
~~ Incomplete Love ~~
.
.
.
.
Sudah terhitung dua minggu belakang ini, Rufella tidak mengganggu pekerjaan Ken lagi, wanita itu merasa rindu akan kebersamaannya dengan Ken, namun janjinya terakhir kali membuat ia harus menahan kerinduannya lagi.
Wanita itu menghela napasnya berkali-kali, karena sifatnya yang sombong tidak ada satupun pegawai yang mau berteman dengannya. Terlebih lagi saat mereka tau jika wanita yang berkerja dengan mereka adalah saudara dari bosnya semakin membuat mereka semua sangat sungkan.
"Hei kau! Siapa namamu?" tanya Rufella tiba-tiba membuat semua orang yang berada di sampingnya langsung menoleh.
"Siapa Nona? Saya?" ujarnya salah satu pegawai yang duduk tetap di samping Ruffela.
"Iya siapa lagi kalau bukan dirimu bodoh, tidak mungkin aku bertanya sama hantu."
"Ohh ... maafkan saya Nona, ada apa sebelumnya?"
"Aku bertanya siapa namamu?"
"Nama saya Nona?" tanya pegawai itu memastikan.
"Iya ... kau ini banyak bertanya, katakan saja."
"Nama saya, Mila Nona." jawab pegawai itu segera. menyahuti Ruffela.
"Oh ... ya sudah terimakasih, susah sekali." cetusnya.
***
Roni dan Ken yang kini melangsungkan rapat antara petinggi perusahaan terlihat memperhatikan seorang pegawai yang tengah presentasi mengenai proyek pembangunan taman hiburan yang memakan uang yang tidak sedikit itu. Roni dengan serius memperhatikan setiap detai-detai apa yang di sampaikan oleh pegawai kepercayaan itu.
Ken bertugas mencatat kekurangan dan keuntungan jika proyek itu nantinya selesai.
"Ken bagaimana menurutmu?" tanya Roni.
"Tuan, saya setuju dengan yang dia sampaikan hanya ada beberapa sedikit yang perlu di koreksi, karena jika kekurangan dalam proyek ini maka keuntungan yang perusahaan dapatkan akan menurung dan akhirnya kita yang rugi."
Roni berpikir-pikir setelah mendengar penyampaian Ken yang sangat cerdas, tidak salah jika Zenia sendiri yang merekomendasikannya.
***
__ADS_1
Rapat selesai sepuluh menit yang lalu, kini pekerjaan Ken sudah selesai semua, ia berencana ingin segera pulang.
Ken melangkah menuju ruangan Roni, untuk berpamitan terlebih dahulu kepada atasnya itu walau di masa lalu hubungan mereka tidak tapi sekarang keadaan sudah berbeda.
Ken mengetuk pintu ruangan Roni selanjutnya ia masuk kedalaman, kedua mata tiba-tiba menangkap sosok wanita yang tidak ingin ia temui.
"Ken apa kau sudah mau pulang, kita pulang bersama yah ...."
"Kenapa dia bisa tau, sial."
"Maaf Nona, saya tidak bisa pulang bersama Anda." sahut Ken menolak.
"Kenapa?" tanya Ruffela berdiri dari duduknya lalu mendekati Ken.
"Nona tolong berhentilah mengganggu saya, kita jalan masing-masing hidup kita Nona."
Rufella sesaat terdiam namun tidak lama kemudian, wanita itu tiba-tiba memeluk Ken dengan sangat erat.
"Apa yang kau lakukan!" bentak Ken, di dalam ruangan itu hanya ada dirinya dan juga Rufella sedangkan Roni sendiri tidak ada di sana, Ken mencoba melepaskan tangan Rufella dari tubuhnya namun dengan sekuat tenaga wanita itu memeluk tubuhnya.
"Ken aku mencintaimu, ayo kita menikah saja." ucap Rufella.
"Apa kau gila? Aku selamanya tidak akan pernah mau. menikah denganmu, jangan bermimpi! dan Lepaskan pelukanmu ini, kau wanita murahan!"
"Lepaskan atau aku menghabisimu sekarang," Ancaman itu tidak mengubah keadaan Rufella masih saja memeluk tubuhnya dengan sangat erat, Ken memejamkan mata mencoba menahan amarahnya yang sudah di ubun-ubun, jika dirinya menyakiti wanita ini bisa saja ia akan dirinya akan kena marah dari Zenia.
"Sial." kesalnya ingin rasanya pria itu mendorong Rufella.
Masih dalam posisi yang sama, Ken mulai merasa gerah.
"Sudah cukup, lepaskan." pinta Ken.
"Hum, baiklah ... Ayo kita pulang, tadi aku sudah pamit kepada Roni."
Rufella melepaskan pelukannya, ia merasa puas telah berhasil memeluk Ken begitu lama, hatinya terasa melayang, ingin dirinya mengumbar kebahagiaan yang hatinya rasakan sekarang, Rufella menatap Ken dengan raut wajah malu-malu.
"Terima kasih, Ken aku mencintaimu." kata Rufella, Ken menghela napas kasar entahlah sudah berapa kali dirinya mendengar ungkap perasaan Rufella itu.
"Terserah kau saja, aku tidak punya hak untuk melarangmu menyukaiku atau siapapun dan lain kali kau jangan berkelakuan kurang ajar seperti tadi atau aku akan benar-benar menghabisimu." ujar Ken membalikkan tubuhnya hendak keluar dari sana segera meninggalkan wanita yang anggap gila itu.
"Ken aku ikut bersamamu."
Rufella segera mengikuti keluar dari ruangan Roni namun sebelum itu dirinya terlebih dahulu mengambil tas berwarna putih miliknya.
***
__ADS_1
Di parkiran, Ken menolak untuk pulang bersama dengan Rufella sudah berapa kali Ken beralasan namun tetap saja Rufella ternyata adalah wanita kerasa kepala dan bersisikuku untuk pulang bersama dengannya.
Batas kesabaran Ken mulai menipis.
"Sudah aku katakan jangan mengikutiku, kenapa kau terus saja seperti ini!" bentak Ken.
"Apa salahnya, aku hanya ingin menumpang pulang." sahut wanita itu.
"Kau pulang saja sendiri gunakan mobilmu atau taxi aku tidak akan pernah mau berada satu mobil denganmu sampai kapanpun."
"Ken, jangan marah-marah nanti darah tinggimu naik, ayolah mengalah sama wanita, lagipula jalan yang kau tempuh searah dengan rumahku."
"Mau yah Ken." ucap Rufella dengan sedikit memaksa, wanita itu sudah membuka pintu mobil di sisi sebelah.
"Keluar!" pinta Ken mengeraskan nada suara dari sebelumnya.
Rufella menggeleng usaha satu-satunya untuk bisa bersama dengan Ken adalah dengan memaksa begini, ia tau jika pria itu tidak akan berani menyakitinya sedikitpun.
Lagi-lagi Ken, harus mengalah, ia menelan air liurnya lalu memijat pelipisnya kepalanya terasa sakit menghadapi Rufella ternyata lebih susah dari menghadapi musuh.
Pada akhirnya Ken masuk kedalaman mobilnya dan ada Rufella duduk di sampingnya, dengan raut wajah yang tidak bersahabat Ken segera menghidupkan mesin mobilnya dan mengijak gas keluar dari parkiran.
Rufella tersenyum dirinya begitu senang, andai saja Ken mau membuka hatinya untuk dirinya sedikit saja pasti wanita itu akan dengan mudah menguasai Ken.
Sepanjang perjalanan Rufella tidak berhenti mengajak Ken berbicara, wanita itu menayakan hal-hal yang sama sekali tidak penting, bahkan terkadang ngawur tidak jelas, meskipun Ken tidak menyahutinya sama sekali tapi Rufella tetap senang dan bahagia.
Perasaan jatuh cinta kepada pria hingga seperti ini baru ia rasakan untuk pertama kalinya, mantan-mantan kekasihnya yang di masa lalu hanya Rufella jadikan pelampisan saja. Tidak seperti Ken Rufella ingin membangun rumah tangga dengan pria itu dan menua bersama.
"Ken, apa kau pernah mencintai seseorang? Dan bagaimana perasaanmu saat melihatnya?" tanya Rufella. Kali ini Ken langsung menoleh.
"Hah! Jatuh cinta?"
"Iya ... aku pikir jika selama ini kau pernah jatuh cinta dalam hidupmu walau hanya sekali, siapa wanita itu?" tanya Rufella lagi, ia mendekatkan wajahnya kearah Ken sangat penasaran siapa wanita beruntung itu.
Ken langsung membungkam, ia tidak mungkin mengatakan segalanya kepada wanita gila ini, akhirnya Ken memilih kembali mengabaikan keberadaan Rufella dan fokus ke kemudi mobilnya.
.
.
.
.
.
__ADS_1