My Devil Wife'S

My Devil Wife'S
"Extra Part 6" Tidak Tau Malu.


__ADS_3

Siap-siap Yah..


~~ My Devil Wife's ~~


.


.


.


Selepas Zenia pergi dari rumah itu, kini Rufella duduk tertunduk tidak berani menatap ayahnya yang di liputi kemarahan, wanita itu tau bahwa semua perkataan yang keluar dari mulut ayahnya hanya bualan saja dan pasti akan kembali melakukan hal yang sama.


Rahang Robin mengeras ingin sekali dirinya membanting barang-barang di sekelilingnya namun karena ia terluka parah dan kini ia di obati oleh istrinya.


"Kurang ajar sekali, seharusnya sudah dari dulu aku menghabisi anak sialan itu bersama dengan pamannya yang sombong itu" tuturnya.


"Ayah berhentilah, sebaiknya kita jangan mencari masalah dengan Zenia atau pamannya" ujar Rufella.


"Kau diam saja, kau juga tidak berguna.., pergi dari sini jadilah pengkhianatan seperti adikmu itu, dia mengambil semua saham ayahku dan tidak memberikan sepersen pun kepada ayahnya ini, Kau pergilah punya anak tapi tidak berguna sama sekali, sungguh nasib sial" Ucap Robin dengan suara meninggi.


Hampir kehilangan nyawa tidak membuat sifatnya berubah, Rufella menatap ayahnya dengan kening berkerut.


"Jadi ayah mengusirku setelah tadi aku berusaha menolong ayah dari amukan Tuan Jeffry" seru Rufella.


"Kau menolong.. Hah, lucu sekali sayang, aku menolong diriku sendiri, kau jangan konyol"


"auhhhhhh, sakit kau tau, sialann" bentaknya kala Valecia tidak sengaja menyentuh lengannya yang patah dan seharusnya di gips.


"Maaf" ucap Valecia tertunduk takut walau ia tidak suka dengan sikap suaminya yang kejam namun bagaimana lagi ia mencintai pria itu dan tidak akan bisa melawan.


"Kenapa semua orang di sekitarku selalu saja tidak berguna" seru Robin mengeram kesal.


***


Di jalan raya, Zenia melajukan kendaraannya menuju kembali ke rumahnya, ia berkali menghela napas kasar karena bisa ia di pastikan pamannya yang bernama Jeffry itu marah besar.


"Apa yang harus kulakukan, pasti paman marah dan akan melupakan kemarahannya kepada semua orang" gumannya. Zenia menerka kejadian apa yang akan terjadi selanjutnya.


Pada akhirnya Zenia melajukan kendaraannya sambil merenung.


Tidak sampai dua puluh menit, Zenia memarkirkan mobil miliknya di garasi rumah. kepalanya terasa pening mengingat semua kebenaran yang di ungkap oleh Jeffry dan Juan dan justru dirinya malah membela orang yang telah menghabisi kakek dan kedua orang tuanya.


Entah sudah berapa kali ia mendesah frustrasi, jika saja orang lain yang melakukannya Zenia dengan senang hati akan membiarkan paman Jeffry untuk menghukum pelakunya, tapi dirinya di buat tidak berdaya karena pelakunya adalah salah satu anggota keluarga sendiri walau Zenia seakan tau bahwa paman Robin tidak akan berubah, Zenia tidak tau apa yang terjadi kepada dirinya sendiri.

__ADS_1


"Honey.. " panggil seseorang membuyarkan pikiran kacau Zenia.


Di pintu terlihat Louis tersenyum manis bersama dengan Larenia, raut wajah Zenia yang sebelumnya datar langsung berubah ia membalas senyuman dari suaminya dan segera mungkin mempercepat langkahnya.


"Kenapa kau lama sekali?" Tanya Louis mengelus kepala istrinya, Zenia sejenak menatapnya lalu berahli mengambil Larenia dari gendongan Louis.


"Cuma satu jam lebih Louis, aku pergi tidak berhari-hari mana mungkin lama" jawab Zenia.


"Jangan bertanya, aku pusing... ayo masuk" ujar Zenia.


"Iya.. ayo masuk Honey, aku tidak akan bertanya"


Louis mengangguk pelan lalu merangkul bahu istrinya melangkah masuk ke dalam rumah bersama-sama.


***


Keesokan harinya, Jeffry tersenyum puas, ia di buat begitu senang dengan melihat jatuhnya harga diri dari pria sombong yang telah menghabisi nyawa adik dan keluarganya sendiri, Yah.. orang itu tidak lain adalah Robin menggunakan sebuah kursi roda di dorong oleh istrinya ia tertunduk seolah dirinya takut tapi yakinlah pria itu tengah merencanakan sesuatu.


"Heh, ternyata kau berani datang menemuiku, apa kau ingin meminta ampun atau minta di bunuh?" tanya Jeffry dengan senyuman licik di wajahnya.


Ia tidak sengaja melihat sebuah pistol yang berada di saku jas pria tidak tau malu di hadapannya ini.


"Tuan Jeffry, saya datang kesini untuk meminta minta maaf atas kesalahanku, kemarin saya tidak bisa menjawab semua pertanyaan anda karena anda tidak memberi cela kepada saya untuk menjawabnya"


"Oh begitu, aku kira kamu adalah orang yang penakut ternyata anda sangat pemberani.. Tuan Robin" ucapnya berbisik tepat di telinga Robin dan entah sejak kapan pistol di saku jas Robin berpindah ke tangan Jeffry.


"Bukh"


"Kau sungguh tidak tau malu, sialan.." Jeffry murkah, ia memukul kepala Robin menggunakan sudut tajam berwarna pistol itu ke kepala Robin.


Seketika terlihat darah keluar dari kepala Robin, ingin sekali rasanya ia berteriak namun itu justru akan membuat Jeffry merasa senang.


"Kau tidak ada kapoknya juga, mungkin kemarin aku melepasmu tapi sekarang tidak" kata Jeffry mencengram keras kerah baju Robin hingga wajahnya hanya berjarak lima cm saja. Robin bisa melihat dengan jelas wajah merah menyala dari Jeffry.


Bukh..


"Nikmat waktu-waktu kematianmu sialan, kali ini Zenia atau siapa pun tidak akan menolongmu dari amarahku. sungguh kurang ajar"


"Ken!, Nick!, kau seret istrinya ini keluar dari sini dan buang saja ke jalan raya" perintah Jeffry, Ken dan Nick mengangguk lalu segera melaksanakan perintah tuannya tersebut.


"Tidak tuan, jangan membunuh suamiku.. aku mohon jangan membunuh suamikku tuan"


"seret dia keluar dari sini, mengganggu saja" perintahnya kembali dengan suara dingin.

__ADS_1


"Baik" jawab Ken dan Nick secara bersamaan.


"Tidak tuannn.. " teriak Valecia ia meronta berusaha melepaskan diri.


"nyonya berhentilah melawan atau kau akan merasakan sakit" ujar Nick menyeret paksa tubuh Valecia keluar dari sana.


Setelah Valecia di bawa pergi dengan paksa dari ruangan Jeffry kini hanya tersisa Robin dan Jeffry saja yang ada di dalam sana.


Jeffry mensejajarkan tubuhnya dengan Robin dengan berjogkok di hadapan pria itu, senyuman sinis terukir.


"Tidak tau malu sekali, Hah.. " kata Jeffry.


"Sial ketahuan, aku harus bagaimana" batin Robin.


Kedua matanya menangkap sebuah kursi listrik di su sudut ruangan, entah saat melihat kursi itu perasaan Robin menjadi sangat tidak nyaman seakan ia membayangkan dirinya tewas mengenasnkan di sana.


"Glek"


Robin menelan air liurnya, Jeffry tau akan rasa takut orang kurang ajar itu dengan cepat menarik tangan Robin menyeret tubuh yang sudah tidak bisa berdiri itu menuju ke kursi di sudut ruangan.


"ampun Tuan, aku tidak bermaksud melawan anda" elaknya.


"Tiada ada ampun bagi orang yang tidak tau mau seperti mu" Jeffry terus menyeret hingga Robin kini sudah duduk di sana.


"Duduk, kau dari tadi selalu meliriknya" Ucap Jeffry.


"Tidak tuan.."


"Tidak apa..?, kau tidak mau hidup lagi, baiklah aku kabulkan permintaanmu".


Robin tidak bisa berbuat apa-apa lagi, kini dirinya mulai di siksa, berbagai bekas cambukan kini terlihat jelas di kulitnya yang mulai keriput berteriak pun rasanya percuma saja, kedua tangannya sudah patah Jeffry benar-benar melampiaskan semua kemarahannya.


"Selamat Tinggal, kau tenanglah di neraka" setelah mengucapkan itu Jeffry menyalakan kursi listrik bertegangan tinggi itu bisa membuat orang yang di sana mati mengenaskan dalam keadaan gosong.


"Dor" Jeffry menembak Robin tapat di tengah dadanya tidak mengenai tepat di jantungnya karena ia tidak akan membiarkan Robin mati begitu muda dengan sekali tembakan.


Jeffry tertawa penuh kemenangan akhirnya orang di balik kecelakaan adiknya benar-benar mati di tangannya tanpa ada yang menghalangi.


.


.


.

__ADS_1


.


Part selanjutnya.. Chan akan fokus sama Sam 😳😳 apa yang akan terjadi.


__ADS_2