Menikahi Ustadz Idolaku

Menikahi Ustadz Idolaku
MUI : Rencana Licik 2


__ADS_3

Flashback on


Di sebuah cafe kota Jakarta terdapat seorang gadis yang sedang menikmati hari sendirian. Ia dengan santainya membaca buku bahan belajarnya ditemani coklat hangat dan kue bolu yang ia bawa dari rumah.


Wajahnya tampak serius melihat buku yang ia pegang. Tanpa sadar, gerak geriknya sedang diperhatikan oleh seseorang. Seseorang itu menghampirinya dengan langkah yang pasti. 


"ekheem"dehem seorang yang diduga laki laki. Sontak gadis tersebut mendongakkan wajahnya menatap siapa yang berdehem. 


Mata mereka saling beradu pandangan. Laki laki tersebut tersenyum manis menatap gadis yang sedang terpaku menatapnya. Bahkan terlihat sekali jika dirinya telah berhasil membuat gadis didepannya ini tertarik dengannya.


"haii, bolehkah aku bergabung disini?"tanya laki laki tersebut. Ia melihat ada rasa bingung dan ragu dari gadis yang sedang menatapnya saat ini. Dapat ditebak jika gadis ini ialah gadis baik baik. 


"aku tidak akan berbuat macam macam kok, tapi… jika kamu tak mau, ya juga tidak apa apa"ucap laki laki tersebut.


"em.. Silahkan pak"balas gadis yang sedang duduk. Laki laki itu kemudian duduk dihadapan yang telah mengizinkannya duduk. 


Suasana nampak hening dan tak ada yang berbicara. Laki laki itu merasakan suasana canggung diantara mereka berdua. Ia pun mendapatkan ide agar tak sunyi bak kuburan diantara mereka.


"oiya, perkenalkan aku rendi"ucap laki laki itu yang ternyata bernama Rendi. Ia mengulurkan tangannya agar di raih oleh gadis yang telah berhasil mencuri perhatiannya sejak tadi.


Lama tangan itu menggantung di udara tepat didepannya. Tetapi ia tak langsung menerima uluran tangan tersebut. Sungguh sangat sungkan apalagi saat pertama kali melihat laki laki didepannya ini, ia merasakan debaran jantung yang luar biasa dan rasa ini begitu asing baginya. 


"em.. Dian, pak"ucap Dian yang mencoba tersenyum dengan tangan mengatup di dekat dada. Sementara itu, rendi menjadi salah tingkah dan menetralkan dirinya dengan menarik tangan yang diulurkan menjadi menggaruk tengkuknya.


"oh.. Dian, oiya jangan panggil pak. Aku belum pantas dipanggil itu. Panggil saja mas"ucap Rendi tersenyum mengagumi kecantikan alami milik gadis di depannya ini.


Dian terdiam dan hanya menganggukkan kepalanya menurut. Pandangannya sesekali menatap wajah tampan laki laki di depannya ini lalu membaca buku. Walau kenyataan tidak berfokus pada materi di dalamnya. Sungguh ia tak mengerti apa yang terjadi saat ini tapi yang pasti ini baru pengalaman pertama kali merasa hati berbunga bunga. 


"ya Allah, aku suka padanya. Inikah cinta pada pandangan pertama"batin Dian tersenyum tertahan di balik buku yang ia baca.


"sepertinya aku menyukaimu. Entahlah kesan pertama saat bertemu sangat aku idam idamkan."batin Rendi yang juga merasakan debaran hebat di dalam dirinya.


Selama itu mereka sering berkomunikasi dan janjian pada tempat yang sama. Akhirnya berselang 3 bulan, Rendi melamar non formal di cafe tersebut dan Dian menyetujuinya dengan syarat jika Rendi harus melamarnya formal dan bertemu keluarga besarnya.


Dian sudah menceritakan semuanya lewat telepon yang ditemani dayu. Bahkan saat bertelepon dengan ayah dan ibunya, Dayu ialah saksi dimana mbaknya itu tersenyum bahagia. 


1 minggu kemudian, Keluarganya sudah mempersiapkan Lamaran formal. Ayah Ahmad sudah didatangi oleh Rendi dan meminta restu. Namun beliau tidak langsung menjawabnya sebab masih mempertimbangkan banyak hal. Apalagi yang menikah ialah putri pertama dalam keluarganya, ia harus memilah milah untuk calon suami anaknya. Apakah baik? Sholeh? dapat dipercaya? dan masih banyak lagi. Begitupun jika dayu akan menikah nanti. 


"ayah sudah memutuskannya. Kami semua merestui jika nak rendi menjadi suamimu kelak nduk."ucap Ayah Ahmad membuat Dian merasa senang.


"alhamdulillah, terimakasih ayah."senang Dian. Lamaran pun berjalan dengan lancar, hanya menunggu hari H nya saja.


Namun rasa senang itu perlahan pupus sebab 2 bulan berlalu terdapat peristiwa dimana Dian melihat dengan mata kepalanya sendiri jika Rendi sudah gandeng dengan wanita lain di sebuah taman. Ia pun kecewa sekali lalu mencoba menghubungi nomor laki laki itu. Dan nyatanya, laki laki itu berkata…


"maafkan aku. Keluargaku ternyata tidak bisa menerimamu. Aku sudah dijodohkan dan dinikahkan setelah datang kerumahmu. Maaf, lamaranku aku batalkan"

__ADS_1


Begitulah kata yang mencabik cabik perasaannya. Dian tak kuasa menahan rasa sakit itu dan terduduk lemas ditempatnya berpijak. Saat itu juga ia memantapkan hatinya untuk tidak menerima apapun lamaran dari siapapun itu kecuali lamaran yang akan diatur oleh orangtuanya suatu hari nanti.


Tak membutuhkan waktu lama, Dian sudah melupakan rendi begitupun kenangan pahit yang menyebabkan keluarganya malu dan marahnya mbah kakungnya. Belajar move on hanya dengan 2 jam setelah mengetahui kenyataannya. Cepat sekali tapi yang harus digaris bawahi perbuatan rendi tak akan bisa terlupakan di hati Dian maupun semua keluarganya.


Flashback off


Semuanya terdiam membisu tapi menatap kearah rendi yang mulai membuka topi nya. Tampilannya sekarang sungguh berbeda dengan yang dulu. Ayah Ahmad yakin jika ada sesuatu yang membuat rendi tampak berubah namun jika dipikir pikir ia hanya ditipu oleh sikap manis rendi. 


"sepertinya namaku memang sangat tertanam di ingatanmu, ayah."ucap Rendi dengan percaya dirinya.


"jangan memanggilku ayah. Kau tak berhak melakukan itu"emosi Ayah Ahmad. Beliau nampak menggertakan giginya dan wajah yang selama ini tersenyum ramah berubah menjadi penuh amarah. 


"terlalu emosi tidak baik di usia anda saat ini"santai Rendi. 


"kurang ajar!"marah Ayah Ahmad sudah maju dari tempatnya dengan cepat menggulingkan salah satu anak buahnya rendi.


"astaghfirullah, ayah hentikan. darah tinggimu kumat nanti"panik Bu Mira mencoba mencegah suaminya yang hendak melancarkan gerakan berikutnya. Namun sebelum gerakan itu muncul, Ayah Ahmad tiba tiba didera nyeri di bagian dadanya disertai pusing. 


"shh.."keluh Ayah Ahmad. Gerakannya memang masih lincah tapi tidak disertai emosi. Emosi akan memacu pompa jantungnya menjadi cepat dan tekanan di darahnya. Itulah memicu darah tinggi kumat lagi, entahlah sejak kapan ia memilikinya yang pasti setelah pulang dari jakarta saat terakhir acara tujuh harian. 


Tiba tiba saja ayah Ahmad merasa pusing dan nyeri di bagian dadanya bahkan sampai pingsan. Pada saat itulah Bu Mira sangat waspada. 


"ayah sudahlah, biar alfi dan yang lain menghadapinya."ucap Ustadz Alfi sangat nampak khawatir dengan keadaan ayah mertuanya. Akhirnya ucapannya disetujui oleh Ayah Ahmad.


Setelah Ayah Ahmad mundur dan bersama dengan para orangtua beserta dayu dan aisyah, kini 4 lelaki memilih maju. Azzam, Farhan, Umay dan Ustadz Alfi bersiap di garis terdepan hendak melawan Rendi lalu membebaskan Hafsa yang masih dalam genggaman mereka. 


Bugh.. Bugh.. Bugh..


Begitulah suara yang terdengar. 4 laki laki itu seakan tak pandang apapun lagi jika berhubungan dengan Hafsa. Apalagi Ustadz Alfi, ia benar benar mengeluarkan tenaganya dan menyerang dengan cepat cekatan. 


Azzam pun tak kalah dengan kelihaian sahabatnya itu. Ia bersemangat menyerang apapun yang menghalangi langkahnya meraih Hafsa. Azzam adalah laki laki yang kedua setelah Ustadz Alfi. Ia bagaikan pawangnya Hafsa jadi sudah tak salah lagi jika sekarang ini ikut berjuang dengan sahabatnya. 


Terjadilah aksi saling pukul memukul sampai hampir setengah dari anak buahnya rendi di lumpuhkan oleh ke empatnya. Rendi berdiri dari duduknya dan menatap anak buahnya yang memegang kendali Hafsa. Lalu memberikan tatapan penuh arti. Anak buahnya nampak mengangguk seakan mengerti dan langsung melakukannya.


Brukk..


Hafsa terkulai lemas dan menutup matanya di lantai teras tersebut. Ternyata ia telah di pukul lehernya dari salah satu orang yang memegang kendalinya. Walaupun itu termasuk ringan tapi Hafsa tetaplah anak anak yang tak kuat terhadap itu.


"Hafsaaa"reflek Ustadz Alfi terkejut dengan keadaan anak perempuannya pingsan. Bagaimana hatinya tidak merasa sakit melihatnya, Hafsa adalah darah dagingnya sendiri.


"Kau?!, apa yang kau lakukan terhadapnya"marah Ustadz Alfi. Ia merasa emosinya sudah datang dan tidak dapat dicegahnya lagi.


Dengan wajah yang memerah, Ustadz Alfi sudah tak peduli dengan apapun langsung menyerang anak buah dari laki laki yang sudah membuat anaknya seperti itu. Yang hanya ia pedulikan yakni Hafsa yang sekarang belum bisa tergapai.


Kretakk..

__ADS_1


Aaaa….


Bunyi tulang yang sepertinya patah sudah berulang kali terdengar ditelinga mereka. Semuanya meringis ngilu akibat itu. Hendak membantu tapi dalam keadaan seperti ini mereka harus mengirit tenaga jika saat nanti Ustadz Alfi sudah tak punya tenaga. Selain itu, juga karena apapun usaha untuk membantu tetap ditolak oleh Ustadz Alfi.


"hentikan"suara Rendi yang tak berhasil menghentikan gerakan menyerang dari Ustadz Alfi. Tapii…


"silahkan berbuat apapun semaumu tapii aku tak akan berpikir ulang untuk membuat nyawa anakmu melayang"tegas Rendi serius dengan omongannya. 


Itupun membuat Ustadz Alfi berhenti dan mendadak beku menuruti ucapan Rendi. Semua atensi menatap Hafsa lalu beralih menatap Ustadz Alfi atau ke arah Rendi bergantian.


"serahkan anakku"ucap Ustadz Alfi datar dan terus menekan emosinya dalam dalam. Ia tak boleh sembarangan bertindak.


"baiklah"ucap Rendi menyetujuinya.


Akhirnya Ustadz Alfi berhasil meraih tubuh mungil Hafsa yang sudah terkulai lemas. Semuanya ikut lega dan tenang. Namun tak sampai beberapa menit saat Hafsa jatuh kedalam gendongan Ustadz Alfi. Anak buah Rendi dengan liciknya memukul Ustadz Alfi dari belakang sampai terjatuh.


"aargh"


"Alfii!!"


🍂🍂🍂


Praaang…


Suara pecahan akibat gelas terdengar begitu nyaring di gendang telinga siapa saja yang berada didekatnya. Gelas itu terjatuh seketika saat si empunya hendak mengambilnya. 


"Astaghfirullah"pekik Dian terkejut.


Dirinya baru saja ingin meminum air di gelas itu tetapi sudah terjatuh dan membentuk butiran kecil dilantai. Entah tenggorokannya merasa haus pada saat tengah malam begini. Ia pun berniat membersihkan pecahan gelas itu. 


"aww"keluh Dian merasa tergores tangannya oleh pecahan dari beberapa butiran gelas. 


"adduh aku ceroboh sekali"ucap Dian meniup goresan ditangannya dengan perlahan lahan demi mengurangi rasa sakit. Tiba tiba sekelebat bayangan Ustadz Alfi dan Hafsa bergantian muncul di benaknya. Tatapan mereka yang ia lihat seperti meminta pertolongan. 


"Ya allah ada apa ini sebenarnya? Kenapa aku merasa sangat risau dengan keadaan mereka berdua. Ya Allah, Tuhanku yang Maha Pengasih dan lagi Maha Penyayang. Lindungilah suami dan anak hamba dimanapun mereka berada… Aamiin"Doa Dian didalam hati.


"Aku harus melakukan sesuatu"gumam kecil Dian yang kembali membersihkan pecahan gelas tersebut masuk ke dalam tempat sampah di depan wastafel.


Bersambung…


🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢


Hallo permirswah, gimana epsnya neh?


Alhamdulillah episodenya sudah terupdate dan bila ada typo yang buat gak nyaman bacanya, mohon dimaafkan yaa

__ADS_1


Stay Tune dan Nantikan Notif Updatenya,


Salam sehat & Terimakaseh, see you di next eps. Sayang²nya akyuu.... Mwuach 😘


__ADS_2