
"innalillahi wa inna illaihi ro'jiun"Ucap Ustadz Alfi .
Kemudian ayah ahmad tidak disadari mengeluarkan air matanya . Sangat merasa kehilangan seorang ayah yg selama ini ia banggakan dan ia sayangi meninggalkan dirinya untuk selama lamanya .
"Ayah" lirih ayah ahmad yang mencium tangan kanan Mbah Dahlan yg sudah terbujur kaku . Sekarang ini ia rapuh karena sekuat kuatnya laki laki pasti akan rapuh atau jatuh sebab orang yg disayanginya pergi. Kemudian bu mira menenangkan Suaminya itu.
"mas... Yang sabar dan legowo mas. Ayah gak bakal ngerasain sakit lagi , yakinlah bahwa allah lebih sayang ayah" ucap bu mira yg Mencoba menguatkan dan menyembunyikan rasa sedihnya padahal ia juga merasa kehilangan karena menurutnya mbah Dahlan adalah ayah kandungnya sendiri setelah kepergian kedua orangtuanya beberapa puluh tahun lalu .
Ayah ahmad hanya bisa mengangguk saja lalu mencoba tersenyum walaupun tipis kemungkinannya. Semuanya diliputi rasa sedih . Ayah ahmad yg di bantu oleh abi abdurahman beserta kakeknya ustadz Alfi membopong mbah dahlan ke kamar nya .
Sedangkan Umay & Ustadz alfi pergi ke masjid untuk mengabarkan bahwa mbah dahlan meninggal dunia . Meninggalnya mbah dahlan menjadi duka tersendiri bagi masyarakat sekitar karena beliau dikenal baik dan ramah .
Sebelum sang pengabar pulang, ternyata sudah ada yg tiba di rumah terlebih dahulu setelah mendengar suara toa di masjid. Waktu menunjukkan sudah malam , jadi rencananya mengantarkan untuk ke peristirahatan terakhir pada esok hari.
Singkat Cerita
Waktu sudah hampir pagi , semuanya sudah sholat shubuh bergantian. Di depan rumah sudah tertata rapi kursi kursi segala macam keperluan beserta dengan orang yg melayat . Para pemuda mudi karang taruna sudah siap dengan tugas masing masing.
Almarhum mbah dahlan sedang di mandikan oleh para laki laki . Sedangkan yg perempuannya menyambut pelayat. Hari ini begitu mendung bagaikan melukis perasaan keluarga mbah dahlan saat ini .
Tak lama kemudian, datanglah paman wisnu dan keluarganya dari tanggerang . Meraka berangkat kemarin malam hari sekitar jam 10an sebab mendapat kabar duka .
Jam di dinding Sudah menunjukkan jam 8 pagi , semuanya sudah siap untuk menguburkan jenazah Mbah Dahlan . Tetapi terjeda karna ayah ahmad yg menghubungi putri yg pertama belum kunjung bisa . Kemarin malam , beliau tidak menghubungi karna sudah malam bahaya juga bagi dian sendirian dari jogja.
"ayah mungkin mba sedang kuliah jam pagi." ucap dayu yg melihat ayahnya mencoba menelpon mbanya itu.
"tapi mba mu harus tahu....."ucap ayah ahmad yg meletakkan hp nya lalu membetulkan kopyahnya .
Mereka pun menunggu sampai hampir jam 9 pagi. Tak lama hp pun begetar .Lalu ayah ahmad langsung mengangkat telpon itu dengan menggunakan lospeker.
Telepon tersambung
Dian : hallo assalamualaikum.
Ayah ahmad : waalaikumsalam nduk. Kamu sedang apa?
Dian : lagi di kampus yah , baru selesai jam ke 4 . Memangnya kenapa ayah?
( saat itulah, ayah Ahmad ragu untuk bilang. Menghela nafasnya dengan berat )
__ADS_1
Ayah ahmad : mm... Nduk. Mbah meninggal.
( Deg , 2 kata berhasil membuat jantung dian berhenti berdetak seketika. Tak lama air matanya turun perlahan, itu pun membuat caca & vira bingung dengan apa yg terjadi sebenarnya.)
Dian : a..a...ayah se..rius? gak mungkin ...Ayah pasti bercandakan
Ayah ahmad : Apa yg gk mungkin nduk. Ayah gk bercanda, sangat serius dan tidak berbohong.
Dian : innalillahi ... Wa innaillaihi .... Ro jiun...
(terdengarlah isakan yg ditahan. Hening dan membisu)
Ayah Ahmad : bisakah kamu pulang kerumah nduk . Hanya mengantar untuk terakhir kalinya.. Secepatnya
Dian : Aku bisa ayah. Tapi mungkin gk secepatnya.. Karna udh padat jalan kota jam segini... Apakah bisa untuk menungguku sebentar
(suara dian sudah lirih bahkan sangat berharap bisa ditunggu sebentar saja)
Ayah ahmad : gak bisa nduk. Mbah udh di diamkan semalaman dan tidak baik menunda pemakamannya.
( sudah tak tertahan lagi tangisannya, anjlok sudah hatinya ini. Semangat hidupnya sudah hilang satu orang lagi. Sementara itu semuanya mendengarkan tangisan pilu cucu yg selama ini dikenal tidak pernah cengeng dan sekarang sangat rapuh. Lalu kemudian ...)
Dian : ayah ... Hiks hiks hiks . Dian ikhlas hiks hiks kl segera di lanjutkan pemakamannya...Rasanya tidak tega jika di tunda
Telpon Terputus...
Telpon mati tanpa menunggu jawaban dari lawan bicara , bagaimanapun seorang ayah akan teriris hatinya ketika putrinya menangis begitu . Bahkan tadi membuat semuanya ikut menangis . Karna mereka tahu bahwa mbah dahlan begitu menyanyangi anak mantu dan cucu nya . Sedangkan dian sudah berangkat menaiki mobil caca .
" mari dilanjutkan pak kyai ..." ucap ayah ahmad .
" mari "balas pak kyai . Beliau adalah guru silat Dian dan pemilik pesantren di ponorogo Sampai sampai datang untuk melihat sahabatnya untuk terakhir kalinya . Bahkan beliau tahu kakeknya Ustadz Alfi.
Mereka kemudian menuju kearah pemakaman yg jaraknya cukup jauh. Pemakaman dekat Masjid besar yg berada di desa sebelah . Menggunakan ambulan dan mulai meninggalkan rumah . Rumah dijaga oleh sebagian karang taruna beserta wanita yg halangan tidak boleh ke makam siapa lagi kl bukan dayu dan aisyah.
Ustadz Alfi memilih pakai motornya ayah ahmad yg di boncengi umay sebagai pemimpin jalan. Sesampainya disana Sudah disambut kyai pemilik masjid dan 4 orang penggali kuburannya. Ternyata sudah siap dan segeralah pemakaman dimulai .
Ayah Ahmad dan paman Wisnu Serta umay turun ke tanah untuk mengadzankan yg terakhirnya , setelah itu barulah lepas tali putih dan kayu yg menjadi ganjalnya. Lalu tertimbun tanah dan tidak lupa memanjatkan doa kepada orang yg telah tiada yg dilakukan oleh kyai pemilik masjid dekat pemakaman .
Proses pun sudah selesai saat dian sudah sampai di depan pemakaman itu langsung masuk disusul oleh caca & vira dibelakangnya. Mereka bertiga masih menggunakan pakaian ke kampus pagi ini. Semuanya pun melihat serempak. Disana tersisa keluarga saja sedangkan yg lainnya sudah kembali ke rumah.
__ADS_1
Lihatlah dian sekarang . Ia sangat sangat kacau pikiran dan hatinya. Buliran keringat dan air matanya terlihat begitu deras . Wajahnya sembab. Setelah memberi salam dan mencium telapak tangan kedua orang tuanya, pandangan matanya beralih kearah pusara terakhir mbahnya .
Ditatapnya foto almarhum mbahnya lalu menyentuh dengan tangan kanannya . Tiba tiba saja kenangan indah saat kecil berputar seperti film di benaknya. Ketika ia sedih pasti mbahnya yg menghiburnya . Ketika ia gagal pasti mbahnya menyemangatinya dan mengajari pelajaran yg tidak paham. Namun saat mengingat sekarang mbahnya telah pergi bagaikan ada batu menimpanya dari atas kepala langsung aja air matanya jatuh dengan deras.
" mbah ... " ucapnya histeris lalu merasa kepalanya berat membuatnya menyenderkan kepala dan memeluk kayu yg bertuliskan nama dan tanggal lahir serta wafat itu .
Bahkan caca & vira mencoba menenangkannya . Bu mira tidak bisa menghampiri putrinya itu hanya menangis dalam diam di dalam pelukan ayah ahmad yg menahan air matanya. Ia sangat paham dgn apa yg dirasakan oleh dian .
" jangan tinggalkan yan yan mbah hiks hiks hiks hilang semangatku hiks hiks . Jangan pergi , mbah putri udh ninggalin hikss hikss kenapa mbah juga .... Bolehkah aku egois Ya allah ... Hiks hiks ... Hiks hiks astagfirullah..."tangis yg akan membuat siapa saja tidak tahan ikut nangis kl begitu caranya. Dian menangis sampai terbatuk batuk. Umay pun mengelus kepala adiknya yg rapuh itu .
" legowo dek. Biarkan mbah bahagia disana. Kita hanya bisa berdoa. Ayo pulang kamu pasti lelah dek."ucap Umay yg membuat dian menghentikan tangisnya lalu sekilas menengadah keatas .
Matanya yg berkilap seperti ada gliternya pandangannya yang suram itu melihat kearah umay yg mengajaknya pulang . Bohong jika tubuhnya tidak lelah dan kepalanya terasa berat sebab menangis terus. Kemudian dengan mencoba berdiri itu membuat semuanya cukup lega dengan masih mau Dian berhenti Menangis .
Kesedihan yg ia rasakan sampai sampai tidak menyadari jika calon suaminya itu menahan sesak luar biasa di dalam hatinya. Pengen peluk tapi belum halal Pengen menghapus air matanya juga belum halal duhh kasihan si ustadz alfi nya yak hihi .
Kemudian semuanya meninggalkan pemakaman dan menuju rumah . Sesampainya dirumah, dian masih saja melamun dan menunjukkan hal aneh kepada semua orang. Bahkan ia ditegur atau bagaimana juga tidak akan respon . Namun mereka semua paham. Ia berwudhu dan dilanjut dengan yg lain . Kemudian dengan pandangan kosong ia berjalan menuju kamarnya.
" caca , vira terima kasih telah mengantar dian yaa." ucap bu mira.
" iya bu, oiya ini laptopnya dian yg tertinggal di mobil. Kami akan menginap dan tahlilan juga disini. Kemungkinan caca sama vira besok menginap sampai 7 hari."ucap caca yg kemudian diangguki oleh vira.
Mereka tidak mau menjadi sahabat yg hanya ada saat suka tapi juga duka. Bagaiamana dian tadi memohon begitu sangat padanya ? Bagaiamana rasa sedih yg begitu dalam ? Mereka berdua harus bisa membawa kembali senyuman ramah itu yg hilang seperti asap terkena air hujan.
" baiklah, caca dan vira sudah makan? Mari makan bersama..."tawar bu mira.
"hmm.. Tidak bu. Terimakasih kami tidak mau merepotkan. Karna baru sebelum mendapat kabar , kita sudah beli makanan."ucap vira yg menanggapi tawaran bu mira.
"oh begitu. Dek siapin makanan, kita makan sekarang saja."perintah ayah ahmad.
"baik mas"sahut bu mira yg pamit untuk menyiapkan makanan untuk makan bersama di Teras belakang.
Karna hanya ada karang taruna sebagian sedang ngobrol di Jalan yg ada mobilnya itu. Dayu, aisyah dan umi shita membantu bu mira. Yg para laki lakinya menunggu di teras belakang asik berbicara namun tidak dengan Ustadz Alfi yg sedikit mendung mukanya dan hanya menanggapi dengan senyuman saja untuk menghormati lawan bicaranya. Sedangkan caca & vira memilih untuk makan di kamarnya dian sebari menemani orang yg tertidur pulas sebab kelelahan menangis itu.
bersambung....
π’π’π’π’π’π’π’π’π’π’
Hallo semuanya, Salam sehat >_<
__ADS_1
Alhamdulillah episodenya sudah terupdate dan selamat membaca... Bila ada typo yang buat gak nyaman bacanya, mohon dimaafkan yaa
Stay Tune dan Nantikan Notif Updatenya, Terimakasih π·