My Devil Wife'S

My Devil Wife'S
"Extra Part 10" End.


__ADS_3

😳😳, sudah End beneran yah, makasih dukungan kakak-kakak. 😊.


~~ My Devil Wife's ~~


.


.


.


"Orang itu sudah gila, semakin hari semakin menjadi saja." guman Louis.


Sesaat kemudian pintu ruangan tiba-tiba terbuka, terlihatlah seorang pria paruh baya menggunakan tongkat untuk berjalan menopang tubuhnya yang mulai menua rentan.


"Tuan Elberto sudah datang, silahkan duduk Tuan." sambut Alexander mempersilahkan Elberto untuk duduk di tempat yang seharusnya.


"Terima kasih Tuan Alexander." jawabnya dengan rama lalu duduk.


Louis kala itu masih terus berguman dalam hatinya tidak memperhatikan kehadiran satu orang lagi baru saja masuk ke dalam ruangannya.


"Sam ...." sebut Alexander.


"Paman, apa kabar?" tanya Sam memeluk tubuh Alexander lalu mengalihkan pandangan kearah Zenia dan memberikan senyuman manis untuk wanita itu.


"Kau duduklah!" pinta Alexander di angguki oleh Sam, seperti perkiraan sebelumnya, kursi kosong di samping Roni menjadi pilihan Sam untuk duduk, ia cuma berjarak satu kursi saja dari wanita pujaannya.


Seperti orang normal Sam, terus berpura-pura baik padahal di dalam hatinya ingin sekali dirinya menghabisi Louis agar Zenia menjadi miliknya.


"Emmm, Zen ... apa kabar mu?, apa kau baik-baik saja?" tanya Sam tiba-tiba memecah keheningan, Louis seketika terheyak mendengar suara yang tidak asin baginya lantas ia mengangkat wajah betapa kagetnya ia melihat Sam duduk hampir berdekatan dengan istri dan anaknya.


"Aku--" Zenia belum menjawab, tiba-tiba saja Louis berdiri dan memukul meja membuat semua orang di sana kaget.


Braakkkk


"Honey, pindah duduk di sini, jangan kau berdekatan dengan pria gila itu ... kesinilah" pinta Louis.


"Untuk apa? aku di sini saja!" tolak Zenia menggeleng.


"Kesini atau--"


"Atau apa?, kau mau apakan keponakanku!" suara orang tiba-tiba masuk ke dalam.


"Paman!, ada apa paman datang kesini?" tanya Zenia bingung pasalnya Jeffry sama sekali tidak ada sangkut pautnya.


Jeffry melangkah lebar mendekati, ia menatap keponakannya itu dengan kening berkerut.


"Ayo kita keluar kota, tinggalkan semua kenangan mu di sini, sejak awal seharusnya kau tidak pernah kembali ke kota ini Zen, kecantikanmu selalu membawa masalah saja, ayo kita pergi saja!" ajak Jeffry tiba-tiba membuat Zenia kaget begitupun orang-orang yang ada di sana.


"Apa maksudmu paman?, Zenia tidak boleh pergi dari kota ini, dia adalah istriku miliku, tanggung jawabku." teriak Louis mendekati keduanya.


Jeffry menatap Louis begitu tajam.


"Hei!, kau sebaiknya diam." perintah Jeffry menujuk Louis.


"Tidak paman, kau tidak boleh membawa istriku pergi dari kota ini." ujar Louis meninggikan suaranya.


Alexander dan Lina terlihat berdiri mendekati Jeffry dan Zenia.


"Ada apa sebenarnya Tuan, kenapa Anda mengatakan hal seperti itu membuat kami semua bingung." ujar Alexander.


Jeffry menarik sebuah senyuman miring, lalu dirinya melirik Sam dan Louis secara bergantian.


"Aku tidak mau keponakanku menjadi rebutan, aku mengira setelah dia menikah tidak akan ada lagi pria yang tergila-gila dan memperebutkan dirinya namun ternyata anggapanku salah, justru terjadi perseteruan diantara dua sahabat ini, asalakan kalian tau sebenarnya Zenia melanggar janjinya dan menikah dengan pria posesif bahkan bernapas saja aku liat dia kesulitan, awalnya aku membiarkanmu Louis untuk menjaganya namun setelah aku tau bahwa sahabatmu sendiri mengiginkan Zenia aku tidak bisa menerima, dan sebaiknya aku mengajaknya pergi dari kota ini agar tidak ada lagi masalah di kemudian hari." ujar Jeffry panjang lebar.


"Zenia ayo ikut dengan paman!" perintahnya, Zenia menggeleng ia tidak mau pergi.


"Aku tidak mau paman, aku tidak mau!" tolaknya memberontak, sedikit kesulitan karena Larenia berada dalam dekapannya.


"Ayo, jangan menolak, lebih baik kau kembali saja ke posisimu sejak awal, lupakan semuanya yang pernah terjadi di sini!" bentak Jeffry.


"Tidak mau!" tolak Zenia tidak membuat Jeffry mengubah keputusannya.


Louis segera menarik istrinya, ia sampaikapanpun tidak akan membiarkan Zenia pergi meninggalkan dirinya.


"Paman jangan bawa istriku pergi, kumohon ...." pinta Louis menahan langkah Jeffry yang menarik paksa Zenia.


"Kau sudah kehilangan kesempatan Louis, lepaskan tangannya atau aku membunuhmu!"


"Bunuh saja aku Paman, aku tidak takut, asalkan paman tidak memisahkanku dengan Zenia.. terlebih lagi ia tengah hamil anak kedua kami!" ujar Louis, Jeffry sejenak melirik Louis dan Zenia secara bergantian.


"Apa itu benar?" tanya Jeffry kepada Zenia kedua matanya menatap tajam.


"Apa yang dikatakan pria ini kepada paman, bisa mamp*us kalau ketahuan berbohong! Aku sendiri tidak hamil." guman Zenia dalam hati.


"Itu ...." Zenia terlihat ragu.


"Apa cepat jawablah!" desak Jeffry.


"Itu ... itu ... itu."


"Itu apa, Zen?"


Melihat keraguan dari Zenia, Jeffry menoleh dengan tatapan bengis kearah Louis.


"Kau membohongiku, Zenia tidak hamil, minggir lah biarkan aku membawanya pergi agar kehidupan kalian semua tenang."


Jeffry mendorong kasar tubuh Louis yang menghalangi jalannya, dengan terburu-buru ia segera membawa Zenia secara paksa pergi dari sana.


"Aku tidak berbohong, istriku benar-benar hamil!" teriak Louis hendak mengejar istri dan anaknya yang di bawa pergi dari sana.


"Louis, kau tidak perlu mengajarnya, Zenia akan kembali jika dia mencintaimu!" ujar Alexander mencegah Louis.


"Apa yang papa katakan!, papa tidak lihat istri dan anakku di bawa pergi oleh paman Jeffry, Aku harus mengejarnya, jangan mencegahku!" teriak Louis murka.

__ADS_1


"Semua ini gara-gara dirimu sialan! aku akan menghabisimu, Tunggu saja! " teriaknya sebelum pergi dari sana.


Sam yang sedari tadi hanya memperhatikan perdebatan tersebut tersenyum penuh kemenangan, ternyata sangat mudah untuk memisahkan Louis dan Zenia, jika saja Roni tidak menyebut nama Jeffry pasti pria itu tidak akan pernah tau tentang cara memisahkan mereka.


"Jika aku tidak bisa memilikinya maka kau juga tidak bisa, sekarang kita impas, perusahaanku sudah tertolong dengan mendapatkan suntikan dana dari paman Zenia yang bodoh itu." guman Sam dalam hatinya


Roni yang sedari tadi juga terdiam, masih terpaku ternyata rencananya dan Zenia kali ini gagal total gara-gara kehadiran Jeffry mengacaukan segalanya, sedangkan Loren tidak berkomentar apa-apa. karena dirinya sadar ia tidak bisa ikut campur dalam masalah kali ini.


"Maaf Tuan Elberto, mungkin lain kali kita membahas tentang kerjasama perusahaan kita, saya dengan penuh hormat meminta Anda untuk pergi saja dulu." ujar Alexander.


"Baiklah, Sam ayo pulang." ajak Elberto segera pergi dari sana bersama dengan Sam.


***


Louis berhasil memegang tangan istrinya, Larenia sudah menangis sepanjang jalan saat ibunya di seret dengan paska oleh Jeffry.


"Paman aku mohon, aku tidak mau meninggalkan suamiku, apa yang menyebabkan paman berubah pikiran seperti ini?" ujar Zenia mulai kelelahan apa lagi dari tadi kepalanya benar-benar pusing.


"Ayo, masuk ke mobil, Louis lepaskan tangannya cepat!" perintah Jeffry, Louis menggeleng ia menatap seduh istri dan putrinya tidak mau melepaskan tangan wanita itu.


"Sayang, jangan pergi!" ujar Louis.


"Louis lepaskan!" bentak Jeffry tidak membuat lelaki itu takut.


Juan yang baru saja sampai dengan Ken, mengerutkan kening merasa heran dengan keributan yang kini terjadi di antara Louis, Zenia, Jeffry dan Larenia yang tidak berhenti menangis.


"Ayah! apa-apa ini?" bentak Juan, kini menahan ayahnya.


"Minggir, aku harus membawa Zenia pergi dari kota ini, dan semua gara-gara kamu juga yang membawanya dulu kabur kesini, jadi minggirlah!"


"Tidak aku tidak akan membiarkan Ayah menyakiti perasaan Zenia lagi sudah cukup! Louis aku akan mencegah menahan ayahku dan kau segara bawa istri dan anakmu jauh-jauh dari sini cepat" perintah Juan langsung di laksanakan oleh Louis


Louis membuka pintu mobil yang sudah tertutup itu, sesegara mungkin mengajak Zenia pergi menjauh dari jangkauan Jeffry.


"Honey ayo pergi." ajak Louis.


"Iya."


"Hei kalian jangan kabur, anak sialan ini ... kenapa kau malah membantunya!" bentak Jeffry.


"Kenapa Ayah berubah pikiran dan mau memisahkan Zenia dari suaminya!" ujar Juan tidak kalah kesal.


"Kenapa? kau tanya kenapa? Hei anak sialan, aku mengetahui bahwa Louis hanya ingin menggunakan Zenia sebagai pemuas nafsu dan orang untuk melahirkan anak untuknya, kau tau dia pernah berselingkuh dengan sekretaris dari Sam, andai saja Sam tidak memberitahuku pasti aku tidak akan pernah tau kelakuan dan niat jahat pria itu!" ucap Jeffry membuat Juan mengerutkan kening.


"Jangan bilang ayah mendengar semua ini dari pria gila itu?" tanya Juan.


"Pria gila? maksudmu Samuel?" Jeffry bertanya.


"Tentu saja! aku mendengar semua kebenaran itu dari mulutnya sendiri, katanya sekretarisnya meninggal karena bunuh diri karena Louis tidak mau mengakui anak dalam kandungannya, gara-gara kamu pria itu berhasil membawa Zenia kabur, semuanya gagal gara-gara kau tidak berguna." ujar Jeffry mencengkam kerah baju Juan.


"Hahahahhaahhahaha, ternyata ayah sangat bangga dengan kebodohanmu." tuding Juan hampir tertawa.


"Kenapa kau tertawa, siapa yang kau anggap bodoh, Hah!"


"Ayah, kau bodoh dengan mudahnya di tipu dengan orang gila itu, yang ayah dengar dari mulutnya tidak sepenuhnya benar."


"Ayo, sebaiknya kita masuk kedalam mobil dan aku akan menceritakan semua fakta-faktanya."


Juan dan Jeffry masuk kedalaman mobil, Juan mulai menceritakan tentang kejadian beberapa bulan lalu saat mendapati Louis tanpa sengaja berciuman dengan sekretaris dari Sam dan jelas saja itu adalah salah satu jebakan untuk memisahkan Zenia dan Louis, Juan memceritan setiap detail bahkan kebenaran tentang Sam yang memiliki riwayat ganggu jiwa.


"Kurang aja, Sam!, aku akan menghancurkanmu" murka Jeffry merasa di tipu.


"Aku hampir saja membuat kesalahan, gara-gara dirinya, tidak tau diri sekali!" geramnya mengepalkan.


lalu Jeffry keluar dan memanggil Ken yang berdiri di luar menunggu dirinya dan Juan.


"Ken, aku minta kau hubungi seluruh anggota geng, kita akan ke perusahaan pria gila itu!" perintahnya di angguki oleh Ken.


***


Perusahaan Samuel.


Tawa menggelegar terdengar di penjuru ruangan, Sam meletakkan kedua kakinya di atas meja dan tubuhnya duduk di kursi menikmati kemenangannya dari Louis.


"Hahhaha, rupanya begitu mudah memisahkan suami istri itu, aku tinggal mencari keberadaan Zenia nanti lagipula pamannya pasti akan lebih suka denganku dari pada si Louis itu untuk mendampingi Zenia" Ujarnya penuh keyakinan.


Tok ... tok ... tok ...


"Masuk."


"Tuan, ada yang mencari anda di lobby!" ucap salah satu pegawaiinya baru masuk kedalaman ruangannya, namun terlihat tangan pegawai itu bergetar hebat.


"Siapa?" tanya Sam.


"Saya tidak tau Tuan, tapi banyak sekali sekumpulan gangster bertubuh besar dan tinggi!" ujarnya.


"Oh ...."


"Baiklah, kau pergi dan katakan kepada mereka agar menungguku."


"Baik Tuan."


"Siapa yang mencari ku?" guman Sam dalam hati tidak memikirkan hal buruk akan terjadi kepada perusahaannya sendiri karena kebohongannya.


Sam sampai di lobby, ia di kagetkan dengan kehadiran Juan dan Juga Jeffry.


"Kenapa dia masih berada di kota ini!" tanya Sam dalam hati.


"Hai paman." sambutnya dengan senyuman.


"Hai ...." singkat Jeffry.


terdengar suara teriakan dari luar membuat Sam mengerutkan kening.

__ADS_1


"Apa yang terjadi di luar?, paman aku pamit untuk melihat sebentar."


Namun belum beberapa langkah, Sam di tarik dengan paksa oleh Juan.


"Kau mau kemana?, tidak perlu melihat keluar, di sini saja." ujar Juan.


Tidak lama kemudian, sekumpulan gangster masuk menerobos pintu masuk perusahaannya membawa berbagi senjata tajam.


"Kau?"


"Hehe, Sam ... Sam, kau sudah membohongiku, hampir saja aku memisahkan keponakanku dengan suaminya gara-gara kebohongan mu itu, apa kau pikir aku bisa memaafkan perbuatan mu itu dengan mudahnya, oh tidak Kau sudah begitu berani bermain dengan orang yang salah."


"Apa yang kau katakan? Hentikan para anak buahmu itu bisa-bisa perusahaan ku hancur!" Teriak Sam.


"Biarkan saja, kau sebaiknya ikut denganku." Seketika Jeffry langsung menarik kerah baju Sam dan mengajaknya menuju ke lift, Jeffry menekan lantai paling atas.


Sam tidak berhenti mengoceh tidak jelas, akal sehat pria itu seketika hilang dan mengumpat kasar bahkan sampai meludahi wajah Jeffry,


"Beraninya kau!" Geram Jeffry mencoba menahan amarahnya yang sudah berada di ubun-ubun.


"Lepaskan aku, paman bodoh ... sialan lepaskan aku, Hahahahaahhahah, kau sangat mudah di bodohi, paman sudah tua tapi tidak berguna." sahut Sam terus menerus mengacau.


Juan hanya menghela napasnya berat, Sam benar-benar pria gila.


Tig.


Sampai di lantai paling atas, seketika Jeffry melempar tubuh Sam dengan keras.


"Kau sungguh tidak tau malu dan juga gila, Zenia tidak pernah menyukai dirimu dan hanya Louis yang pantas bersamanya!" tegas Jeffry mendekatkan wajahnya ke Juan menatap pria itu dengan tatapan sulit di tebak.


"Heh, paman ... Louis hanya seorang pembunuh dia tidak pantas dengan Zenia yang sempurna, seharusnya Zenia menikah dengan ku bukan pria pembunuh itu." tukas Sam.


"Lucu sekali, sudah sepantasnya mereka bersama dan kuharap kau tidak mengganggu rumah tangga mereka atau aku benar-benar akan menghabisi seluruh anggota keluargamu!" ancam Jeffry.


"Habisi saja, aku hanya punya satu ayah dan beberapa anggota keluarga tidak berguna, habisi saja mereka aku tidak peduli!" ujarnya semakin membuat Jeffry geram.


"Dasar anak kurang ajar!"


Jeffry lantas menghajar membabi buta Sam dan tidak memberikan celah untuk Sam untuk melawannya, Juan memperhatikan keduanya dengan raut wajah datar seolah sangat malas.


***


Keesokan harinya, berita tentang jatuhnya perusahaan Samuel di beritakan begitu heboh, Louis yang kala itu tengah menikmati secangkir kopi dengan Larenia bermain dalam jangkauan matanya tersenyum puas, akhirnya mantan temannya itu masuk penjara dan kurung selama lima belas tahun atas dasar penipuan untuk beberapa investornya.


"Sayang, kesinilah ... pria itu kini sepertinya akan bertaubat di dalam penjara!" ujar Louis memanggil Zenia yang baru saja keluar dari kamar mandi karena mual-mual tidak jelas.


"Hah.. iya kah, bagus kalau begitu bagus. dong Louis sepertinya aku hamil!"


"Hamil, tentu saja aku tau sayang, dari kemarin kau tidak percaya kepadaku!" ujar Louis menarik tubuh istrinya ke pangkuannya dan memberikan ciuman kepada istrinya tersebut.


"Aku yakin anak kedua kita pasti laki-laki, aku sudah tidak sabar menunggu kelahirannya!" ujar Louis mengelus perut datar istrinya beberapa lama.


"Hentikan, ini masih pagi ... oh iya tadi paman menelepon dan minta maaf atas kejadian kemarin!" Zenia turun dari pangkuan suaminya dan mendudukkan tubuhnya di sofa samping suaminya.


"..." Louis hanya diam, ia tidak menyahuti Zenia sama sekali, jelas pria itu marah kepada Jeffry yang hampir saja memisahkan dirinya dengan istri dan anaknya.


"Louis!"


"Jangan membahasnya lagi, aku sudah melupakan kejadian kemarin, aku sangat bahagia sayang terima kasih telah memilihku." ucapnya mengelus pipi Zenia, wajah begitu cantik membuat Louis mudah jatuh cinta secara berulang kali setiap menatap wajah istrinya itu, setiap hari, setiap saat dan setiap malam hanya ada satu wanita di hatinya.


"Sayang, kata mama Loren akan menikah beberapa bulan lagi dengan kekasihnya, apa sebaiknya kita tidak perlu datang." ujar Louis.


"Kekasihnya waktu itu, Lolly?" tanya Zenia melirik ke arah Larenia kini bermain dengan salah satu pembantu rumah tangga sekaligus pengasuh untuk putrinya.


"Iya, wanita itu Lolly, apa sebaiknya kita tidak perlu menghadiri acara pernikahan mereka, nanti kamu kan lagi hamil dan pasti saat acaranya perutmu mulai membesar!" Kata Louis, kembali mengelus perut istrinya lalu mencium perutnya tersebut.


"Apa yang kau katakan, kita satu keluarga , tentu saja kau, aku dan Larenia harus menghadiri pernikahan Loren." tukas Zenia memasang wajah datarnya.


Louis yang sudah terbiasa dengan wajah seperti itu dari sang istri langsung mencubit hidungnya hingga merah.


"Sakit kau tau!" Kesal Zenia.


"Jangan galak-galak sayang, nanti aku menerkammu di sini!" ujar Louis tersenyum lebar.


"Mau apa kau!" Zenia melotot.


"Tidak sayang aku hanya bercanda, kesinilah." ujar Louis.


"Tidak mau, aku mau bermain bersama dengan putriku saja." Zenia berdiri meninggalkan Louis yang tertawa di sofa terbahak-bahak merasa aneh dengan tingkah suaminya.


"Honey... kesinilah!" panggil Louis.


"Tidak!" tolak Zenia.


Louis semakin mengeraskan suara tertawanya lalu menyusul istrinya. Pria itu sangat lega kejadian kemarin hampir membuat hidupnya hancur berantakan jika saja Juan tidak membantunya untuk membawa istrinya kabur dari genggaman Jeffry yang ternyata terhasut oleh Sam.


Hingga akhirnya justru Sam yang hancur dan mungkin sekarang tidak akan ada lagi yang mengganggu rumah tangganya, Louis sangat bersyukur, satu lagi kebahagiaan yang ia rasakan saat istrinya kini hamil lagi mengandung anak kedua mereka.


.


.


.


Selesai. 😊


**Terimakasih kepada kawan-kawan yang setia sama Cerita ini. 😳,


Asal kalian tau Kisah Novel ini jauh dari pikiranku sebelumnya, entah kenapa Chan keseringan berubah. 😁


Terima kasih sekali lagi, ini End beneran nyah. 😳


Jangan minta kelanjutannya karena Chan kehabisan ide. πŸ˜‚.

__ADS_1


Bye All. nantikan Novel baru Chan. 😁😁. jangan Lupa Like & Komennya, dan untuk season dua 😳 Chan belum tau kapan akan di terbitkan masih kumpulin ide dulu.


BTW, Chan mau Revisi ulang beberapa Eps. yang banyak Typo.πŸšΆβ€β™€πŸšΆβ€β™€πŸšΆβ€β™€. Bye All. Love you 😘😍**


__ADS_2