
~~ Incomplete Love ~~
.
.
.
.
Siang itu, Rufella sampai di depan pintu apartemen Ken, berkali-kali wanita itu memencet bel pintunya namun belum mendapatkan respons.
"Ken pergi kemana? Apa dia tidak ada di dalam?" guman Rufella pelan.
"Tidak mungkin Ken ada di dalam, pasti dia keluar, sebaiknya aku menunggunya." lanjut wanita itu berpikir lagi, ia menatap pintu apartemen itu dan berpikir jika Ken benar-benar sedang tidak berada di dalam sana.
Rufella berjalan mondar mandir sembari menunggu Ken, ia sudah ada di sini dan tidak mau kembali ke rumahnya.
Hingga dirinya lelah berjalan mondar mandir, akhirnya Rufella memutuskan untuk berjongkok menyandarkan tubuhnya di tembok sambil menunggu Ken.
Setengah jam menunggu Rufella mulai merasa bosan apalagi sekarang pinggangnya terasa agak perih karena luka yang di perban itu, terlihat mengeluarkan sedikit darah namun tetap saja membuat wanita itu seakan tidak peduli.
"Sedang apa kau di sini?" tanya seseorang kepada Rufella.
"Ken." lirihnya berdiri dari posisinya, begitu berdiri kakinya terasa sangat kesemutan karena kelamaan jongkok.
"Sedang apa kau di apartemenku?"
"Oh, iya aku boleh di ajak masuk, aku dari tadi menunggumu, kau kemana saja?" tanya Rufella namun tidak mendapat jawaban atas pertanyaannya.
__ADS_1
Sejenak Ken memperhatikan wajah Rufella terlihat sedikit pucat, ingin rasanya ia segera mengusirnya namun Ken tidak sejahat itu, terlebih lagi wanita itu baru saja keluar dari rumah sakit.
"Baiklah ayo masuk kedalaman." ajaknya, lalu segera membuka pintu apartemen miliknya.
Rufella tersenyum entah kenapa, Ken agak mengubah sikap terhadapnya padahal setau wanita itu pria yang pernah menjadi pengawal sepupu itu pasti selalu mengusirnya namun sekarang tampaknya Ken mulai berubah. Ia pun mengikuti Ken masuk kedalaman apartemen tersebut.
Begitu sampai di dalam, Kedua mata Rufella memperhatikan seluruh isi ruangan apartemen itu yang terlihat sangat damai akan beberapa prabotan rumah yang senada dengan cat dinding apartemen itu.
"Duduklah, kau mau minum apa?" tanya Ken.
"Tidak perlu Ken." sahut wanita itu menolak, ia melangkah melihat-lihat seluruh isi apartemen Ken, ini untuk pertama kalinya Rufella masuk sini sesuai dengan seleranya.
Ken memperhatikan Rufella dengan menghela napas pelan.
"Apa tujuanmu datang menemuiku sampai kesini, bukannya aku sudah menebus bantuanmu dengan menjagamu selama dirumah sakit dan sekarang apa kau mau apa lagi?" tanya Ken dengan dingin sambil bersedekap dada.
"Hum."
Rufella mengaruk kepalanya, bagaimana ia mengatakan kepada Ken bahwa dirinya pergi dari rumahnya dan ingin tinggal bersama denganya.
"Itu ... itu ... aku, boleh kah ...." ucap Rufella gugup. Ia mengaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Apa katakan cepat!" Ken mendesak karena ia mempunyai pekerjaan yang penting dan harus segera di laksanakan.
Rufella mendekatkan diri segera bergelayut di lengan Ken.
"Kau apa-apa? Jangan menyentuhku." Ken langsung menepis tangan Rufella dari lengannya.
"Ken, apa aku boleh tinggal di sini bersama denganmu, aku akan melakukan apapun perintahmu, membersihkan rumah, masak, mencuci pakaianmu, semua bisa aku lakukan, Ken aku sangat ingin tinggal di sini apa boleh."
__ADS_1
"Tinggal di sini, apa maksudmu?"
"Aku mau tinggal bersama denganmu." kata wanita itu.
Ken mengerutkan kening menatap wajah Rufella gurata kekesalan sangat terlihat jelas di wajah lelaki tampan itu.
"Apa mau mu sebenarnya? Kenapa kau secara tiba-tiba mau tinggal bersama denganku di sini."
"Hanya sehari saja Ken, kumohon."
Ken menghela napas, ia tidak mau memperpanjang masalah.
"Baiklah kau tinggal saja di sini selama sehari dan besok kau pulang kerumahmu sendiri."
"Benarkah, kau mengizinkannya."
"Iya kau jangan banyak bicara atau aku akan mengubah keputusanku." ucapnya.
"Terima kasih."
.
.
.
.
.
__ADS_1
π΄