
Sore harinya, Louis tampak sangat sibuk sendiri di dalam kamar tempat Anaknya kelak jika sudah lahir, Ia mulai menata setiap sudut ruangan dengan berbagai perabotan dan perlengkapan bayi. Tanpa ingin di bantu siapapun Louis mengerjakan semuanya sendiri.
Dua jam berlalu, Zenia baru bangun dari tidur siangnya sebenarnya sudah sore sih, Ia melihat-lihat seluruh penjuru kamar mencari keberadaan suaminya entah pergi kemana.
"Louis Kau dimana.."
Panggil Zenia berusaha bangkit dari kasur, sungguh kehamilannya membuat pergerakan Zenia seakan sangat lambat tidak seperti dahulu dia akan melompat dari kasur jika baru bangun tidur.
Zenia membopong tubuhnya sendiri, sedikit kesusahan tapi dia bertekad mencari keberadaan suaminya yang pasti berada di rumah.
"Louis.."
Panggil Zenia lagi.
"Kemana orang bodoh itu.."
Gerutu Zenia berjalan ke arah ruang tamu namun tidak mendapati keberadaan Louis sama sekali.
Beberapa saat kemudian Zenia akhirnya menyerah dan memilih untuk duduk di sofa sembari menunggu Louis datang.
Tring...
Ponsel milik Zenia berdering, ia meraih dan melihat sebuah nama di sana.
"Nick.. Kenapa dia menghubungi ku.? "
Tanya Zenia kepada dirinya sendiri. Ia menggeser Ikon hijau dan mengangkat panggilan Nick dengan cepat.
"Iya.. Ada apa.. nick"
Tanya Zenia.
"Zen, kau ada dimana, tadi aku ke rumah mertua mu tapi mereka bilang kau pergi bersama Louis saat ini"
Ujar Nick dengan nada khawatir. Zenia menghela napas pelan, saat ini Ia di bawa pulang ke rumah pribadi Louis.
"Kenapa.. Ada apa kau mencari ku, katakan ada masalah serius apa Nick..?"
"Ah.. Tidak ada, Aku cuman mau tau kau baik-baik saja,.."
" oh iya, besok aku dan ken akan ke tempat orang kurang ajar itu dan kau tidak perlu khawatir tentang kami semua, Tenang saja Zen semuanya akan baik-baik saja, satu lagi untuk kamu, kau tidak perlu meminta Sepupu gilamu itu untuk ikut campur dari kemarin dia mengikutiku dan ken kemana pun"
Ujar Nick mengadukan perihal Juan yang sudah seperti parasit tidak mau lepas dari ia dan ken bahkan sudah beberapa kali di paksa pria gila itu tetap bersikuku ingin membantu.
Zenia kembali menghela napas tapi kali ini sedikit agak kasar sehingga Nick bisa mendengar hal itu.
"Huh.."
"Sudahlah.. Juan orang keras kepala lakukan apa saja yang kau mau , atau boleh juga kau mengurung dan mengucinya di dalam ruangan rahasia aku tidak peduli"
"Iya.. Kalau begitu aku tutup panggilannya dulu"
Lanjut Zenia langsung menutup sambungan telepon dari Nick tanpa menunggu jawabannya.
___
Zenia jengah menunggu suaminya, ia merasa lapar dan menuju arah dapur untuk membuat makanan kesukaannya.
Berbagi hidangan yang di buat Zenia, hanya butuh sepuluh menit saja semuanya sudah jadi dan dia bebas makan apa saja sebab si tukang ngatur tidak ada di sampingnya.
"Um.. Makan yang mana dulu.."
Katanya menatap semua makanan di atas meja karena merasa bingung memilih untuk makan yang mana terlebih dahulu.
__ADS_1
Akhirnya zenia mengambil keputusan, pilihannya jatuh kepada Pancake dengan madu di atasnya begitu menggiurkan. Zenia memakannya dengan rakus saat dia sendirian, para maid ia perintah keluar dari Dapur.
Louis yang baru keluar dari kamar bayi, menatap para maid berdiri di depan pintu dapur dengan wajah tertuduk lantas Louis yang penasaran mendekat lalu bertanya.
"Kenapa kalian hanya berdiri di sini saja dan tidak melakukan tugas kalian..?"
Tanya Louis dengan suara datar.
Para maid hanya bisa tertundukpun menjawab.
"Tuan. Nona sedang makan di dalam dan tidak mau di ganggu, ia menyuruh kami untuk berdiri di luar."
Ucap Salah satu maid berusia paling tua di antara mereka semua.
Louis langsung menyengir..!.
Dia melewati para maid tanpa berkata. Sedangkan Zenia masih sibuk dengan makanan yang ada di atas meja ia tidak memperlihatkan bahwa sekarang ini suaminya sudah berada di samping tempat duduknya.
Zenia makan dengan keadaan belepotan, ia tidak memperhatikan penampilannya sendiri saat ini.
"Hummm"
Louis berdeham karena Zenia tidak menyadari kehadirannya.
"Honey.!!"
Kali ini Louis menepuk bahu Istrinya, Zenia menoleh karena merasa ada sebuah tangan berada di bahunya dengan refleks Zenia langsung mematung, makan yang berada di tangannya sudah jatuh ke lantai.
Louis duduk manis tepat di samping istrinya. Sembari tersenyum kaku..
"Zenia... Kau, apa yang baru saja kau makan..?"
Tanya Louis menujuk semua makan cepat saji di atas meja.
Zenia menelan air liurnya kasar, kenapa di harus ketahuan sekarang padahal zenia belum mencoba semua makan itu.
Tanya Zenia balik mengalihkan pembicaraan.
"Honey, jawab dulu pertanyaan ku"
Ujar louis masih tersenyum semanis mungkin.
Zenia menjadi kikuk, louis sangat melarang keras dirinya makan makanan cepat saji. Ia menoleh dengan berani, Zenia mengusap wajah louis lalu berinya kecupan sekilas.
Umah...
"Maaf Louis.. Aku tadi tidak bisa menahannya, aku sangat lapar karena kelamaan menunggumu datang"
Ujar zenia tidak mau memperpanjang masalah, Lalu bangkit dari kursi menarik tangan louis.
***
Malam harinya, Zenia dan Louis baru saja turun dari mobil lalu melangkah masuk ke dalam rumah orang tuanya, mereka tadi di minta pulang kerumah itu karena kedatangan seseorang.
Lina dan Alexander tampak duduk di atas sofa dengan seorang pria cukup mirip dengan Louis tapi bedanya pria itu sedikit pendek dan kurus.
Zenia menghentikan langkahnya, Ia begitu terkejut dengan Pria yang baru saja di lihatnya, tangannya terkepal wajahnya menjadi datar.
Louis menyadari perubahan istrinya..
"Honey, ayo masuk. "
Lirih louis mengajak istrinya untuk melanjutkan langkah.
__ADS_1
Zenia hanya terdiam membuat Louis sangat heran dengan Istrinya.
Pria itu menoleh..
"Zenia.."
Lirihnya ketika menyadari kehadiran Kakaknya dan seorang wanita cantik sangat di kenalnya.
Wajah Zenia semakin menjadi gelap, Ia memalingkan wajahnya.
"Aku mau istirahat.."
Ucapnya kepada louis.
Lina, Alexander, Marget, dan Louis sempat heran apa Zenia dan Adiknya louis saling mengenal satu sama lain.
Lantas Louis tidak mau ambil pusing ia segera berpamitan kepada keluarga lalu membawa istrinya ke kamar untuk istirahat.
"Mah. Pa.. Aku ke kamar dulu Zenia butuh istirahat"
ujar louis merangkul bahu Istrinya berlalu menuju kamar, ia. hanya melirik sekilas Adiknya yang menatap Zenia tanpa berkedip.
saat Louis dan Zenia sudah tidak ada di sana, adik louis yang tidak lain adalah Loren menatap kedua orang tuanya penuh tanda tanya.
"Mah.. Wanita tadi itu, Zenia..?"
Tanya Loren meminta penjelasan.
Lina mengangguk menyiakan.
"Iya.. Dia Zenia istri kakakmu, kau kenal dengannya..?"
"Apa..!!"
Mata Loren terbelalak sempurna jantungnya bagaikan tertusuk pedang tidak terlihat begitu sakit, Wanita yang selama ini dia cari dan kejar ternyata adalah Istri dari kakaknya sendiri sekarang ini menjadi Kakak Iparnya.
Tiba-tiba air matanya menetes tidak terduga, Loren sudah mencari keberadaan Zenia lima tahun lamanya wanita itu adalah cinta pertamanya hingga sekarang dan Wanita itu juga yang menjadi alasannya pergi meninggalkan keluarganya karena ingin mencari Zenia yang tiba-tiba hilang tanpa kabar.
"Loren.. Kau kenapa nak..?"
Tanya Lina khawatir Karena Loren sangat jarang menangis sejak kecil.
Loren mengangkat wajahnya melihat Mamanya dengan perasaan begitu kalut..
"Mama, kenapa harus Zenia.. Kenapa kakak memilih Zenia menjadi Istrinya"
"Kau kenal dengan Istri Kakakmu..?"
Tanya Lina lagi dan Loren mengangguk lemah, Ia sudah tidak bersemangat berucap lagi.
Alexander hanya menghela napas saja, entah apa lagi sekarang yang terjadi, Kepulangan Loren setelah lima tahun pergi ternyata karena sebuah alasan dan Alexander yakin bahwa itu berkaitan dengan Zenia menantunya.
.
.
.
.
.
Tbc.. !!!
__ADS_1
waduh ada satu lagi nih.. saingannya Louis
π π π