
~~ Incomplete Love ~~
.
.
.
.
"Bisakah mulai sekarang kita tidak saling kenal, lama-lama aku akan gila gara-gara dirimu!" bentak Ken sesaat ia sudah sampai mengantarkan Rufella kekediaman wanita itu. Namun wanita itu belum juga keluar dari mobilnya.
Rufella menoleh saat Ken mengatakan sesuatu kepadanya.
"Tidak bisa, aku mencintaimu jadi jangan harap aku akan mau melepasmu!" balas Rufella manatap Ken dengan tatapan tidak takut akan bentakan dari pria itu.
"Pergi sana, jangan menggangguku lagi." seru Ken.
"Aku tidak mau, bagaimanapun mulai sekarang kau berada di dalam genggamanku Ken dan selamanya akan seperti itu."
"Kau benar-benar sudah kehilangan otak, sudah beberapa kali dan berulang kali aku katakan jika kau tidak pantas mencintaiku dan berhentilah berharap."
"Aku tidak peduli dengan perkataanmu, aku hanya mengikuti hatiku saja, dan kau tidak bisa mencegahnya." ucap Rufella, Ken menatap tajam Rufella seakan dirinya ingin menghabisi wanita yang duduk di samping itu.
"Turun! Turun dari mobilku, aku mau pergi!" usir Ken.
"Hum ...."
"Turunlah bodoh!"
"Iya ... iya cerewet, terimakasih tumpangannya."
Rufella akhirnya keluar dari sana, Ken seketika menghela napas begitu lega, tanpa menunggu lama ia segera meninggalkan kediaman Rufella, Ken menginjak gas mobilnya dengan kecepatan penuh.
__ADS_1
"Dasar wanita gila, dia benar-benar gila." guman Ken menggeleng ngeri saat mengingat bagaimana keras kepalanya Rufella yang berusaha mendekatinya dengan berbagai cara, mau itu mengganggu pekerjaannya atau berusaha mencari perhatiannya.
***
Rufella di rumah, merebahkan tubuhnya di atas sofa begitu sampai, dirinya haus setelah berdebat dengan pria yang ia cintai, meskipun begitu Rufella yakin jika Ken akan mau membuka hatinya kelak, masalah Ken adalah Gay bukan masalah besar baginya.
"Apa salahnya jika aku menyukainya, hum ...." Rufella menghela napas kasar, sejenak ia memejamkan matanya sebelum berdiri dari sana karena merasa sangat haus.
>>
Sepanjang hari Rufella tidak melakukan apa-apa selain makan dan tidur, wanita merasa lelah juga perjuangannya sudah sejauh ini dan Ken masih saja bersikap dingin terhadapnya.
Hari sudah sore, Rufella. sudah membersihkan dirinya ia turun menuju kemeja makan dan ternyata adiknya sudah pulang.
"Roni ...." panggilnya, pria itu lantas menoleh menghadap kearahnya.
"Iya kak, ada apa?" tanya Roni lalu meneguk air putih.
Rufella menari salah satu kursi dan segera duduk berhadapan dengan adiknya. Roni meletakkan gelas air itu tatapan mata tajam langsung di berikan kepada saudaranya itu.
"Kau ini pegawai baru dan sangat malas, bagaimana bisa aku memberimu gaji dan lagi pula sekarang masih bukan waktunya untuk gajian, kakak jangan berharap."
"Apa! Siapa yang malas, setiap hari aku ikut bekerja bersama denganmu dan pulang selalu bersama juga, kenapa kau malah mengatakan kalau aku pegawai yang malas."
"Berikan gajiku cepat! Aku mau belanja pakaian dan kebutuhanku." pinta Rufella ia menandakan tangannya meminta uang kepada adiknya atau bosnya.
"Tidak, kakak bukannya punya baju yang banyak, gunakan itu saja, aku tidak akan memberimu uang sampai waktunya."
"Kau! Berikan aku uang," pinta Rufella lagi, namun Roni menggelengkan kepalanya, ia tidak akan memberikan uang untuk saudaranya yang pemboros itu.
"Roni! Jangan kurang ajar sama kakakmu! berikan aku uang cepat!" Rufela mengeraskan suaranya.
"Tidak!" tolaknya.
__ADS_1
"Kau ini, apa maumu. Hah! Aku sudah melakukan semua perintahmu kenapa saat aku meminta uang saja kau tidak mau berikan kepadaku sedikit saja."
"Mau kulaporkan kau kepada Zenia! Hah! Mau." bentaknya dengan mengancam.
"Laporkan saja, siapa takut."
"Dasar adik durhaka!" ucap Rufella wanita itu kehabisan kesabaran, sudaranya sendiri menyebalkan dan tidak mau memberinya uang, semua tabungannya sudah habis.
"Terserah kakak." ujar Roni sesaat lalu berdiri dari kursi.
"Aku sudah makan, kakak makan juga nanti kau tambah kurus dan malah tambah jelek kalau tidak makan."
"Kau mau kemana?" tanya Rufella saat melihat adiknya berdiri meninggalkan meja makan.
"Rahasia, kau tidak perlu tau." ujarnya.
Rufella menghembuskan napasnya, entah pria yang ia cintai dan adiknya sifat keduanya sepertinya hampir sama, keras kepala pikir Rufella menyamakan adiknya dengan Ken.
Wanita itu menatap kepergian Roni, beberapa saat kemudian ia berahli dan mengambil piring makannya dan mengisinya dengan makanan di sana.
Walau sedikit tidak berselera Rufella tetap menyantap makanan itu, ia tidak mau menjadi kurus dan bentuk tubuhnya tidak indah lagi yang bisa menurunkan kecantikan dan kesempurnaannya, Rufella di masa lalu sudah sering berhubungan dengan banyak pria karena patah hati, setelah mantan calon suaminya meninggal wanita itu setiap hari menghabiskan waktunya di club.
Setiap hari menghamburkan uang dan tidak peduli akan kesehatannya sendiri, tapi sekarang keadaannya berbeda ia sudah jatuh hati kepada Ken dan ia akan mengubah segalanya agar pria itu tertarik kepadanya.
.
.
.
.
.
__ADS_1