Menikahi Ustadz Idolaku

Menikahi Ustadz Idolaku
MUI : Izin Bekerja


__ADS_3

Setelah acara mesra mesraan di taman, mereka memutuskan untuk meninggalkan tempat itu. Berjalan beriringan dengan senyum dan bergandengan tangan. Lebih tepatnya Ustadz Alfi tidak mau melepas.


"mas?"panggil Dian menatap yang hendak di ajaknya bicara.


"kenapa dek?"balas Ustadz Alfi.


"tanganku kebas dipegang terus."keluh Dian. Tapi bukannya dilepas malah semakin mengeratkan.


"jangan dilepas. Mas takut ada yang ngambil kamu dek"ucap Ustadz Alfi lirih dan hampir tak terdengar namun Dian masih mendengarnya.


"apa?!"ucap Dian tanpa sadar mengundang tatapan dari yang kebetulan melintas lalu mereka senyum senyum sendiri sebab melihat tangannya terus di genggam. Membuat Dian meringis kecil.


"mas, aku ini milikmu. Gak ada yang punya selain dirimu. Tidak usah memikirkan sesuatu"terang Dian dengan suaranya yang pelan.


"ya tapi kan, kamu sudah lama disini dek. Mereka pun tak tahu jika kamu sudah bersuami sebelum sebelum ini, pasti mereka terus menyelipkan namamu dalam doanya agar berjodoh"curhat Ustadz Alfi. Hatinya masih merasa tidak terima jika Dian mendapat gombalan dari salah satu anak didiknya.


"Mas aku tahu kamu cemburu dan aku akui jika posisi kita terbalik tadi, aku juga akan sepertimu saat ini. Percayalah bahwa aku menjaga hati ini agar tetap berlabuh dihati yang tepat"jelas Dian yang sudah memeluk dari belakang. Ustadz Alfi terdiam dan mencerna apa yang dikatakan olehnya tapi membuatnya merasa suaminya marah.


"mas, kamu marah sama aku?"lesu Dian.


"enggak dek."senyum Ustadz Alfi seraya menggenggam lengan yang memeluknya lalu melepaskan dengan perlahan lahan. 


"beneran?"selidik Dian menjulurkan jari telunjuknya. 


"iya bener."yakin Ustadz Alfi menangkup kedua pipi miliknya. Eh maksudnya milik Istrinya.


"yaudah deh. aku mau ke dapur duluan yaa mau buat kue untuk anak anak dan kamu juga. Sesuai ucapanku."izin Dian dengan tersenyum manis.


"boleh. Bikin yang bolu rasa cokelat ya dek."pinta Ustadz Alfi.


"iya mas. Okey"balas Dian mengambil tangan kanan milik suaminya dan melenggang pergi.


"assalamualaikum"pamit Dian.


"waalaikumsalam"balas Ustadz Alfi. Ia menatap arah perginya Dian dengan senyuman. Istrinya jika memakai gamis itu sangat manis dan lebih dari kata cantik.


"ekheem"dehem seseorang di sampingnya. Seketika membuatnya menoleh kebelakang dan ternyata 5 laki laki beda usia sedang tersenyum melihat aksinya yang terpesona sesaat.


"udah pergi gitu orangnya. Masih di lihatin aja"ledek Guz Agung.


"eh…maaf gak sadar. Assalamualaikum"senyum kikuk Ustadz Alfi.


"wa'alaikumsalam"serempak Guz Agung, Komandan Agha, Raka Brian dan Kyai.


"Ustadz jangan lupa segera siap siap sholat Jumat berjama'ah di masjid"ucap Komandan Agha mengingatkan.


"loh bukannya masih lama ya?"heran Ustadz Alfi mengerutkan keningnya.


"Nak Alfi, ini sudah 30 menit lagi."seru Kyai.


"Astaghfirullahaladzim"ucap Ustadz Alfi melirik jam tangannya.


Ia lupa akan waktu jika sudah berduaan dengan Dian. Sekarang ia malu sebab bahkan 5 laki laki di depannya terkekeh kecil, apalagi kl mereka tahu jika ia lupa sebab habis berduaan.


"makanya jangan berduaan mulu"ledek Raka.


"lupa waktu kan stadz"timpal Brian.


Jedder…


Haish, ustadz Alfi rasanya ingin bersembunyi di suatu tempat saja. Ya allah ketahuan kan kalau asyik berduaan dengan Dian. Mereka jangan jangan menguntit lagi seperti pihak ketiga di sekitaran taman.


"Ya sudah, segera siap siap Nak. Nanti tertinggal"perintah Kyai.


"baik mbah kyai."sahut Ustadz Alfi yang kemudian pamit lalu berjalan cepat segera sampai rumah untuk berganti pakaian. Sedangkan Mereka yang melihat tingkahnya hanya menggeleng kepala.


Sesampainya di rumah langsung saja berganti pakaian dan mandi. Kini ustadz Alfi memakai baju koko warna cokelat dengan celana bahan panjang senada. Tak lupa memakai kopyah dan sedikit menyemprotkan wewangian serta sajadah milik istrinya.

__ADS_1


"dek ! Mas pamit sholat Jumat. Assalamualaikum"pamit Ustadz Alfi yang sedikit berteriak sebab Dian berada di dapur berkutat dengan tepung.


"yaa, mas. Waalaikumsalam"balas Dian sedikit menaikkan suaranya agar terdengar. 


Setelah mendengar balasan, Ustadz Alfi menutup pintu dan berjalan menuju Masjid yang jaraknya hanya beberapa langkah saja. Ia pun melenggang masuk seraya membawa sajadah di tangannya. 


Mengucap salam dengan semuanya yang sudah berada di dalam masjid dan seperti biasa menjabat tangan orang yang ia lewati. Dirinya duduk tepat di sebelah kyai.


"Nak Alfi ingin menjadi imam?"tawar Kyai.


"tidak ingin mbah. Silahkan mbah saja yang lebih berhak di depan."tolak Ustadz Alfi halus. Kyai pun mengiyakannya.


Beberapa rangkaian rangkaian sholat Jumat telah dilalui dengan baik dan lancar, akhirnya selesailah kegiatan tersebut. Satu persatu semuanya keluar bergantian dan saling berpamitan dengan semuanya. 


Sholat Jumat kali ini memang seperti biasanya, namun jama'ahnya ada yang dari luar. 5 bapak bapak yang tinggalnya di daerah perkebunan menyempatkan diri untuk Sholat Berjama'ah bersama. Komandan Agha tidak masalah dan menerima dengan uluran tangan yang luas. 


"bapak bapak ini bekerja sebagai apa?"tanya Kyai dengan ramah. Mereka dengan posisi yang melingkar terdiri dari Kyai, Komandan Agha, Guz Agung, Ustadz alfi dan kelima bapak bapak tersebut.


"kalau saya pemilik kebun apel."ucap bapak anwar.


"kalau saya pemilik kebun durian."ucap bapak rizwan.


"kalau saya pemilik kebun singkong"ucap bapak rafli.


"kalau saya dan saudara pemilik kebun Kelapa."ucap bapak rangga yang diangguki oleh bapak dirga.


"oh seperti itu. Apapun kebunnya, semoga diberkahi dan selalu diberi rezeki yang berlimpah"doa Kyai.


"aamiin"serempak semuanya. Komandan Agha tersenyum melihat semuanya. Masjid ini menjadi ramai dan berguna bagi semua orang yang ingin menunaikan sholat lalu sekarang ditambah pengajian anak anak. Senyumnya terhenti, melihat bapak rangga dan bapak dirga seperti memikirkan sesuatu.


"ada apa pak rangga dan pak dirga? Apa ada masalah, siapa tahu kami bisa membantu pak?"tanya Komandan Agha membuat semuanya beralih menatap kedua pemilik kebun kelapa.


"sebenarnya ada. Tapi kami berdua bingung mencari pekerja baru. Karena pekerja lama sedang sakit namun pesanan terus mengalir dan kami kewalahan"cerita pak Dirga.


"apakah sudah mencoba membuka lowongan pak?"tanya Guz Agung.


"memang pekerjaan seperti apa itu pak?"tanya Ustadz Alfi yang ikut penasaran.


"sebagai pemanjat pohon kelapa atau membersihkan kebun yang luasnya lumayan"jawab pak rangga kembali.


"jika aku menerima ini, apakah dek dian mengizinkan aku bekerja? Tapi sangat kasihan melihat kedua bapak itu kewalahan."pikir Ustadz Alfi.


"em..saya mau menjadi pekerja itu."simpul Ustadz Alfi. 


"apa?"kor Komandan Agha dan Guz Agung serempak.


"jika seperti itu, besok kami akan kesini lagi. Kerjanya hanya 2 hari saja, apapun keputusanmu kami akan menerima."ucap Bapak Rangga.


Mereka pun pamit keluar masjid dengan hati senang dan bahagia. Setelah benar benar pergi, Komandan Agha dan Guz Agung menanyakan sesuatu dengan Ustadz Alfi.


"ustadz yakin bekerja seperti itu?"tanya Guz agung.


"benar guz."jawab Ustadz Alfi.


"nak ini berat pekerjaannya dan mbah tidak yakin jika nduk Dian mengizinkanmu"ucap Kyai yang memang benar adanya.


"sebenarnya aku belum di transfer dari perusahaan mbah dan tidak memegang uang tunai. Sedangkan kartu atm ku tertinggal di rumah. Lalu aku pun tidak menerima undangan tausiyah beberapa tahun ini mungkin sudah saatnya memang mundur dari publik"jelas Ustadz Alfi. 


"Ya allah nak, tapi jangan bekerja seperti ini juga. Kamu bisa bekerja dengan sesuai kemampuanmu dan jangan berat berat."seru Kyai.


"itu benar stadz, jika kamu bekerja disana belum tentu keselamatanmu terjamin. Kl ingin kerja, aku punya pekerjaan untukmu. Mengurusi pengajian dan bimbingan untuk anak laki laki membantu meringankan urusan Dian. Gajinya juga dari negara"terang Komandan Agha.


"tidak apa apa. Aku ingin merasakan gimana pekerja seperti itu. Selama ini aku seperti bekerja mengandalkan keahlian bertausiyah saja dan mengurusi perusahaan juga tidak mengeluarkan banyak tenaga."ucap Ustadz Alfi. 


"baiklah nak, asal kamu izin sama istrimu dulu. Apalagi kalian ini baru deket, takut terjadi kesalahpahaman saja."ucap Kyai. 


Ustadz Alfi menyetujui saran itu dan memilih pamit. Ia sudah tidak sabar mencicipi kue buatan istrinya. Keluar dari masjid disuguhkan pemandangan beberapa anak didik laki laki bergotong royong membawa makanan buatan istrinya. Ada yang tak sabar memberikannya kepada teman teman asrama yang lain dan ada pula yang kelihatan memakan satu bagian dari kue tersebut.

__ADS_1


Dian nampak tersenyum melihat kelakuan mereka dan tidak menyadari jika Ustadz Alfi berjalan perlahan lahan menghampirinya dari belakang. Lalu tanpa aba aba, memeluk dari belakang.


"assalamualaikum"salam Ustadz Alfi. Semuanya menoleh ke arah keduanya dan tersenyum penuh makna. Sedangkan Dian hampir saja jantungan sebab tindakan suaminya ini.


"wa'alaikumsalam"balas semuanya serempak. Satu persatu yang lainnya membubarkan diri dan membiarkan keduanya berdua saja. 


"mas jangan begitu"malu Dian seraya melepas pelukan itu.


"kangen"seru Ustadz Alfi membuat Dian meliriknya dengan tajam.


"apa katamu mas ? Kita sudah bertemu seharian begini dikata kangen?"heran Dian.


"kangen"ucap Ustadz Alfi tersenyum menggoda. 


Dian pun mencium punggung tangan kanan suaminya dengan kemauan sendiri. Sedangkan Ustadz Alfi terkekeh geli.


"kenapa hemm? gak boleh ya bilang kangen. Kan sama istri sendiri. Apalagi kalau jauh dan tidak bersama mu hidupku hampa."ucap Ustadz Alfi.


"heleh, gombal ku masih ada di dapur mas"balas Dian yang merasa sudah tak asing dengan gombalan itu. 


Ustadz Alfi berkali kali tersenyum hari ini. Ia rasa hati dan raganya kembali ke tempat semestinya. Dengan gerakan mendadak, Dian ditarik untuk berdekatan dengannya. Sedangkan Dian kaget sekaligus malu dengan posisi ini. Tangannya menempel di kedua bagian dada bidang tersebut dan tubuhnya sangat dekat. Saat lebih mendekat lagi dan hampir wajah mereka tanpa jarak…


"gak baik bermesraan di depan pintu. Nanti kaum jomblo kehabisan oksigen"seru Raka Brian yang mengganggu keduanya yang hampir saja menjadi romantis.


"eh"panik Dian yang menjauh darinya Ustadz Alfi dan berlari masuk kerumah. Ah, wajahnya sudah memerah begini.


"makanya nikah biar ngerasain seperti ini"santai Ustadz Alfi yang kemudian pamit untuk menyusul ke dalam.


"hish dasar… nasib jadi jomblo begitu sakit sekali yaa. Ngenes"gerutu Raka Brian yang kemudian berjalan menyusul Komandan Agha yang masih di dalam masjid.


Singkat cerita….


Malam datang, Semuanya bersiap untuk memulai tertidur di kamar masing masing. Ustadz Alfi yang diluar duduk menghirup udara sejuk saat malam langsung masuk. Mengunci pintu depan & belakang serta menutup jendela di rumah itu. 


Langkahnya menuntun ke dalam kamar. Namun sebelum itu mengganti lampu tengah menjadi temaram baru lanjut pergi ke arah kamar.


Pintu kamar juga sudah tertutup. Langkahnya memelan dan hati hati takut jika seseorang yang sudah terlelap ini terbangun. Terlihat Dian tidur dengan memeluk guling dan berselimut serta menghadap letak dimana suaminya tertidur. Ustadz Alfi mengganti pakaiannya dengan kaos oblong dan celana pendek dibawah lutut. Ia meletakkan kopyahnya di nakas lalu masuk kedalam selimut yang sama. 


"mas"suara serak Dian yang terusik akibat pergerakan seseorang di sampingnya.


"maaf dek, ganggu kamu tidur"sesal Ustadz Alfi. Dian hanya menggeleng saja dan meletakkan guling di belakangnya lalu memeluk Ustadz Alfi seperti guling wkwk. Lebih tepatnya mencari kehangatan di balik pelukan.


"mas dari mana?"tanya Dian yang seakan akan bertanya dalam mimpi.


"dari luar."jawab Ustadz Alfi seraya membalas pelukan tersebut dan meletakkan kepala Dian di atas lengannya.


"oh gitu."simpul Dian.


"oiya dek, mas boleh kerja kan?"ragu Ustadz Alfi.


"boleh mas"gumam Dian.


"alhamdulillah, besok mas kerja ya dan kamu dirumah baik baik. Jangan keluar sebelum mas pulang. Besok kamu libur ngajar jadi istirahat aja dirumah yaa"ucap Ustadz Alfi


Lama menunggu tapi ucapannya benar benar tidak dibalas balas. Ia pun heran dan sedikit menunduk melihat keadaan Dian. Benar saja dugaannya, ternyata Dian tertidur lagi. Mungkin lelah karena hari ini sudah banyak menguras tenaganya. Rasa kantuk sudah menyerang di mata Ustadz Alfi, ia mematikan lampu tidur dan ikut terlelap dengan tetap memeluk Dian. 


Bersambung...


🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢


Hallo permirswah, gimana epsnya neh?


Alhamdulillah episodenya sudah terupdate dan bila ada typo yang buat gak nyaman bacanya, mohon dimaafkan yaa


Stay Tune dan Nantikan Notif Updatenya,


Salam sehat & Terimakaseh, see you di next eps. Sayang²nya akyuu.... Mwuach 😘

__ADS_1


__ADS_2