
~~ Incomplete Love ~~
.
.
.
.
Rufella pergi dari sana dengan cepat ia menahan taxi yang lewat, ia segera masuk kesana sebelum Juan dan Ken menangkapnya memaksa dirinya untuk meminum pil Kb itu.
"Cih, dia berhasil kabur." umpat Juan menendang batu di tanah.
Ken dan Juan yang gagal mengejarnya berdecak kesal, jika wanita itu sampai hamil bisa kelar hidup mereka jika Jeffry tau semuanya.
"Maafkan aku Tuan Juan, ini semua terjadi gara-gara diriku." ucap Ken menundukkan kepala.
"Sudahlah, kita hanya perlu berhati-hati saja."
"Ayo kita kembali ke Markas." ajak Juan menepuk pelan pundak Ken.
Nick yang baru menyusul segera bergabung lalu berjalan menuju mobil. Ada hal yang lebih penting di bandingkan mengurus wanita yang kabur itu.
***
Rufella kembali kerumah Roni, di sana adalah tempat yang paling aman untuknya berlindung dari Juan ataupun Ken, tadi saat dalam perjalanan kemari Rufella sempat menangis diam-diam karena Ken memperlakukannya seperti itu.
Ia mencintai Ken tapi kenapa pria sama sekali tidak mau membuka hati untuknya sekali saja, padahal ia rasa tidak punya kekurangan apa-apa di dalam dirinya selain keperawanannya yang sudah lama di renggut oleh pacar saat Sma.
Roni memandang kakaknya rasanya ada yang aneh dengan raut wajah saudariya itu, Roni sangat ingin bertanya namun Rufella tampaknya tidak akan merespon perkataannya.
__ADS_1
Tapi Roni sebagai seorang saudara satu-satunya harus mengajak Rufella untuk bicara, walaupun nanti Kakaknya itu tidak merespon setidaknya harus di coba terlebih dahulu.
"Hem." Roni berdehem.
"Kakak, apa yang terjadi kepadamu? Kenapa dari tadi aku perhatikan wajahmu pucat." ucap Roni terlihat khawatir, pria tersebut menatap saudarinya dengan begitu lekat.
"Tidak, aku tidak apa-apa." sahutnya menggeleng, tatapannya kosong, Roni semakin curiga jika sesuatu telah terjadi kepada kakaknya itu.
"Oh iya Kak, dalam dua hari ini kau pergi kemana dan semalam tidur dimana?" tanya Roni mengalihkan pembicaraan.
"Kau tidak perlu tau, tolong ambikan aku air minum Roni." jawab Rufella memerintah Roni untuk mengambilkan air untuknya, ia ingin menetralisir kesedihannya.
"Kau menyuruhku?" tanya Roni menunjuk dirinya sendiri.
"Iya, tentu saja dirimu siapa lagi, ayo cepat ambilkan kasihanilah kakakmu ini Roni, sekali-kali berbakti."
"Hih, ada ada saja, baiklah. Tolong tunggu sebentar."
Rufella tersenyum begitu melihat raut wajah saudaranya itu kesal, sudah bukan hal yang biasa dirinya berdebat dengan saudara satu-satunya itu dan selalu mau menerimanya kembali, walau wanita terkesan kurang ajar kepada Roni, namun tetap saja mereka satu darah.
Seketika Rufella merasa gela, tenggorokannya yang kering terasa seger kembali. Ingatan tentang kesalahan yang di ucapkan Ken kepadanya tiba-tiba membuat air mata wanita itu menetes, Roni melihat kakaknya menangis langsung duduk di sampingnya dan bertanya.
"Kakak kenapa menangis, apa ada sesuatu yang kakak ingat tentang sesuatu hal yang membuat Kakak sedih. Ceritalah kepadaku kakak, aku akan mendengarnya." ucap Roni, mengusap air matanya Rufella.
Tangisan wanita itu semakin kencang, air matanya bahkan mengalir dengan deras Roni yang tidak tega lantas memeluk tubuh kakaknya itu dengan erat sembari menenangkannya.
***
Di Markas.
Ken dan Juan melatih anggotanya di sana, dengan tegas kedua pria itu mengajari semuanya.
__ADS_1
untuk satu kesalahan saja Ken dan Juan sudah memberikan hukuman yang kejam, pasalnya peraturan sudah seperti itul.
Satu kesalahan lima kali cambukan dan hukuman yang paling berat adalah harus mau menghadapi Juan atau Ken hingga babak belur.
Ketegasan kedua pria itu hanya bisa membuat para anggota lainnya tidak berani membuat kesalahan sekecilpun apa lagi sampai berkhianat di gengnya.
Juan sebagai mantan pembunuh bayaran bisa saja menghabisi semua orang yang dekat dengan mereka secara diam-diam dan keesokan harinya pasti akan ada berita pembunuhan entah itu dimana.
"Ken setelah ini sebaiknya kita temui Zenia dan mengakui segalanya, jika Zenia tau setidaknya hidup kita akan lebih aman jika kelak ayahku tau perihal ini." kata Juan, ia merasa agak khawatir akan kebohongannya yang kapan saja bisa terbongkar.
Ken menggeleng, karena saran Juan ini sangatlah konyol, jika Zenia dan Louis tau masalah akan semakin ruyam dan geng ini akan langsung di hancurkan oleh pria posesif itu.
"Jangan Tuan, sebaiknya kita simpan saja hingga kita mati."
"Tapi, aku sangat takut jika Rufella wanita itu mengatakan kepada Zenia jika kau bukan Gay, satu kebenaran akan membuka kebenaran lainnya Ken."
"Atau begini saja, jika wanita itu sampai hamil anakmu kita culik dia sampai melahirkan lalu kita pisahkan saja dengan anaknya dengan begitu selamanya kita akan aman." saran Juan, Nick sedari tadi mendengar setiap pembicaraan keduanya hanya menggeleng tanpa bersuara, ia sudah pasrah jika hidup yah hidup, jika mati yah mati, Nick begitu cuek ia sudah tidak memiliki tujuan hidup, ia menjalani hidup ini sebagai mana mestinya.
"Dasar dua orang gila." batin Nick, ia tidak mempercayai jalan pikiran Juan yang sangat licik.
"Bagaimana Ken, apa kau setuju? Kau bisa merawat anakmu kelak tanpa gangguan wanita itu." ucap Juan semakin terdengar gila.
Dan bodohnya lagi, Ken mengangguk menyetujui begitu saja tanpa memikirkan perasaan orang lain.
.
.
.
.
__ADS_1
.
πΆββπΆββ Bodo ahh..