
"Louis kenapa dengan wajah Menatu mama..? Apa yang terjadi?" Lina bertanya begitu Louis dan Zenia sampai di rumah .
Louis menghembuskan napas panjang, Ia tidak sanggup mengatakan kepada Mamanya hal yang menimpa istrinya.
"Mah.. Aku tidak bisa mengatakannya, akan lebih baik jika Zenia yang mengatakan kepada mu" Ujar Louis memalingkan wajah.
Lina mengerutkan kening, tingkah Louis kali ini tampak berbeda.
"Kalau begitu , mama akan masuk ke dalam kau sebaiknya tidak ikut dengan ku" kata Lina.. Louis mengangguk.
Setelah Lina masuk Louis menelepon seseorang. Untuk menyelesaikan masalah Istrinya, Devan, pria tua bangka itu telah mengusik ketenangan Keluarga-nya dan begitu berani.
Di dalam kamar, Zenia tampak duduk di atas kasur sambil menatap Lareina tanpa berkedip walau wajah wanita itu di perban namun tidak mengurangi kecantikannya.
Lina berjalan dengan pelan menghampiri menantunya.. Lalu menepuk bahu Zenia.
"Sayang, bisa kita bicara sebentar" pinta Lina.
"Umm.. Boleh mah, silakan saja,.." Jawab Zenia di sertai anggukan pelan.
Lina mendudukkan pantatnya di atas kasur lalu menatap sedih Zenia.
"Apa yang sebenarnya terjadi, sampai wajahmu bisa seperti ini..?" Tanya Lina mengkhawatirkan Zenia.
Wanita itu tersenyum lalu meraih tangan Lina memegangnya lembut.
"Hum.. mah, ini semua sudah bisa bagiku.. Yang seorang mafia, kau tidak perlu khawatir luka di wajah ku akan sembuh dalam tiga hari"
"Tapi, Zen.. Sebaiknya kau keluar dari dunia gelap itu, nyawa mu akan selalu terancam.. Mama khawatir suatu saat nanti terjadi sesuatu yang buruk kepada mu atau kepada keluarga mu sayang" Terang Lina.
Zenia hanya tersenyum datar atas ucapan ibu mertuanya yang tidak salah, namun Zenia tidak berdaya sekalipun dia ingin keluar, dia dikendalikan oleh orang lain dan tidak akan pernah bisa keluar tanpa persetujuan dari orang itu.
"Akan aku usahakan untuk keluar namun aku tidak bisa berjanji mah.. Selama aku bisa melindungi kalian, kulakukan apa saja demi melindungi keluargaku"
Lina mengangguk paham, Ia berahli menatap wajah cucu pertamanya dengan tatapan kagum, Lareina memiliki postur wajah mirip Zenia dan Louis perpaduan yang sempurna. Ia yakin jika Lareina besar nanti akan menjadi primadona seperti Zenia dan Louis.
"Cucu Nenek sangat cantik.. " ucapnya..
Lareina membuka matanya yang berwarna biru pekat, bayi kecil itu sangat jarang menangis dan jika Zenia tidak ada di sampingnya pasti Lareina akan tau karena anak itu akan sangat gelisah dan tidak akan tidur hingga Mommynya datang.
__ADS_1
"Pintar sekali, seperti-nya sifat Lareina akan seperti dirimu Zen" Ujar Lina.
"Iya.. Mah aku juga merasa seperti itu, tapi bukankah itu baik.. Jika seperti Daddynya akan sangat bermasalah di masa depan" Kata Zenia terkekeh sendiri membayangkan jika Putrinya bersifat seperti Louis.
"Sepertinya dia lapar"
"Putri Mommy lapar..".Zenia mengangkat tubuh mungil itu kepangkuanya dan memberinya asi.
Lareina meneguk air asi dari Zenia dengan mata yang tertuju kepada mamanya seorang dan sangat mengemaskan.
Lina menghela napas Menantunya memang luar bisa, selain jago bertarung Zenia juga sangat sempurna menjadi seorang ibu.
"Zen.. Mama pamit dulu... Besok aku. Akan datang lagi" Ucap Lina mengecup kening menantunya dan Lareina secara bergantian.
"Jadi anak yang baik.." ujar lina sebelum beranjak pergi.
"Hati-hati di jalan mah"
Lina mengangguk, Perlahan dia melangkah keluar dari kamar itu meninggalkan Menantu & Cucunya didalam sana.
***
"Kakak... Kakak...kakak..." Teriak seseorang membuat Louis menoleh tanpa ekspresi
"Kenapa kau ribut sekali Loren" Ujar louis menyegirka kening tidak suka dengan kedatangan adiknya.
"Kakak... Katanya Zenia terluka parah, aku ingin menemuinya dan melihatnya secara langsung Kak.. Kumohon" Pinta Loren dengan penuh harap.
"Untuk apa kau datang, dia buka siapa-siapamu selain Kakak iparmu Loren" kata Louis geram menatap adiknya.
"Kak kumohon sebentar saja"
"Pergi" perintah louis.
"Semenit saja kak.. Biarkan aku masuk dan menemuinya" Pinta Loren pantang menyerah.
Louis semakin naik pitan.. Langsung menghajar Loren saat itu juga.
Bukh..
__ADS_1
Bukh..
"sudah kukatakan pergi, Zenia istriku dan milikku kau tidak boleh merebutnya" Teriak Louis di atas Loren yang terkapar di bawanya.
Loren mengusap darah di sudut bibirnya, lalu membalas perbuatan Louis kepadanya walau tubuh mereka tidak sepadan.
Bukh..
"Kakak.. Aku hanya minta untuk melihatnya sekali saja, dan kakak menghajar ku, jika Zenia tau kelakuan kakak seperti ini pasti dia akan kecewa kak"
"Tau apa kau tentang Istriku Hah" Geram Louis mencengkam kerah baju Loren.
"Tentu saja.. Aku mengenalnya dari yang kakak tau tentangnya" Ujar Loren menepiskan senyum miring.
"Lorennnn!!!! "
"Jika kau bukan adikku sudah pasti aku mengirimmu ke Neraka"
Teriak Louis melepaskan cengkeraman nya, akal sehatnya masih berfungsi dengan baik dan dia sadar bahwa Dirinya tidak akan bisa menyakiti Adiknya sendiri.
"Loren. Pergilah sebelum aku lepas kendali" lirih Louis memelangkan suara.
"Baiklah aku akan pergi dan akan datang lagi besok bahkan kakak tidak akan bisa mencengahku untuk bertemu dengan Zenia" ucap Loren mengalah.
Ia pergi dari Rumah kakaknya dengan menelan kekecewaan, Loren berjalan ke arah mobilnya yang terparkir di luar pagar rumah Louis.
"Aku tidak akan membiarkan Zenia jatuh ketangan siapapun selamanya dia adalah milik ku dan Istriku" Desis Louis saat Loren sudah tidak terlihat.
louis merapikan penampilannya lalu melanjutkan langkahnya tadi yang terhenti karena kedatangan Loren yang semakin memicu kekesalan -nya.
.
.
.
.
Tbc..?? ππ
__ADS_1