
Zenia memandang kota dari ketinggian di atas gedung ruangannya yang berada dilantai 40, kepalanya di penuhi pemikiran tentang pernikahannya dengan Louis yang akan dilaksanakan 2 minggu lagi dari sekarang.
Hal itu semakin menambah beban Zenia, dan ia melampiaskan kekesalannya dengan cara meninju bantalan tinju yang sudah Ken belikan untuknya.
Jika saja Louis tidak mengetahui identitas dirinya yang asli Zenia sudah pasti akan menghabisi Louis dan membuangnya ke kandang buaya. Agar musnah saja sekalian dan ia bisa hidup tenang.
Kemarin siang, Louis saat mendatangi kantornya, pria itu membawa beberapa orang yang sangat di kenal baik oleh Zenia sendiri, mulai dari Nick hingga para anggota geng sendiri yang awalnya ia kira akan mau membantunya untuk melenyapkan Louis, namun harapnya hancur ketika Louis sudah lebih dahulu bertindak lebih cepat darinya.
Merasa bosan dengan bayangan Louis, Zenia akhirnya memutuskan untuk menghubungi perancang gaun pernikahannya dengan Louis.
10 menit kemudian beberapa perancang datang ke perusahaannya, tidak ada waktu untuk menundanya. Sekalipun ia terpaksa menikah Zenia ingin memakai gaun yang ia pilih sendiri.
"Nona gaun seperti apa yang anda inginkan untuk upacara pernikahan Anda?" tanya salah satu perancang tersebut, sambil memberikan beberapa rancangan yang berada di dalam buku.
"Yang Ini saja, tapi jangan terlalu ketat yang penting nyaman untuk di pakai," Zenia menunjuk salah satu rancangan yang sedikit sederhana dengan bahu terbuka.
"Anda yakin Nona, Tuan Louis tidak akan suka, saya di perintah olehnya agar nona memakai gaun pengantin yang tertutup," ucap para perancang itu jujur dan tidak percaya dengan pilihan dari Zenia.
"Cih dia lagi, selalu saja mengatur-ngatur."
"Ya sudah terserah saja, ini menjengkelkan!"
Zenia mengganggukan kepalanya karena sudah bosan untuk berbicara.
"Kalau untuk resepsinya Anda mau menggunakan yang mana?" tanya mereka lagi.
"Siapkan saja gaun yang sederhana dan beberapa aksesoris yang cocok asal jangan pakaian yang rumit, kenapa bertanya kepadaku bukannya semuanya harus sesuai dengan keinginan orang sinting itu!" ucap Zenia sudah sangat malas, apa lagi setelah nama Louis di sebut.
"Orang sinting? siapa yang anda maksud nona?" tanya perancang itu bingung.
"Itu, Tuan Louis Alexander yang terhormat!"
"Oh Tuan Louis, calon suami Anda rupanya, nona sangat beruntung bisa mendapatkan ceo termuda dan terkaya,"
__ADS_1
"Apa gunanya semua itu jika dia menyebalkan."
Mendengar ucapan Zenia, perancang gaun itu hanya tersenyum, mungkin wanita ini buta tidak bisa melihat betapa mempersonanya seorang Louis.
"Baik Nona, sesuai yang Anda katakan, kalau begitu saya permisi pamit dulu."
"Pergilah," Zenia sungguh muak dengan Louis, segala sesuatunya di atur oleh pria itu.
Tidak lama, setelah memilih rancangan gaun, Zenia kembali di buat kesal dengan kedatangan Louis yang membawa orang untuk menyiapkan makan siang bersama dengannya.
"Zen, sayang kita makan bersama yah, sebagai latihan jika nanti kita sudah sah menjadi suami istri," ucap Louis sambil memberikan makanan ke piring Zenia.
"Menyebalkan, baiklah terserah padamu ...." Zenia hanya mendesah kesal karena tuan yang tidak tau malu itu selalu melakukan sesuatu seenaknya saja.
"Bagimana dengan persiapannya apa sudah selesai?" tanya Zenia setelah menyuapkan sesendok makanan ke mulutnya.
"Jangan khawatirkan hal itu sayang kau fokus saja dengan persiapan dirimu untuk menjadi pengantinku yang cantik," jawab Louis sambil tersenyum menatap calon istrinya itu.
Zenia memalingkan wajah ke arah lain, ingin rasanya ia menghilang dari muka bumi. Entah kesialan apa yang terjadi kepadanya hingga bertemu dengan pria seperti Louis.
"Kalau makan jangan blepotan dong sayang,"
"Ah." Zenia tersentak saat menyadari jika Louis menyentuh wajahnya tiba-tiba.
"Makan aja cantik, rasanya aku tidak sabar menunggu hari pernikahan kita," ucap Louis.
Mereka melanjutkan aktivitas makan bersama meski louis sering kali menggoda Zenia dengan mencolek wajah cantik calon istrinya tersebut tetap saja Zenia tidak menanggapinya dan melanjutkan makan siangnya.
Senyuman cerah Louis ketika menatap wajah calon istrinya, senyuman itu tidak pernah hilang ingin rasanya ia menerkam Zenia sekarang juga, namun ia berusaha mati-matian menahan dirinya agar tidak menyentuh Zenia hingga pernikahan mereka.
Louis adalah orang yang terhormat tidak mungkin ia menyentuh Zenia lebih jauh sebelum menjadi istrinya.
"Sebentar lagi Louis sabarlah," gumanya di dalam hati sambil mengelus dadanya.
__ADS_1
Entah dengan penampilan biasa saja Zenia sudah menggoda.
"Ada apa, kenapa kau belum pergi juga," usir Zenia.
"Sayangku aku hanya ingin bersamamu sedikit lebih lama, apa salah mau bersama dengan calon istri sendiri?" ucap Louis tidak akan peduli meski Zenia mengusirnya. Ia tetap duduk disofa dan memperhatikan setiap gerakan dari Zenia.
"Oh."
"Terserah, lakukan apapun yang kau suka aku lelah dan jangan mengganggu pekerjaanku,"
"Siap sayang,"
Akhirnya Zenia gagal mengusir pengganggu itu ia melanjutkan pekerjaannya yang sudah menumpuk tanpa melihat ke arah Louis yang sudah memerhatikan setiap gerakan tubuhnya.
Louis sudah berfantasi liar, membayangkan tubuh Zenia dan tidak sabar menunggu malam pertama mereka. Hanya dua minggu saja Louis menahan hasratnya.
.................................\=\=\=...............................
Selang Beberapa minggu kemudian akhirnya upacara pernikahan Louis dan Zenia akan di laksanakan dalam beberapa jam lagi. Di sebuah Hotel Besar yang terkenal di daerah Paris, sudah di sewa oleh Louis khusus untuk hari pernikahannya.
"Kenapa aku gugup sekali,"
Louis menatap dirinya melalui cermin besar yang berada di ruangan ganti. baru kali ini dirinya merasa sangat gugup bahkan ia berulang kali menghapus keringat yang berada di keningnya.
Hari bersejarah dalam hidupnya akan di laksanakan hari ini, Louis sudah menantikan momen ini, namun kenapa dirinya masih gugup padahal, ia sudah menyiapkan diri jauh-jauh sebelumnya.
"Sebentar lagi Zenia akan jadi milikku."
.
.
.
__ADS_1
.