
~~ Incomplete Love
.
.
.
.
Dua jam berlalu, Ken sekarang ini berada di dalam mobilnya, wajahnya yang tampan dan sempurna membuat banyak gadis seakan tergila-gila dengannya, sudah hampir tiga tahun lama ia tidak pernah pergi ke pantai untuk sekadar liburan, belakang ini pikirannya selalu terganggu akan salah satu wanita yang menjadi benalu di hidupnya.
Ken mengusap wajah merasa sangat frustrasi akan dirinya saat ini, ia bingung harus memilih antara mencintai atau di cintai, setiap ia berjumpa dengan Rufella pasti Ken merasa ada sesuatu yang aneh terjadi kepada dirinya.
"Aku sepertinya sudah gila, bagaimana mungkin aku suka kepada wanita gila itu." guman Ken seraya menatap keluar jendela mobilnya melihat beberapa orang berlalu lalang melakukan berbagai aktivitas di luar sana.
Ken menarik napas lalu menyadarkan kepalanya kebelakang, sebagian impian di masa lalu sudah tercapai mempunyai banyak uang dan tempat tinggal layak untuk dirinya sendiri, mengingat masa lalunya Ken merasa sedih jika saja ia tidak bertemu dengan Zenia pasti sampai sekarang ia akan tidur di bawa jembatan tanpa ada niatan untuk memperbaiki hidupnya.
Andai saja semua orang tau bagaimana kondisi di masa lalu, Ken menghembuskan napas semua yang terjadi di masa lalu hanya tinggal sebuah kenangan dan juga pembelajaran untuk lebih baik di masa depan.
***
Rufella duduk berdampingan dengan adiknya di sebuah sofa di ruang tamu dalam rumah mewah miliknya.
Roni sesekali melirik saudaranya itu, ada rasa kasihan ia rasakan kepada kakaknya, wajah Rufella sedari hanya menatap ke arah Tv yang lebarnya 42 inci tersebut namun sorot matanya terlihat kosong entah apa yang di pikirkan olehnya, cukup lama terdiam Rufella akhirnya bangkit dari tempat duduknya hendak menuju dapur.
"Kakak mau kemana?" tanya Roni menghentikan langkah Rufella.
"Mau ambil minum aku haus." sahutnya terdengar malas.
"Um, kalau begitu kakak buatkan aku jus alpukat, ingat tidak pake gula atau pemanis apapun." pintanya.
"Banyak maunya sekali kamu, aku bukan pembantu rumahmu, kau buat saja sendiri." balas Rufella lalu membalikan tubuhnya kembali menuju ke arah dapur.
Roni tau walau Rufella mengatakan hal seperti itu namun kakaknya itu pasti akan tetap membuatkan jus untuknya, ia hanya tersenyum menyandarkan kepalanya ke belakang sembari menunggu kakaknya.
Tidak lama berselang Rufella kembali ke ruang tamu, di tangannya terlihat ada dua gelas jus, Roni menoleh dan tersenyum senang melihat kakaknya.
"Ini minumlah, aku tetap membuatkan jus untukmu karena merasa kasihan kepadamu." ujarnya meletakkan gelas jus alpukat di atas meja hadapan Roni.
"Terima kasih kakak." ucap Roni mengambil jus alpukat kesukaan, terlihat sangat menggiurkan dirinya sungguh tidak sabar dan mulai meneguknya.
__ADS_1
"Enak sekali kakak, oh iya, mulai besok kakak harus masuk bekerja di perusahaanku. Jangan hanya menjadi pemalas aku akan memberimu posisi yang bagus dan gaji yang lumayan sebagai seorang pegawai pemula." ucap Roni lantas membuat Rufella langsung menoleh menatap tajam kearahnya.
"Apa yang kau katakan, enak saja kau menyuruhku bekerja, aku tidak mau sebagai seorang adik lelaki harus bisa membiayai kakak perempuannya, bukan malah menyuruhnya bekerja." tutur Rufella.
Roni tampak meletakkan gelas jusnya kembali, ia menatap ke arah Rufella sebuah senyuman miring terukir di wajahnya.
"Kakak yakin tidak mau bekerja di perusahaan?" tanya Roni menaikkan salah satu alisnya.
"Yakin?, tentu saja aku yakin. kenapa kau malah bertanya." ujar Rufella heran.
"Ya sudah, padahal ... Ken akan mulai bekerja di sana, Zenia sendiri tadi yang mengatakan kepadaku, tapi sepertinya kau tidak mau mengejar pria idaman kakak itu, ya sudah."
"Ken?"
"Iya kakak, Kendra ...." ujar Roni membuat Rufella mematung.
Sedetik kemudian, Rufella tersenyum senang menoleh. menatap adiknya begitu senang.
"Aku mau, Roni kakak mau." katanya begitu bersemangat memegang bahu adiknya mengguncangnya.
"Kakak mau apa?" tanya Roni sambil tertawa melihat tingkah dari saudaranya.
Roni menarik sebuah senyuman usil lalu berkata.
"Kakak tadi menolak, kenapa sekarang tiba-tiba berubah pikiran?" tanya Roni.
"Ck. Roni jangan berani mempermainkanku, kakak akan mulai bekerja besok di perusahaan sesuai keinginanmu."
"Um, kakak mau bekerja, apa karena ada Ken jadi kakak berubah pikiran?" perkataan Roni membuat Rufella hampir berdecak, tiba-tiba ia meraih jus miliknya.
"Apa?" tanya Roni mengalihkan pandangannya kepada gelas jus di tangan Rufella.
"Aku haus, kenapa menatap jus milikku."
"Oh."
Setelah meneguk jus alpukat miliknya, Rufella kembali melanjutkan perkataannya tadi, beberapa kali dirinya beradu mulut dengan adiknya hingga tidak terasa mereka tertidur di sana karena kelelahan berdebat.
***
Hari berikutnya, Rufella berpenampilan sangat rapi bahkan rambutnya yang panjang itu ia ikat agar tidak mengganggunya kelak.
__ADS_1
Roni yang memakai jas hitam lengkap dengan dasi berwarna biru melengkapi penampilannya.
"Kakak serius ingin bekerja?" tanya Roni matanya memperhatikan penampilan saudara perempuannya itu dari atas hingga bawa.
"Iya, tantu saja ... berhentilah bertanya seakan kau meragukan keseriusanku."
"Baiklah, ternyata kakak serius, kalau begitu kita sarapan pagi dulu baru berangkat."
Rufella mengangguk mengiyakan perkataan Roni, mereka sama-sama menuju meja makan, di sana sudah ada sarapan yang sudah di persiapkan oleh maid yang bekerja di rumah mewahnya.
Perbincang-bincagan ringan menemani Roni dan Rufella menghabiskan sarapan paginya, Kedua saudara itu terkadang terlihat jahat satu sama lain dan terkadang juga terlihat saling membutuhkan. Tidak heran kenapa sampai sekarang Roni maupun Rufella sangat akrab dari sebelumnya.
Setelah menghabiskan sarapan masing-masing, Rufella segera bangkit dari tempat duduknya, ia segera mengajak Roni agar berangkat secepatnya, terlihat sangat bersemangat sehingga Roni yang memperhatikannya hanya menggelengkan kepala akan semangat kakaknya itu.
"Roni ayo. cepat nanti terlambat." teriak Rufella dari luar, ia sudah berada di luar menunggu Roni.
"Iya kakak, tunggu sebentar." sahut Roni.
"Cih, aku sungguh menyesal telah berkata seperti itu kepadanya kemarin." gerutu Roni sambil memasang sepatunnya dengan buru-buru atau ia akan mendengar suara panggilan dari Kakaknya itu lagi.
"Roni cepatlah!" Panggil Rufella dengan nada suara lebih besar dari sebelumnya.
"Yang benar saja, kenapa dia yang malah mengaturku." serunya kepada dirinya sendiri, merasa sangat heran padahal dirinya adalah bos kenapa justru kakaknya yang mengatur-ngaturnya.
Roni segera keluar menemui kakaknya, ia sudah tidak tahan jika pagi-pagi harus mendengar suara cempreng kakaknya itu lagi, sungguh menyakiti gendang telinga.
"Kakak ada di mana? Bukannya tadi dia ada di sini?" Roni mengaruk kepala, saat ia tiba di luar dirinya tidak mendapati keberadaan kakaknya itu.
"Hoi ... apa yang kau lakukan di sana, kesini cepat. Ayo kita berangkat." panggil Rufella yang ternyata sudah duduk di dalam mobilnya dan entah bagaimana wanita itu bisa masuk.
"Iya Kakak, cerewet sekali." sahut Roni memutar bola matanya seakan dirinya sangat malas berada satu mobil dengan saudaranya.
.
.
.
.
π ceritanya gak bakalan panjang.
__ADS_1