
~~ My Devil Wife's ~~
.
.
.
.
Setengah jam kemudian, masakan Marget dan Lina sudah selesai semua, Lina meminta kepada Marget untuk menyelesaikan sisanya sedangkan dirinya akan memanggil anggota keluarga untuk segera ke meja makan untuk makan malam.
Lina yang saat itu tengah merapikan penampilannya belum melihat Louis dan Zenia yang tengah bermesraan di atas sofa.
"Kalian semua ayo, makan malam sudah siap"
"Jennata.." panggil Lina namun tidak ada yang menyahutinya ia perlahan mengangkat wajah, seketika itu ia melototkan kedua mata melihat akan kelakuan suami istri itu.
"Ya ampun.. apa ini.? apa yang di lakukan kedua orang itu di sofa"
Lina menutup mulutnya lalu membalikan tubuhnya perlahan, sepertinya Louis maupun Zenia tidak menyadari kehadirannya, Lina berjalan kembali ke arah dapur dengan pikiran mengelayat kemana-mana.
"Benar-benar, pasti anak itu yang memaksa istrinya"
"Tidak mungkin Zenia yang mulai duluan, pasti anak itu" guman Lina sambil menggigit jari tangannya, wanita paruh baya itu masih belum mempercayai kedua matanya yang menangkap Louis dan Zenia berciuman begitu mesra di atas sofa.
Ini bukan pertama kalinya ia mendapati anak dan menantunya melakukan hal yang sama, namun kali ini Louis benar-benar tidak tau tempat. Lina terus melangkah ke dapur hingga ia tiba di sana dengan raut wajah yang masih melongo.
Marget mengedipkan kedua matanya dengan heran, ia mengerutkan kening melihat kakak iparnya kembali ke dapur hanya sendirian saja dan tidak ada yang lain, Marget meletakkan masakan terakhir di atas meja makan dan mendekati Lina yang terlihat kaget akan sesuatu.
"Lina, yang lain mana..?" tanya Marget, Lina tidak menyahut sama sekali tatapan wanita itu hanya terfokus ke arah dinding dapur berwarna kuning dengan perpaduan warna coklat.
"Hei kenapa kau diam saja, ada apa dengan mu?" tanya Marget kali ini ia mengguncang pelan bahu kakak iparnya.
"Marget, apa yang akan kau lakukan jika melihat seseorang bermesraan di tempat yang tidak seharusnya" ujar Lina mengalihkan tatapannya ke arah Marget.
"Apa yang kau katakan, siapa yang bermesraan di tempat yang tidak seharusnya?"
"itu.. itu.., anak itu bermesraan dengan istrinya di sofa tanpa peduli situasi sekitarnya"
"Louis?" tanya Marget menebak asal.
__ADS_1
Lina mengangguk cepat, entah kenapa ia masih saja di buat terkejut dengan anaknya sendiri bahkan ia tidak tau Louis bisa sebegitunya.
"Biarkan saja, mereka hanya bermesraan saja tidak melakukan hal yang lain kan, menurutku sudah biasa bagi keduanya melakukan hal seperti ini, dan bukannya itu bagus"
"dan hal yang sangat wajar, kau jangan kaget seperti itu" lanjutnya.
Lina mengedipkan kedua mendengar perkataan yang di keluarkan oleh Marget memang benar adanya juga, Louis dan Zenia hanya berciuman mesra saja di sana dan kenapa ia begitu kaget akan hal itu.
"iya.. iya, sepertinya aku hanya kaget saja melihat Louis" Ujar Lina beberapa detik kemudian ia mengangguk lalu mengatur napas sekaligus menjernihkan pikirannya.
***
Di sebuah kafe, terlihat dua orang pria dan wanita duduk berhadapan satu sama lain, sesekali pria itu mengusap tangan wanita idamannya.
"Loly, apa kau akan tetap setia kepadaku..?" tanya sang pria dengan tatapan penuh harapan.
Wanita yang bernama Loly tersebut tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.
"Iya, aku akan setia kepadamu Loren, tapi boleh aku bertanya kepadamu juga.?" ujarnya.
Loren tersenyum mendengar jawaban lalu menganggukan kepalanya.
"Mau tanya apa.?"
Bahkan Loly terkadang mendengar dan melihat Loren menangis diam-diam sambil memandang foto Zenia dan dirinya.
"Apa kau masih mencintainya..?" Tanya Loly dengan perasaan campur aduk, ia rasanya belum siap mendengar jika Loren mengatakan bahwa ia masih mencintai wanita yang bernama Zenia.
Loren terlihat terdiam dan genggaman tangan pria itu melunak, Loren mengusap wajahnya kasar, tentu saja dirinya masih mencintai Zenia tapi ia tidak bisa berbuat banyak dan memilih untuk merelakan wanita yang ia cintai itu bersama dengan kakaknya sendiri setidaknya Loren bisa melihatnya walaupun dari jauh.
"Loly, kenapa kau menanyakan hal ini?,apa kau meragukan cinta ku?" tanya Loren balik, ia tidak menjawab pertanyaan Loly karena tidak mau membuat wanita itu sedih akan jawabannya.
"Aku tidak meragukan mu Loren, tapi yang aku lihat cintamu kepada kakak ipar mu itu masih lebih besar dari kau mencintaiku" ujarnya, Loren membungkam Loly sepertinya tau semua isi hatinya dan tebakan wanita itu tidak salah namun yang di katakan oleh Loly sedikit meleset.
Loren selama beberapa bulan ini sudah sangat berusaha untuk membuat Loly yang menjadi nomor satu yang mengisi hatinya yang sempat di isi oleh Zenia saja.
"Loly, iya aku mencintai kakak iparku itu karena dia terlalu mempesona tapi ku minta kepadamu agar kau mempercayai kini aku berusaha untuk menghilangkan dia dalam hati ku walau itu membutuhkan waktu yang tidak sedikit, Loly sekarang ini aku sangat berusaha dan kumohon kau bisa tetap berada di sisiku" pinta Loren kembali menggenggam tangan Loly berharap wanita itu mempercayai perkataannya.
"Hah..., baiklah aku akan tetap bersamamu hingga akhir, Loren meski aku tidak secantik Zenia tapi aku mencintaimu dengan tulus"
"terimakasih Loly, aku juga mencintaimu.., ayo kita memulai semuanya dengan di pondasikan oleh kepercayaan" harap Loren, kali ini ia tersenyum senang lalu mencium punggung tangan kekasihnya dengan mesra.
__ADS_1
"iya, Loren"
"Kalau begitu, ayo aku mau memperkenalkan kekasihku ini kepada kedua orangtuaku" Loren berdiri dengan penuh semangat pria itu berkata dan mengajak Loly.
***
Di Kantor Samuel.
Dua orang pria terlihat membicarakan sesuatu dengan saling berhadapan dengan di temani secangkir kopi hitam yang sebelumnya sudah di siapkan oleh sekretarisnya.
Sam dan Roni menyusun rencana untuk menjatuhkan perusahaan besar keluarga Alexander yang kini di kelola oleh Louis.
Sam bertekad akan menjatuhkan sahabatnya itu agar ia bisa memiliki Zenia dengan sedikit bantuan dari sepupu Zenia yang tidak lain adalah Roni adik dari Rufella sekaligus penerus perusahaan kakek Zein yang sebelumnya di berikan kepada Zenia dan Zenia menyerahkan jabatannya kepada Roni karena hanya ia satu-satunya yang Zenia percayai.
"apa rencanamu sekarang Tuan Sam?" tanya Roni dengan senyum manisnya.
"Rencanaku, hah.., aku hanya menginginkan kejatuhan Louis dan menjadikan Zenia sebagai wanitaku" jawabnya.
"Humm,hahahahah, banyak sekali yang suka kepada Zenia aku sudah tidak heran, tapi apa kau sudah pernah bertemu langsung dengan paman Jeffry, terlebih dahulu yang harus kau lawan adalah dirinya Sam dan itu tidak mudah"
"Jeffry?, orang itu siapa?, apa Jeffry juga menginginkan Zenia, kalau begitu akan bagus jika aku bekerja sama dengannya juga"
"Kau ini dasar bodoh!, kau mau mati!, paman Jeffry itu adalah paman Zenia yang selama ini melindunginya, dia orang kejam bahkan belum ada yang berhasil menghadapinya secara langsung, Sam kau. jangan bertindak gegabah jika paman Jeffry tau bukan perusahaan Louis yang akan jatuh tapi perusahaanmu"
ujar Roni.
Sam hanya mengedikan bahu seolah tidak mempedulikan peringatan Roni, selain Ken, Nick, dan Juan ternyata masih ada yang menjadi penghalang untuknya, namun penghalang terbesar Sam adalah Louis.
"aku tidak peduli tentang paman Jeffry, tenang saja aku akan hati-hati"
"terserah kau saja Tuan Sam, aku sudah memperingati anda tentang paman Jeffry, kalau kau berani menghadapinya silakan, aku akan melihat kalian saja tanpa berbuat apa-apa" seru Roni lalu menghabiskan kopinya dengan sekali teguk.
.
.
.
Masih mau..
Extra partnya mau berapa..?
__ADS_1
10 eps atau 5 eps saja. πππ€π€π€