
"Rufella ayo duduk,." ajak Zenia kepada sepupunya yang hanya berdiri menatap ke arah Louis dengan tajam.
Wajah Rufella sama sekali tidak bersahabat, sorot matanya seakan ingin menelan Louis hidup-hidup. Ia tidak pernah menyangka bahwa Zenia akan sangat sial menikah dengan Pria segila Louis menjadi suaminya.
"Rufella ayo duduklah" perintah Zenia, kali ini dia mengeraskan suaranya.
"Iya.. Iya. Aku duduk" Ujar Rufella duduk di samping Ken namun sorot matanya sama sekali tidak berpaling dari bayi mungil itu.
Zenia menggeleng pelan sejujurnya dia ingin mengizinkan Rufella untuk menggendong anaknya namun karena Louis tidak membiarkan hal tersebut Zenia tidak bisa berbuat banyak.
Zenia memalingkan pandangannya ke arah Sam yang hanya diam dari tadi sambil menarik senyuman manis kepada pria tersebut.
"Sam.. Pasti kau merasa bosan berada di sini" kata Zenia.
Sam lantas mengangkat pandangannya saat ada orang yang mengajaknya berbicara..
"Ahh.. Tidak Zen" balas Sam dengar debaran jantung berdebar kencang.
"Dasar bermuka dua, kau tidak perlu berpura-pura" kata Louis menuduh Sam.
Zenia menyenggol bahu suaminya tersebut, Louis benar-benar keterlaluan dengan ucapannya tidak sopan.
Sedangkan Rufella tampak menyengir saat mendengar Zenia menyebut nama seseorang.
"Sam..? Seperti namanya tidak asing..?" Guman Rufella dalam hati. Ia yang baru menyadari kehadiran seseorang yang bernama sam lantas menoleh ke arah pria itu, dari tadi dia tidak bisa fokus sebab Juan dan Ken tidak berhenti mengoceh tidak jelas.
Mata langsung melotot sempurna.. Gawat..
"pasti dia sudah melihat ku dari tadi" batin Rufella menyadari kebodohannya.
Ia menelan air liurnya, Pria itu Samuel, Rufella pernah beberapa kali bertemu dengan pria itu di club bahkan pernah menganggap Sam sebagai seorang ******.
Melihat kegelisahan Rufella Juan menyengir.
"Hei kau kenapa wanita liar" kata Juan, membuat semua orang di sana langsung menoleh ke arah Rufella bersamaan.
"Pria ini.." Kata Rufella bergerutu melotot ke arah Juan.
Sam menatap Rufella dengan senyuman miring, membuat bulu kuduk wanita itu berdiri dengan gugup Rufella mencoba membalas tatapan Sam.
"Hai.. Nona kita bertemu lagi.." Sam terlebih dahulu menyapa. Rufella mengaruk kepalanya tidak gatal lantas ia mendekatkan tubuhnya ke arah Ken untuk bersembunyi.
Ken merasa risih memindahkan posisi duduknya di samping Juan, kini sudah tidak ada penghalang antara Rufella dan Sam.
__ADS_1
Louis sepertinya memiliki ide cemerlang. Pria tersebut langsung berbisik kepada Istrinya.
"Bagus Juga.. kau ternyata pintar Louis" Ucap Zenia menyetujui saran dari Suaminya tersebut.
Ken dan Juan melihat pasangannya tersebut mengedipkan mata karena ingin tau apa yang di katakan oleh Louis.
Zenia menarik tersenyum menatap Sam dan Rufella secara bergantian..
"Rufella, apa kau sudah punya pacar atau orang yang kau suka.?" Tanya Zenia.
"Tidak ada.." Jawab Rufella ragu, lalu menatap Ken di seberangnya.
"Honey, kita jodohkan mereka saja dari pada menghukum Sam. Bukannya mereka sangat serasih" Bisik Louis lagi.
"Tunggu sebentar Louis kenapa kau sangat terburu-buru"
Zenia menyadarkan kepalanya kebelakang berpikir bagaimana dia akan menyampaikan rencananya ini kepada Rufella. Zenia sadar bahwa Rufella menyukai Ken tapi itu sama sekali tidak benar, Ken tidak pernah menaruh perasaan kepada seorang wanita sekalipun, selama Zenia mengenal asisten pribadinya tersebut.
"Honey kenapa kau diam.. cepat katakan.. kalau kau tidak mau aku yang akan menyampaikannya" Kata Louis sekilas menatap ke arah Istrinya lalu kembali bermain bersama dengan putrinya mungilnya.
"..."
Tidak mendapat Jawaban, Louis berhenti bermain lalu menposisikan Putrinya menghadap ke depan sehingga semua orang yang di sana bisa melihat jelas wajah cantik Lareina yang sangat mirip dengan Louis.
"Hei wanita liar kau dengarkan aku dan Kau Juga Sam" Ucap Louis sinis. Rufella dan Sam lantas mengalihkan pandangan dari bayi mungil tersebut ke arah Louis.
"Apa..?" jawab Sam dan Rufella secara bersamaan.
"Apa kalian saling mengenal satu sama lain.?" Tanya Louis.
"Tidak.." Ucap Rufella mengelak.
"Iya." jawab Sam mengangguk.
"Mana yang benar..?" Tanya Louis.
Rufella menatap ke arah Sam agar tidak mengatakan bahwa mereka saling mengenal satu sama lain, bagaimana pun Rufella sudah bisa membaca raut wajah dari Louis dan Zenia saat bertanya kepadanya.
Sam justru terlihat tidak terpengaruh dan menjawab.
"Kami saling mengenal memang kenapa..?" Tanya Sam.
"Kalau begitu semuanya akan mudah" ucap Louis membuat Rufella semakin kesal, namun beda dengan Sam yang tampak tidak mengerti.
__ADS_1
"Apa maksudmu..?"
tanya Sam tidak mengerti, Louis tidak menjawab ia harus merencanakan sesuatu agar Sam dan Rufella menikah secepatnya supaya tidak ada lagi pengganggu dalam rumah tangga yang dia bangun bersama Zenia dan putri kecilnya.
***
Tiga jam kemudian, Louis dan Istrinya tengah menghabiskan waktu bersama dengan putrinya di halaman luar rumah semua orang yang datang tadi sudah pulang beberapa saat yang lalu.
Louis menyandarkan kepalanya di bahu Istrinya dengan sikap manja, Pria itu sudah merasa semua beban di hatinya hilang saat ada Istri dan putrinya di sisinya..
Louis tampak berfikir sejenak lalu mengusap wajah Istrinya lembut.
"Honey, apa sebaiknya kita memberikan adik untuk Lareina.." Ucap Louis tiba-tiba membuat Zenia kaget bukan main.
Ia menatap suaminya dengan lototan mata.
"Apa maksudmu!!, anak kita saja belum berusia enam bulan kau sudah mau tambah lagi.. apa kau gila Louis" Kesal Zenia meninggikan suaranya. Lareina yang berada di dekapannya juga tampak kaget tapi tidak menangis.
Louis lantas hanya tersenyum kaku..
"Aku hanya bercanda Honey, jangan marah.. nanti anak kita menangis" Kata Louis lalu mencium pipi Istri dan Putrinya bergantian.
Zenia mengusap kasar bekas ciuman Louis. ia begitu kesal akan ucapan suaminya tersebut, Louis memoyongkan bibirnya.
"Honey aku hanya bercanda, aku tidak serius.." Ucap Louis.
"Sudahlah.. Kau keterlaluan"
"Ayo sayang kita masuk., Daddymu ini sudah. gila" Ucap Zenia berbicara kepada Putrinya. Lareian menanggapinya dengan sebuah senyuman kecil.
"Honey.." Panggil Louis.
Zenia pergi dari halaman rumah itu meninggalkan Louis sendiri, ia melangkah masuk kedalaman secara terburu-buru tidak menghiraukan panggilan Louis.
.
.
.
.
Tbc.. !!!
__ADS_1