
Seminggu berlalu, Louis selalu menyempatkan diri untuk sekedar melihat wanita cantik yang selalu mengganggu pikirannya, walau ia hanya bisa memantau Zenia dari jauh, melalui CCTV yang sengaja ia pasang di ruangan Zenian tanpa di ketahui oleh siapapun.
"Tuan Louis!" ucap Anton membuat Louis memalingkan pandangannya dari Komputer.
"Ada apa bodoh! Mengganggu saja kerjamu," sahut Louis dengan wajah kesal, ia hanya menoleh sekilas lalu kembali menatap komputer miliknya yang menampakkan aktivitas wanita incarannya.
"Akhir-akhir ini tuan sering memanggilku sebutan bodoh, apa dia sendiri tidak sadar jika ia bodoh, karena terobesesi kepada nona Zenia," guman Anton dalam hati.
Anton menghela napas dan segera menyampaikan maksudnya.
"Tuan, persiapan untuk melamar nona Zenia sepenuhnya sudah siap," ujar Anton membuat Louis langsung berdiri dari tempat duduknya.
"Jadi semua persiapan sudah selesai?"
"Sudah Tuan."
"Kalau begitu kita berangkat sekarang, jangan buang-buang waktu dan hubungi Tuan Zein agar bisa menyambut kedatangan kita," kata Louis berdiri dari tempat duduknya Ia sudah tidak sabar untuk mendapatkan Zenia seutuhnya.
"Tapi Tuan Bukannya Nona Zenia belum pulang dari tempat kerjanya, apa Anda ingin melamarnya tanpa persetujuan dari Nona Zenia terlebih dahulu," sela Anton cepat Karena Tuannya ini benar-benar tidak sabaran.
"Jangan banyak bicara kau Anton atau kau mau ku pecat, kau ini bodoh atau apa sih?"
"Tuan," seru Anton menatap Louis, belakang sering kali Louis mengatakan jika ia bodoh.
"Kenapa lagi kau? sakit?"
"Tidak apa-apa Tuan, tapi setidaknya Anda harus memberitaukan kepada Nona Zenia, kalau Anda ingin melamarnya," ucap Anton lagi, Louis yang mudah marah langsung melempar tatapan menusuk pada asistennya itu.
"Kalau aku mengatakannya kepada calon istriku pasti dia bakal sembunyi, bodoh sekali kau ini, di mana kau letakkan otak udangmu itu, makin hari makin goblok," Kata Louis segera sebelum itu ia terlebih dahulu mematikan komputernya, ia meninggalkan Anton sendirian di dalam itu yang masih belum selesai dengan perkataannya.
"Tuan selalu saja, sekarang perkataannya makin pedas, aku harap nona Zenia tidak menolak lamaran Tuan, bisa-bisa aku di maki-maki olehnya," gerutu Anton menggelengkan kepala, ia pun segera menyusul Louis menuju mobil dengan berlari bisa-bisa Ia di pecat jika tidak mengikuti keinginan dari Bosnya.
***
Sedangkan tempat kerja Zenia. Saat wanita itu menyantap makan siang tiba-tiba teleponnya berbunyi, segera Zenia meraih ponsel miliknya tepat di samping piring makan siangnya, ia pun mengeser ikon hijau dan mengangkatnya. Ketika melihat nama sang kakek yang menelepon.
"Halo kakek ada apa? Tumben kakek meneleponku jam-jam begini?" tanya Zenia mengangkat telepon sambil mengunyah makanan.
"Zen ... nak, Kakek minta agar kau agar datang kerumah sekarang juga ada tamu penting yang akan datang dan ingin menemuimu," ucap kekek Zein.
"Siapa kakek? tamu penting dari mana? suruh saja kekantor atau aku yang mendatangi perusahaannya," ujar Zenia dengan meletakkan sendok makannya.
__ADS_1
"Kau datang saja dan berpakaian dengan rapi, ah pakai gaun yang cantik juga, kakek akan menunggu kedatanganmu, cepat lah datang."
"Baiklah Kek."
"Kalau begitu kekek tutup telepon nya dulu."
Zenia berpikir sesaat karena tumben sekali kakeknya itu menyuruhnya datang ke rumahnya dan berpakaian rapi, apa lagi harus menggunakan gaun.
"Baik kakek 20 menit lagi aku sampai di rumah."
Setelah mendapat telepon dari kakeknya Zenia menyuruh Ken untuk mengosongkan jadwalnya hari ini dan segera pergi ke kediaman keluarganya. Namun terlebih dahulu Zenia mampir ke toko baju untuk membeli gaun sesuai perintah kakeknya.
Di dalam perjalanan Zenia berpikir siapa orang penting yang ingin menemuinya, rasanya aneh karena setaunya jika tamu penting seperti klien, Zenia tidak harus memakai gaun. Tapi kenapa kali ini dirinya harus pakai gaun segala.
"Entah siapa orang yang ingin menemuiku di rumah kekak? " guman Zenia yang dapat di dengar oleh Ken yang sedang menyetir.
"Saya tidak tau nona, mungkin saja orang yang sangat penting," ucap Ken.
"Mungkin saja." sahut Zenia.
"Nona apa Anda ingin mampir ke salon?"
"Ah baiklah."
"..." hening baik Zenia maupun Ken tidak melanjutkan percakapan mereka.
Tidak lama kemudian mereka sampai di kediaman keluarga besar Zein yang sudah di penuhi oleh tamu yang datang. Dan beberapa mobil berjejeran di halaman rumah yang luas itu.
"Kenapa ada banyak mobil di sini? Apa yang datang adalah Presiden?"
"Bisa jadi Nona," balas Ken setuju.
Zenia melangkah masuk kedalam rumah kakeknya melihat orang-orang yang sama sekali tidak di kenalnya, ia menyengir bingung dengan situasi sekarang. begitu banyak orang yang memuhi ruang tamu termasuk kedua orangtuanya dan juga beberapa kerabat lainnya.
"Ken, kau tau apa yang sedang terjadi kenapa banyak sekali orang?" tanya Zenia kepada Ken yang berada di belakangnya.
"Saya tidak tau Nona? tapi Nona lihatlah orang yang disana itu yang duduk di samping Tuan Zein, sepertinya itu Tuan Louis," ucap Ken melihat Louis yang sudah duduk bersama dengan kakek Zein.
"Si sialan itu lagi, kenapa dia ke sini?"
Zenia menatap wajah Louis dengan tatapan tajam kebencian begitu terlihat di wajah cantiknya ingatan tentang perilaku kurang ajar Louis tidak pernah di lupakannya.
__ADS_1
Dan apa yang terjadi sekarang kenapa orang kurang ajar ini di kediaman keluarganya bahkan begitu banyak orang dan hadiah yang di bawa olehnya.
"Zen kau sudah datang, kemarilah sayang duduk di samping Louis," ajak kakek Zein ketika melihat cucunya sudah datang.
Zenia yang sangat patuh kepada kakek langsung menghampiri dan duduk di sampingnya dan juga tepat berada di samping orang yang paling Zenia benci.
"Iya kakek tapi ada acara apa ini?" tanya Zenia sambil duduk di samping pria kurang ajar tersebut.
Louis tersenyum saat bertatap muka dengan Zenia walau sekilas saja.
"Zenia, apa kau sudah mengenal yang di sampingmu itu?" tanya kakek Zein, ia tidak menjawab pertanyaan Zenia, dan malah menunjuk Louis,.
"Tid-"
"Kami sudah saling mengenal, dia pacar saya Tuan, bukan begitu sayang," ucap Louis mendahului Zenia. Wanita itu melototkan kedua mata geram.
"Kalau begitu baguslah."
"Bagus apa kakek?" tanya Zenia bingung.
"Oh ... Louis ingin melamarmu sayang," ucap zein membuat Zenia terkejut dengan apa yang di dengar olehnya.
"APA!!!!"
"Kenapa kau kaget nak?"
"Kakek katakan satu kali lagi? mungkin saja aku salah dengar tadi."
"Louis ingin melamarmu dan menjadikan kamu istrinya, jangan heran gitu, bukannya kalian sudah pacaran?"
Zenia berharap salah dengar, dirinya benar-benar di buat kaget dengan penuturan sang kakek.
Sungguh konyol, pria gila yang begitu Zenia benci kini melamarnya di depan semua keluarganya.
.
.
.
.
__ADS_1