My Devil Wife'S

My Devil Wife'S
"Dia tidak akan menyakitiku"


__ADS_3

Jam menujukka pukul 03.00 sore, Zenia mengeliat mulai membuka matanya, ternyata di sudah di pindahkan oleh Louis ke kasur.


"Louis... Bangun, Aku sangat lapar!"


Zenia mengguncang pelan bahu Suaminya yang masih tertidur dan masih mendekapnya dengan erat sehingga tidak bisa bergerak.


"Louis aku sangat lapar bangun lah"


Ucap zenia karena belum juga mendapat respons sama sekali.


"Bangun.. Atau kau bakalan pergi dari sini"


Zenia pada akhirnya berteriak, sungguh ia sudah sangat kelaparan dari pagi ia belum makan, minum saja tidak.


Louis langsung membuka mata terpejamnya itu, Suara istri itu begitu mengganggu tidur lelapanya. Ia menatap Zenia sambil tersenyum bahagia.


"Um.. Sudah bangun Honey"


"Iya.. Ayo bangun aku sangat lapar kau belum memberiku makan sama sekali"


Ucap Zenia merasa kesal gara-gara kelaparan.


Louis bangkit segera mengajak istrinya keluar mencari makan, ia baru ingat bahwa Ia dan Zenia sama sekali belum menyetuh makanan dari pagi hingga sekarang, Louis tidak ingin Istrinya itu kelaparan.. Tubuh Zenia sudah kurus, Sebagai seorang suami Louis harus menjaga keseimbangan gizi untuk Istri.


"Ayo.. "


Ajak louis tumpang tindih.


Mereka melangkah keluar dari kamar menuju maja makan. Louis memerintahkan kepada juru masak di dapurnya untuk membuat makan yang mudah dan cepat.


Cuma butuh sepuluh menit makanan sudah siap.. Louis yang duduk tepat di samping Istrinya langsung mengambil makan dan ingin menyuapi Zenia.


"Aaa.. Katanya lapar, buka mulutmu Honey"


Kata Louis menyendok sesuap makan untuk istrinya.


Zenia mengerutkan kening, ia tidak terlalu suka dengan perlakuan seperti ini, ia menganggap bahwa orang yang memperlakukannya seperti orang yang tidak bisa melakukan apa-apa, menganggap dirinya adalah orang cacat dan Zenia sangat kesal akan hal seperti itu.


Ia mendorong tangan Louis dan mengambil sendok lain.


"kau makan sendiri saja, tidak perlu melakukan sesuatu yang berlebihan"


Kata Zenia memerintah agar Louis ikut makan saja dari pada menyuapinya.


Louis mengerucutkan bibinya...Ngambek. zenia melirik sekilas tidak peduli prioritasnya adalah mengisi perut laparnya yang meminta makan dari tadi.


"Honey.. Kalau begitu kau suapi aku"


"Tidak mau.. Makan sendiri saja, aku sangat lapar tidak bisa melayanimu"


Tolak Zenia cepat, ia mulai melahap makanan di atas piring.


"Hon.. "


Ucapannya terhenti kelak ketika melihat salah satu maid menghampiri dan mengatakan sesuatu.


"Tuan.. Ada tamu yang ingin bertemu dengan anda"


Ucap Maid itu tidak berani menatap langsung Tuannya.


"Siapa.. ?"


Tanya Louis.

__ADS_1


"Seorang wanita, katanya ia ingin memberikan sesuatu kepada anda, Dia sudah menunggu anda Tuan"


Lanjut maid itu sedikit gemetar.


"Wanita?, siapa yah.., Honey aku ke ruangan tamu dulu"


Louis mengelus kepala istrinya, Ia melangkah keluar menjauh dari meja makan meninggalkan Istrinya walau tidak bagitu rela.


Zenia melanjutkan acara makanya ia sudah menduga siapa yang akan datang..


"Pasti Rufella yang datang.. Hahahha"


Guman zenia dengan mulut masih mengunyah makanan.


Beberapa saat berlalu, zenia melihat Louis tengah berjalan ke arahnya wajah berseri yang tadi itu berubah menjadi begitu kesal.


"Honey.. ".


Zenia memicingkan mata, suaminya ini kenapa lagi.


"kenapa. Apa tamunya sudah pulang...?"


Tanya Zenia.


"Belum.. Kau harus ikut denganku dan jelaskan semuanya"


Louis menarik tangan Zenia menuju ke arah ruangan tamu.


Sampai disana Zenia tersenyum manis ke arah sepupunya itu.. Lalu menyapanya..


"Ruf.. Kau datang, maaf aku tidak jadi pergi"


Ucap zenia kini sudah memeluk Rufella dan melemaskan suaranya seperti orang menyesal.


"Tidak Zen, aku justru senang karena kau tidak jadi pergi, tadi Juan sudah menelepon ku"


Ucap Rufella menatap hangat kedua mata Zenia.


"Ayo duduk dulu"


Ajak Zenia.


Sedangkan Louis masih tertegun melihat reaksi dua sepupu itu, ia tidak percaya dengan matanya sendiri, bukannya Zenia dan Rufella saling membenci satu sama lain dan yang di saksikan sekarang berbeda dengan yang dulu dan Pikirannya.


Louis langsung mendekatkan tubuhnya ke arah Zenia dengan posisi tepat berhadapan dengan Rufella ia mengira bahwa Wanita ini hanya berpura-pura baik saja. Bahkan tadi Rufella memberinya sebuah benda yang membuat hatinya sangat kesal.


"Honey.. Apa sebaiknya kita mengusirnya saja. Aku takut nanti dia melakukan hal yang bodoh kepadamu"


Ucap Louis berbisik, Zenia hanya tertawa pelan saja, memang hal bodoh apa yang akan Rufella lakukan kepada dirinya.


"Tenang saja.. Dia tidak akan menyakitiku, Rufella adalah sepupu ku sendiri,. Ia tidak akan senekat itu"


"Benarkan.. Ruf"


Zenia menatap suami dan sepupunya secara bergantian. Rufella tersenyum sembari memainkan kedua alisnya..


"Iya.. kau ini, ternyata Louis adalah pria bodoh seperti juan itu, untung aku sudah tidak tertarik dengan pria seperti kalian ini"


Perkataan Rufella seolah mengejek Louis, pria itu hanya terdiam kenapa ia harus di samakan dengan pria menyebalkan seperti Juan.


"Hahhah...Rufella, kau tidak pernah berubah sama sekali, Apa kondisi kakek baik-baik saja.?"


Tanya Zenia setelah tertawa sebentar, ia tiba-tiba teringat dengan Kakeknya.

__ADS_1


Wajah Rufella melemas..


"Zen.. Setiap hari kakek batuk-batuk dan tidak mau mendengarkan nasihat dari kami, Obatnya saja dia tidak pernah di sentuh.. Ia selalu berkata bahwa jika sudah waktunya pasti dia akan Menyusul nenek di surga"


Rufella begitu prihatin dengan kakeknya, Meskipun ia tidak seakrap seperti Zenia.. Tapi tetep saja Ia tinggal satu atap dengan Kakek dan keluarga lainnya.


Zenia mengerti, ia tau betul bagaimana keras kepalanya Kakeknya itu, tidak akan ada cara untuk membujuk bahkan dirinya sendiri tidak berdaya.


Ia menghela napas, tapi tiba-tiba Louis bertanya kepadanya..


"Honey, kau lihat ini"


Menunjukkan benda di tangannya.


"Umm.. Itu!! "


Ucap Zenia harus berkata apa..?


"Apa.. Wanita ini yang mencurinya, aku sudah curiga dengan sepupumu ini"


Louis menujuk Rufella.


"Bukan salahnya, Kau dengarkan aku dulu.."


Zenia menurunkan tunjukkan jari Louis yang terarah Ke Rufella.


Louis menoleh ke arah Istrinya..


Zenia mengatakan semua rencananya kemarin kepada Louis, awalnya Louis bagikan sedang dipermainkan oleh Istrinya sendiri bayangkan saja Zenia ingin Rufella menggangganti posisinya sebagai Istrinya. Begitu jelas bahwa Zenia sangat berniat untuk pergi meninggalkannya untuk selamanya, Tapi Louis tidak mau berpikiran aneh-aneh ia menepis semuanya dan tetap memaafkan Istrinya itu.


Rufell pamit setelah permasalahan keduanya selesai, sudah cukup ia tidak ingin berada di antara Keduanya, Zenia sepertinya sudah terhasut dengan si Louis itu dan ikut menjadi orang bodoh.. Rufella tidak mau menjadi seperti mereka, ia kembali ke rumahnya dengan perasaan lega.. Zenia tidak pergi jadi Ia akan lebih mudah untuk menghabiskan waktu dengan Sepupunya itu..


"Semoga Louis bisa membuat mu bahagia Zen, aku selalu mendoakan kalian berdua"


Rufella menatap sekitar rumah mewah yang baru ia kunjungi.


Di dalam rumah itu Louis menekan kemarahannya, ia kembali meminta Zenia mengambil hadiah pemberiannya itu dan memperingati agar tidak menyerahkan kepada orang lain lain.


"Louis maafkan aku, aku tidak bermaksud membuat mu marah"


pekik Zenia ia tau bahwa Suaminya itu sedang menahan kemarahannya.


"Sudahlah. aku tidak marah, lupakan yang terjadi tadi, ayo temani dan suapi aku makan,, tidak boleh menolaknya Honey.. "


putus Louis, Ia harus memanfaatkan kesempatan marahnya ini agar Zenia menuruti semua perkataannya. Zenia hanya mengangguk pasrah saja.


.


.


.


.


.


Tbc...!!!


Dah.. πŸ–πŸ–πŸ–πŸ˜πŸ˜πŸ˜


Nanti yah lanjutanya. Ceritanya masih panjang kok.


Jangan Lupakan Si Sam. Ia tidak muncul beberapa eps belakang ini. Tunggu aja Sam pasti kembali lagi.. πŸ˜‰πŸ˜‰πŸ˜‚πŸ˜‚

__ADS_1


__ADS_2