
Acara pernikahan Louis dan Zenia baru selesai beberapa jam yang lalu, Zenia hanya mengikuti kemana Louis membawanya untuk tinggal bersama, ia tidak berani menolak karena perintah dari kakeknya agar menuruti apapun keinginan Louis.
Andai bukan karena perintah kakek Zein, Zenia tidak akan pernah mau menuruti perkataan Louis sama sekali.
Desain rumah bergaya eropa dan memiliki penkarangan yang sangat luas tak lantas membuat wanita itu kagum, Zenia justru memperhatikan tangan yang di pegang erat oleh Louis, di setiap langkah yang dia ambil tubuhnya terseret karena tarikan Louis.
Begitu masuk ke dalam rumah Zenia hanya menghembuskan napas pelan dan pusing apa yang akan terjadi dimasa depan bersama dengan pria yang mengamcamnya untuk menikah ini, Zenia tidak pantas menjadi istri apa lagi kadang emosi menguasai dirinya.
"Apa yang akan ku lakukan di rumah ini? sial padahal aku ingin hidup tenang, andai saja aku bisa menghabisi pria menyebalkan ini!" batin Zenia menatap tangannya yang masih di gandengan oleh Louis.
Louis mengandeng tangan Zenia dengan hati yang yang terasa senang.
"Honey apa kau mau melihat kamar kita?" tanya Louis, Zenia tidak merespon hanya mengangkat wajahnya menatap datar Louis.
Louis lalu mengajak Istrinya menuju kamar yang akan mereka tempati bersama-sama.
Ceklek..
"Ini kamar kita sayang apa kau suka warnanya?" tanya Louis sambil mempersilahkan Zenia masuk.
"…" wanita itu tidak menjawab tapi pandangannya tertuju kesegala arah sambil menilai-nilai dekorasi kamar itu, nuasa hitam dan abu-abu lekat sesuai dengan seleranya.
Zenia masuk kedalaman kamar itu di ajak oleh Louis, namun Zenia hanya diam tidak mengeluarkan sepatah kata.
"Sayang-eh Honey, kita akan tidur di sini bersama apa kau suka?" tanya Louis lagi kali ini sambil melepaskan jas putih yang dia kenakan saat pernikahaanyaa tadi, wanita itu menoleh ke arahnya dengan tatapan sulit terbaca.
"Apa maksudmu? Satu kamar, kita tidur bersama? Kau dan aku?" kaget Zenia bertanya balik tidak yakin akan bisa berbagi tempat tidur berdua dengan pria ini.
Louis lantas menarik pinggang wanita yang sudah menjadi miliknya, hingga kedua tubuh mereka begitu rapat.
"Kenapa Honey, tidak ada salahnya, lagi pula sekarang kau adalah istriku dan sudah sewajarnya kita tidur bersama," jawab Louis dengan menatap kedua bola mata Istri cantiknya.
Zenia langsung mendorong dada Louis dengan sedikit keras, posisinya yang tadi sungguh tidak nyaman bagi dirinya dan napasnya terasa sesak.
"Tapi aku tidak terbiasa dengan perubahan mendadak seperti ini, terutama berbagi tempat tidur dengan orang lain," ucap Zenia beralasan.
"Sebaiknya aku tidur di kamar lain aja," lanjutnya.
__ADS_1
"Nanti kau akan terbisa honey, ayo kita makan malam dulu baru tidur atau kau mau mandi?" kata Louis memperhatikan raut wajah sang istri.
"Kenapa kau selalu memaksaku?" tanya Zenia kesal.
"Jika kau tidak di paksa maka kau tidak akan mau, jadi aku harus memaksamu."
"Diamlah Louis! aku sangat lelah dengan sikapmu yang berlebihan seperti ini! apa kau pikir aku senang dengan pernikahan konyol ini!"
"Kau yang diam! jangan membentak suamimu!"
"Suami kau bilang? hah lucu sekali, kau tidak pernah aku anggap sebagai suami!" ucap Zenia remeh.
"Zenia jaga ucapanmu!"
"Sudahlah, aku tidak mau melanjutkan pertengkaran ini! ayo kita makan!" ajak Louis, ia merendahkan suaranya, mereka baru menikah Louis tidak ingin ada pertengkaran di antara mereka.
Zenia enggan menjawab, ia sebenarnya yang lapar memilih mencoba meraih resleting gaun, agar bisa melepaskan baju terlebih dahulu namun ternyata dia kesulitan.
"Ayo kita makan honey" ajak Louis suaranya lembut.
"Kau saja duluan! aku mau melepas gaun pengantin! tolong panggilkan seseorang untuk membantuku!" ucap Zenia masih dengan usahanya meraih resleting gaunnya.
"Tidak boleh, biar aku saja yang membantu melepasnya," ucap Louis melangkah maju mendekati Zenia, wanita itu sempat menolak dan menghindari Louis tapi apa daya pria itu berhasil memaksa dan pada akhirnya Louis lah yang membantunya.
Pelan-pelan pria tersebut menarik turun resleting gaun Zenia dengan wajah memanas melihat punggung mulus sang istri, Louis menahan seluruh hasratnya yang mulai berada di puncak, ia akan menahan hingga ia selesai memberikan makanan kepada istrinya.
***
Selesai makan bersama Louis langsung dan tanpa aba-aba mengangkat tubuh Zenia berlari kecil menuju kamar, karena tidak bisa menahan sesuatu lebih lama untuk memiliki Zenia seutuhnya.
"Apa yang mau kau lakukan?" teriak Zenia mendorong Louis yang hendak menindihnya.
"Usttt ... jangan ribut Honey, ayo kita mulai malam panjang kita," ucap Louis menekan kedua tangan Zenia ke atas untuk mencegah wanita itu melawan.
"Louis lepaskan! aku tidak mau!"
Louis membungkam mulut istrinya dengan ciumannya, perlahan namun pasti Louis membuka diam-diam pakaian yang di kenakan Zenia dan miliknya sendiri.
__ADS_1
"Lepaskan aku!" teriak Zenia di sela-sela ciumannya dan menutup tubuhnya yang kini telanjang.
"Jangan berteriak, lakukan tugasmu sebagai seorang istri! malam ini kau adalah milikku!" ujar Louis kini menindih tubuh istrinya.
"Aku tidak mau! Lepaskan!" Zenia terus meronta-ronta. Kedua kakinya pun tidak tinggal diam. Zenia bukan wanita lemah yang mudah takluk di. tangan orang lain.
Zenia menendang Louis dengan keras hingga pria itu menjauh darinya.
"Tidak semudah itu kau bisa menyentuhku!" Zenia meraih seprai kasur dan menutup tubuhnya yang sudah tidak berpakaian.
Sementara Louis mengusap bibirnya yang sedikit berdarah, dan ia mendekati Zenia dengan senyuman.
Louis berhitung, pria itu tidak bodoh, tentu saja sebelumnya ia memberikan obat perangsang ke air minum Zenia.
"Panas, sial ... apa yang kau telah berikan kepadaku!" ucap Zenia merasa kepanasan dan tubuhnya juga mulai melemah.
"Hanya obat perangsang sayang, tenang aja kau tidak akan mati."
Louis mengangkat tubuh Zenia kembali ke atas ranjang mereka.
"Kau-" Louis tampak kaget akan sesuatu.
"Ahrhh, sakit."
Louis langsung menyatukan tubuhnya dengan Zenia walau awalnya ia kesusahan. Ternyata istrinya masih perawan. Bahkan darah perawan istrinya mengotori kasur yang berwarna putih tersebut. Zenia mencengkam lengan Louis menahan sakit.
"I love you, honey."
Louis awalnya melakukan itu perlahan lama- kelamaan menjadi liar, ia menyalurkan semua rasa cintanya kepada wanita yang ia tiduri sekarang ini, Zenia di buat tidak berdaya hanya bisa menikmati permainan Louis.
Obat perangsang itu benar-benar membuat dirinya lemah.
Beberapa saat kemudian, terdengar suara desahan dalam kamar tersebut Zenia hanya pasrah atas perlakuan Louis kapada tubuhnya dan sialnya ternyata tubuhnya itu tidak menolak Louis, mungkin karena efek obat perangsang itu.
Malam yang panjang di nikmati untuk sepasang suami istri yang baru menikah, semakin lama Louis seakan kehilangan akal menerkam Istrinya dengan liar entah kenapa Zenia sangat nikmat, apa karena ini yang pertama bagi keduanya atau karena Zenia di ciptakan hanya untuknya. Ya Louis memang baru pertama kali melakukan sex. Ia tidak pernah mau berhubungan badan dengan wanita yang belum sah dengannya.
"Terima kasih Honey, aku mencintaimu." ucap Louis setelah selesai dengan kegiatannya. Zenia sudah terlelap akibat kelelahan melayani Louis yang sangat liar. Keduanya tertidur dan Louis memeluk erat Zenia dari belakang. Akhirnya Louis memiliki Zenia secara utuh.
__ADS_1
.
.