
Louis masuk kedalaman rumah menemui Istrinya, Wajahnya tertuduk sedih.. Perjalanan-nya membuat Zenia tidak pergi darinya sangat panjang namun saudara dan sahabatnya sendiri ingin merebutnya.
Pria itu membuka pintu kamar berwajah lesuh lalu menyandarkan punggungnya ke belakang pintu menatap Istrinya bersama dengan Putrinya.
Zenia menyadari kehadiran suaminya membalas tatapan itu dengan heran.
"Louis kenapa kau hanya berdiri di situ.. Kesinilah.." Panggil Zenia melambaikan tangan, Louis tidak bergeming Pria itu masih saja terdiam sambil menatapnya.
"Louis.." Panggilnya lagi.
"Hemm ada apa dengannya..?" Zenia berguman dalam hati, tidak bisanya Louis akan seperti itu. Ia menghela napas pelan lalu meletakkan Lareina di atas kasur dan berjalan menghampiri suaminya.
"Kau kenapa..?" Tanya Zenia saat sudah berada di hadapan Louis.
"Honey, Aku mencintaimu.. Jangan pernah pergi aku tidak akan sanggup hidup lagi tanpa dirimu" Kata Louis tiba-tiba memeluk tubuh Zenia dengan sangat erat.
"Siapa juga yang mau pergi, Aku sudah bahagia bersama dengan mu saat ini bersama dengan anak kita" Ujar Zenia mengelus wajah Louis.
"Zenia.." panggil Louis.
"Iya.." sahut Zenia melepaskan pelukan itu menatap Louis.
"Apa kau pernah mencintai orang lain sebelum bertemu dengan ku" Tanya Louis penasaran.
Zenia tidak menjawab dan menarik senyuman di wajahnya, Wanita itu berbalik beranjak kembali ke kasur mendekati putrinya. Raut wajah Louis menjadi gelap sepertinya Istrinya itu pernah mencintai seseorang sebelumnya.
"Aku keluar dulu Honey.." Louis memegang gagang pintu hendak keluar, ia butuh waktu sendirian melampiaskan rasa sakit di hatinya.
"Di sini saja. Jangan pergi, aku belum menjawab pertanyaan mu.. Apa kau tidak mau mendengarnya...?" Kata Zenia tiba-tiba membuat Louis mengurungkan niatnya.
Louis menutup pintu itu kembali karena sudah terbuka sebagian, berjalan mendekati Istrinya di atas kasur dengan Lareina di gendongannya.
"Kenapa wajahmu Jelek sekali.." Ucap Zenia terkekeh mencolek hidung suaminya. Louis tidak bereaksi wajahnya semakin di tekuk saja.
"Putri Daddy yang cantik.." Louis memandang Anaknya, tidak mau menatap istrinya saat ini karena kesal dengan ejekan Zenia yang berkata dia jelek.
"Huh.. Bocah ini, gampang sekali ngambek-nya". Ucap Zenia di dalam hati.
__ADS_1
Zenia meraih tangan Louis dengan tangannya yang satu lalu meletakkannya di atas detak jantungnya.
"Kenapa..?" Tanya Zenia mengangkat dagu Suaminya agar mau menatapnya.
"Apa..?" Louis bertanya balik.
"Bukannya kau mendengarnya.. Kenapa kau seperti tidak mau tau..?" Ujar Zenia.
Louis menghela napas panjang lalu memejamkan kedua matanya.
"sebaiknya kau tidak perlu mengatakannya jika pertanyaan ku benar..?". Guman Louis berbisik namun Zenia bisa mendengarnya.
"Louis tatap mataku" Pinta Zenia di turuti oleh Louis.
"Asal kau tau, Kau satu-satunya pria yang bisa membuat ku tidak bisa melawan semua perintah mu.. Yah.. dulu aku sempat mencintai seseorang namun itu tidak berarti lagi sekarang ini" Ujar Zenia berkata dengan jujur.
"Seseorang.. Siapa Itu..?" Louis kembali bertanya lagi.
Zenia tersenyum miris..
"Papaku.. dia cinta pertama ku Louis.. Tapi satu kesalahan pahaman membuat hubungan kami berantakan"
"Papa..? Maksudmu pria yang dulu datang bersama dengan Rufella waktu itu.. Kulihat dia seperti papa yang baik"
"Itu dari Luar saja.." sahut Zenia mengelus kepala putrinya.
"Dulu saat aku berumur 11 tahun dia pernah menjualku kepada pria tua, dan untungnya ada Juan dengan Ayahnya yang menyelamatkan aku" ujar Zenia sedih membuat Louis memantung tidak menyangka.
"Tapi kenapa di seperti itu kepada Putrinya sendiri..?" Tanya Louis.
Zenia memalingkan wajah dan terdiam. Ia tidak sanggup melanjutkan perkataannya.
"Sudahlah Louis, aku tidak mau mengingat masa lalu yang menyedihkan itu, selama aku bersama aku akan bahagia"
Louis langsung memeluk Istrinya dan mengusap punggung wanitanya, Ia tidak tau rasa sakit apa yang di perbuat oleh pria yang di beri status Ayah dari Istrinya itu.
___
__ADS_1
Sore harinya.. Zenia baru saja mandi karena Lareina baru saja tertidur. Pikiran terasa melayang.. Entah apakah Juan dan Ken sudah mengurus kedua orang gila itu.
Saat hendak duduk di meja rias Ponselnya berdering. Zenia terlebih dahulu mengambil dan melihat siapa yang meneleponnya..
"Tidak ada nama..? Siapa..?" Guman Zenia mengeser Ikon hijau lalu meletakkan di daun telinga.
"Halo.." Ujar Zenia berdiri di sisi jendela.
"Akhirnya aku bisa menghubungimu.. " Kata orang itu membuat Zenia mengerutkan kening.
"Dari mana kau mendapat nomor ponsel ku.." Tanya Zenia berteriak.
"Zenia, Kenapa kau marah.. Aku minta maaf jika mengganggumu" ujar orang itu dengan suara sedih.
"Berhenti berharap LOREN.. aku istri dari kakakmu dan aku tidak akan pernah memaafkan penghianat seperti mu" geram Zenia menekan setiap perkataannya.
"Kenapa..? Kenapa kau tidak bisa, bukannya louis memaksamu menikah dengannya.. Kenapa kau tidak menghabisinya saat itu" Teriak loren dari seberang sana.
Zenia semakin kesal..
"Gila.. Kau sudah gila loren.. Louis adalah kakak mu sendiri, aku mencintainya dan aku tidak mencintaimu" kata Zenia datar dan langsung mematikan ponselnya.
Setelah mendapat telepon dari Loren rasanya Zenia ingin menghabiskan waktunya di ruang olahraga meredam api kemarahannya..
"Sialann.. Itu, beraninya dia berkata kurang ajar" ucap Zenia menghempaskan tubuh ke kasur memijit ujung hidung.
"Aku tidak pernah menyangka.. Loren akan menjadi gila.. Seperti ini" Guman Zenia..
Ia hendak bangun dan keluar dari kamar namun Zenia menatap Lareina di boks bayi tidur dengan sangat damai. Lantas ia mengurungkan niat dan memilih untuk mengambil kursi menghadap Putri saja..
.
.
.
.
__ADS_1
.
Tbc..??