengan segera mengambilnya memakai kursi. Lalu menatap penasaran dengan isi dari amplop tersebut. Sesampainya di depan Dian, ia pun duduk kembali dan berniat memberikan amplop tersebut.


"bukalah"ucap Dian menolak amplop itu dengan menggeleng geleng kepalanya.


Ketika ustadz Alfi membukanya, tercium bau anyir di hidung dan bau tak sedap dari lembaran kertas di dalam amplop coklat. Ustadz Alfi melihat surat itu dan membacanya lalu mengeraskan rahangnya.


Sedangkan Dian beralih memeluknya dan menangis tanpa suara. Merasa takut dengan surat itu tapi juga takut dengan wajah ustadz Alfi yang tadinya manis dan penuh kasih sayang sekarang menjadi seperti sedang marah. Tentu saja ia takut.


"aku takut"lirih Dian dengan air matanya yg mulai berjatuhan. Ia berlindung di dekapan suaminya dengan merasa sangat was was.


(semuanya penasaran dengan isi surat itu tetapi tidak bisa melihatnya.)


Ustadz Alfi mengarahkan surat itu ke kamera cctv saat Dian menenggelamkan wajahnya di dada bidang miliknya dengan terus menangis. 


("Berani kembali dengan suamimu, aku pastikan tidak hanya dirimu yg mati tapi seluruh orang yg kamu kenal. Termasuk akan kuhabisi juga orang yg menolong dirimu. Camkan itu"baca Gus Agung yang memfokuskan gambar pada surat itu. Semuanya terkejut apa yg mereka dengar dan lihat itu.) 


Tulisan yang ditulis dengan bertinta Darah seseorang bahkan tidak tahu siapanya sungguh membuat Dian tertekan dan tidak bisa bertemu dengan keluarganya.


"aku takut hiks hiks...aku mau ayah sama ibuu...hiks..hiks.. tapi....."tangis Dian sesenggukan dan semakin kencang namun sedikit redam karena wajahnya tertutup baju koko yang sekarang sudah basah dengan air matanya.


"nanti...nanti….nanti"ucap Dian yg terhenti.


"shut.. Jangan berpikir dan berbicara yang tidak tidak. Allah tahu apa yang terbaik bagi kita semua. Jadi lebih baik banyak berdoa dan berhusnudzon kepada Allah."nasehat ustadz Alfi seraya mengelus dan mengecup pucuk kepala Dian dengan sayang.


"apa ini sebabnya kamu tidak mau bertemu dengan keluargamu (menyangkup ketus dan dingin yg meminta pisah juga dengannya)?"tanya ustadz Alfi yang hanya dibalas Dian menganggukkan kepalanya.


"sudah dek jangan nangis nanti bisa drop tubuhnya"ucap ustadz Alfi yang sama sekali tidak didengar lagi oleh Dian.


"dek"panggil ustadz Alfi seraya mendongakkan dagu wanitanya agar ia dapat melihat. 


"ternyata tidur ya"ucap ustadz Alfi. 


Tangannya ditepis oleh Dian dan mencari cari posisi yg nyaman di dekapan itu. Sekarang ustadz Alfi persis seperti seorang ayah yg digelayuti oleh balitanya. Dengan hati hati, ustadz Alfi meletakkan surat itu ke dalam amplop coklat dan menidurkan Dian pada posisi yg benar.


"aku harus mengembalikan surat ini di tempatnya dan membalikkan keadaan benda benda di kamar ini."pikir ustadz Alfi yg bergerak dengan cepat tapi tetap hati hati takut Dian terbangun. 


Setelah semuanya beres, ustadz Alfi membenarkan selimut yg menutupi Dian sampai bahunya. Ketika ingin beranjak dari posisi di sebelah kiri ranjang, eh dirinya sudah dipeluk lagi oleh istrinya. Ia pun pasrah dan ikut menidurkan dirinya disebelah Dian. Lalu tanpa terasa, ia ikut menuju alam mimpi


Bersambung…....


🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢


Hallo permirswah, gimana epsnya neh?


Alhamdulillah episodenya sudah terupdate dan bila ada typo yang buat gak nyaman bacanya, mohon dimaafkan yaa

__ADS_1


Stay Tune dan Nantikan Notif Updatenya,


Salam sehat & Terimakaseh, see you di next eps. Sayang²nya akyuu.... Mwuach 😘


__ADS_2