
.
.
Louis tertawa diam\-diam di dalam kantor, ia begitu jelas bisa mengingat raut wajah dari Sam saat di seret paksa keluar oleh Anton. Pria itu duduk tenang di atas kursi kerja sedikit menyembunyikan wajah dari sang Istri yang terus saja mengawasinya.
"*Siapa dirimu berani melawan Louis.. hahaha Sam kau sungguh bodoh" Gumannya dalam hati*.
Louis sekilas mengalihkan pikirannya untuk tidak memikirkan Sahabat sialan\-nya itu, ia meraih kertas dokumen keuangan perusahaan dan melihat angka\-angka setiap pengeluaran di sana, raut wajah pria itu awalnya berkerut namun setelah selesai melihat semua sebuah senyuman terbesit di wajah tampan\-nya.
"Ternyata kalau dia sedang serius bekerja ganteng juga" Zenia berucap pelan dan terus menatap ke arah suaminya yang tampak serius, ia bahkan sangat setuju dengan matanya melihat bahwa Louis semakin tampan.
Saat pria itu mengangkat wajah membalas tatapannya, Zenia langsung memalingkan wajah lalu berdecih kesal.
"Cihh sial"
"Honey, Aku tau kau kagum dengan ketampanan suamimu ini, liat saja aku tidak bakalan marah" Ucap Louis sambil tersenyum manis.
"Percaya diri sekali kau, siapa juga yang kagum, aku hanya berpikir kau lebih baik bekerja serius saja dari pada tinggal dirumah malas\-malasan" Zenia mengelek.
Louis malah tersenyum seakan tidak menghiraukan perkataan istrinya sama sekali, tatapan Louis semakin lama berubah menjadi aneh membuat Zenia mengerutkan kening dan mengerti.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Zenia.
"Umm, tidak ada Honey, lebih baik kau tidurlah di kamar nanti aku menyusul kalian berdua kalau pekerjaan ku selesai"
"Aku tidak lelah maupun mengantuk, kau bekerja saja dan jauhkan pikiran kotor mu itu".
"Kenapa memang, kau istriku jadi tidak masalah Honey" Ujar Louis mengedipkan satu mata terlihat genit di mata Zenia.
Mendengar dan melihat itu Zenia lantas berdiri dan menggendong anaknya hendak keluar dari ruangan itu.
"Kau mau kemana, di sini saja" Tanya Louis seketika berdiri.
"mau pergi, bisa\-bisa aku di terkam oleh mu, jadi mendingan aku pergi berjalan\-jalan dengan lareina" Zenia menjawab tanpa berbalik dan tetap melangkah menuju pintu.
Pintu ruangan itu langsung terbuka bahkan sebelum Zenia memegang gagang pintu, ia dan suaminya membulatkan kedua mata kaget akan kehadiran orang yang dari kemarin berusaha untuk di hubungi.
"Paman ngapain kesini..?" tanya Zenia kepada pamannya yang tidak lain adalah Jeffry.
"Kemarikan Cucu mungilku"
Jeffry langsung mengambil Lareina tanpa aba\-aba dengan rela Zenia membiarkan pamannya untuk menggendong anaknya.
"Ayo masuk, ada yang harus kau ketahui tentang seseorang yang sangat kau percayai" Ajak Jeffry.
"siapa paman.?" tanya Zenia tidak bergerak saat Jeffry menarik tangannya.
"Kita duduk dulu, nanti paman katakan"
"okay"
Zenia mengikuti pamannya dan duduk di sofa ruangan itu tidak lupa mengajak Louis sekalian.
"Apa yang sebenarnya tujuan paman datang menemui ku, padahal dari kemarin aku mencoba menghubungi mu tapi paman tidak mengangkatnya" ucap Zenia.
Jeffry menghela napas menatap sepasang suami istri tersebut secara bergantian lalu mencium kedua pipi bayi kecil itu sejenak.
"bayi kecil, kau tenang dulu yahh.." bisik Jeffry kepada Lareina, bayi mungil itu mengedip\-gedipkan kedua mata seolah mengerti perkataan dari Jeffry.
"Paman aku bertanya kenapa tidak kau jawab" Ucap Zenia mulai kesal.
"Humm, tunggu sebentar" sahut Jeffry lalu memperbaiki duduknya lebih rapi.
__ADS_1
"Paman!!"
"Berani sekali kamu berteriak kepadaku" Ujar Jeffry dengan tatapan usilnya.
"Berhentilah main\-main paman dan katakan niatmu datang kesini" Zenia menyengirkan kening.
"Hah.. baiklah, jadi kau dengarkan ini baik\-baik"
"Iya aku mendengar"
"kalau kau Louis..?" tanya Jeffry karena Louis hanya diam saja.
"Iya paman, aku juga akan mendengarnya"
Jeffry mengangguk lalu mulai mengatakan semua rahasia yang selama ini di sembunyikan di markas *Black Rose*, mulai dari pengkhianatan Jennifer salah satu anggota kepercayaan Zenia untuk mengurus segala pengeluaran untuk pembelian senjata illegal, belum cukup dengan itu Jeffry kembali memberitahukan rahasia tersembunyi lainnya yaitu rencana pemberontakan dari beberapa anggota Geng untuk menghancurkan *Black Rose*.
Saat mengetahui semua itu Zenia tertegun tidak bisa berkata apa\-apa, sejenak wanita itu memejamkan mata mencoba menerima semua kenyataan dan kebenaran itu.
"Kau tidak apa\-apa Honey..?" Tanya Louis khawatir dengan Zenia yang hanya terdiam menatap kosong lalu memejamkan mata dan di lakukan secara berkali\-kali.
Zenia menggeleng..
"Paman di mana Wanita itu sekarang..?" Tanya Zenia.
"Paman sudah kurung wanita itu di dalam ruang yang tentu saja kau tau Zen" jawab Jeffry santai.
"Oh..!, maksudmu di ruangan penyiksaan..?" Tanya Zenia langsung menebak dan Jeffry menyiakan.
"Aku akan kesana sekarang juga" Seru Zenia tiba\-tiba berdiri dengan wajah merah menyala.
"Honey aku ikut" Louis menahan tangan Zenia saat wanita itu hendak mengambil langkah.
Zenia menarik napas sekarang ini bukan waktunya dia di ganggu.
Louis terdiam saat istrinya berkata seperti itu, di sini ada si Jeffry orang yang paling mustahil untuk ia lawan.
"Paman apa Ken dan Nick ikut kesini..?" Tanya Zenia sebelum membuka pintu.
"Ada. kau pergi lah dan selesaikan semua nya paman akan menjaga Lareina di sini saja bersama Louis, dan satu lagi Jeniffer sudah menjadi mayat" Ujar Jeffry seketika membuat Zenia kembali dalam keterkejutan.
"Maayaat..?"
"Iya, Jennifer sudah tewas karena aku tidak sengaja membunuh\-nya" Jawab Jeffry begitu sangat santai.
Zenia menatap Jeffry seolah tidak mempercayai perkataan yang barusan.
"Kalau pemberontak yang lainnya..?" Tanya\-nya kembali.
"Kau pergilah Zenia, paman belum tau siapa para pemberontak itu yang pastinya ada lima anggota"
~~ \*\*\* ~~
Zenia kini berada di markas Black Rose, semua anggota di sana di kumpulka tanpa terkecuali, Wanita cantik itu sudah mengganti pakaian menjadi serba hitam layaknya seorang mafia penuh dengan pesona bagi siapapun yang melihat\-nya.
Satu pun dari mereka tidak ada yang berani bersuara tatapan mengintimidasi dari ketuanya membuat bulu kuduk berdiri, bahkan Ken dan Nick yang juga ikut berkumpul di sana tidak luput dari rasa takut.
"KALIAN SEMUA SUDAH BERANI MAU MEMBERONTAK, APA KALIAN PIKIR BISA MELAWANKU!!"
Suara membentak dari Zenia membuat semua anggota spontan menundukkan kepala kebawa.
"Bagi siapapun yang berniat maupun berencana untuk memberontak silakan keluar dan tinggalkan markas ini, aku bisa saja membakar kalian hidup\-hidup sekarang tapi aku tidak mau dan lebih baik memberi kalian kesempatan untuk pergi dengan tenang" ujarnya meletakkan kedua tangan di atas pinggang menahan emosi.
"Kenapa kalian diam, pergi sekarang juga!!"
__ADS_1
"..."
tidak ada yang menyahut maupun bergerak dari tempatnya semakin membuat Zenia semakin geram dan sangat kesal.
"Pergi!! sebelum aku menemukan para pemberontak di antara kalian, aku sudah berbaik hati memberi kalian kesempatan yang bagus" Kata Zenia sambil tersenyum miring.
Tampak ada lima orang anggota pria saling melirik satu sama lain dan mengisyaratkan secara satu sama lain tanpa di ketahui oleh Zenia salah satu dari mereka membawa pisau yang di sembunyikan di lengan bajunya.
Zenia memicingkan mata melihat jelas bagaimana wajah kelima pria itu
"Ketua.." Ucap salah satu dari mereka mengalihkan pandangan Zenia ke arahnya sedangkan orang yang membawa pisau perlahan
"Heh.., jadi kalian\-" sebelum melanjutkan ucapannya tiba\-tiba sebuah tusukan dari arah lain mengenai tepat bagian perutnya.
"Kami minta maaf Ketua" Ucap salah satu dari mereka tersenyum sinis menatap Sang ketua berhasil di lukai.
"Ahhhrr.., kalian..be..nar. be..nar.."
Zenia terbatah\-batah memegang perutnya yang mengeluarkan darah akibat tusukan itu.
"Ketuaaa!!"
"Zenn!!"
Ken, Nick dan anggota di sana berteriak dan melebarkan kedua mata melihat sang ketua terluka.
\*DASAR BAJIN\*GAN TIDAK TAU MALU KALIAN" Teriak Nick marah besar mendorong semua tubuh pemberontak tersebut sedangakan Ken membatu Zenia untuk berdiri dari posisinya berlutut sambil memegang perut.
"Uhkkk, aku tidak selemah itu" Ujar Zenia berdiri dan minta Ken menyingkir, ia akan tetap bertahan dan berdiri tegak tidak peduli dengan darah yang di perutnya mengalir.
Ia maju dan menghajar lima orang sekaligus tanpa mau di ganggu oleh siapapun termasuk Ken dan Nick yang hendak ingin membantunya.
"Kalian kurang ajar, tidak tau diuntung"
Zenia berkata sejenak lalu kembali menghajar lima orang sekaligus tanpa menggunakan senjata apapun hanya tangan kosong.
Nick ingin sekali menggantikan Zenia sekarang karena melihat wanita itu semakin pucat dan banyak kehilangan darah.
"Ken kita harus bagaimana, kalau Zenia sampai pingsan kita akan di bunuh oleh paman dan suaminya" Bisik Nick kepala Ken.
"Kau tenang saja, Nick Nona Zenia menyandang gelar ketua bukan hanya sebuah gelar saja tapi.."
"Sebaiknya kau lihatlah sendiri".
Ken membuat sebuah senyuman saat melihat Ketuanya mulai bersemangat menghajar para pemberontak yang sebelumnya adalah teman\-temannya dan kini sudah menjadi musuh untuk semua.
Semua jurus bela diri yang hampir di kuasai semua oleh Zenia menjadi sebuah keuntungan bagi dirinya, walaupun sedikit kewalahan Zenia lebih cenderung memakai jurus memutar badan dan menyerang saat lawan lengah.
"Humm kalian payah sekali, Cihh.." Zenia menginjak perut salah satu pemberontak itu terbaring di lantai kini tidak berdaya..
"NICK!, KEN, kalian berdua masukkan kelima pemberontak ini kedalam kandang buaya, kesayangan ku itu sepertinya sudah lama tidak memakan daging manusia". perintahnya lalu mengatur napas.
Ken dan Nick langsung melaksanakan perintah dari ketuanya tanpa di minta lagi, Zenia kembali berdiri tegak memposisikan kedua tangan di atas pinggang, rasa sakit di perutnya sangat perih tapi Zenia mengabaikannya.
"Sialaan aku sampai terluka begini" umpat Zenia.
"Aku harap tidak ada lagi yang seperti ini kedepannya. ini yang terakhir kelak di masa depan jika ada yang berani lagi aku akan langsung membakar tempat ini tanpa kalian ketahui"
"Baik Ketua"
.
.
.
.
.
Bersambung..
**Dua Eps lagi Lalu End. π€§**π
__ADS_1
Chan terlambat Up yahh.. Sorry All. πππ