My Devil Wife'S

My Devil Wife'S
"Awal penyelesaian"


__ADS_3

Saat masuk ke dalam rumah, Zenia melihat Louis tengah duduk di atas sofa dengan tatapan kerinduan..


Tadi saat di perjalanan pulang, Zenia menelepon ibu mertuanya meminta maaf atas kesalahan dan kelalaian yang di perbuat olehnya, sehingga membuat mereka di marah-marahi oleh Louis.. Setelah itu, Zenia meminta agar Ken langsung mengantarnya pulang ke rumah Louis saja.


Zenia membalas tatapan kerinduan Louis, Ia hanya tersenyum sinis menarik sudut bibirnya ke atas. Perlahan Louis mendekat ingin merangkul tubuh istrinya.


"Honey.. Kau dari mana saja, Tadi katanya Kau menghilang di Mall saat bersama dengan Mama"


Ucap Louis, rasa khawatirnya tadi sudah hilang ketika melihat bahwa Zenia kembali kepadanya dalam keadaan baik-baik saja.


Bukannya menjawab Zenia malah menjauhkan diri darinya.. Lalu bertanya.


"Louis apa besok..!? Hari perayaan di perusahaan mu"


Louis mendekat lagi..


"Iya.. Honey, apa kau akan datang bersamaku. Kalau begitu biarkan aku yang menyiapkan seluruh keperluanmu"


"Baiklah. Kita datang bersama besok.. Lakukan yang kau suka"


"Honey.."


Panggil Louis ketika melihat Istrinya mengabaikan lagi, kenapa di benaknya selalu ada rasa takut kehilangan. Tapi Tidak mungkin Zenia akan pergi dari hidupnya.


Zenia melirik sekilas saja, ia melangkah masuk ke dalam kamarnya di ikuti oleh Louis.


Kini Zenia tengah duduk di atas kasur tanpa berbuat apa-apa, sendangkan Pria itu memegang tangannya dengan lembut beberapa saat kemudian Zenia menepisnya.


"Tidurlah.. Sudah malam"


Ujar Zenia menatap datar Louis.


"Tapi..? Honey, kau tidak sudah janji akan menghabiskan malam bersamaku"


Ucap Louis menggoda istrinya itu, zenia menghela napas kasar.


"Aku tidak bisa, Lain kali saja"


"Kenapa Honey..?"


"Tidak mau saja.. Aku sangat lelah Louis mengertilah".


Zenia mendorong kasar suaminya itu. Sudah cukup zenia harus segera mungkin membuat Louis membencinya.


Louis tertegun baru kali ini Zenia menolaknya, hatinya bagai teriris pisau tumpul sangat menyakitkan. Louis pada akhirnya membuang jauh-jauh niatnya, lebih baik dia tidur dengan memeluk Istrinya saja.


Zenia terlalu lelah memikirkan pengakuan dari Nick mengenai Louis, Hanya butuh beberapa menit saja ia sudah terlelap tanpa sadar bahwa Louis masih memeluknya dengan erat.


"Zenia, Bisakah aku menjadi seseorang yang penting bagimu.?,Apapun yang terjadi aku tidak akan mau melepaskanmu"


Guman Louis mengelus rambut panjang Zenia lalu menciumnya.


***


Keesokan harinya..


Zenia masih bersikap sama seperti tadi malam, ia selalu berusaha menghindari Louis.


"Honey.."


Panggil Louis suara lantang.


Zenia yang mendengar panggilan itu hanya memutar bola mata malas, Sekarang ia masih berada di balkon menelepon Ken secara diam-diam tanpa sepegetahuan Louis.


"Bagaimana ken, apa juan sudah kalian bujuk"

__ADS_1


Tanyanya.


"Belum Ketua, Tuan Juan sangat keras kepala bahkan sampai sekarang dia belum keluar dari kamarnya yang terkunci dari dalam"


"Huh... Anak itu, Kau ancam saja dengan membakar foto dinding depan kamarnya pasti berhasil"


"Baik Ketua.. Akan kami lakukan"


"Jika tidak berhasil, kau bunuh saja dan masukkan ke kandang buaya".


Ucap Zenia penuh sergai pasti akan berhasil..


Zenia memutuskan sambung.


"Bodoh, Juan seperti anak kecil saja, jika dia bukan sepupuku pasti sudah lama aku menembak mati dia.. Tidak bisa di harapkan"


Gerutu Zenia melangkah masuk lagi.


Udara hari ini terasa sangat dingin padahal sudah siang hari juga, Zenia menggosok kedua tangannya agar hangat.


"Huh.. Dingin sekali"


Zenia mengerutkan dahi.. Lihat saja suaminya sangat cengeng, Louis duduk di ata sofa sedang menangis.


"Kenapa kau menangis Louis..?"


Tanya Zenia bersedekap dada masih berdiri jauh dari Louis.


Sebuah ucapan membuat Louis menghentikan tangisannya lalu mengubah ekspresi wajahnya bahagia.


Louis berdiri lalu mendekati wanita yang selalu membuatnya tidak berdaya jika.. Wanita itu hilang dari jangkaunya.


"Honey.. Jangan pergi"


"Siapa yang pergi, jangan membuatku malu louis karena tingkahmu yang seperti bocah 5 tahun"


Lanjut Zenia tidak mempedulikan suaminya sama sekali.


Louis menggigit bibir bawanya, Zenia benar-benar berubah.. louis seperti tidak mengenal Istrinya lagi.


"kau berubah Zenia.. Sikapmu!, Siapa kau..?. Dimana istriku"


Louis bertanya menatap horor ke Zenia.


Zenia hanya tersenyum sinis, ia mengabaikan pertanyaan itu, mungkin dengan begini Louis bisa menbencinya akan lebih mudah kelak jika mereka berpisah.


"Di mana istriku.! Katakan.!!"


Ucap Louis penuh penekanan.


"Kau buta.. Louis, istri sendiri tidak bisa kau kenali"


Ucap Zenia melotot berlalu begitu saja.


"Zeniaaaaa"


"Apa..?"


Jawabnya Zenia santai.


Louis mendekat dengan wajah yang memancarkan kemarahan, kedua tangannya terkepal, Zenia hanya menatapnya Kosong.


"Sudah, batas kesabaranku habis... Jangan membantah lagi."


Louis seketika mengangkat tubuhnya ke atas sofa dan menindihnya.

__ADS_1


Zenia berusaha memberontak tapi apa daya kedua tangannya di genggam erat oleh Louis, Zenia heran sendiri kenapa tenaganya selalu hilang jika dia menghadapi suaminya sendiri.


"Hentikan Louis, JANGAN LAKUKAN LAGI"


teriak Zenia begitu kencang, Louis sama sekali tidak mempedulikan teriakan itu.. Ia sudah sibuk melampiaskan hasratnya..


***


Selepas itu Zenia semakin menghindarnya. Louis menyesal telah memperlakukan istrinya tadi dengan kasar. Ia menatap. seduh zenia yang tengah bersiap untuk ke perusahaannya yang merayakan sebuah pesta.


Zenia malas mengajak Suaminya untuk berbicara bahkan setiap Louis mengeluarkan sebuah ucapan Zenia hanya berpura-pura tidak mendengar saja.


"Zenia, apa yang membuatmu seperti ini.. Jangan mendiam mi ku dan menghindari ku Kumohon"


Lirih Louis tidak tau harus berbuat apa lagi.


"...."


Tidak ada jawaban.


"Zenia, Katakan jika aku punya salah.. Aku minta maaf"


"..."


"jawablah.. Honey"


Zenia lelah juga mendengar ocehan itu , ia menghentikan aktivitasnya lalu berbalik menatap serius mata Louis.


"Kau tidak salah, jadi bersiap-siaplah.. Aku akan datang bersama dengan ken dan juan nanti, kau pergi saja duluan"


"kita pergi bersama saja, aku tidak suka kau bersama dengan pria lain"


"Pria lain?, Ken itu asistenku dan Juan sepupuku. Kau bisa datang bersama siapa saja, aku tidak bisa"


"Kumohon Zenia.. Kita datang bersama saja"


Ujar Louis menepis api kemarahannya, ia tidak mau membuat masalah lagi dengan Istrinya itu.


"Tidak"


Jawab Zenia tegas.


"Kenapa?, kenapa kau tidak mau datang bersama suamimu Zenia.. kalau begitu aku akan melaporkanmu kepada kakek Zein"


Ancam Louis. Ia sangat ingin bersama Zenia sepanjang waktu.


"Katakan saja.. Aku tidak peduli"


Ucap Zenia dingin. Wanita itu kembali melanjutkan persiapanya.


Louis sudah tidak berdaya kini ancamannya sudah tidak di pedulikan oleh istrinya sama sekali, ia juga menerka-narka apa yang membuat istrinya sampai bersikap dingin kepadanya, bahkan melarangnya memanggil dengan sebutan Honey... sebelumnya Zenia tidak seperti itu. Ia merebahkan tubuhnya di atas kasur memejamkan kedua matanya.


"Aku semakin takut.. kehilanganmu"


gumannya bersuara lirih. zenia dengan jelas mendengar ucapannya itu.


"Maaf Louis.. ini hari terakhir kita bersama"


ucap Zenia dalam hatinya.


.


.


.

__ADS_1


.


Tbc...!!!


__ADS_2