Menikahi Ustadz Idolaku

Menikahi Ustadz Idolaku
MUI : Hafsa, kesayangan abi & umi


__ADS_3

Waktu berputar terus sesuai rotasinya. Semua lembaran memori disimpan dan dipertahankan agar tak hilang bagaimana pun caranya. Kebahagian ustadz Alfi dan dian masih terasa sampai sekarang semenjak kelahiran si kecil.


Si kecil yang dulu mengerjai abinya mau ini itu sekarang sudah tersenyum terus menatap nya. Kata orang ayah adalah kekasih pertama anak perempuannya. Hafsa selalu senang jika bermain dengan abinya. Ustadz Alfi selain menjadi pendakwah aktif di masayarakat juga adalah abi yang ada untuk anaknya dan suami siap siaga membantu istrinya menjaga anak pertama mereka.


Tausiyah yang dulu mencapai keluar negri ia hilangkan menjadi dalam negri saja. Bagaimana mau keluar negri? Ia meninggalkan anak istri dirumah ke padang aja rasanya berat. Apalagi ketika ia pulang, khawatir bukan main karena hafsa sakit dan Dian menjadi ekstra repot sekarang. Akhirnya Dian yg awalnya menjadu pengajar tapi saat adanya hafsa ia resign dari pondok pesantren pamannya karena tak akan mampu membagi waktu jika hafsa seperti itu.


Dian adalah umi terbaik bagi hafsa. Bocah 2 tahun itu sangat bahagia memiliki umi seperti dian yang jarang marah, tidak membentak bahkan tidak membuat nangis dirinya. Perlu diacungi jempol untuk mama muda ini, seluruh keluarga ustadz Alfi bahkan diluar sana juga tahu betapa sempurnanya dian menjadi pendamping sang ustadz muda itu. Ustadz Alfi saja masih suka tidak bisa mengontrol emosinya apalagi soal kania yang menjadi jadi. Tapi ada dian sebagai pendinginnya. Ada juga yang iri akibat dian sempurna menjadi umi untuk anak anak ustadz Alfi.


Hari ini hafsa sedang bersama dengan dian. Saling bercanda dan berbicara. Sesekali hafsa tersenyum geli dan duduk khusyuk mendengar celotehan dian. Apa ini tak terbalik guys hihi.


Karena usianya 2 tahun, hafsa sudah bisa duduk dan makan sendiri yah walaupun belepotan semuanya sih. Ia senang ketika uminya mulai mengajaknya berbicara, bermain, mengaji dan memakaikannya hijab.


Flashback on...


Hafsa usia 8 bulan melihat uminya melepas hijab di meja rias dengan sesekali tersenyum melihatnya di kasur. Sedangkan ustadz Alfi menggunakan kacamata sedang membaca ilmu fiqih dan sekaligus mengawasi gerak gerik putrinya yang sudah aktif kemana mana seperti kamera cctv saja.


Hafsa merangkak perlahan lahan dari kasur menghampiri dian yang melepas kain panjang yang ia sebenarnya tak tau apa nama kain itu ? fungsinya untuk apa sih? Ia sudah menghilang dari kasur dan membuat ustadz Alfi sedikit terhentak namun menggeleng kepala melihat anaknya itu kelihatan kakinya saja di bawah kasur..


"miii"panggil hafsa


"eh sayang kenapa dibawah, hafsa itu dingin nak"respon dian melihat hafsa sudah mendongak kearahnya. Ia pun mengambil hafsa dan memangkunya.


"jangan diulang lagi ya. Nanti kl umi gak liat terus tidak sengaja menginjak tangan hafsa gimana? nanti sakit loh, Nakal"nasehat dian.


Hafsa hanya tertawa renyah dan fokus bermain dengan sisir uminya. Jangan lupakan ocehannya yang menggemaskan.


"tu....tut....tut....tut"oceh hafsa yang menggerakkan sisir miring dan diarahkan kesana kemari.


"memang sisirnya kereta dan bisa hafsa gerakkan?"tawa dian tak tertahan akibat sang anak.


"hihi...miii cicil ni eta loh. Ica tut..tut...tut..umpang na aghi ciap ciap noh"antusias hafsa yang heboh melihat tatanan make up berbaris didepannya. Ia menyangka jika barisan itu adalah penumpangnya


"hafsa ada ada aja"senyum dian mengembang bersamaan ustadz Alfi duduk di ranjang dekat dengan kedua perempuannya.


"..miii...ini tu apa? Tok ica nutup lambut umi cemua ?"tanya hafsa yang sudah hampir melupakan barang menarik menurutnya seraya memegang kain panjang milik uminya


"ini namanya hijab fungsinya buat menutup rambut umi. Rambut, seluruh tubuh, tangan sampai bawah harus tertutup dan tak boleh diperlihatkan karena aurat."jelas dian yang mengelus rambut panjang hafsa karena belum di berikan hijab untuknya dan ustadz Alfi tidak mau memaksa agar anaknya sendiri yang meminta.


"oh untuk tutup lambut umi. Utan na biyay abii nda cium lambut umii teyus"polos hafsa yang mengingat sesuatu.


"enggak gitu juga sayang. Ini sebuah kewajiban untuk perempuan sesuai syariat agama dan hukum Allah"jelas ustadz Alfi yang mewakili dian.


Istrinya itu merona mendengar ocehan anaknya, apakah selama ini hafsa melihat. Jangan sampai tahu semua kenakalan abinya, kl iya pasti gawat. Sedangkan ustadz Alfi malah tersenyum menggoda dian. Hafsa lagi berpikir keras nih guys.


"emang na cayo umii nda patai ntii Allah mayah?"tanya hafsa kembali


"tentu saja marah. Jangankan Allah, abi juga akan marah kepada umi jika melanggarnya dan hukuman abi berikan juga"jawab ustadz Alfi.


"nda oleh pok umi abiiiii"sungut hafsa melindungi uminya dan menatap was was kearah abinya.


"tidak hafsa. Masa mau di pok mending disuruh buat makan enak. Abi sudah janji sama diri abi sendiri tidak akan menyakiti umi apalagi hafsa ."ucap ustadz Alfi yang memeluk dari samping dian tapi gerakannya berhenti.


"beyeyan? Abii boong yaa, doca loh. Allah mayah sama abii ntii"selidik hafsa yang seperti memeluk erat uminya tanpa mau melepas dan tidak membiarkan ustadz Alfi memeluk dian.


"bener deh nak. Suer"gemas ustadz Alfi yang mengangkat lima jarinya bukan dua lagi.


Setelah itu hafsa merentangkan tangannya menggapai ustadz Alfi. Biasanya ia mau memeluk abinya dan minta gendong. Ustadz alfi langsung menuruti keinginan hafsa. Bukannya di gendong, ia malah mencium gemas pipi mulus dan wajah ayu anaknya. Menidurkan dirinya sedangkan hafsa diatasnya


"adu abii uda uda beyentii."


"Hehe hehe duh abii utup utup abiiii."

__ADS_1


"umii toyong apca di didit abii"


Oceh hafsa yang tak tahan akibat ciuman gemas dari abinya. Rasanya geli dan mengundang tawanya. Dian pun bergabung di sebelah ustadz Alfi. Selain puas menciumi hafsa akhirnya ia melepaskan hafsa dan membiarkan merangkak lagi kearah dian.


"entay apca mau patai ijab cama taya umii. Biyay Allah nda mayah cama apca"ucap hafsa yang memeluk berada di tengah tengah abi dan umi miliknya.


"iya sayang, pasti"respon dian.


"anak abi memang pintar. Abi bangga sama hafsa. Oiya jangan lupa jadwal ngaji bareng sama abi nanti ba'da ashar"ucap ustadz Alfi mimiringkan tubuhnya menghadap hafsa begitu juga dengan dian.


"siap abii"kor dian dan hafsa.


"memang the best deh perempuan kesayangan abi. Bidadari surganya abi, Sayangnya abi, cintanya abi, belahan jiwanya abi dan segalanya bagi abi"ucap ustadz Alfi.


"pandang anget. Abii nda tapek"tanya hafsa yang menatap polos abinya itu. Akibatnya dian dan ustadz Alfi tertawa mendengarnya.


Flashback off...


Ustadz Alfi baru tiba sehabis tausiyah di tempat yang tergolong sering didatanginya. Azzam dan farhan setia mengantarnya kemana saja karena keduanya sama sama masih menjomblokan diri. Sedangkan umay tidak bisa karena ia harus menemani rida yang sedang hamil 8 bulan.


"assalamualaikum"salam ustadz Alfi membawa berbagai kue enak bawaannya.


"waalaikumsalam"jawab dian yang berada di dalam kamar.


Langsung saja ustadz Alfi ke dalam kamar dan melihat hafsa sedang berceloteh ria degan uminya. Ia pun mendekat kearah mereka namun dicegat oleh satpol pp milik anaknya ini wkwk siapalagi kalau bukan...


"eh enak aja nyamperin anaknya sehabis dari luar. Mandi dulu abiii, inget banyak syetan diluar sana"tegas dian.


"yah umi, kan abi kangen sama hafsa. Kl gitu umi aja deh"ucap ustadz Alfi yang mencium kening dian begitu saja saat istrinya baru sehabis mencium tangan kanannya.


Ustadz Alfi terkekeh melihat dian membeku akibat kelakuannya ini. Ia pun bergegas mengambil pakaian dan handuk lalu berlari kedalam kamar mandi sebelum istrinya berubah.


(et dah stadz berubah kek gimana. Santi baju hitam atau nina hakhori hihi๐Ÿ˜ ada ada saja)


"abii mana umii?"tanya hafsa


"abii sedang mandi sayang"jawab dian.


"tanen abii, umii apca natay yaa dadi abii nindayin."sedih hafsa


"engga. Hafsa pintar tidak nakal. Abi tausiyah sayang jadi sebentar ninggalin hafsa. Memangnya hafsa gak inget kl abi pernah bilang. Jika abii gak berani ninggalin kita karena cemas hafsa sakit ditinggal lama."jelas dian.


"oo ditu yaa"simpul hafsa.


Dian dan hafsa berjalan menuju dapur. Hafsa terduduk di meja makan dan anteng melihat uminya masak untuk makan siang nanti. Dari membersihkan sayuran, memotongnya dan merebusnya. Menu kali ini adalah sayur sop sederhana saja. Lauknya fillet lele yang sudah tidak ada tulangnya. Tak lupa juga dengan sambal yang di ulek langsung sama dian, siapa lagi kl bukan ustadz Alfi yang makan harus ada sambalnya.


Hafsa nampak kesusahaan mengambil tempe keripik buatan mbah uti dan kakungnya yang mengirimi rutin. Dian tidak melihat dan masih sibuk dengan acara masaknya. Ustadz Alfi kedapur melihat hafsa nampak kesulitan membuat nya berniat untuk membantu.


"ini"ucap ustadz Alfi yang duduk di samping hafsa.


"matacih abii"senyum hafsa.


"sama sama"balas ustadz alfi mengelus kepala yg bergerai indah rambut warna hitam itu.


Akhirnya acara masak memasak sudah selesai. Dian sedikit sedikit menghidangkan makanan buatannya. Sedangkan ustadz Alfi menyiapkan gelas untuk mereka. Lebih dahulu ia sendokkan nasi di piring untuk hafsa beserta lauk dan sayurnya. Kemudian mengambilkannya untuk ustadz Alfi.


"terimakasih sayang"ucap ustadz Alfi


Dian hanya tersenyum menanggapinya. Barulah ia menyendokkan makanan untuknya. Doa makan dipimpin oleh ustadz Alfi dan memulai makan siang tanpa adanya percakapan. Karena mereka bertiga sudah ditegaskan dari lama kl makan tidak boleh berbicara. Nanti setelah selesai baru boleh.


***

__ADS_1


Makan sudah selesai dari tadi, waktu menunjukkan sedikit lagi untuk shalat ashar. Dian sudah membersihkan kamar dan menggelar sajadah untuk suami, anak serta dirinya. Ustadz Alfi sedang membangunkan hafsa yang tak sengaja tertidur setelah bercanda sehabis makan tadi.


"eum"gumam hafsa


Ia sedang mengerjapkan matanya dan menatap abinya sudah menanti kebangunannya. Ustadz Alfi mengangkat hafsa untuk mencuci muka dan disusul dian yang akan memandikan. Tak lama keluarlah hafsa yang berbalutkan handuk dililitnya pada tubuh kecilnya. Dian menuntun hafsa untuk duduk dimeja rias.


Dian memakaikan hafsa baju seperti biasanya. Kemudian menyisir dan merapikan rambut panjang berwarna hitam. Aroma shampoo rasa strawberry tercium di hidung ustadz Alfi. Setelah rapi memakai pakaian kemudian hafsa memakai mukenanya duduk anteng di sajadah kecilnya.


Dian memilih untuk mandi dan berwudhu cepat karena adzan sudah berkumandang. Tak perlu waktu cukup lama, dian dan ustadz Alfi bergantian untuk mandi serta wudhu. Dian yang sudah rapi dengan mukena langsung saja mengambil Al Qur'an dan tasbih milik ustadz Alfi. Em sebenarnya ini tasbih hadiah darinya saat ulang tahun ustadz Alfi.


Selain tasbih, ia memberikan kotak perhiasan dari almarhum mbah dahlan untuk dijaga oleh sang suami. Entah ia ingin ustadz Alfi menjaganya baik baik karena didalam itu juga ada sesuatu yang tidak boleh sampai hilang. Ia juga memberikan baju koko yang tercampur dengan batik solo di bagian dada kiri serta kantungnya.


Hadiah itu belum dipakai oleh ustadz Alfi karena katanya akan ia pakai saat ulang tahun dirinya yang beberapa hari lagi. Cepat waktu berlalu, kedua pasangan itu berharap cintanya abadi bersama menuntun hafsa menjadi anak yang membuat mereka bangga di dunia maupun akhirat.


Ustadz Alfi sudah rapi di depan dian dan hafsa. Memulai sholat dengan membaca niat lalu takbir "allahu akbar". Suaranya sangat menyejukkan hati siapa saja apalagi saat membacakan surah surah pendek untuk sholat.


Shalat akhirnya selesai dengan ucapan salam dari sang imam di depan. Hafsa pun melihat abinya salam langsung mengikutinya. Anak usianya masih harus belajar lagi untuk shalat dan sudah sangat luar biasa jika anak itu mau disaat usianya 8 bulan waktu itu.


Ustadz Alfi berbalik dan mengulurkan tangannya untuk diraih oleh dian dan juga hafsa. Dian mencium tangan kanannya begitu takdzim dan dihadiahi usapan dikepalanya. Hafsa yang melihat itu ikutan juga mengulurkan tangannya kepada abinya.


Ia senang bukan main diberikan hal yang sama dengan umimya. Bahkan abi dan uminya mencium setiap sisi pipinya bersamaan. Sungguh kebahagiaan ini yang membuatnya menyayangi kedua orangtuanya. Setelah itu, ustadz Alfi berdzikir dan dian mengambil Al Quran di dekat mereka lalu tak lupa menyiapkan meja kecil.


Ustadz Alfi merasa sudah cukup berdzikirnya. Ia berbalik badan dan siap mengajar ngaji atau menjadi ustadz untuk istri dan anaknya. Bisa dibilang my private ustadz hihi. Memulai dengan membaca surah al fatihah dan 1 juz pertama di dalam Al Quran. Kemudian ia mengajarkan dian hukum tajwid di surah Al Anfal. Dian pun langsung mengerti tentang hukumnya lalu membacakan sesuai apa yang diajarkan.


Berlanjut dengan hafsa. Ia hanya bisa mengeja huruf hijaiyah dengan terbelit belit. Lalu ustadz Alfi menguji dengan iqra jilid 1 yang ada huruf "kaf" "lam" "mim". Karena hafsa tidak bisa menyebutkan dengan benar. Maka dari itu ia melatih disisi lemahnya ingatan hafsa.


Setelah bisa ia pun mengulang lagi dari lembaran besar yang ada huruf hijaiyah lengkap. Hafsa membaca dengan hati hati sesekali menatap ustadz alfi takut. Ia takut salah menyebutkan. Namun saat senyum di wajah abinya terbit dan saat itulah hafsa menjadi semangat kembali.


"bagus, hafsa sudah bisa"puji ustadz Alfi.


"masya allah putri umi sudah bisa membaca dengan lancar. Jangan sampai lupa dengan ajaran abi hari ini."ucap dian


Keduanya dibalas dengan senyuman ceria dari hafsa. Sungguh mereka sangat senang bukan main. Padahal tidak memaksa hafsa belajar tapi siapa sangka kemauan belajar dari anaknya begitu besar. Usianya 2 tahun itu seakan tidak menurunkan semangat belajar hafsa.


"umii, abii" panggil hafsa


"iya sayang"kor ustadz Alfi dan dian.


"tayo ende apca mau dadi tayak abii. Ica apal al qul'an. Apca inin dadi afis qul'an"ucap hafsa


Dian pun menutup mulutnya tak menyangka dengan apa yang dikatakan bocah usia 2 tahun miliknya. Tak terasa air mata harunya mengalir akibat ucapan hafsa. Ustadz Alfi langsung memangku hafsa setelah menyingkirkan meja dan Al Quran ditaruhnya di meja kecil.


"aamiin insya allah cita cita hafsa terwujud. Abi akan terus mengajarkan hafsa. Abi bangga karena hafsa pecinta Al Quran. Usaha, pantang menyerah dan doa itu kuncinya agar hafsa jadi penghapal Al Quran."ucap ustadz Alfi yang memeluk sayang hafsa di pangkuannya.


"umi tenapa nanyis?"heran hafsa


"em..tidak apa apa. Umi bahagia"ucap dian serak.


Tangan hafsa menghapus air mata dian dan memeluk uminya. Dian menyenderkan kepalanya di dekapan ustadz Alfi bersama hafsa yang menyembunyikan wajahnya di ceruk lehernya. Mereka bertiga berpelukan.


"ya allah bahagiakanlah dan berkahilah keluarga hamba. Jagalah kedua perempuan kesayangan hamba dimanapun dan kapanpun. Kebahagiaanku adalah senyum mereka" bathin ustadz Alfi.


Bersambung....


๐Ÿข๐Ÿข๐Ÿข๐Ÿข๐Ÿข๐Ÿข๐Ÿข๐Ÿข๐Ÿข๐Ÿข


Hallo permirswah, gimana epsnya neh?


Alhamdulillah episodenya sudah terupdate dan bila ada typo yang buat gak nyaman bacanya, mohon dimaafkan yaa


Stay Tune dan Nantikan Notif Updatenya,

__ADS_1


Salam sehat & Terimakaseh, see you di next eps. Sayangยฒnya akyuu.... Mwuach ๐Ÿ˜˜


__ADS_2