
Zenia menatap Louis kedua matanya melotot, tiba-tiba saja suaminya mengangkat tubuhnya tanpa aba-aba berjalan melewati semua pegawai yang melihat keduanya.
"Apa yang kau lakukan..?" Tanya Zenia, Louis mengalihkan tatapannya sekilas dan memberikan senyuman untuk istrinya itu.
"Usstt. diamlah, kita akan menyelesaikan masalah kita dulu sayang" Jawab Louis menatap Istrinya dengan penuh maksud.
sebelum Louis masuk ruang kerja ia meminta kepada Anton untuk berjaga di luar pintu tidak membiarkan siapapun masuk kedalaman dan memerintah agar menyuruh salah satu penjaga keamanan untuk mengurus wanita yang baru saja menjadi sasaran kekesalan-nya.
---
"Baby, kenapa wajahmu begitu mirip dengan daddy mu itu, coba saja kau mirip Mommy mu pasti akan sangat cantik" Kata Juan menghadapkan Lareina ke arah-nya.
"Umm, entah dimana Zenia, dia lama sekali" Lanjut Juan berbicara kepada bayi mungil berusia hampir lima bulan tersebut.
Juan masih tampak bermain dengan Lareina di luar sambil duduk di sebuah kursi menunggu Zenia mendatangi mereka, namun sudah lewat dari dua jam tanda-tanda akan kehadiran wanita itu tidak terlihat sama sekali.
Juan mulai merasa khawatir akan sepupu-nya itu, ia takut Louis menyakiti Zenia perlahan Juan berdiri melangkah masuk hendak cari dimana keberadaan Louis dan Zenia.
"Hei pengawal bodoh, dimana Tuanmu itu membawa sepupuku..?." Tanya Juan melirik salah satu penjaga keamanan yang sebelumnya mencegah dirinya.
"Saya tidak bisa memberi tahukan kepada anda Tuan" Jawab sang pengawal berwajah tegas.
"Kurang ajar, aku bisa saja mencekik mu sekarang ini, bicara yang sopan, Katakan dimana Louis sekarang atau aku membuat kacau tempat ini" ancam Juan dengan penuh penekanan, pengawal tersebut malah tersenyum meledek ancaman yang keluar dari mulut Juan, tidak mendapat respons Juan mulai naik pitan namun seperti biasa dia bisa menutupi semua-nya dengan begitu sempurna.
"Aku tanya sekali lagi pengawal bodoh!, katakan dimana suami istri itu pergi, anaknya lapar dan butuh susu dari mommy-nya" kata Juan mencoba sesantai mungkin dan menatap Lareina.
Pengawal itu langsung memperhatikan bayi mungil berada di gendongan pria di hadapannya ini sejenak ia terdiam dan matanya tiba-tiba melotot bola mata serta wajah bayi perempuan itu begitu mirip dengan Bos nya, pengawal itu langsung bisa tau bahwa bayi tersebut adalah anak dari Bos-nya dan tidak di ragukan sama sekali sebab mata biru yang seperti itu hanya di miliki oleh Louis.
"Maaf Tuan, saya tidak tau bahwa anda keluarga atasan kami"
"mari saya antar" ucapnya kini sangat sopan membuat Juan tersenyum sinis dan melangkah mengikuti kemana pengawal itu membawa-nya.
««
Begitu sampai di Juan menyengir penuh keheranan di raut wajah tampan-nya itu, ia melirik ke arah pengawal dan Anton yang rupanya berjaga di depan pintu tidak membiarkan siapapun masuk kedalam.
"Kenapa kau membawa ku kesini, aku ingin menemui Zenia bukan mau bertamu sebagai kolega bisnis" Kata Juan mengenduskan napas kasar.
Anton terlihat begitu malas melihat kehadiran Juan terdiam sesaat lalu berkata.
"Tuan Juan, Nona Zenia dan Tuan Louis berada di dalam dan tidak boleh di ganggu, tunggulah sebentar lagi"
__ADS_1
"siapa dirimu berani melarang ku, menyingkirlah aku takut jika Bos mu itu macam-macam kepada sepupuku setelah kedapatan selingkuh"
"anda tidak di izinkan masuk, tunggu sebentar saja Tuan Juan" Ujar Anton mencoba sopan, jujur saja ia tidak begitu suka dengan Juan.
Pria yang terus saja di cegah itu beradu mulut tidak mau berhenti berdebat, ia juga tidak bisa menghajar asisten sialan itu di karena kan Lareina yang sudah tertidur pulas di pelukan-nya.
Juan memejamkan kedua mata dan menarik napas dalam-dalam untuk menetralisir rasa jengkel-nya.
"Kalau begitu aku duduk di sini saja, ambilkan sofa yang di sana, jangan membuat ku menunggu lama, Cepat" perintah Juan dengan sombong menunjuk sebuah sofa kecil dekat jendela perusahaan tersebut.
Anton meminta kepada penjaga keamanan yang tadi-nya membawa Juan menuju ke sini untuk mengambilkan sofa kecil agar si tuan menyebalkan tersebut bisa menutup mulut dan berhenti berdebat.
"Silakan duduk Tuan" Ucap Anton dengan sopan, Juan menanggapi asisten pribadi Louis itu dengan tersenyum miring, Juan akhirnya duduk dan memposisikan keponakannya tersebut agar lebih nyaman.
"apa yang sebenarnya mereka berdua lakukan bahkan anaknya saja di lupakan" guman Juan begitu pelan tidak ada mendengar ucapannya itu.
Lima belas menit kemudian, Pintu ruangan itu perlahan terbuka dan tampaklah seorang pria dengan penampilan acak-acakan hanya mengeluarkan sebagian tubuh.
"Anton. Kau cari dimana anakku sekarang, pasti dia kelaparan, cepatlah, Oh iya dia bersama dengan si Juan itu bisa dalam bahaya anakku itu" Ucap Louis tidak melihat kehadiran Juan karena posisi Juan yang tidak terlihat sama sekali jika dari arah-nya.
Anton mengaruk kepala tidak gatal, ia melirik Juan dengan takut, sungguh sial dia harus berada di antara dua pria yang sama-sama gila, lama-lama Anton yakin dirinya akan stres jika setiap hari bertemu dengan salah satu diantara keduanya terlebih si Juan.
"Kenapa kau diam, cepat cari anakku atau kau ku cekik!, kau mau Hah" Louis kembali berkata karena Anton terdiam tidak menanggapinya sama sekali.
"Kau jangan bermain-main, Cepat cari Lareina aku takut anakku nantinya akan tercemar karena si orang gila itu"
Juan yang mendengar perkataan Louis yang seperti tertuju kepadanya mengumpat diam-diam di dalam hatinya mengutuk suami sepupunya tersebut yang sama sekali tidak tau malu.
"Cepat cari, aku menunggu di dalam" Kata Louis hendak masuk setelah mengucapkan itu, namun tiba-tiba ada seseorang yang ikut masuk kedalam membuat Louis lantas berbalik betapa kaget dirinya mendapati Juan kini berada di depannya dengan Lareina tertidur di pelukan pria itu.
"Hei, baj*ingan..., apa?, apa yang baru saja kau katakan?" tanya Juan sambil mengerutkan kening tidak suka.
Louis menatap Juan sesaat lalu berkata.
"apa!, berikan putriku dan kau sebaiknya segara kembali ke rumah mu permasalahan ku dengan Istriku sudah selesai kau tidak perlu ikut campur lagi, Pulang!" Usir Louis mengambil paksa Lareina dari Juan.
"Berikan aku akan menidurkannya di atas kasur di dalam sana bersama dengan Istriku, jadi aku minta kau sebaiknya pulang atau kalau tidak mau kau bisa bekerja sebagai cleaning service di sini, kebetulan aku mau menambah karyawan di bidang itu" Ujar Louis sambil terkekeh dan menatap Juan sengaja meledek pria itu.
"Sialan.. "
Juan yang di buat kesal oleh penawaran dari Louis langsung berwajah pias, ia benar-benar akan berakhir menyedihkan jika masih saja tinggal di sini selama beberapa jam lagi, lebih baik ia pergi saja membiarkan Louis bersama dengan Sepupunya, siapa yang menduga bahwa Zenia akan memaafkan suaminya begitu mudah.
__ADS_1
"Aku tidak tau apa yang terjadi, entah apa di benak Zenia itu, jelas-jelas dia sendiri yang melihat suaminya berciuman dengan wanita lain dan apa yang aku liat sekarang dia memaafkan Louis begitu saja" Batin Juan tidak percaya akan apa yang terjadi sekarang.
"Kenapa kau masih di sini, apa kau benar-benar mau bekerja sebagai cleaning service" ucap Louis kembali kepada Juan.
"Gila aku tidak mau, baiklah aku pergi sekarang dan ini kesempatan terakhir untuk mu sebaiknya jangan mengulangi kesalahanmu lagi atau aku dan ayahku akan kebiri dirimu hidup-hidup" Juan berkata dengan ancaman sebelum beranjak pergi dari sana, Louis mengangguk pelan penuh yakin.
Louis menghela napas lega dan menatap anaknya itu yang ternyata membuka mata.
"Umm, anak Daddy kau pasti merindukan mommy kan. ayo kita temui dia" Ucap Louis kepada putrinya begitu Juan sudah pergi.
Louis membawa Lareina ke dalam kamar di dalam kantornya yang bisa ia gunakan untuk Istirahat jika sedang lelah saat bekerja di masa lalu jauh sebelum menikah dengan Zenia dan baru sekarang ia kembali memakai-nya lagi.
Senyuman di wajah pria itu tidak luntur walau keadaannya acak-acakan ketampanannya tidak hilang, ia sesekali mencium wajah anaknya dengan gemas dan Lareian tertawa geli akibat kelakuan dari daddynya itu.
"Louis..," panggil Zenia begitu melihat suaminya.
"Honey, kau sudah bangun..?" Tanya Louis, Zenia memutar bola mata malas memang suaminya itu menjadi bodoh atau apalah sehingga bertanya seperti orang konyol.
"Kau pasti masih lelah, tidurlah aku akan meminta Anton untuk membawakan dua porsi makan siang untuk kita" Louis mendekat lalu mencium puncak kepala Istrinya tersebut.
"aku lelah semua gara-gara kamu, Liar sekali!. jika saja Putri kita anak yang rewel sudah di pastikan aku tidak akan seberani itu" Kata Zenia.
"Lareina pasti lapar, berikan kepada ku" lanjut Zenia meminta Louis agar memberikan Lareina.
"Baiklah"
.
.
.
.
Bersambung.. π€π€π€
Semangat puasa-nya All.
Besok kalau gak ada halangan Chan akan Up dua Eps.
mempercepat Novel ini tamat. Bye πππ€π€
__ADS_1
Terimakasih karena telah membaca Novel Chan.
Tolong Jika Eps ini ada Typo Komen yahh PLEASE ππ