Menikahi Ustadz Idolaku

Menikahi Ustadz Idolaku
MUI : selamat datang dirumah


__ADS_3

Setelah beberapa hari di rumah sakit akhirnya dian sudah diperbolehkan untuk pulang. Memakai atasan warna moka dengan rok putih membuat dian tampil seperti abg padahal sudah punya anak satu. Bisa diartikan mama muda hihi


Walaupun habis lahiran, dian seperti tidak melar. Malah sedikit turun berat badannya. Tidak hanya berat badan, wajahnya saja tambah cerah. Kini dian sedang memakaikan kaos kaki untuk hafsa. Ustadz Alfi membereskan semua barang barang yang berada di rumah sakit selama ini.


"sudah"ucap dian yang selesai dengan urusan pakaian hafsa.


"cantik sekali anak umi"puji dian yang kemudian mengajak berbicara hafsa.


Akibat itu, hafsa menjadi gembira mendengar celoteh dari uminya walaupun matanya masih tertutup, ia menggerakkan tangannya kesana kemari untuk merespon. Ustadz Alfi melihat kedekatan dian dengan hafsa membuat hatinya menghangat.


"seneng banget kayaknya yang lagi sama umi"ucap ustadz Alfi menghampiri mereka berdua.


"iya dong abi"balas dian yang menirukan suara anak kecil.


"ayo kita turun dek. Bang umay sudah nunggu di lobi"ajak ustadz Alfi yang siap mengambil tas yang telah di pakai selama ini di rumah sakit.


"iya mas"sahut dian yang menggendong hafsa dan berjalan beriringan keluar dari ruangan


Terlihat umay duduk di ruang tunggu depan lobi sambil menatap hpnya. Mereka berdua menghampiri umay sehingga membuat sadar dari asiknya menatap hp. Dian kemudian masuk ke dalam mobil dan ustadz Alfi masih memasukkan tas ke bagasi mobil.


"sudah siap?"tanya umay yang melirik kearah kaca mobil.


"sudah"jawab ustadz Alfi dan dian bersamaan.


Mereka menjawab dengan nada merendah karena sang putri tidur sudah masuk ke zona ternyamannya. Umay pun menancapkan gas dengan kecepatan sedang karena takut membangunkan ponakannya yang tertidur.


Sementara dengan orang orang dirumah. Mereka nampak tak sabar ingin menemui dian dan juga hafsa. Caca sudah menanti dan merindukan sahabatnya Sedangkan vira dan guz agung sudah berada di jakarta karena memang sedang ada urusan.


Tak lama mobil umay telah sampai di depan pagar. Mengklason untuk tanda kedatangan membuat farhan membukakan segera. Setelah berhenti betul. Ustadz Alfi lebih dulu membuka pintu mobil karena sungguh dian tak bisa membukanya takut hafsa terbangun. Putrinya masih sering tertidur sebab memang itulah ciri ciri bayi berumur 1 minggu.


Keluarlah dian dengan hati hati. Semuanya melihat kearah hafsa yang tertidur. Umi shita pun menghampiri dan disambut dicium tangan kanannya oleh menantunya.


"bagaimana yan, apa sudah enakkan?"tanya umi shita


"alhamdulillah umi. Maka dari itu sudah boleh pulang ke rumah"jawab dian


"syukurlah. Umi kangen sama kamu dan hafsa."senyum umi shita yang memeluk sekilas dian.


"umi gak kangen sama alfi"tanya ustadz Alfi


"kamu udah sering keluar masuk dan sering umi lihat juga."jelas umi shita


"sebenarnya anak umi itu siapa sih disini"sindir ustadz Alfi yang membuat semua orang menahan untuk tidak tertawa.


"aisyah sama dian"balas umi shita yang seakan menjadi akibat hati ustadz Alfi retak seketika.


"ya allah umi bener bener kl ada mantu pasti anak sendiri dilupain"cemberut ustadz Alfi.


"kamu kenapa sih mas? Jangan ngambek, itu mau dicium siapa"ledek dian


"kamu aja"senyum nakal ustadz Alfi.

__ADS_1


"bukan aku mas, sana sama bebek aja"balas dian yang membuat wajah ustadz Alfi tambah tertekuk


"ck"decak ustadz Alfi yang membuat semua menjadi tak bisa menahan tawa.


"hehe aku hanya bercanda. Masa orang ganteng nyium bebek, kasihan sekali kangmasku ini"tawa kecil dian. Dengan itu ustadz Alfi kemudian kembali normal karena tak bisa menolak pujian itu.


"eh koq hafsa bangun? Berisik ya nak"ucap dian melihat hafsa di gendongannya membuka mata melihat semua orang.


"iih cantik banget ponakan aunty."gemas caca yang mendekati hafsa dan membuat hafsa mengerjap matanya lalu bersembunyi di kerudung milik uminya.


"hehe ada yang malu di puji cantik"ucap vira yang faham dengan reaksi hafsa.


"oiya sebaiknya segera masuk dan beristirahat. Kasihan cucu utii pasti lelah"ucap buย  mira


Dian masuk kedalam bersamaan dengan selesainya ustadz Alfi menaruh tas bawaan kedalam kamar dan memilih menetap di dalam kamar. Dian meletakkan hafsa di ranjang lalu ustadz Alfi memeluk dan meletakkan kepalanya di bahu istrinya.


"kenapa mas? Capek yaa"ucap dian yang membenarkan surai rambut ustadz Alfi yang belum sempat dicukur lagi. Sedangkan kopyahnya sudah duduk di dekat lampu tidur.


"em..hanya sedikit"singkat ustadz Alfi.


"istirahat aja ya mas. Jangan sampai kamu sakit"bujuk dian.


Bak seorang ibu menyuruh anaknya, ustadz Alfi menuruti perkataan dian dan membaringkan tubuhnya di sebelah hafsa yang menatapnya. Ustadz Alfi kemudian meletakkan hafsa diatas dadanya sambil mengelus dengan sayang agar tertidur kembali. Biasanya jam segini, sudah tertidur sampai jam 11 nanti.


"sini biar aku pijit kepalamu mas"tawar dian


"makasih ya dek. Istriku memang peka"senyum ustadz Alfi


"loh sendiri keluarnya nduk?"tanya ayah ahmad yang berkumpul dengan semuanya menggunakan tikar/permadani di ruang tamu. Kursi dan meja sudah berada disudut ruangan agar semua duduk bersama sama.


"iya ayah. Hafsa tertidur sama abinya."sahut dian.


Dian kedapur untuk membuatkan kue. Adonan kue sudah berhasil tinggal di oven. Menunggu beberapa menit sehingga menjadi kue sempurna. Setelah itu. Aroma dari kue sudah terendus ke luar dari dapur.


"harum banget kuenya"ucap vira mendambakan kue yang ia cium aromanya.


"iya nih. Buatan siapa ya"timpal caca.


Kemudian dian datang membawa minum untuk semuanya. Lalu balik lagi untuk mengambil kue buatannya. Semua menatap kearah kue yang begitu menggiurkannya.


"ayo silahkan dinikmati kuenya"ucap dian


"wahh enak banget"kompak vira, caca, aisyah.


"buatan adik iparku memang tidak diragukan lagi"simpul rida yang begitu menikmati kuenya.


"rasanya enak yan. Kamu pintar membuat kuenya."puji umi shita.


"makasih umi."balas dian dengan tersenyum malu. Rasanya ingin terbang gara gara dipuji sama mertua wkwk.


Salah satu di dalam kamar terbangun dari mimpinya. Aroma dari kue begitu menggelitik hidungnya. Ustadz Alfi membuka matanya dan melihat sekeliling. Sebelum bangkit, ia menyelimuti hafsa dengan kain dan membatasinya menggunakan guling serta bantal disisi kanan kirinya.

__ADS_1


"wadduh ada yang terbangun tuh"goda azzam yang melihat ustadz Alfi berdiri diambang pintu kamar.


"mohon maaf yang sebesar besarnya ustadz. Kue buatan istrimu sudah ludes dimakan kita semuanya."ledek farhan


Ustadz Alfi terlihat menelan salivanya. Apa yang ia bayangkan ternyata tidak terwujud. Dian berdiri untuk meletakkan wadah kue yang sudah sisa sisanya saja lalu ustadz Alfi mengikutinya.


"dek koq kamu gak nyisain buat aku sih"rengek ustadz Alfi.


Perlu diketahui guys


Suaranya terdengar sampai ruang tamu dan semua nampak mendengarkannya serius ๐Ÿ˜.


"aku kira tadi kamu tidur loh. Jadinya aku gak buat lebih banyak. Hehe"cengengesan dian.


"yah dek, aroma kuenya itu bahkan lidahku merasakan rasanya. Tapi ternyata sudah habis"sedih ustadz Alfi.


"mas aku bisa membuatnya lagi nanti."balas dian. Ustadz alfi diam tanpa mau menatap dian.


"ayolah mas. Jangan ngambek gitu ih"senyum dian.


"enggak. Siapa yang ngambek"kilah ustadz Alfi.


"tadi kamu ngambek. Kamu tau gak kenapa aku gak buatin kuenya dan hanya untuk semua orang?"ucap dian menatap dalam.


"kenapa?"penasaran ustadz Alfi.


"karena kue untukmu khusus. Karena di hatiku tempat namamu juga khusus. Nomor 1"rayu dian mengecup sekilas bibir suaminya dengan senyum termanis


"dek kamu belajar dari siapa?"desis ustadz Alfi merasa deg deg ser


"kata belajar pasti ada gurunya. Guru yang ahli gombal siapa lagi kl bukan kamu"jawab dian


"ah ya allah sepertinya aku salah mengajarkanmu dek. Kau membuat jantungku lari ke laut"gerutu ustadz alfi.


Ia pun memilih masuk kedalam kamar dan menenangkan hal yang tak normal dari dirinya. Semuanya menatapnya dengan tatap yang menggoda dirinya dan juga siulan dari azzam. Ini sungguh memalukan.


"ekhem"dehem ustadz Alfi berekspresi biasa saja.


"hahaha"tawa mereka bersama.


Ia masuk lalu menutup pintu dan mengusap wajahnya. Jujur ia malu. Bahkan tadi wajah miliknya mendadak merah seperti wajah dian yang digoda olehnya. Bukankah ini sebuah karma yang tidak instan untuknya.


Bersambung....


๐Ÿข๐Ÿข๐Ÿข๐Ÿข๐Ÿข๐Ÿข๐Ÿข๐Ÿข๐Ÿข๐Ÿข


Hallo permirswah, gimana epsnya neh?


Alhamdulillah episodenya sudah terupdate dan bila ada typo yang buat gak nyaman bacanya, mohon dimaafkan yaa


Stay Tune dan Nantikan Notif Updatenya,

__ADS_1


Salam sehat & Terimakaseh, see you di next eps. Sayangยฒnya akyuu.... Mwuach ๐Ÿ˜˜


__ADS_2