
~~ Incomplete Love ~~
.
.
.
.
πΆββ"Ketidak sempurnaan bisa saja di tutupi begitu baik, tapi bagaimana jika kelak hal kita tutupi itu justru bisa membuat petaka."πΆββ
βͺοΈβͺοΈβͺοΈ
Sebulan berlalu, Ken dan Juan selalu mengintai pergerakan Rufella kemana pun, kedua pria itu selalu kompak bahkan jalan pemikiran keduanya hampir sama.
Terlihat jika Rufella kini menaiki salah satu mobil dari halaman rumah mewahnya dan segera melajukan mobil tersebut pergi dari sana dan Ken segera mengikutinya.
Agar tidak di curigai, Juan setiap saat menganti-ganti mobil, tabungannya ternyata masih banyak dan masalah kartu debit yang di tahan oleh Ayahnya sama sekali tidak berpengaruh lagi karena Juan hampir lupa jika ia bisa mendapat pemasukan dari banyak usahanya selama ini.
Tidak lama setelah itu mobil Rufella terlihat masuk kesebuah hotel mewah, tentu saja kedua pria itu sudah tau kembali Juan menghela napas ia mengira jika wanita itu akan ke klinik dokter kandungan namun dugaannya salah.
"Huh, percuma saja kita mengikutinya setiap hari, wanita itu selalu ke hotel ini." ucap Juan menoleh ke arah Ken.
"Iya Tuan." sahut Ken menggangguki perkataan Juan, sesaat saling beradu pandang sebelum Ken menoleh kejendela memperhatikan Rufella perlahan masuk kedalaman Hotel mewah tersebut.
"Sepertinya dia tidak hamil Ken, syukurlah." kata Juan.
"Iya Tuan, syukurlah kita akan aman, aku sungguh menyesal telah meniduriya waktu itu, entah kenapa aku bisa khilaf dan lepas kendali saat itu."
__ADS_1
"Gara-gara aku setiap hari kita mengawasi wanita itu hingga berjam-jam hanya untuk sekadar memantaunya."
Ken mengusap wajah merasa bersalah kepada Juan, karena kesalahannya mereka berdua sampai repot seperti ini.
"Sudahlah berhenti menyalahkan dirimu sendiri, kau sepenuhnya tidak salah, Ken ingat keadaanlah yang salah dan kau tidak perlu merasa bersalah terus menerus lagi pula wanita itu tidak hamil, sudah lupakan saja." tutur Juan kepada temannya itu, yah sekarang mereka berdua sudah berteman dan mendukung satu sama lain, Sedangkan Nick hanya mengikuti alur permainan dari kedua pria yang penuh dengan rencana tersebut.
"Ayo kembali dan kita temui Nick, sekarang dia pasti sudah sangat sibuk apa lagi club besar kemarin mendapat masalah akibat ada yang berkelahi di sana." ajak Juan.
"Iya Tuan, ayo kita kembali." ucap Ken menyalakan lagi mesin mobilnya hendak meninggalkan Hotel tersebut.
***
Tanpa kedua pria itu sadari Rufella diam-diam mengintai melalui CCTV yang ia sudah pasang sebelumnya tepat di tempat mobil Ken tadi terparkir, sebulan belakang ini ia di ikuti dan Rufella tau semua itu, ia tidak lagi bekerja di perusahaan Roni dan memilih menjalankan bisnis perhotelannya sekarang demi masa depannya kelak.
Rufella bersedekap dada melihat layar monitor, wanita itu belum bisa melupakan hari dimana ia tidur bersama dengan Ken. Perlakuan lembut dan manis pria itu masih teringat jelas di ingatannya, bercumbu dengan Ken merupakan salah satu impiannya yang sudah terwujud walau hanya sekali.
"Nona, apa Anda tidak mau memeriksakan kandungan Anda, ini sudah hampir masuk tiga minggu Nona alangkah baiknya jika Nona kedokteran kandungan." ucap salah seorang wanita yang berdiri tepat di samping Rufella yang berpakaian layaknya adalah wanita modern.
"Aku sangat ingin melihatnya, tapi aku tidak mau ke dokter kandungan, sebaiknya aku merahasiakan kehamilanku ini sampai bulan ketiga." ucap Wanita itu, sisi ke ibuanbya sudah terlihat, sikap dewasa dan tidak kekanak-kanakan lagi, Rufella berubah total semenjak hari itu.
"Baiklah Nona, mari saya antar Anda ke meja, tidak baik bagi wanita hamil untuk kelalahan." ajak sekretaris tersebut.
Rufella mengangguk lalu berjalan pergi dari sana, sekarang ia tidak boleh egois jika Ken tidak mau bersamanya maka anaknya ini akan menjadi teman Rufella kelak untuk menghabiskan sisa waktu di dunia.
"Kakak ...." panggil Roni mendekati saudarinya, ia datang ke hotel ini untuk sekadar memastikan keadaan Rufella dan juga bagaimana hotel ini beroperasi.
"Hmm, Roni sejak kapan kau ada di sini, kenapa tidak mengabari kakak." sambut Rufella memeluk adiknya.
"Kakak lepasin ih, jangan peluk aku di tempat umum."
__ADS_1
"Baiklah, ayo duduk."
"Donita tolong siapkan dua gelas jus pisang susu, untukku dan juga adikku ini." perintahnya kepada sekretarisnya, Roni sejenak beradu pandang dengan Donita entah kenapa ia merasa tertarik oleh perempuan itu.
"Donita!" tegur Rufella.
"Iya Nona segera di siapkan, tolong tunggu sebentar." kata Donita, ia melepaskan tatapannya terlebih dahulu dan menoleh kearah Bosnya itu.
Rufella mengajak saudaranya untuk berbincang-bincang mengenai Hotel, Roni tersenyum sendiri ia sangat bangga akan Rufella yang benar-benar telah beruban banyak, bahkan hotel sebesar ini ia tangani dengan caranya sendiri yang cerdas.
Tidak lama, Donita membawa dua gelas jus pisang susu pesanan Rufella lalu berdiri di samping wanita itu kembali. Roni hanya menyinggungkan senyum walau merasa tertarik Roni bisa tau jika dirinya hanya tertarik saja dan tidak menyukai wanita itu.
"Enak sekali jus buatanmu." ujar Roni memuji. Donita hanya tersenyum simpul mengangguk pelan.
"Kakak setelah ini aku mau kau agar mau menemaniku ke pesta anggur bersama dengan teman-tamanku. Kakak mau kan?" tanya Roni dengan meminta agar kakaknya itu mau menerima ajakannya.
Setau pria itu kakaknya itu paling suka pesta seperti ini.
"Baiklah, tapi aku harus menyelesaikan beberapa pekerjaan terlebih dahulu kau bisa menunggu selama setengah jam kan."
"Iya bisa."
.
.
.
.
__ADS_1
πΆββπΆββ last Ending.