
Dalam perjalanan kembali Louis tidak henti-hentinya cengar cengir tidak jelas di dalam mobil, Anton yang sejak tadi memperhatikan bosnya itu, ia ingin sekali bertanya apa yang telah terjadi sebenarnya antara dirinya dan Zenia, sehingga membuat senyuman Louis tidak pernah pudar sama sekali, bahkan Bosnya sering terkekeh sendirian di dalam mobil, Anton mengurung niatnya untuk bertanya karena takut mengganggu khayalan tingkat tinggi bosnya itu.
Hingga mobil tiba ke pintu masuk perusahaan, Anton menghentikan laju kendaraan begitu mereka berdua telah sampai pada tujuan.
"Tuan kita sudah sampai," kata Anton menoleh ke arah Louis.
"Kenapa kau malah membawamu kemari, aku tidak mau bekerja hari ini," ucapnya kesal karena mengganggu pemikirannya tentang Ciuman yang dilakukan dengan zenia.
"Tapi, sudah ada klien yang sudah menunggu Anda tuan," lanjut Anton memberikan sebuah kertas untuk Louis.
"Kau ini tuli, di mana kau letakkan telingamu itu? Sudah kukatakan aku tidak mau bekerja, kau putar balik saja aku mau kembali ke rumahku," perintah Louis, Anton menghela napas pelan tuannya ini benar-benar menyebalkan.
"Tapi Tuan, klien Anda sudah menunggu sejak tadi," sela Anton.
"Suruh saja mereka datang besok susah amat! aku tidak mau menemui siapapun hari ini! paham!"
"Mereka Klien dari luar negeri Tuan," ujar Anton mulai kesal.
"Apa kau akan terus membantah perintahku Anton!"
"Tid-ak Tuan, saya minta maaf,"
"Pulang sekarang, kau mengacaukan suasana hatiku saja," Louis begerutu kesal memalingkan wajah ke ke jendela mobil.
Secara Anton terpaksa, harus membatalkan pertemuan Louis dan kliennya secara sepihak karena takut membuat Louis semakin marah jika dia terus mendesak bosnya yang sensitif itu.
***
Di kediaman keluarga kakek Zein.
Rufella mengamuk karena tidak terima dengan putusan dari kakeknya yang lebih memilih Zenia sebagai penerusnya di banding dirinya. Menurutnya Zenia tidak pantas apalagi pendidikan Rufella lebih tinggi di banding sepupunya itu.
"Sialan kau, Zenia! Dasar wanita sialan! Harusnya aku yang menjadi Ceo bukan kau! sial! sial!" teriak Ruffela dengan emosi terlebih tadi Zenia sengaja mengejek dirinya di depan banyak orang.
"Ruf, kau tenang dulu sayang, kita harus cari cara untuk segera menjatuhkan wanita sialan itu! enak saja dia mengambil posisi yang sudah kita incar dari dulu dan otomatis pasti semua saham kakekmu jatuh ketangannya, tapi kau tenang saja mama dan papa tidak akan membiarkan hal itu terjadi!" Mama dari Ruffela mencoba menenangkan Putrinya.
__ADS_1
"Mama pokoknya kita harus menyingkirkan Zenia dari keluarga ini bagaimana pun caranya!" katanya sambil menatap mamanya.
"Sayang kita tidak boleh gegabah, kita harus bertindak hati-hati kau taukan bahwa Zenia mempunyai seorang pelindung yang selalu mengikutinya kemana pun, bukannya kau liat sendiri tadi," ucap Mamanya Rufella sama liciknya dengan putrinya.
"Liat mah."
"Nah kita harus menyingkirkan orang itu dulu, baru merencanakan sesuatu yang lain,"
Rufella mengangguk setuju dengan perkataan mamanya, terlebih dahulu ia harus menyingkirkan orang yang melindungi Zenia.
"Baik mama, kita hanya perlu menyingkirkan orang yang melindunginya lalu kita menyerang wanita bodoh itu." kata Ruffela yakin.
***
Rumah pribadi Zenia
"Paket ... paket ... "
(Teriak orang dari luar kediaman Rumah Zenia)
"Tunggu, siapa sih ganggu aja," gerutu Zenia bangkit dari tempat istirahatnya padahal sudah sore ada saja hal yang mengganggunya.
"Ada apa?" tanya Zenia ketus.
"Apa Anda Nona Zenia?"
"Iya, kenapa memang?"
"Silakan Nona tanda tangan disini," ucap pengantar paket tersebut sambil menatap wajah Zenia yang sangat cantik, walau tampak bingung Zenia langsung saja menandatangani paket tersebut karena masih ingin melanjutkan waktu istirahatnya yang sempat terganggu.
"Apa yang kau bawa? sepertinya aku tidak memesan apa pun," tanya Zenia menatap paket yang tidak ia ketahui isinya.
"Aku tidak tau Nona, ini ambillah mungkin dari penggemar rahasia anda Nona karena Anda begitu cantik," ucap pengantar paket memuji itu tanpa mengalihkan pandangan dari Zenia.
"Umm, baiklah sini,"
__ADS_1
Zenia mengambil paket misterius itu masuk kedalam rumahnya, Zenia melempar paket itu ke sofa tidak tertarik mengetahui isi di dalamnya, karena kepala terasa pening ia menghubungi Ken agar datang kerumahnya dan mengurus segalanya keperluan untuk besok.
Ken pun datang dengan terburu-buru setelah mendapat pesan dari Zenia bahkan dirinya belum sempat mandi penampilannya saja sangat berantakan.
"Ketua ada yang bisa saya bantu?" tanya Ken.
"Ken kau buka paket itu, lalu urus keperluanku untuk besok aku sangat lelah hari ini jadi kau urus segalanya, jika kau tidak mampu panggillah yang lain untuk membantu," ucap Zenia sambil merebahkan tubuhnya di sofa .
"Baik ketua sesuai keinginanmu,"
Ken perlahan membuka paket yang berada di atas meja, saat melihat isi di dalamnya, Ken dengan terburu menyembunyikan kebelakang tubuhnya.
Ken membulatkan kedua bola matanya kaget akan isi paket itu, untung saja Zenia tidak sempat membukanya atau bisa gawat, Ken sesegera mungkin membuang isinya ketempat sampah yang ada di luar.
"Bisa gawat jika ketua mengetahui isi dari paket ini, siapa sih orang konyol yang memberikan ketua sekotak coklat padahal dari kecil ia sangat membenci yang namanya coklat lebih baik aku membuangnya sebelum ketua bangun dari tidurnya," guman Ken kepada dirinya sendiri dan melirik Zenia yang tetidur pulas dia atas Sofa.
Ken segera menggantikan isi coklat tadi dengan makanan kesukaan dari Zenia yaitu sekotak Tomat ceri yang setia hari di makan oleh Zenia.
Ken mendapat sebuah surat di samping Coklat tadi.
"Sepertinya ketua akan mendapat lawan yang cukup menantang, baru kali ini ada orang yang berani mendekati Ketua secara langsung,"
Ken sudah bisa menebak siapa orang yang mengirimkan cokelat kepada Zenia, siapa lagi kalau bukan orang yang telah mengganggu ketuanya itu.
"Dasar Tuan Louis ia pasti sudah tergila-gila dengan Nona Zenia, tanpa tau yang sebenarnya."
"Ia tidak tau saja siapa Ketua sebenarnya, ia jatuh hati pasti karena kecantikan Ketua," guman Ken dalam hati, lalu ia melakukan pekerjaan yang lain mengurus segala keperluan ketuanya untuk besok.
Ken sebagai tangan kanan sangatlah setia kepada Zenia dan ia juga serba bisa, walau sekalipun Zenia tertidur di rumahnya dengan ada Ken, pria itu tidak akan berani berbuat macam-macam kepada Zenia, karena ada satu hal yang membuatnya tidak bisa.
Ken begitu setia, tugasnya memang membantu segara urusan Zenia. Selain Zenia ada satu orang ia takuti. Yaitu adalah orang yang telah membuatnya sampai seperti ini.
Orang yang sangat berbahaya dan begitu mereka hindari, karena apapun keinginan orang itu tidak akan mereka bisa tolak dan orang itu pula yang membuat Zenia susah di dekati oleh pria.
.
__ADS_1
.
...π...