My Devil Wife'S

My Devil Wife'S
"Lapar"


__ADS_3

Juan baru selesai dengan urusannya untuk menangani Zenia sepupunya, Ia menghela napas lega. Mereka hanya tinggal menunggu waktu saja.. Kondisi Zenia perlahan mulai membaik. untungnya Louis tidak terlambat mengabarinya..


Juan dan Rufella sempat minta izin untuk menginap di rumah itu. Tapi dengan tegas Louis yang tidak tau terima kasih malah menyuruh mereka pulang jika Zenia sudah sadar saja, Rufella bahkan memaki Louis terus-menerus tidak peduli siapa Louis sebenarnya.


"Kau ini tidak tau terima kasih, aku akan membawa Zenia pergi dari rumah mu"


Amcam Rufella berteriak sangat kesal.


Louis tersenyum miring.


"Terus.. Kau pikir bisa membawa Istriku pergi dari sini"


Balas Louis tidak terima wajahnya bahkan meremehkan ancaman Rufella yang ingin membawa istrinya pergi.


"Louis..."


"Tidak kusangka kau sangat menyebalkan, aku akan membunuh mu sekarang juga, kau tau darahku sangat berguna untuk Istri mu dan kamu malah mengusir ku dari sini.. Kau bilang aku tidak bisa tidur di rumah mu.. Pria konyol"


Teriak Rufella kembali.


"Cih.. Mau membunuhku akan kubunuh kau terlebih dahulu, berhenti berteriak nanti Zenia terganggu akan kujahit mulutmu itu"


Ujar Louis menujuk tajam ke arah Rufella, entah kenapa dia sangat tidak suka dengan kehadiran Wanita itu dirumahnya.


Rufella belum membalas ucapannya, lalu louis kembali berkata.


"Jadi kau tidak ikhlas membantu Zenia..?"


Lanjut Louis kembali meledeknya.


"Kau.. "


ucapan Rufella tercekal.


"Apa.. Mau melawan"


Rufella hendak maju menujuk wajah Louis, namun sebuah tangan kekar menahannya, ia berbalik melihat orang itu.


"Rufella, berhenti membuat keadaan semakin kacau, dengarkan saja Suaminya Zenia itu.. Atau kau mau kehilangan nyawamu"


Juan memperingati wanita itu..


Walau Juan tidak mau mencampuri Rufella tapi melihat raut wajah Louis yang sudah tidak bersahabat lagi lantas ia berusaha menghentikan Wanita itu agar tidak melanjutkan ucapannya yang akan membuat Louis marah dan lepas kendali.


Rufella menahan amarahnya, Juan betul Louis bukan pria yang bisa ia lawan.


***


15 menit setelah kekacauan itu..


Zenia baru saja membuka mata beberapa menit yang lalu. Ia di minta istirahat oleh suaminya, Juan, dan Juga Rufella, Zenia tidak tau alasan kedatangan dari kedua sepupunya itu, Louis hanya mengatakan kepadanya bahwa dirinya tidak sadarkan diri karena kelelahan saja efek dari kehamilannya kali ini. Ia sempat tidak percaya penuturan Louis itu namun Seorang dokter mengiyakan.


Kini Zenia hanya di temani oleh suaminya saja,


Jangan tanya lagi dimana Rufella dan Juan, kedua orang itu di paksa keluar dari sana setelah mengucapkan dua patah kata saja.


Ia menatap Louis lalu minta makanan karena perutnya terus meminta Makan.


"louis aku lapar"

__ADS_1


Ujar Zenia kepada suaminya, Louis yang duduk di samping Istrinya bisa dengan jelas mendengar Ucapan Itu.


"Kau lapar.. honey?"


ia menghentikan elusan lalu bertanya Zenia pun mengangguk cepat.


"Tunggu sebentar, aku akan meminta untuk dibuatkan bubur untuk mu"


Lanjut Louis turun dari kasur berjalan ke arah pintu.


Tidak lama Louis kembali lagi ke sampingnya dengan tangan kosong, zenia mengerutkan kening..


"Mana makanannya?, bukannya kau tadi bilang ingin membawakan bubur untuk ku"


"Honey, tunggu sebentar Anton akan membawa bubur untukmu sebentar lagi"


"Huh.. Lama sekali, Aku sudah lapar"


Gerutu Zenia wajahnya cemberut. Louis kembali mengelus kepalanya.


Zenia menunggu dalam kebosanan ingin rasanya dirinya banyak bergerak melakukan banyak hal supaya rasa laparnya bisa teralihkan sedikit saja., tapi karena ada si tuan mengatur di sampingnya Zenia hanya bisa berbaring saja matanya bahkan tertuju ke arah pintu.


Anton belum membawa makananya, Zenia semakin tidak tahan lantas berusaha bangkit dari kasur.


"Mau kemana Honey..?"


Tanya Louis kaget saat melihat Istrinya berusaha bangkit dari tempat tidur.


"Louis.. Aku sangat lapar, aku tidak bisa menunggu lagi bisa-bisa aku pingsan"


Ujar Zenia merengek sudah kelaparan sekali tidak tertahankan.


"jangan bergerak.. Aku akan memeriksa di dapur dulu"


"Huh.. Kalau begitu cepat"


Perintah Zenia menekan setiap kata yang di ucapkan olehnya.


Louis tanpa banyak kata membuka pintu lagi hendak menuju dapur, memeriksa Kenapa Anton sangat lama.. Louis tidak mau istrinya kenapa-napa lagi kali ini cukup sekali ia menghadapi situasi yang mengkhawatirkan seperti tadi.


Sebelumnya melangkah lebih jauh, tiba-tiba saja Anton hampir menabrak tubuhnya jika saja Louis tidur menahan Asisten cerobohnya itu dengan cepat.


"Maaf tuan.. Aku tidak sengaja.."


Ucap Anton menunduk tidak berani menatap Louis. Hampir saja bubur panas itu tumpah di atas baju tuannya.


"Sudah... Berikan yang di tanganmu itu, lalu kau pulang"


louis. menyelah perkataan Anton.


Anton memberikan semangkok bubur itu kepada Louis, tidak banyak bicara Anton pun melaksanakan perintah dari tuannya. Ia berpamitan pulang, Anton tau bahwa hari ini Tuannya tidak akan marah-marah mulai sekarang, Tapi pekerjaannya akan semakin banyak lagi.


Louis kembali lagi kedalam kamar, saat ini Istrinya sangat membutuhkannya setiap saat, Louis sendiri sangat senang bagaimana pun harapan sudah terwujud, ia berjanji Louis akan menjaga istrinya dan tidak akan melakukan kesalahan lagi seperti saat kehamilan pertama Istrinya.


Zenia tersenyum hangat bukan untuk Louis tapi ia tersenyum karena melihat bubur yang ada di tangan Louis, Sepertinya louis salah paham Dengan senyuman manis istrinya itu ikut tersenyum juga, dengan tenaga yang tersisa Zenia memdudukkan tubuhnya di atas kasur. Louis meletakkan mangkuk berisi bubur itu di atas meja lalu membantu Zenia duduk.


"Louis berikan bubur ku.."


Pinta Zenia kepada Louis..

__ADS_1


Louis menggeleng tidak setuju, ia sendiri yang menyuapi Istrinya.


"Buka mulut, makan yang banyak"


"Tidak mau.. Aku tidak nyaman di suapi, berikan kepada ku"


Tolak Zenia mentah-mentah meraih sendok di tangan Louis.


"Jangan melawan Honey.. Biarkan aku memanjakan mu kali ini, Buka mulut zenia sayang"


Bujuk Louis kekeh dengan keinginannya itu.


"Huh.."


Zenia menghela napas pasrah menuruti keinginan dari Louis dari pada menunggu lama mengisi perut kosongnya dan itu tidak baik bagi tubuh maupun kandungannya..


Sambil makan Zenia tidak berhenti memperhatikan raut wajah dari Louis sangat intens, entah apa yang di benak Suaminya itu Zenia mencoba mengabaikan saja.


"Zenia.. apa benar kau tidak bisa di berikan Infus..?"


tanya Louis masih penasaran walau Juan sudah mengatakan alasannya.


Zenia mengangguk sepertinya ia sudah bisa membaca kenapa Suaminya berwajah aneh seperti itu.


"Dari kecil.. tubuhku memang tidak bisa di Infus, pasti Juan sudah mengatakannya kepadamu"


"Iya.. tapi apa penyebabnya bukannya aneh jika seperti itu, terus kalau kau sakit perawatan mu bagaimana..?"


Louis khawatir kenapa Istrinya harus mengalami hal aneh seperti ini.


"Kau tidak perlu khawatir itu, selama ada Juan dan ken mereka akan dengan mudah menanganiku"


Jawab Zenia, Ia tau bahwa suaminya itu sangat khawatir dengan kondisinya kedepannya.


Louis meletakkan mangkuk kosong itu di atas meja, Ia menatap serius mata Zenia.


"Kenapa kau membahas kedua pria itu lagi, sepertinya mereka lebih banyak tau dari pada aku suamimu"


Zenia merasa agak dongkol, kecemburuan louis ini tampak terlalu berlebihan Jika saja Suaminya tau alasan Zenia yang sebenarnya mempertahankan Juan dan ken tetap disisinya. pasti pria itu akan tertegun atau menertawakan keduanya.


.


.


.


.


.


Tbc..!!!


Up.. sorry Up terlambat lagi deh.. 😁😁


kalian mau tau alasan Zenia...?


mulai bosan yah..


aku juga..

__ADS_1


__ADS_2