
~~ My Devil Wife's ~~
.
.
.
.
.
Louis beranjak dari lantai menghampiri istri dan anaknya.
"Honey apa kau marah kepadaku?" tanya Louis raut wajah terlihat sedih.
"Tidak! aku tidak marah, tapi cuma kesal saja, sebaiknya kau mandi dan mengganti pakaianmu aku akan menunggu di kamar Larenia." Sahutnya.
"Baik Honey."
Louis melangkah menuju kamarnya untuk membersihkan dirinya, namun sebelum itu ia memberikan ciuman pada kening istri dan putrinya sebelum benar-benar pergi dari sana.
***
Rufella di rumah kini bersembunyi di bawa meja, Sam di ruang keluarga mengamuk karena tidak menemukan siapapun di sana, suara teriakan dan pecahan benda-benda di rumah itu terdengar nyaring.
"Aku takut sekali, kapan orang gila itu akan pergi dari rumahku, tidak mungkin aku keluar dan memarahinya." Guman Rufella mengigit jari telunjuk karena takut.
Selama hampir dua puluh menit, keadaan seketika sunyi tidak terdengar suara sama sekali. Rufella dengan keraguan segara keluar dari kolom meja makan lalu meregangkan tubuhnya dengan menarik tubuhnya ke atas.
"Auhh, pegal sekali." ucap Rufella.
"Apa pria gila itu sudah pergi, ya Tuhan tolong aku, jangan sampai ia masih ada di sini."
Perlahan wanita itu melangkahkan kakinya untuk melihat ruang keluarga untuk mengecek apa Sam masih ada di sana atau sudah pergi, dengan pelan-pelan kedua kakinya berjinjit bahkan bernapas saja ia melakukannya sangat pelan.
"Ya Tuhan, tolong aku."
Rufella mengintip, ia tidak menemukan ada orang di dalam ruang tamu seketika hembusan napasnya terdengar lega, Segera wanita itu melangkah ke sana keadaan rumah tampak kacau balau benda berceceran kemana-mana, ternyata orang yang mengamuk lebih mengerikan.
"Apa yang akan kukatakan kepada Roni, bisa-bisa dia menuduhku aku yang melakukannya."
"Hah! biarkan saja! lagi pula ini bukan salahku, salah dia sendiri karena bermain-main dengan orang stres itu." katanya seketika pergi dari sana dan kembali duduk di sofa menikmati cemilan yang baru ia ambil satu jam yang lalu.
Dengan santai wanita itu menikmati hidupnya, meski ada pembantu di rumahnya tapi hari ini mereka semua sengaja di liburkan.
Ceklek.
Pintu rumah itu tiba-tiba terbuka membuat Rufella terjingkat dari sofa dan segera menyembunyikan diri dari ke belakan sandaran sofa karena mengira bahwa Sam yang membuka pintu itu lagi.
"Mati aku!" gumannya.
__ADS_1
Tubuh Rufella bergetar apalagi sekarang ia tidak memegang ponsel dari tadi lupa tempat dimana ia meletakkannya tadi, sehingga mempersulit dirinya untuk menghubungi seseorang untuk meminta bantuan.
Langka kaki terdengar semakin mendekat, Rufella menelan air liurnya yang sudah hampir mengering.
"Glek."
"Ya Tuhannn, aku masih mau hidup." Rufella memejamkan mata sambil terus berdoa.
"Apa-apaann Ini! Kenapa rumahku begitu berantakan Kakak ... Kakak kau dimana! Kakak!" terdengar suara teriakan.
Rufella yang berada di belakang sandaran sofa mengedipkan-gedipkan kedua mata sejenak, ia sepertinya mengenal suara bariton ini.
"Kakak? Jangan-jangan itu Roni" guman Rufella menerka
"Kakak, kau ada dimana?" teriak Roni lagi.
Rufella menaikan kepalanya sedikit memastikan bahwa ia tidak salah, namun betapa sialnya tanpa sengaja malah bertatapan langsung dengan Roni kebetulan melihat ke arahnnya.
Rufella mematung di tempatnya.
"Kakak, kemarilah aku melihatmu."
"Uhmmm."
"Kakak!"
"iya ... iya ...."
Rufella kini berada di hadapan sang adik selisih tinggi badan mereka cukup jauh hampir 24 cm.
"Cih ini bukan salahku!"
"Lalu salah siapa? Jangan pikir kakak bisa membohongiku, kakak pasti sengaja menghancurkan barang-barang di rumah ini karena kakak bosan!" tuduh Roni.
Plak!
"Bicara apa kau ini, aku tidak sekonyol itu dasar bodoh!"
"Roni asal kau tau tadi Sam datang kerumah mencari dan dialah yang membuat rumah kita seperti ini, jangan menuduh sembarangan tanpa tau kebenarannya!" ujar Rufella mengibaskan tangannya yang habis menampar wajah adiknya itu.
"Sam?" Tanya Roni seakan tidak percaya.
"iya orang gila itu, tadi datang mencari keberadaanmu bodoh ... siapa suruh kau mau bermain-main dengannya, sekarang jadi ruyamkan, kau sebaiknya selesaikan masalah kalian berdua."
"Bermain, aku bermain dengannya., Hah tidak mungkin, Kakak sayang asalkan kau tau aku itu hanya pernah menjalin persahabatan dengannya dan kebetulan Zenia dan Louis menyuruhku untuk bekerja sama dengannya dan menyakinkan dirinya, Sam percaya begitu saja mungkin sekarang nilai saham perusahaannya anjok makanya dia mencariku." mendengar penjelasan Roni, Rufella menyepitkan mata.
"Jangan khawatir, aku akan memperketat penjagaan, Kakak tidak perlu takut dengan orang stres itu." ujar Roni menepuk pundak kakak perempuannya yang kini hanya menjadi satu-satunya ia anggota keluarga selain Zenia.
****
Louis terlihat duduk memperhatikan wajah putrinya, Larenia sudah berjalan dan mulai berbicara walau tidak terlalu jelas, tidak terasa anaknya itu tubuh menjadi cantik warna rambut mirip istrinya sedangkan sisanya adalah miliknya semua, hal itu pula yang terkadang membuat ia dan Zenia berdebat karena istrinya itu merasa tidak terima akan pembagian gen kepada anak mereka.
__ADS_1
Tapi bukan Louis namanya kalau tidak memiliki jalan keluar agar istrinya tidak iri lagi akan hal itu.
"Louis, apa ada kabar dari paman?" tanya Zenia yang terlihat baru keluar dari kamar mandi setelah membuang air kecil.
"Belum ada, Honey... tadi aku menelepon Juan tapi tidak di angkatnya." ujar Louis.
"Jangan-jangan dia masih kesal denganku karena ingin membantunya kembali menjadi lelaki normal."Guman Louis pelan tidak terdengar oleh Zenia.
"Oh ... iya kah"
"Iya sayang." ucapnya kini menarik tangan istrinya kedalam pelukannya.
Perlahan Louis menatap wajah cantik yang setiap hari menjadi penyemangat hidupnya, setelah menikah dengan wanita yang dulunya sangat dingin itu Louis tidak pernah merasa kesepian, dulu ia selalu kesepian karena Loren sangat jarang ingin menemaninya dari kecil hingga mereka dewasa dan ketika memiliki adik perempuan ternyata takdir berkata lain, adik perempuannya tewas mengganaskan dan pelakunya adalah wanita yang menjadi istrinya sendiri.
Louis mengubur dalam-dalam semua kebenaran itu, biarkan semuanya berlalu tanpa ada dendam, Pria itu mengelus rambut istrinya dengan lembut namun kali ini tatapannya sedikit teduh, Zenia yang menyadarinya membalas elusan tangan suaminya.
"Louis ...." panggil Zenia.
"Umm, iya Honey!"
"Apa kau mengingat adikmu lagi?" tebak Zenia tidak salah lagi.
Louis tidak menyahut, tersirat senyuman pedih di wajahnya dan Zenia bisa tau akan hal tersebut.
"Louis, aku benar-benar minta maaf, karena telah merenggut nyawanya, andai saja-"
"Usstt ... jangan bicara seperti itu sayang, semuanya sudah menjadi jalan takdir, adikku juga pasti tidak marah kepadamu karena telah membahagiakan kakaknya ini." ujar Louis lalu mencium bibir istrinya yang menggoda itu.
"Tapi. "
"Jangan di ulang, besok kita akan mengunjungi makamnya bersama putri kita." ujar Louis menakup wajah Zenia.
Wajah cantik sekaligus imut itu membuat Louis sangat bersyukur, ia begitu mencintai wanita ini tanpa peduli identitas istrinya dan lagi pula sekarang Zenia sudah tidak pernah lagi ke dunia mafia.
"Sayang bagaimana kalau kita lanjutkan programnya." ujar Louis membuat Zenia mengerutkan kening.
"Program apa..?" tanya Zenia tidak mengerti.
"Membuat adik untuk Larenia ... ayo kita pindah lagi pula putri kita sudah tidur."
Louis tanpa aba-aba langsung mengangkat tubuh istrinya tidak menunggu dan menunda waktu.
.
.
.
.
ππΆββπΆββ. Telat.. Up.
__ADS_1
Jangan lupa baca Novel tentang Rufella dan Ken. jugaπΆββπΆββπΆββ. Chan buat karena kalian minta π€π€π€
Incomplete Love.