Menikahi Ustadz Idolaku

Menikahi Ustadz Idolaku
MUI : Aku Ikhlas (Flashback)


__ADS_3

"jika kau tak mau. Baiklah, Keluargamu akan ku hancur sehancur hancurnya dan didunia ini hanya kau yg tersisa. lalu kau sendiri menyaksikan seluruh keluargamu rata dimasukkan ke tanah"ancam Kania. Dian pun menjadi tak menentu pikirannya, ia ragu melangkah. Ia lebih memilih mati dari pada menyaksikan keluarganya habis tak tersisa.


"tak usah mendengarnya, jangan percaya dengan ancamannya"tegas Azzam.


"tapi bagaimana jika itu terjadi bang? aku gak mau keluargaku habis"ucap Dian tampak cemas.


"itu tidak akan. aku yakin semuanya akan baik baik saja. jangan perdulikan dia."ucap Azzam yg memang menyalakan sesuatu dibelakang tubuhnya untuk dapat dilacak atau merekam jelas suara agar ada bukti.


"Yakin? hngh, keluargamu sudah diawasi jangan sampai hanya aku bilang iya lalu nyawa mereka akan melayang"ucap Kania yg tetap mengancam dan memang benar anak buah partnernya itu sudah tersebar. azzam dan dian terdiam dengan segala pikiran.


"Kau tanda tangani ini, buatlah rekamannya, serahkan cincin itu dan pergi jauh jauh darinya. jika kau menolak, maka anak, saudara, dan keluargamu akan dihabisi. atau mungkin aku akan membunuh Kak Alfi sekalian. kecuali ada jaminan"ucap Kania.


Dian bermuka cemas, bingung, takut dan kesal sekaligus dengan apa yg terjadi. Mendadak wajahnya berkeringat dingin dan mulai ragu dengan keputusan awalnya. azzam menatap dian sedang bimbang ia pun menawarkan diri.


"aku akan jadi jaminan. Asalkan kau lepaskan mereka"seru azzam yg membuat Dian terkejut.


"waww ada pahlawan ternyata, baiklah apapun itu aku setujui saja. kau yg menawarkan diri dan aku janji akan melepaskan mereka semua. Asal dirimu mati"ucap Kania seraya memasukkan peluru kedalam pistol. Azzam pasrah dan mendudukkan diri dengan tegap


"bang azzam jangan. biar dian saja yg menyetujuinya lalu mereka dan bang azzam selamat"cegah dian


"biar aku saja. Setelah ini siap siap lari keluar dari hutan secepatnya. Aku tak ingin dianggap tak amanah jika kau terluka. Anggap saja pertemuan ini adalah yg terakhir."ucap Azzam siap dengan apapun itu seperti maut di depannya ini.


Terlihat Kania nampak menarik pelatuknya mengarah ke jantung azzam. Dian tambah panik dan ingin melindungi azzam tapi ia tak bisa.


(semua yg menonton nampak tegang dan azzam pun hanya menghela nafasnya saja)


"tunggu kania....jangan bang azzam. biar aku saja"cegah dian yg nampak kesusahan membuka ikatan tali di tangannya. Namun kania seperti tuli akan ucapan dian dan segera menembak azzam.


door

__ADS_1


satu tembakan mendarat sempurna tepat di perut azzam namun tujuan awalnya meleset. kania tak begitu paham tekniknya jadinya bukan jantung yg terkena tapi area perut.


"bang azzam !!"pekik Dian terkejut dengan tembakan itu.


Azzam masih duduk dengan tegap dan merasa sakit sebab terkejut dengan tembakan itu. Ia membuka matanya sayu dengan sedikit ringisan. Kania pun menghentikan sementara untuk memberikan beberapa kesempatan


"sekali lagi, apa kau mau atau tidak? jika tidak aku akan menembak lagi"bentak Kania.


Dian terdiam sepi memikirkan segala macam pertimbangan pertimbangan antara setuju atau tidak. Ia sangat tak mau jika sampai bang azzamnya mati didepan matanya tapi disatu sisi ia tidak bisa bercerai. bagaimana pun menikah sekali seumur hidup.


"oh baiklah. keputusanmu masih sama ternyata"senyum miring kania yg segera menembakkan peluru kembali.


door...


"tidak !!"teriak dian histeris saat peluru itu menancap dalam perut milik azzam.


Azzam hampir kehilangan keseimbangannya dan meletakkan tangannya untuk menahan tubuhnya. Darah terus berceceran dilantai dan malah semakin banyak membuat Dian menangis histeris. Rasanya ia ingin pingsan melihat lantai seperti lautan darah. Ia menutup telinganya seraya memejamkan matanya. Air mata sudah tak terhitung lagi dari pelupuk matanya.


door...


"Aku mohon hiks hiks jangan tembak lagi hiks hiks"tangis dian segera menghampiri kania dengan mengesotkan dirinya hampir saja bersujud dibawah kaki kania.


"sekali lagi mungkin akan membuatnya mati. ayolah jangan menunda nunda kegiatan seru ini."senyum kania manis. ini seperti bukan dirinya sendiri dan sudah kehilangan sikap lembutnya pada semua orang. kini hanya mata berselaputkan dendam membabi buta.


"aku bisa menjamin nyawanya"ucap dian tercekat dan menahan isakan yg lama kelamaan menjadi jadi.


"oh benarkah? baiklah. apakah kau bersedia mengikuti kemauanku tadi?"tanya kania memastikannya.


Azzam yg melihat sekilas itu pun mendadak ingin bangkit lagi, namun apa dayanya yg sudah tak memiliki tenaga lagi. Dengan perlahan, ia mencoba untuk mencegah Dian.

__ADS_1


"ja_ jangan"lirih Azzam yg meringis kembali akibat perutnya begitu remuk redam. ia akhirnya tumbang dan menutup matanya. Dian menangis dalam diam sambil menahan air matanya melihat azzam kaku tak bergerak.


"ayo bagaimana? atau akan ku buat semakin parah yg diderita laki laki itu"ancam kania


"ya allah mas apa kita tidak ditakdirkan bersama lagi?"gumam Dian tergugu seraya menekan kuat dadanya yg sesak menerima kejadian ini.


"Aku Ikhlas"seru Dian yg akhirnya mengikhlaskan segalanya termasuk jalan yg runcing seperti bercerai dengan pujaan hatinya demi keluarga. Kania menekan tombol perekam di telponnya lalu mengarahkan kearah Dian.


"Aku__ aku tidak mau menjadi istrimu lagi. Aku ingin bahagia dengan yg lain. Maaf, Aku ingin kita bercerai mas"ucap Dian yg kemudian terekam di telpon itu. sedih sekali rasanya jika harus seperti ini akhirnya. Dalam rekaman itu ucapannya begitu tegas namun aslinya. Air mata terus mengalir, badannya seperti ditikam pisau tajam dan bathinnya tersiksa begitu berat.


"silahkan tanda tangani ini"pinta kania melempar pulpen itu didepan dian yg bersimpuh.


Ditatapnya surat pengadilan itu dengan berderai air mata, Suatu kaset berputar dibenaknya yg berisikan kenangan manis nan indah saat bersama dengan ustadz Alfi miliknya. Apalagi ia begitu mencintainya sampai sampai rela melakukan ini untuk keselamatan orang yg sangat ia cintai.


Apakah suaminya memang benar lebih dahulu menandatangani ini? pikiran ini segera ia tepis sebab ustadz Alfi tak akan melakukan itu padanya. kepercayaannya melebihi apapun apalagi melebihi nyawanya sendiri. Ia harus berkorban demi keluarga, suami, anak dan orang yg dikenalnya dengan dirinya.


Keselamatan mereka lebih utama dari harta, cinta dan apapun itu. Mungkin takdir berkata lain, ia hanya merasakan keindahan bersama ustadz Alfi hanya beberapa tahun saja. semoga suaminya itu mengetahui apa yg ia lakukan dan tak akan percaya dengan rekaman serta surat pengadilan ini. Ia Ikhlas dengan Cintanya untuk Ustadz Alfi dibayar nyawa dirinya karena Allah.


Dian pun menandatangani itu segera setelah memikirkan sesuatu. lalu segera melepaskan cincin itu dengan menatap lekat lekat benda yg sangat ia jaga karena berharga. Setelah terekam jelas di otaknya, ia pun menyerahkannya ke kania.


bersambung...


🐒🐒🐒🐒🐒🐒🐒🐒🐒🐒


Hallo permirswah, gimana epsnya neh?


Alhamdulillah episodenya sudah terupdate dan bila ada typo yang buat gak nyaman bacanya, mohon dimaafkan yaa


Stay Tune dan Nantikan Notif Updatenya,

__ADS_1


Salam sehat & Terimakaseh, see you di next eps. Sayang²nya akyuu.... Mwuach 😘


__ADS_2