
~~ Incomplete Love ~~
.
.
.
.
Ken berdiri tepat di samping bed dimana Rufella berbaring, kedua mata Ken saat menatap wanita tersebut, entah hati begitu pilu melihat Rufella terluka parah seperti ini.
"K ... en." panggil Rufella bersuara pelan.
"Iya, ada apa? Apa kah butuh sesuatu?" tanya Ken, lebih mendekatkan dirinya.
Rufella tersenyum begitu senang, walau pinggangnya masih sakit setelah peluru di keluarkan dari sana, wanita itu bisa menahannya di depan pria yang ia cintai.
"Tidak, aku tidak membutuhkan apa-apa."
"Aku hanya memanggil namamu saja." ujar Rufella, nada suaranya terdengar lemah.
"Kau istirahatlah, cepat sembuh." ucap Ken.
"Aku akan keluar, sebaiknya kau istirahat supaya cepat sembuh." lanjut Ken hendak berbalik, namun segera di tahan oleh Rufella.
"Jangan ... Jangan tinggalkan aku sendiri Ken, temani aku di sini." Rufella meraih tangan Ken menghentikan gerakan pria itu.
Ken menghela napasnya lalu membalikkan tubuhnya kembali menghadap Rufella yang menatapnya dengan memohon.
"Huh ... baiklah, kau terluka karena diriku, aku akan menemanimu di sini sebagai tanda terima kasihku." ucap Ken menghela napas berat, ia melepaskan tangan Rufella yang memegangnya lalu segera menarik sebuah kursi dan duduk di samping bed tempat Rufella berbaring.
Seutas senyuman lebar terukir di wajah Rufella, jika dengan sakit saja ia bisa dekat dengan Ken Rufella akan rela seperti ini di kemudian hari agar pria yang ia sukai bisa berada bersamanya.
Ken duduk dan menatap wanita itu sudah cukup lama ia berada di sana dan di luar ada yang lainnya juga yang ingin mengetahui keadaan Rufella sekarang, Ken berharap Rufella segera tidur agar bisa bergantian. Namun tidak seperti itu, tidak ada tanda-tanda jika Rufella akan tidur dalam waktu dekat.
"Tidurlah." kata Ken.
"Umm ...."
"Kenapa? Ayo tidur aku sudah menemanimu." kata Ken lagi.
__ADS_1
Rufella mengedipkan kedua matanya, berharap jika situasi sekarang adalah kenyataan.
"Ken ... Ken ...." panggilnya, Ken lantas menoleh dan menyahut.
"Iya, kau ini kenapa memanggil namaku dan kenapa tidak tidur dari tadi?" tanya Ken mengerutkan keningnya namun tidak menunjukkan rasa kesalnya.
Wanita itu menatap langit-langit ruangan UGD berwarna putih polos tersebut.
"Apa aku sedang bermimpi sekarang, rasanya keadaan ini begitu nyata, kau ada bersamaku sekarang begitu dekat, apa kau pikir jika sekarang aku sedang bermimpi." ucapnya sambil menerawang dengan gerakan tangan.
"Apa maksudmu bodoh, tentu saja ini nyata dan bukan mimpi?" ujar Ken.
"Ayo tidur cepat atau aku pergi dari sini." ancamnya.
"Kenapa kau marah, akukan cuma bertanya." kata Rufella sedih.
"Aku tidak marah kepadamu, ayo cepat tidur." perintah Ken menoleh kearah Rufella memperhatikan wanita itu.
"Baiklah tapi, aku mau menggenggam tanganmu lalu aku tidur, apa boleh." ujar Rufella meminta dengan penuh harap, ia tersenyum manis kepada Ken.
"Oke, tapi kau harus tidur." Kata Ken mengurulkan salah satu tangannya untuk di genggam wanita itu agar mau tidur. Rufella dengan senang hati menerima tangan Ken dan menggenggamnya dengan erat.
***
Di luar, Zenia dan Juan sedang membicarakan sesuatu tantang Ken dan Rufella, Juan sangat ingin jika Ayahnya segera pulang ke negara asalnya itu agar kegiatannya di sini tidak terhambat.
Zenia juga setuju akan keinginan Juan, karena pasalnya kehadiran Jeffry sangat mengacaukan keadaan walau ada sedikit bantuan yang ia dapatkan dari pamannya tersebut, tapi mengingat akan kelakuan Jeffry selama ini Zenia tidak bisa mentoleransinya lagi.
"Zen, alasan apa yang harus kita katakan kepada Ayahku agar dia mau kembali ke London, selama dia ada di sini semua kegiatanku selalu terganggu olehnya." kata Juan mengaruk kepalanya begitu bingung.
"Aku tidak tau." jawab Zenia singkat, ia tidak mempunyai ide untuk mengusir pamannya.
"Jika Ayahku tau, jika Ken pernah menyukaimu dan sekarang dekat dengan wanita bisa di habisi dia sekarang karena melanggar peraturannya." ucap Juan tanpa sadar membeberkan kebenaran yang selama ini Ken sembunyikan dari Zenia.
Wanita hamil lima bulan itu mengerutkan kening saat mendengar perkataan Juan.
"Apa yang kau katakan? Ken pernah menyukaiku?" tanya Zenia.
Juan langsung menyadari kebodohannya, segera pria itu langsung menyela.
"Tidak Zen, kau hanya salah dengar tadi."
__ADS_1
"Hum!"
"Oh iya, suamimu kemana? Tidak biasanya ia tidak ikut bersama denganmu apalagi sekarang kau hamil besar."
"Louis? Dia sibuk dengan Larenia di kantor dan dia tidak tau kalau aku keluar." jawabnya santai seakan hal itu bukan masalah besar.
"Pantas aja, suami gilamu itu tidak ikut dan membuat kekacauan." ucap Juan dengan ledekanya.
Zenia lantas menjitak kepala Juan, membuat pria itu mengadu kesakitan dan mengelus kepalanya sendiri.
"Kau yang gila, bukan suamiku, dasar bodoh." Zenia tidak terima tudingan Juan kepada suaminya.
"Aku hanya mengatakan kenyataan, apa salahnya Kan memang benar suamimu itu gila jika melihatmu dengan pria manapun." ucap Juan kembali. Zenia seakan di buat naik pitan mendengar penuturan Juan yang meledek suaminya, enak saja suaminya yang tampang itu di bilang gila, jika saja ia tidak hamil besar sudah pasti dari tadi ia menendang sepupunya yang bermulut sarang lebah tersebut.
"Mau ku cabut nyawamu Juan, coba katakan sekali lagi. aku benar-benar akan membunuhmu."
"Begitu saja, sudah marah ... apa kau sudah begitu cintanya kepada pria yang menghamilimu?" ucap Juan, Zenia hanya diam dan menatapnya dengan maksud jika Juan melanjutkan ucapannya dirinya benar-benar membunuuh Juan saat itu juga.
"Menyebalkan." sambung Juan berdecak.
Zenia mengabaikan Juan, ia kembali kedepan ruangan Rufella menemui Roni.
"Apa Ken belum keluar?" tanya Zenia.
"Belum, aku sangat mengkhawatirkan kakak, Zen ...." ucap Roni dengan raut wajah khawatirnya.
"Tenanglah, Rufella baik-baik saja, kita tunggu Ken keluar dan bergantian masuk kedalaman." ucap Zenia menepuk pundak sepupunya tersebut, sama hal nya dengan Roni Ia juga khawatir dengan Rufella dan ingin melihat kondisi wanita itu secara langsung memastikannya baik-baik saja.
Roni menganggukkan kepala, ia duduk di kursi besi panjang di sana menunggu Ken keluar agar bisa bergantian.
.
.
.
.
.
π΄ββπ΄ββπ΄ββ
__ADS_1