
"ada apa dengannya? Kenapa acuh tak acuh denganku"pikir Ustadz Alfi.
"dek, kamu kenapa? apa ada masalah?"tanya Ustadz Alfi beruntun dan melihat reaksi Dian kepadanya. Ia merasa harus ditanyakan agar lebih jelasnya.
Laki laki di depannya sudah berbicara dan mulai bertanya kepadanya, Dian menatap sekaligus mencari cari sesuatu. Ustadz Alfi mendadak gugup dengan tatapan selidik itu yg membuat Dian merasa jika ada yg disembunyikan namun apakah sama dengan apa yg dipikirannya dan apa yg dilihatnya.
"kamu pulang jam berapa hari ini ?"tanya Dian bak mengintrogasi tersangka tindak kriminal.
"seperti yg mas katakan kemarin, jam 11 siang"jawab Ustadz Alfi sejujur jujurnya.
"jam 11 siang ? lihatlah jam berapa ini. jam 2 siang kan. sudah sekitar 3 jam berlalu dan baru pulang. kamu kemana memangnya ?"tanya Dian lagi yg menekan semua amarahnya dan mencoba berpikir secara rasional. Selain itu hatinya terasa perih dengan isi amplop yg diterimanya.
"mas, jawab jika kamu tidak kesana. aku mohon"bathin Dian berharap.
"aku ke pasar dulu dek"jawab Ustadz Alfi.
Dian terdiam dengan seribu bahasa akibat jawaban dari laki lakinya yg ia harap harap tidak menjawab apa yg tidak ia inginkan. Tapi kenyataannya tidak sesuai ekspektasinya. Jadi apa yg dilihatnya dari amplop itu semuanya ialah benar adanya.
"Jadi... kau kesana."simpul Dian seraya tertawa miris dan tanpa sadar mengeratkan kepalan tangannya sampai terlihat buku buku jarinya memutih.
"mas memang benar kesana karena... (terhenti sejenak)... karena ada urusan"ucap Ustadz Alfi yg ragu namun tambah membuatnya terlihat seperti orang yg sedang menyembunyikan sesuatu.
"urusan apa sampai sampai diutamakan? sudah tidak mau 'pulang' yaa, bicaralah padaku. kan ku beli 'rumah' yg lebih menyegarkan mata untukmu agar kamu bisa 'pulang' bahkan tak mau pergi darinya"sindir Dian tersenyum miring.
Ustadz Alfi menelan salivanya dengan perasaan campur aduk. Ia paham maksud perkataan istrinya. Tapi ia juga tak mau memberitahukannya. Jika ia beri tahu bukankah usahanya untuk memberi hadiah jadi gagal. ia seperti memakan buah simalakama sekarang ini.
"mak..maksudnya dek? bisakah diperjelas lagi"risih Ustadz Alfi yg sebenarnya masih bingung apa yg dimaksud oleh Dian. apa ia ada yg salah atau adakah sesuatu yg tidak beres.
__ADS_1
"tidak usah diperjelas, sadar diri dan akui kelakuanmu diluar sana. Perasaanku kamu enggak pernah bawa aku ke pasar umbar kedekatan. sekarang melakukannya dengan orang lain. dan miris sekali pacarmu itu, masa di ajak kencan dipasar. pacaran apa mungut bangkai ikan yg busuk kayak kelakuanmu"ketus Dian.
Ustadz Alfi terhenyak dari kegugupannya. Ucapan Dian sangat menusuk dan bahkan sampai hatinya tersabet ngilu. Apalagi kata kata yg bahkan sudah terasa sangat menyakitkan. Selama ini, ia bahkan tak pernah mendengar ucapan pedas sepedas bon cabe level paling atas, ia memang pernah namun tak sepedas yg ini.
"dek, mas tidak berniat seperti itu ke pasar. dan tunggu apa maksudmu dengan pacaran?... kamu nuduh aku seperti tak percaya lagi denganku"ucap Ustadz Alfi masih mengontrol rasa sesak dihati.
"aku rasa... saat ini aku meragukanmu"singkat Dian yg berdiri dari duduknya.
Namun itu semua tidak terjadi sebab dirinya dihentikan oleh ustadz Alfi yg menarik tangannya agar duduk kembali. Saat Dian terduduk kembali, ia langsung menghempaskan tangan milik seseorang didepannya dan bahkan menatap tajam kearah pelaku yg menariknya.
"kamu maunya apa sih ? gak usah pegang pegang. karena aku tak mau menyentuh tanganmu atau berdekatan denganmu."sungut Dian.
"dek, jangan kayak gini. mas gak tahu dan gak paham apa maksudmu. apa salahku sehingga kamu meragukanku?"sendu ustadz Alfi yg mencoba menatap Dian tapi tidak bisa sebab wanitanya sudah mengalihkan netranya dengan sesuatu di tangannya.
"kamu gak tahu salahmu dimana ? baik...aku akan menunjukkannya."ketus Dian yg dengan cepat membuka amplop cokelat itu dan melemparnya dengan keras di meja
terhempaslah isi dari amplop itu. potongan demi potongan foto yg tadinya hanya dilihatnya sekilas menjadi berhamburan di meja maupun dilantai. Ustadz Alfi kaget dengan apa yg dilihatnya dan mengambil salah satu potongan yg terdapat hasil jepretannya bersama dengan seorang wanita.
"astaghfirullah, ini gak benar dek. mas gak mungkin memeluknya. Sungguh bisakah kau percaya denganku"ucap Ustadz Alfi yg kini bahkan menggeleng menolak apa yg dilihatnya.
"percaya ? bukti terlampir dan jelas seperti ini kamu masih mengelak. aku tak percaya lagi denganmu"kekeuh Dian dengan pendapatnya.
"dek... mas mohon percayalah padaku. aku tak mungkin berbuat seperti itu."harap Ustadz Alfi yg mencoba meraih tangan Dian namun nihil. Usahanya gagal lagi dan lagi.
"kamu benar benar keterlaluan. masih saja menolak semuanya"ucap Dian kesal. Emosinya sudah tak tertahankan lagi dan hanya menunggu meledaknya saja.
"mas tidak melakukannya dek. sebab itu selalu menolaknya."ucap Ustadz Alfi menekan setiap ucapannya. Ia juga hampir terlepas amarahnya, namun masih bisa mengendalikannya.
__ADS_1
"terus saja... terus saja kau mengelak. apa tujuanmu kesana jika memang kau tak melakukannya ?"tanya Dian.
Ustadz Alfi diam dan tak bisa menjawab. Ia sungguh bingung hendak menjawab tapi juga ragu dan banyak pikiran yg bercabang jika ia memilih opsi tersebut. Itupun membuat Dian merasa jika foto ini memang benar walau sejatinya ia selalu percaya dan merasa janggal dengan amplop ini.
"kamu tak bisa menjawab"simpul Dian.
"sebenarnya..."ucap Ustadz Alfi yg akan mengatakan hal yg sesungguhnya namun sudah terhenti.
"SUDAH CUKUP MAS"bentak Dian membuat Ustadz Alfi tak jadi mengatakannya. Ia memilih pasrah jika harus dibentak lagi dan diam karena jikalau berkata lagi itu akan membuat Dian tambah marah padanya.
"kelakuanmu jika dilihat orang lain. bagaimana tanggapan mereka tentangmu? walau kamu menganggap angin lalu saja. tapi apa kata mereka tentangku. mungkin tanggapan mereka jika aku memang benar memberikan pelet dan bermain dukun untuk berhasil 'lebih dekat' denganmu akan seratus persen dipercaya."
"tuduhan yg keji bukan mas?, saking mereka sangat cintaa padamu jadi menganggapku seperti itu."keluh Dian yg masih emosi dengan apa yg terjadi saat ini. Ustadz Alfi tetap diam dan mendengarkan semua itu.
"segitukah menderitanya kamu dek, menikah denganku? seharusnya aku membahagiakanmu dan membuatmu nyaman berada di sisiku sebab aku mencintaimu, tapi ternyata seperti ini yg kau rasakan dibalik ketidak apa apanya dirimu tentang itu. Maafkan aku"suara hati Ustadz Alfi yg seketika merasa bersalah sekaligus sakit.
bersambung....
π’π’π’π’π’π’π’π’π’π’
Hallo permirswah, gimana epsnya neh?
Alhamdulillah episodenya sudah terupdate dan bila ada typo yang buat gak nyaman bacanya, mohon dimaafkan yaa
Stay Tune dan Nantikan Notif Updatenya,
Salam sehat & Terimakaseh, see you di next eps. SayangΒ²nya akyuu.... Mwuach π
__ADS_1