
.
.
Keesokan harinya, setelah menyantap sarapan bersama\-sama, Louis dan Zenia tampak bersiap untuk meninggalkan Villa. Wajah Louis tampak lesu dan begitu muram saat berjalan menuju arah mobil semalam penuh pria itu tidak bisa tidur lelap karena putri\-nya menjadi sangat rewel tidak berhenti menangis begitu mengganggu saat dirinya hendak menutup kedua mata.
Louis mengucek mata jujur kali ini ia sangat mengantuk, mungkin rasa penasarannya tentang suara tangisan putrinya sendiri berbuah hasil penuh dengan rasa dongkol. Zenia menatap Louis dengan sebuah senyuman miring, Louis sendiri yang mencari perkara yang merugikan dirinya sendiri.
"Siapa suruh salah sendiri." guman Zenia pelan lalu masuk kedalaman mobil duduk dengan tenang dan Lareina tertidur pulas di pangkuannya.
"Huh, Hoammm, Honey aku sangat mengantuk, coba kau elus\-elus kepalaku juga." pinta Louis menghela napas lalu menguap dan mengikuti Zenia masuk yang duduk di kursi belakang.
Zenia hanya terdiam menatap ke arah pria itu tanpa ada niat melakukan permintaan dari Louis.
"Honey ... kenapa diam." panggil Louis mengangkat wajah menatap sang istri.
"Jangan manja seperti anak kecil Louis, kau itu sudah berusia tiga puluh tahun." ujar Zenia kesal.
"Honey, kenapa kau membawa\-bawa umur aku belum tua, tiga puluh tahun itu masih terhitung muda."
"Tetap saja kau sudah tua."
"Aku belum tua."
"*Ya Tuhan,pria ini sangat keras kepala." Zenia berguman dalam hati*.
"Intinya kau sudah tiga puluh tahun dan usia seperti itu aku anggap sudah tua." ucap Zenia tetap teguh.
Perdebatan itu terus terjadi sepanjang perjalanan, Zenia terus mengatakan bahwa Louis sudah tua dan tentu saja Louis tidak terima, Louis beradu mulut tidak ada yang mau mengalah hingga membuat Lareina yang tadinya tertidur lelap membuka mata sangat lebar gara\-gara kedua orangtuanya sendiri.
"*Tuan seharusnya anda yang mengalah*." batin Anton menggelengkan kepala mendengar perdebatan antara suami istri tersebut.
Anton yang membawa mobil hanya mendengarkan dan tetap fokus menyetir mobil menuju perusahaan.
««
Begitu tiba di depan perusahaan, kedua mata Louis maupun Zenia menangkap sosok pria berdiri melipat kedua tangannya dengan penampilan sangat berantakan hanya memakai kemeja putih dan celana hitam, Louis sangat yakin bahwa pria itu belum mengganti pakaiannya karena dia tau betul siapa pria yang berdiri di sana.
"Ternyata dia datang kesini, sial." ucap Louis pelan namun terdengar kesal.
"Honey sebaiknya kita pulang saja, amit\-amit bertemu dengan pria sinting itu." ucap Louis menoleh ke arah Istrinya, Zenia menyengir mengerutkan kening akan perkataan Louis.
"kenapa kau menjadi sangat bodoh, kita tidak perlu menghindari bertemu dengan Sam bagaimana pun dia akan kembali mencari kita."
"Tapi apa kau tidak lihat kondisi Sam sekarang, kacau aku yakin dia dalam keadaan yang tidak baik." ujar Louis raut wajahnya tampak khawatir.
Zenia menghela napas lalu kembali melihat kondisi Sam dengan jelas.
"Louis ada benarnya juga, tapi aku tidak suka menghindar masalah." guman Zenia sambil berpikir, tiba\-tiba Zenia menoleh kepada Louis dan membisiki\-nya sesuatu. Pria tersebut mengangguk paham akan ide cemerlang dari sang istri.
Lalu, Louis menepuk pelan bahu Anton yang juga masih berada di dalam mobil bersama dengan mereka.
"Hei Anton ...." Panggil Louis.
"Iya Tuan." sahut Anton menoleh setengah, karena sebelum bosnya itu meminta agar seperti itu saja jika Zenia berada bersama mereka.
"Kau seret pria sinting itu menjauh dari perusahaanku bagaimana pun caranya, aku tidak mau tau, yang penting kau mengusirnya jauh\-jauh."
Anton mendengar hal itu membulatkan kedua mata kaget, kenapa harus dirinya lagi yang terus saja di perintah seenaknya.
"Bagaimana? Apa kau tidak mau melaksanakan perintah ku lagi?"
__ADS_1
"Ahh ... bukan tuan, saya akan melaksanakan\-nya sekarang juga."
"Ya sudah cepatlah."
Anton dengan berat hati melaksanakan perintah dari Bos\-nya tanpa berani menolak, bahkan pria tersebut sesekali akan menelan air liur\-nya meledik takut.
~~
Sedangkan di markas Black Rose, dengan kepemimpinan di bawa tangan Jeffry semuanya semakin kuat dan sangat disiplin sudah seperti latihan tentara militer saja, semuanya harus sama persis sesuai peraturan yang di buat oleh Jeffry.
Ken dan Nick yang menjadi tangan kanan dan kiri pria itu hanya mengikuti apa pun keinginan dari Jeffry.
"Ambilkan aku air mineral." perintah Jeffry tiba\-tiba, Ken dengan sigap mengambil gelas lalu mengisinya air mineral di dalam botol.
"Silakan Tuan ...." Ken meletakkan gelas kaca itu tepat di hadapan Jeffry penuh kehati\-hatian.
"Pergilah." Jeffry mengusir Ken dan mengambil air mineral tersebut meminumnya sekali teguk. Ken menundukkan kepala lalu berpamitan keluar namun sebelum tangannya memegang gagang pintu Jeffry kembali berkata.
"Panggilkan Jeniffer agar menemuiku di sini, ada hal penting yang harus kubicarakan berdua dengannya."
Ken terdiam sesaat mengedipkan kedua matanya dengan cepat.
"*Tiba\-tiba aku lebih suka saat Ketua yang memimpin*." Batin Ken, lalu menjawab Jeffry setelahnya.
"Baik Tuan, tunggu sebentar saya akan memanggilnya." jawab Ken.
"Cepat jangan membuat ku menunggu lama." seru Jeffry penuh penekanan.
Tidak lama berselang setelah di berikan perintah, Ken mendatangi wanita sombong yang bernama Jeniffer itu di ruangannya.
Tok.. tok.. tok..
"Masuklah dasar tidak sopan." jawab Jeniffer menyahut dengan berteriak pula.
Ken membuka pintu dengan keras tidak ada rasa bersahabat di dalam raut wajah Ken sama sekali, ia menatap Jeniffer seperti seorang musuh bebuyutan.
Seketika Jeniffer mengangkat wajah dan berdiri melangkah ke arah Ken.
"Ada apa kau kesini?" tanya Jennifer ketus.
Ken rasanya ingin sekali mencekik leher wanita di hadapannya itu hingga tewas namun mengurungkan niatnya tak kala mengingat bahwa Jeffry ingin bertemu dengan Jeniffer.
"Tuan Jeffry ingin bertemu denganmu, cepat kau temui dia sebelum aku\-" Ken menghentikan perkataannya, ia tidak mau memperpanjang masalah dengan wanita di hadapannya ini.
"Aku apa?" tanya Jeniffer nyolot, Ken terdiam tidak bergeming menatap kedua mata Jeniffer dengan kening berkerut.
"Tidak jelas, sudahlah minggir dari jalanku." lanjut Jennifer lalu melewati Ken sengaja menyenggol bahu pria itu dengan kasar.
"Pergi sana, pergilah wanita kotor." dengus Ken membersihkan bahunya yang tersentuh oleh Jeniffer seperti terkena kotoran.
Jeniffer berlalu tanpa menghiraukan Ken sama sekali, wanita itu mempercepat langkah hendak menemui Ketua baru yang memimpin *Black Rose*.
Begitu sampai di dalam ruangan Jeffry, Jennifer menelan ludahnya berkali\-kali entah kenapa perasaannya menjadi sangat tidak nyaman melihat pria bertubuh tegap itu duduk di kursi menyilangkan kedua kaki ke atas meja.
"Tuan Jeffry, ada apa anda memanggil saya." ucap Jennifer.
"Hum, duduklah dulu, aku tidak suka jika seseorang wanita berbicara dengan ku dengan posisi berdiri." perintah Jeffry langsung di laksanakan oleh Jennifer.
__ADS_1
Dengan gugup Jeniffer menundukkan kepala karena Jeffry terus saja menatap ke arahnya begitu lekat.
"Ada apa Tuan?" Tanya Jeniffer memberanikan diri.
Jeffry menilai wanita yang dia yakini sudah berusia hampir 27 itu sambil tersenyum misterius.
"Jadi kau yang bernama Jeniffer, sudah berapa lama kau bekerja sebagai pengurus Geng ini?" tanya Jeffry.
"Saya Tuan?" tanya Jeniffer balik menujuk dirinya sendiri.
Jeffry mengangguk malas menjawab pertanyaan Jeniffer.
"Saya sudah empat tahun berada di sini Tuan, nona Zenia membantu saya saat dalam masalah di masa lalu dan sebagai balas budi saya mengabdikan hidup saya untuk membantu nona hingga sekarang." Jawab Jeniffer akan pertanyaan Jeffry sebelum\-nya.
"Oh, kau yakin.., apa kau tidak pernah mengkhianati\-nya diam\-diam?" Jeffry kembali bertanya dengan penuh selidik dan rasa curiga.
Jeniffer menelan air liurnya yang semakin terasa mengering, tangan wanita itu semakin bergetar takut akan tatapan dari Jeffry.
"Katakan Jangan Diam Saja!" bentak Jeffry menototkan kedua mata dan mencengkam lengan Jeniffer dengan kasar.
Jeniffer hanya menundukkan kepala takut, sepertinya semuanya sandiwara yang dia lakukan akan terbongkar sekarang, tatapan mengintimidasi dari Jeffry membuat siapa saja tidak berkutik. Ternyata rasa takut yang selama ini dirasakan oleh Nick atau Ken kepada pria ini bukan main\-main dan sekarang dirinya mengalami\-nya sendiri.
Jeniffer ingin sekali berteriak dan menangis karena lengannya begitu sakit namun semua itu ia tutupi dengan baik Jeniffer hanya menggigit bibir bawanya menahan semua itu.
"Berhenti Lah Berbohong Wanita Sialan!" teriak Jeffry dengan urat wajah terlihat jelas, lalu mencengkam dagu wanita itu lebih kasar dari sebelumnya.
"Tuan sakit." ringis Jeniffer.
"Sakit, kau pikir itu sakit, lucu sekali ... kau itu wanita yang tidak tau diri beraninya kau berbohong, Jeniffer sebelumnya kau mungkin bisa menyembunyikan semua kebohongan mu dengan baik di hadapan Zenia atau pun Nick tapi aku berbeda."
"Jujur saja jika kau sendiri ... bukan? yang pernah menyerang Zenia waktu penculikan hari di mana keponakanku hampir di bunuh oleh dua orang bodoh itu, entah apa yang kau pikirkan sehingga berbuat seperti itu, sekarang kau harus mendapat hukuman mu, bukan Zenia yang menghukum mu tapi aku sendiri, camkan itu!" Jeffry menghempaskan tubuh wanita itu hingga membentur tembok yang keras.
~~
"Hei Louis sialan, aku harus menghabisi mu, Lepaskan aku Asisten tidak berguna." teriak Sam begitu Anton menyeret paksa tubuhnya keluar dari pekarangan perusahaan\-nya Louis dan sepasang suami istri itu masuk kedalaman tanpa ada hambatan sama sekali.
Louis sebelum melangkah masuk ke dalam perusahaan tersenyum penuh kemenangan ke arah Sam dan sengaja merangkul bahu istrinya lebih erat.
"Hei pria keji, kau adalah seorang pembunuh, jangan kabur." Teriak Sam kembali kehilangan akal sehatnya berusaha melepaskan diri dari Anton yang masih saja menyeretnya hingga sampai di luar.
"Apa yang kau lakukan!" bentak Sam.
"Tuan Sam saya dengan segala kehormatan, sebaiknya anda jangan menemui Tuan Louis dan Nona Zenia untuk sementara waktu ini, saya mohon anda pergi dari sini!" Ucap Anton setelah berhasil membawa Sam keluar dari pekarangan perusahaan.
Dengan tampang marah, Sam mengatatkan rahangnya menahan amarah tangannya terkepal, napasnya memburu,pria itu menarik napas lalu berkata.
"Kau katakan kepada Tuan mu itu bahwa aku sendiri yang akan merebut istrinya bagaimanapun juga, pria keji seperti dia tidak berhak bersanding dengan wanita sebaik itu." ucap Sam menujuk wajah Anton sebelum pergi dari sana.
Anton menghela napasnya lega, akhirnya Sam pergi bisa pergi juga, pria itu lantas kembali masuk ke perusahaan untuk menemui Bosnya yang sangat licik itu, Anton bergerutu di setiap langkah yang dia ambil sungguh menyebalkan seluruh tubuhnya terasa letih terus saja di manfaatkan oleh Louis.
.
.
.
.
.
Bersambung..
**Maaf yah.. Eps ini hanya 1600 kata saja.. Chan lagi galau gara\-gara berita idola tercinta buat patah hati.π€§π€§π€§**
**Besok Eps spesial lagi. kemungkinan lebih panjang lagi hampir Ending**.
__ADS_1
\*\****Salam dari Chan***\*\*\*