
Zenia dan Louis kini telah berada di ruangan kantor milik Zenia, mereka duduk saling berhadapan di sofa.
Louis, kedua mata pria itu terus menatap wajah wanita di hadapannya itu bahkan senyuman di wajah tampannya tidak pernah luntur, ia merasa sangat bahagia bisa berduaan dalam satu ruangan dengan wanita pujaan hatinya, sampai Louis tidak sadar bahwa dari tadi Zenia sudah mengajaknya berbicara.
"Tuan Louis apa yang ingin Anda sampaikan kepada ku?" tanya Zenia dengan sopan namun Louis tidak merespon perkataanya.
Louis masih berada dalam lamunannya, ia bahkan sudah membayangkan jika kelak Zenia menjadi istrinya dan bermesraan dengannya di setiap ada waktu.
"Tuan Louis Xavier Alexander yang terhormat!" ucap Zenia kini mulai kesal namun ia tetap mempertahankan wajah sopannya, Louis terus tersenyum kearahnya tidak jelas.
"Ada apa dengan orang ini?" dalam hati Zenia.
"Hei Tuan!" ucap Zenia sekali lagi.
"Iya ... ada apa sayang .... " sahut Louis yang baru tersadar secara spontan mengucapkan kata sayang.
"Sayang? siapa yang Anda maksud Tuan Louis?" ucap Zenia sedikit menyengirkan keningnya.
"Maaf Nona Zenia ... oh iya saya ingin mengajukan tawaran bagus kepada perusahaan anda Nona," ucap Louis mengalihkan pembicaraan mereka.
"Tawaran apa? bukannya Anda sudah membicarakan itu dengan kakekku kemarin," kata Zenia mengerutkan kening semakin kesal.
"Astaga kenapa aku bisa melupakannya," Louis beralasan, pura-pura lupa saja ia hanya ingin berduaan dengan Zenia tanpa ada yang mengganggunya.
Zenia tersenyum dan menatap horor kepada Louis yang sudah mulai bermain dengannya saat ini.
Zenia bisa membaca kebohongan yang berada di wajah Louis, kini saatnya dirinya bergerak bermain dengan pria yang sudah sangat membuatnya jengkel bukan main.
"Tuan Louis sepertinya anda ingin bermain denganku saat ini," ucapnya sambil menunjukkan sisi dirinya yang lain.
"Tentu saja Nona, saya mau bermain dengan nona, permainan seperti saling mencium atau permainan yang lain? nona mau apa pilih saja?" ucap Louis santai.
Louis bukannya kaget ia malah tersenyum karena Ia sudah mengetahui kebenaran tentang Zenia beberapa jam yang lalu dari Nick yang juga sahabatnya dari kecil.
"Tolong jaga ucapan Anda Tuan Louis, jangan kurang ajar," Zenia kaget sekaligus marah, bisa-bisanya pria ini mengucapkan hal kurang ajar kepadanya.
"Nona saya tidak kurang ajar kok, jika nona mau menikah dengan saya, saya jamin nona akan bahagia."
__ADS_1
"Apa? jangan bicara sembarangan kau!"
Zenia sudah kehabisan rasa sabar, ia hendak menyerang Louis namun pria itu menahannya lebih kuat.
"Nona tidak kau tidak perlu menyerangku kita ini mempunyai satu tujuan yang sama," ucap Louis tenang.
Zenia menghentikan tangannya yang sudah gatal ingin memukul wajah pria menyebalkan di hadapannya.
"Apa maksudmu sebenarnya dan apa maumu?" tanya Zenia heran dengan ucapan dari Louis, pria itu hanya terdiam senyumannya semakin lebar tiba-tiba ia berdiri menghampiri Zenia. Zenia yang tidak mengerti mengedipkan kedua matanya dan hal itu justru semakin membuat Louis begitu gemas melihatnya.
"Sayang aku hanya mau kau menjadi milikku, ah bukan itu maksudku, sebentar lagi kau akan menjadi milikku dan bisa aku pastikan itu, jadi kau tunggu saja, kau dan aku itu sudah di takdirkan berjodoh." bisiknya tepat di daun telinga Zenia, Louis menyelipkan rambut Zenia kebelakang telinga.
Tanpa aba-aba Louis sudah mencium bibir merah Zenia yang begitu mengoda di matanya, bahkan semakin lama ciuman Louis semakin panas, Zenia yang awalnya kaget dan meronta melawan kini ikut terhanyut dalam ciuman panas dari pria yang ia sebut kurang ajar itu.
Louis merebahkan tubuh Zenia di sofa tempat mereka duduk tadi tanpa melepaskan ciumannya dan semakin memperdalam ciuman mereka tanpa sadar Zenia mendesah, karena ciuman Louis berpindah ke lehernya.
Tangan pria itu mulai nakal meraba tubuh Zenia dan perlahan membuka kancing bajunya, hingga kesadaran dari wanita itu kembali, ia langsung mendorong tubuh Louis yang berada di atasnya.
Plak!
Suara tamparan di layangkan Zenia untuk Louis.
"Kau manis sekali sayang, ah hampir saja kau menjadi milikku," kata Louis malah semakin membuat marah Zenia.
"Kau apa yang mau kau lakukan kepadaku? lancang sekali!" bentak Zenia menunjuk wajah Louis kekesalannya sudah tidak terbendung, namun ia mencoba menahan sekuat tenaga karena tidak mau mempermalukan dirinya.
"Menjadikanmu milikku selamanya,"
"Jangan gila!"
"Aku mencintaimu nona Zenia," Louis berjalan mendekat mendekati Zenia, wanita itu di buat tidak berdaya dengan tatapan seram dari Louis.
"Ken! Ken! kau dimana?" teriak Zenia.
"Kau tidak perlu memanggil nama pria lain sayang, panggil namaku saja, Louis ... Louis ... Louis!"
"Ken masuk ke sini cepat!" panggilnya, entah kenapa Semua merasa takut kepada Louis, pria ini menakutkan.
__ADS_1
Ken yang tadinya berada di luar langsung membuka pintu dan masuk kedalam mendengar panggilan dari Zenia dengan jantung berdebar kencang entah masalah apa yang akan dia hadapi lagi.
"Ada apa Nona?" tanyannya sedikit takut.
"Usir pria kurang ajar ini dari ruangan ku sekarang juga, sebelum aku membunuhnya, aku tidak tahan ingin menghabisinya," perintah Zenia marah dengan menunjuk ke arah Louis yang tersenyum kepadanya.
"Tuan silahkan keluar Nona Zenia sedang dalam mood yang tidak baik," kata Ken sopan sambil mengajak Louis keluar dari ruangan.
"Tidak perlu mengantarku, aku akan keluar sendiri." ucap Louis kepada Ken.
Sebelum keluar dari sana Louis terlebih dahulu menoleh ke arah Zenia sambil tersenyum nakal.
"Sampai jumpa sayang, bibirmu sangat manis, kita akan bertemu lagi," ucap nya sebelum keluar dari sana, Louis tidak lupa memberikan kiss jauh dan satu kedipan mata kepada Zenia.
"Ya Tuhan apa yang telah terjadi apa tuan itu, apa yang dia lakukan kepada Nona Zenia," kata Ken dalam hatinya.
Zenia memalingkan wajahnya ciuman pertama di curi oleh orang yang tidak layak untuknya, bahkan sekarang ia sangat membenci Louis yang tidak memiliki rasa malu sama sekali.
"Nona Ada apa memanggil saya?" tanya Ken begitu tanda-tanda keberadaan Louis sudah tidak ada.
"Ambilkan aku tisu basa dan air steril, sepertinya bibirmu aku ternodai dan cari cara agar menghilangkan bekas di leher ku ini."
"Baik Nona sesuai perintah Anda, ada lagi yang lain?"
"Tidak ada, cukup itu saja."
"Rasanya aku ingin menghabisi saja nyawa pria kurang ajar itu." lanjut Zenia duduk ke kursi kebesarannya.
"Semoga saja aku tidak bertemu dengannya lagi,"
Ken hampir di buat syok dengan suara panggil Zenia tadi, baru kali ini sang Ketua terlihat ketakutan kepada seseorang.
.
.
.
__ADS_1
.
...πOh Man....