
Zenia hampir sepekan tidak masuk kerja, gara-gara Louis yang melarangnya untuk kemana-mana, Zenia merasa dirinya di kurung oleh suaminya sendiri di rumah mewah itu.
Sekalipun rumah yang di tempatinya itu luas dan banyak taman untuk bersantai, terkadang Zenia merasa bosan juga, berada di sana terus, ia bahkan beberapa kali berusaha keluar, namun selalu gagal karena Louis sudah memerintah kepada penjaga rumah agar tidak memberi izin jika istrinya ingin keluar.
Zenia pada akhirnya menghabiskan waktunya yang membosankan dengan melatih tubuhnya yang mulai sering melemah.
"Hiyah," Zenia meninju sarung tinju yang berada di ruang olahraga itu dengan segenap kekuatannya, sekaligus ia juga meluapkan emosinya yang terpendam.
"Dasar suami tidak berperasaan, bisa-bisanya dia mengurungku di rumah selama seminggu, sialan tidak seharusnya aku menerima lamarannya itu, hidupku rasanya semakin sulit saja," sebuah umpatan keluar dari mulut Zenia, Louis selalu melarangnya untuk keluar semenjak hari dimana Zenia pergi lama.
"Sampai kapan aku akan akan berada di rumah ini! ah aku merindukan kehidupanku yang dulu," ucap Zenia lagi, mengambil napas dan berhenti sejenak dari kegiatannya.
"Kapan aku bisa bertemu dengan Nick dan Ken, kalau keadaanku di kurung oleh si Tuan kang ngatur itu."
Ceklek ....
Pintu ruangan itu seketika Zenia langsung menoleh kearah pintu dan membalik posisi tubuhnya, Zenia mengerutkan kening melihat seorang wanita paruh baya sedang memandang ke arahnya dengan tatapan sulit di artikan olehnya.
"Maaf Anda siapa?" tanya Zenia mendekat kepada wanita paruh baya tersebut.
"Oh ... jadi kamu yang menjadi istri dari Louis, tidak buruk, pantas saja Louis anak nakal itu begitu tergila-gila denganmu selain karena wajahmu yang cantik dan tubuhmu juga cukup indah," kata wanita itu menilai Zenia dari atas hingga ke bawa. Zenia menaikkan satu alisnya tidak suka perkataan wanita itu.
"Maaf Nyonya, tapi Anda siapa kenapa bisa masuk ke dalam rumahku?" tanya Zenia tidak suka namun ia tetap mempertahankan nada bicaranya yang sopan.
"Hei ... istri Louis, yang cantik kau tenang saja, jangan bicara seperti itu kepada aku,"
"Tapi Anda siapa nyonya?" tanya Zenia.
"Perkenalkan aku Bibi dari suamimu, anak nakal itu tidak mengundangku bahkan kedua orangtuanya juga, saat hari pernikahan kalian, kau tenang saja aku tidak berniat buruk kepadamu," tutur wanita paruh baya itu, yang mengaku sebagai bibi dari Louis.
"Oh, saya minta maaf bi," Zenia kaget mendengar pengakuan bibi dari Louis, ternyata ia hampir salah sangka kepadanya. Akhirnya Zenia segera mengajak bibi dari suaminya itu ke ruang tamu.
__ADS_1
***
Zenia dan bibi dari Louis kini berada di taman belakang rumah, dengan di temani oleh teh hijau keduanya tampak berbincang-bincang akrab.
Bibi dari Louis sangatlah cerewet sehingga kebosanan yang sempat dirasakan oleh Zenia perlahan hilang.
"Zen, kau tau Louis waktu kecil itu sangat membosankan sama seperti sekarang, anak itu tidak pernah berubah dari sejak kecil, sikapnya sama saja," ujar bibi Louis membayangkan masa kecil keponakannya itu.
"Louis memang kenapa bi?"
"Sejak kecil Louis susah mendapat teman, apalagi yang namanya sahabat, anak nakal itu tidak punya, selain suka meninggi terkadang Louis menjadi sangat arogan karena berasal dari keluarga kaya, tidak ada yang mau mendekatinya karena Louis susah bersosialisasi," lanjut bibinya Louis. Ia membicarakan aib dari keponakannya itu.
"Ah dan satu lagi, Louis sangat posesif pada sesuatu yang berharga dalam hidupnya, kau harus bisa melawannya Zen kalau tidak mau di kendalikan oleh suamimu yang menyebalkan itu, bahkan kedua orangtuanya saja sering di buat pusing dengan kelakuan Louis."
"Pantas saja. " ucap Zenia tanpa sengaja, bibi dari Louis hanya tersenyum ke arahnya.
"Kau pasti tidak di biarkan untuk keluar dari sini kan," tebaknya seraya menyeruput teh hijau tersebut.
"Sabar menghadapinya, sifatnya memang sudah seperti itu." bibinya Louis menepuk pundak Zenia, ia merasa kasihan kepada wanita ini, di usianya masih muda Louis memaksanya menikah dengannya. Bibinya Louis itu yakin jika Zenia tidak siap untuk berumah tangga.
"Honey, kau dimana honey, honey," panggil Louis dari dalam rumah karena tidak mendapati keberadaan istrinya semejak dia pulang.
"Zen sepertinya suami posesif mu sudah pulang, Kau temui dia cepat, takutnya nanti akan semakin mengila jika tidak menemukanmu," ucap bibinya menyuruh Zenia agar segera menemui Louis yang berteriak seperti orang gila.
"Saya pamit sebentar dulu bi," pamit Zenia.
Zenia segera melangkah dengan cepat bisa-bisa ia mati karena merasa malu dengan tindakan suaminya yang sangat berlebihan.
"Kenapa kau teriak-teriak begitu, jangan bikin aku malu dengan kelakuanmu!" Zenia menghampiri Louis yang sedang duduk di atas ranjangnya dengan wajah yang merah.
"Kau dari mana saja, honey dari tadi aku panggil gak nyahut," ujar Louis melihat istrinya kini berada di hadapannya ia langsung berdiri dan memeluknya erat hingga Zenia merasa sesak.
__ADS_1
"Louis lepas aku tidak bisa bernafas,"
"Maaf Honey, aku hanya takut kamu hilang dari pandanganku."
"Alay banget sih," Zenia melepaskan pelukan Louis dari tubuhnya.
"Serius sayang," ucapnya, kembali ingin mengapai Zenia namun wanita itu menghindar.
"Louis bibimu datang kesini berkunjung katanya ada yang ingin dia sampaikan kepadamu, kau temui bibimu dulu biar aku menyiapkan makan malam," kata Zenia sambil menatap wajah Louis yang terkejut mendengar perkataannya.
"Maksudmu bibiku siapa honey?" Tanya Louis.
"Bibi yang berwajah mirip denganmu,"
"Bibi Marget ... sejak kapan dia datang sayang, apa dia menyakitimu bagian mana yang sakit biar aku mengobatinya dan membalas perbuatan yang dilakukan kepadamu," panik Louis segera memeriksa tubuh istrinya.
"Aku tidak apa-apa,"
"Serius?" tanya Louis serius. Zenia mengangguk pelan membuat dada Louis lega.
Louis sangat takut istri tercintanya akan di lukai oleh bibinya, yang juga di kenalnya sangat kejam kepada orang baru bahkan sering menyakiti perasaan orang tanpa berfikir panjang.
Zenia mengatakan bahwa dirinya tidak apa-apa lagi pula bibinya louis sangat baik dan ramah kepadanya.
Akhirnya Louis bisa menghela napas ketika mendengar pengakuan dari istrinya, ia sempat panik takutnya istrinya akan terluka dan pergi meninggalkan dirinya sendiri setelah bertemu dengan bibinya tersebut.
.
.
.
__ADS_1
.