
Keesokan harinya. Rufella sudah bersiap-siap untuk melakukan aktivitas hari ini.
Ia menarik gagang pintu dan membukanya namun betapa kagetnya ia saat mendapati Roni berdiri di hadapannya dengan wajah tidak bersahabat.
"Kakak mau kemana?" tanya Roni dengan nada suara keras.
"Ribut sekali kau ini, aku mau keluar mencari udara segar minggir dari jalanku." seru Rufella meminta Roni agar menyingkir.
Roni mengerutkan kening kedua alis pria itu semakin menaut tajam menatap tajam saudaranya.
"Jangan pergi kakak belum menjelaskan semua tentang foto-foto itu." tanya Roni.
"Yang kau liat, seperti itulah kenyataannya, jangan menghalangi jalanku ... lagi pula sudah lama sekali, kenapa kau malah kesal seperti ini."
"Kakak!" panggil Roni, kini ia mencengkeram lengan kiri kakaknya dengan wajah penuh amarah.
"Aku tidak akan membiarkan kamu keluar dari rumah ini lagi, kakak benar-benar berperilaku seperti seorang pela*cur, Memalukan." bentak Roni, ia marah besar dan merasa gagal untuk melindungi sang kakak dari pergaulan bebas, kini semuanya terlambat.
Rufella merasa kesakitan hanya meringis merasa sakit, kesal dan kecewa menjadi satu.
"Lepaskan aku, kau tidak berhak mengatur-ngatur hidupku." balas Rufella menghempaskan tangan kekar adiknya secara paksa lalu kabur dari sana setelah mendapat celah.
***
Rufella mengatur detak jantung akibat berlari keluar dari rumah tanpa membawa kendaraan sama sekali, kunci mobilnya masih di tahan oleh Roni untuk sementara waktu namun setelah Pertengkarannya tadi ia semakin yakin bahwa semua fasilitasnya akan di tahan lebih lama dari perkiraan sebelumnya.
Saat ini ia berada di cafe, dua cangkir cappuccino di hidangkan oleh pelayan sesuai pesanannya dan ia tinggal menunggu kedatangan seseorang yang akan membuat perasaan sejuk.
"Ke mana dia, kenapa belum sampai di sini?" gumannya menyeruput seteguk cappuccino itu.
Rufella meraih ponsel android miliknya dan membuka galeri tujuan utamanya adalah sebuah foto yang berhasil ia dapatkan diam-diam, sebuah senyuman terukir di wajahnya, tidak heran lagi dengan menatap foto Ken saja membuat Rufella sesenang ini.
Dua puluh menit berlalu, Rufella juga sudah menghabiskan dua cangkir cappuccino hangat itu, merasa mulai bosan pada akhirnya ia kembali memesan minuman lagi kali ini di sertai dengan cemilan manis.
"Kemana dia.. apa dia tidak akan datang lagi." gumannya pelan.
Seorang pelayan terlihat membawa pesanan yang sedari tadi ia tunggu.
"Nona silakan di nikmati." ucap pelayan tersebut sopan.
"Iya ... terimakasih, kau pergilah" ujar Rufella tanpa menoleh, ia hanya terfokus akan pintu masuk kafe berharap orang yang ia tunggu datang.
"Cantik-cantik tapi sombong sekali wanita ini." guman pelayan itu lalu berpamitan.
"Saya pamit dulu Nona, jika mau pesan lagi silakan panggil kami." ujarnya membungkuk segera pergi dari sana.
Rufella hanya melambaikan tangan malas, semenit kemudian kedua matanya tiba-tiba di buat melonjak setelah salah satu pelanggan masuk ke cafe.
"Kennnn! sini ...." teriaknya begitu senang, Rufella bahkan sampai berdiri tegak hingga semua mata menatap. ke arahya.
Ken yang kala itu memakai jaket longgar berwarna abu-abu dan celana jeas hitam lantas menoleh ke arah asal suara cempreng yang memanggil namanya.
"Wanita itu di sana." guman Ken melangkahkan kaki mendekati meja dimana Rufella duduk.
Raut wajah Rufella sangat senang sulit untuk di sembunyikan, menatap Ken yang kini bersamanya membuat Rufella terus memandangnya tanpa berkedip.
"Ada apa?" tanya Ken ketus.
"Ini aku membelikan kamu jus strawberry dan camilan pendampingnya, anggap saja kita lagi kencan." jawab Rufella mendorong piring berisi macaroon manis warna warni.
__ADS_1
"Kencan? Apa maksud perkataanmu, aku tidak mau kencan. bersama dengan wanita seperti dirimu." tolak Ken.
Piring yang berisi cemilan macaroon tersebut terdorong kembali ke arah Rufella.
"aku tidak bilang kita kencan benaran, tapi cuma berkata anggap ... apa kau tidak mengerti atau kau tuli." ujar Rufella.
"Makan saja Ken, aku membeli semua ini menggunakan tabungan ku setidaknya kau hargai sedikit lah." pinta Rufella, ia mendorong piring itu lagi meminta kepada Ken agar tidak menolaknya.
"Aku tidak mau." tolaknya.
"Makan atau ku laporkan kau kepada Zenia." ancam Rufella.
Ken berdecak kesal, jika ancaman ini. yang keluar ia tidak bisa membantah atau menolak lagi bisa-bisa ia di hajar oleh Zenia tau malah Jeffry.
"Pemaksa, awas saja ... coba kau bukan sepupu Ketua sudah lama kau tewas di tanganku ini." ucap Ken memperlihatkan bagaimana jika ia mereemas dan mematahkan leher orang.
"Hei bodoh.. coba saja, aku tidak takut, tapi mungkin kau malah takut melakukannya kepadaku." kata Rufella dengan senyuman mengejeknya, ia lalu menoleh kesamping, terlihatlah wajahnya yang begitu terawat melalui pantulan kaca jendela.
"Hufff." Ken menghembuskan napas, sikap Rufella selalu menyebalkan, dan jika saja bukan Zenia yang memintanya untuk menemani Rufella di Cafe ini Ken akan senang hati menolak ajakan wanita penguntit itu.
***
Kini Ken di paksa makan siang bersama dengan Rufella wanita yang selama ini ia anggap menjijikkan, bagaimana tidak hampir setiap hari atau setiap saat wanita itu menghubungi dirinya entah itu siang, sore, malam bahkan di pagi hari juga.
Duduk di meja yang sama dan saling berhadapan bagi Rufella adalah kesenangan namun sebaliknya bagi Ken yang menganggap adalah sebuah ketidak beruntungan dalam hidupnya.
Merasa sangat terganggu dengan tatapan Rufella, Ken pada akhirnya menatap kedua mata wanita itu dengan bengis.
"Kenapa kau melihatku terus, apa ada yang salah dengan wajahku?" tanya Ken setengah berbisik hendak membentak namun dirinya seakan sadar bahwa saat ini mereka berada di sebuah Kafe yang pengunjungnya cukup ramai.
"Siapa yang melihatmu, dari tadi aku memperhatikan pemandangan dari luar jendela, jangan menuduhku sembarangan." balas Rufella tidak terima tudingan Ken.
Rufella seketika tersenyum, sudut bibirnya semakin tertarik ke atas membentuk senyuman semakin lebar.
"Rupanya dari tadi Ken memperhatikanku." gumannya dalam hati begitu girang.
"Ahh.. tidak, siapa juga yang melihatmu percaya diri sekali kau, aku dari tadi hanya menatap ke arah jendela." elaknya kembali.
Ken menghembuskan napas kasar lalu memberikan tatapan tajam ke arah wanita yang kini berada di hadapannya.
"Kau ini masih saja tidak mau mengaku, ya sudahlah makan siang bersamamu sudah selesai bukan, aku mau kembali bekerja ... masih banyak pekerjaan penting di bandingkan menemanimu di sini." ujar Ken berdiri.
"Aku ikut." kata Rufella memegang salah satu tangan Ken.
"Jangan mengotori tanganku dengan virus yang kau tularkan." Ken menepis tangan Rufella yang berada di lengannya tersebut.
"Ken, kenapa kau tidak bisa lembut sedikit, tanganku sakit gara-gara kau menepisnya terlalu kasar." ujar Rufella mengelus tangannya berlagak ia tangah di tindas dengan seketika seluruh perhatian tertuju ke arah mereka.
Ken mengerutkan keningnya semakin terlihat guratan kekesalan, wanita ini terlalu pandai mencuri perhatian semua orang dengan aktingnya, tampak ada salah satu pelanggan wanita paruh baya mendekati Rufella dan langsung memegang tangan wanita itu lalu mengelusnya dengan kelembutan.
"Anak muda, apa yang terjadi di antara kalian, kenapa dari tadi aku memperhatikan dari pojokan sana kalian berdua terus saja adu mulut dan tidak terlihat mesra." tanyanya sembari menatap Rufella begitu prihatin, seketika raut wajah Rufella langsung berubah ia menatap wanita paruh baya yang tengah memegangi tangannya itu dengan wajah sedih.
"Nenek, suamiku tidak mau mengantarku pulang karena dia sibuk dengan pekerjaannya, lalu aku ingin ikut bersamanya untuk ketempatnya ia malah semakin marah denganku ... apa menurut nenek itu permintaan yang salah jika seorang istri ingin ikut bersama dengan suaminya." ujarnya melirik Ken dengan senyuman jahil, mendengar itu Ken di buat kaget dan tidak percaya akan pengakuan Rufella yang sama sekali tidak benar, lantas Ken menahan rasa tidak terima dengan mengepalkan kedua tangannya.
Rufella benar-benar pandai berakting, selama ia mengenalnya Ken merasa kesabarannya selalu mau habis gara-gara wanita ini, terlihat sangat sempurna Rufella membohongi semua orang di sana dengan meneteskan beberapa air mata untuk meyakinkan mereka semua.
"Apa aku salah Nenek." kata Rufella kembali dan mengelus air matanya.
"Tidak salah sayang, biarkan nenek yang membujuk suamimu siapa tau dia mau." bisik wanita paruh baya itu kepada Rufella dan mintanya untuk duduk terlebih dahulu untuk meredakan kesedihannya.
__ADS_1
"Cih ... akting yang sangat bagus." guman Ken memasang wajah datar.
Beberapa saat kemudian ....
Ken menelan air liurnya, ia melirik Rufella sesekali dengan kedua mata metototi wanita itu, sekarang ia kini di ceramahi panjang lebar oleh seorang wanita paruh baya, tentang bagaimana memperhatikan seorang istri dan bersikap lembut kepadanya, Ken sudah beberapa kali mengatakan bahwa dirinya bukan suami ataupun pacar Rufella namun tidak ada yang mempercayainya terlebih lagi Rufella terlihat hampir menangis duduk di kursi tempat awalnya ia makan siang tadi.
"Awas saja, kau wanita liar ini beraninya mengatakan kepada semua orang bahwa aku adalah suaminya." gumannya dalam hati melirik bengis Rufella yang membalas tatapannya dengan senyuman lebar namun terkesan jahil.
"Hehe, sekarang kau tau rasa ... nikmati saja itu." batin Rufella begitu senang berhasil mengerjai Ken.
Sepuluh menit berlalu, telinga Ken seakan di penuhi dengan nasihat dari nenek, ia seolah pasrah dan mengiyakan segalanya dari pada terus mengelak dan tidak ada yang percaya dengan ucapannya.
"Iya nenek, aku mengerti, kalau begitu kami pamit dulu, terimakasih." katanya tersenyum, lalu menarik tangan Rufella agar segera pergi dari sana.
"Sayang ayo kita pulang." ajaknya dengan senyum terlihat di paksakan.
"Hati-hati di jalan, ingat nasihat dari nenek jangan sekalipun kau menindas wanita yang menjadi istrimu."
"Iya ...." jawab Ken sebelum benar-benar pergi dari sana.
Begitu mereka sudah di luar, Ken menghempaskan dan mendorong tubuh Rufella hingga mereka memiliki jarak sedikit jauh.
"Kau! kau benar-benar menguji kesabaranku wanita liar, kenapa kau mengaku-ngaku kepada semua orang di dalam sana sebagai istriku dan membuat ku malu hah!" bentak Ken tidak memperdulikan sekitarnya.
Rufella hanya mengedikan bahu malas namun senyumannya tidak menghilang.
"Aku hanya memberimu pelajaran sedikit, siapa suruh kau selalu marah-marah jika sedang bersamaku, makanya jangan pernah mau menolakku atau aku bisa melakukan lebih dari yang tadi." jawabnya santai.
"Pelajaran, ini sungguh tidak masuk akal ... lain kali aku tidak akan mau menuruti permintaan mu lain waktu."
"Tidak mau menuruti permintaanku lagi, ya terserah kau saja Ken, siapa juga yang akan peduli jika Zenia marah kepadamu karena menolak permintaanku."
"Kau gila."
"Gila? tentu saja aku tergila-gila kepadamu." ujarnya, Ken begitu jijik mendengarnya.
"Terserah, aku tidak mau berurusan dengan wanita gila seperti dirimu dan jangan mengikuti ku." Ujar Ken mengambil langkah lebar menuju mobil sport miliknya hadiah dari Zenia.
"Hei Jangan meninggalkanku, antar aku pulang ke rumah ku dulu, aku tidak membawa mobil dan uangku sudah habis." teriak Rufella mengikuti Ken dengan berlari.
"Tidak mau! kau pulang saja sendiri, urus urusanmu sendiri jangan melibatkan diriku." tolak Ken menoleh sebentar sebelum masuk ke dalam mobilnya.
Rufella mengetuk kaca jendela mobil Ken, namun tidak ada respons sama sekali dan kini mobil itu sudah menyala.
"Ken ... ajak aku ikut bersamamu." teriaknya.
"Kennn, antar aku pulang, aku tidak membawa mobilku, Ken tolong buka pintunya." pintanya berkali-kali tetap tidak ada respons.
Ken di dalam mobil menatap lurus kedepan tidak menghiraukan teriakan Rufella, setelah beberapa saat Ken langsung menginjak gas dan sesegera mungkin meninggalkan tempat parkir cafe itu meninggalkan Rufella di sana.
.
.
.
Jangan Lupa Like & Komen.
πΆββ
__ADS_1