
Masih di Hotel setelah pertemuan zenia dan para Kliennya, ia mendapatkan sebuah serangan mendadak dari salah satu musuh yang sudah mengintainya dari tadi bahkan anak buahnya tidak menyadari kedatangan musuh itu, untung saja Zenia sempat menghindari tembakan yang hampir mengenainya.
Di samping kolam Zenia dan ken mengajak para anggota Gengnya untuk berkumpul di sana.
"Apa yang kalian lakukan sih! Kalian tau Nona Zenia hampir di bunuh bodoh! apa kalian hanya bermain-main disini kalian pikir untuk apa aku menyuruh kalian kesini! Hah!" Ken terlebih dahulu memarahi para anggota gengnya ia hampir saja kecolongan.
"Sepulang dari sini bersiaplah mendapatkan hukuman dari Nick tadi aku sudah menghubungi agar ia bisa menghukum kecerobohan kalian, Dasar orang-orang tidak berguna!" sambung Ken dengan memukul mereka semua hingga babak belur, mereka hanya bisa menerima pukulan itu tanpa mau melawan percuma saja jika mereka melawan tangan kanan dari Ketuanya itu, bisa-bisa nyawa melayang.
Zenia hanya menaikkan satu alisnya melihat kemarahan dari Ken, ia juga tidak menduga serangan mendadak yang hampir menghabisi nyawanya, ia juga ikut merasa kecewa dengan para anggotanya yang tidak bisa mengintai keberadaan musuh.
"Ken sudahlah! suruh saja mereka pulang, lagi pula Nick akan memberikan pelajaran yang lebih dari ini." kata Zenia menghentikan gerakan Ken.
"Dan untuk kalian semua jika masih ingin hidup cari identitas penyerang itu, dan segera menghubungi ku jika sudah mendapatkanya." ujar Zenia menatap tajam ke arah mereka seakan agar tidak melakukan kesalahan lagi kali ini.
"Ketua ampuni kecerobohan kami, ini tidak akan terulang kedua kalinya kami bersumpah dengan nyawa sebagai taruhannya." ucap mereka serempak lalu pergi dari sana meninggalkan Ken dan Zenia.
Kini tinggal Ken dan Zenia di sana, Ken yang merasa gagal berlutut meminta ampun di bawah kaki Zenia, ia tau betul Zenia lagi-lagi kecewa kepadanya.
"Nona silakan Tembak kepala ku karena tidak bisa menjaga anda dari ancaman bahaya." ujar Ken menyodorkan sebuah pistol yang selalu di bawahnya kemana-mana.
Zenia mengambil pistol itu lalu mengarahkan ke kepala Ken lalu Zenia berjongkok.
__ADS_1
" Kamu mau mati sekarang, tidak semudah itu ken jangan harap kau ingin lari dari masalah dengan aku membunuhmu, kau akan mati tapi nanti jika sudah waktunya." Zenia mendekatkan wajahnya ke telinga Ken yang sudah pasrah dengan hidupnya.
"Berdiri lah, aku akan memberimu hukum yang lain jangan berpikir aku akan membunuh mu dengan cara seperti ini,sungguh memalukan." lanjut Zenia menjauhkan pistol dan melemparnya ke arah ken.
"Maaf nona." Ken berdiri dari posisinya ia menyadari kesalahannya lagi.
"Sudahlah antara aku pulang saja dari tadi pasti Louis sudah menungguku." Zenia berjalan keluar dari Hotel dan menuju. Mobilnya yang terparkir tidak jauh.
Ken segera menyusul Zenia yang sudah duduk di dalam mobil , ia sedikit sempat takut jika Zenia tidak mengampuni nyawanya tadi.
"Aku sungguh nekat, benar-benar bodoh. cari. mati kau Ken." guman Ken begidik geri mengingat yang sempat di lakukan tadi, lalu ia duduk dan mengendarai mobil tersebut membawa Zenia pulang ke rumahnya.
***
Bib.. Bib.. Bib..
Louis melihat mobil yang selalu di tumpangi oleh istrinya masuk ke dalam pekarangan rumah menghampirinya dan mencegah Ken untuk membukakan pintu untuk istrinya.
"Biar aku saja, pergi kau." ucap Louis menatap tajam dan melotot ke arah Ken dengan maksud jika Ken tidak perlu kewajibannya, lalu ia sendiri yang membukakan pintu untuk Istrinya.
"Honey." Luois langsung mengubah ekspresi wajahnya ketika melihat Istrinya.
__ADS_1
"Louis kenapa kau yang membuka pintu ini tugasnya Ken." kata Zenia sambil keluar dari mobil menggapai tangan Louis yang tersodor untuknya.
"Honey.. jangan berkata begitu nanti aku cemburu lohh."
"Iya.. Iya.. Iya deh"
Louis dan Zenia melangkah masuk ke dalam rumah dengan bergandengan tangan, senyuman terukir di wajah Louis sedangkan Zenia hanya menunjukkan wajah sedikit risih dengan keadaan sekarang, bagaimana pun ia masih belum terbiasa dekat dengan seorang pria .
"Honey besok kita pergi bersama yah. Ke pesta perayaan ulang tahun sahabatku." kata Louis kepada istrinya ketika sudah berada di dalam rumah dan menghabiskan waktu bersama.
"Dimana? jam berapa?" tanya Zenia.
"Tempatnya dekat, kau bersiap saja besok dan tidak perlu terlalu cantik nanti kau dilirik oleh lelaki lain." jawab Louis mengecup pipi istrinya gemas.
"Baiklah, aku akan bersiap nanti." kata Zenia singkat, menjauhkan wajah dari Louis.
.
.
.
__ADS_1
.