My Devil Wife'S

My Devil Wife'S
"Keluarga Zenia"


__ADS_3

Dari tadi air mata Zenia tidak bisa berhenti menetes, bahkan dalam permintaan maafnya Zenia sempat berlutut di hadapan semua keluarga besar suaminya..


Begitu besar penyesalan Zenia, ia tidak menyangka dirinya akan bisa merasa bersalah separah sekarang ini.


Louis menepuk-nepuk punggung rapuh itu tidak tega, seharusnya dari awal Ia harus berhati-hati..


Zenia adalah segalanya bagi dirinya, Louis tidak akan sanggup berpisah atau melihat Istrinya terus sedih seperti sekarang.


"Sudahlah... Honey, kami sudah memaafkan mu.. Zenia Istriku yang cantik berhentilah menangis aku tidak tidak tahan melihat mu sedih, mama dan papaku sudah melupakan semua itu, sudahlah Kumohon"


Bujuk Louis pantang menyerah, ia heran sendiri kenapa Zenia bisa menangis selama ini.


Padahal selama enam bulan pernikahan mereka Istrinya itu tidak pernah seperti sekarang, menangis dan tidak bisa di bujuk walau ia sudah mengatakan berbagai kata-kata untuk membujuknya.


Zenia terdiam lalu menghapus air mata sendiri menggunakan tangan kanan.


"Tapi.. Tetap saja aku bersalah Louis. Mama papa kau minta maaf, jika saja waktu bisa aku putar dan melawan takdir"


Lirih Zenia menatap suami dan mertuanya secara bergantian lalu menatap kosong ke arah jendela.


Lina dan Marget hanya menghembuskan nafas panjang, wanita hamil di depannya ini sangat sensitif sifat Menantunya sudah hampir persis dengan Louis saat kecil.


Sepertinya cucu pertama mereka akan lebih dominan bersifat seperti Louis cengeng dan lebay.


"Zenia.. Kami tidak mengingatnya lagi, Semuanya hanyalah masalalu.. sebaiknya kau minum susu dulu"


Ujar marget memberikan susu untuk Zenia yang baru saja ia buatkan olehnya.


Louis mengambil gelas itu memberikan kepada Zenia untuk di minum.


"Honey.. Minum susu dulu, anak kita pasti sudah lapar kau dari tadi hanya menangis terus"


"Umm.. Aku mau makanan.. Bukan susu Louis"


Tukas Zenia menolak ia sudah berhenti menangis dan baru teringat dirinya maupun Louis belum sarapan sama sekali.


"Hemmm.. Bibi tolong ambilkan sarapan untuk Istriku sekalian siapkan untuk ku juga, kami belum sempat sarapan tadi.."


Ucap Louis memerintah seenaknya saja, Lina dan Marget langsung menarik telinga Suami Zenia itu.


"Bicara yang sopan anak nakal,.. Kau kan suaminya jadi kau saja, jangan memerintah seenaknya"


Ujar Lina menjewer telinga anaknya itu.


"Iya.. Kau jangan meminta kepada ku, ambil kan sendiri untuk Istri mu"


Marget ikut menimpal ucapan Lina dan ikut menjewer telinga lainnya.


kedua wanita itu melihat Zenia memegang perut yang lapar, tentu saja Lina dan marget tidak tega lebih lagi Zenia sedang mengandung penerus keluarganya.. louis melihat raut wajah Mama dan Bibinya sersenyum misterius.


"Auh.. Mama bibi sakit.. Lepaskan. Sebaiknya kalian siapkan sarapan saja"


Ringis Louis telinganya terasa panas jika di tarik oleh kedua wanita itu.


Lina dan Marget menghela napas menahan rasa kesal dengan perkataan Louis, mereka melangkah ke dapur membuatkan Sarapan untuk menantunya yang sedang hamil.


Zenia menarik suaminya saat kedua wanita itu pergi meninggalkan Louis yang masih berdiri dengan telinga merah.


"Masih sakit.."


Tanya Zenia kedua tangan lembut itu menyentuh telinga Louis dengan sangat hati-hati.


Louis tersenyum senang lalu menggeleng..


"Sudah berhenti Honey, duduk lah"


"Huh.. Dasar pasangan di mabuk cinta"


Gerutu Alexander cemburu melihat anak dan menantunya saling perhatian satu sama lain.


Louis langsung menoleh ke arah papanya tidak suka.


"papa diam saja, dasar pengganggu tua"


Alexander menahan kemarahan memejamkan kedua mata, Anaknya ini sudah keterlaluan mengatakan bahwa dirinya Tua..? Ayolah, dia baru kepala lima masa tua sih...


"Kenapa.. Papa marah, terima kenyataannya.. Papa,jangan berlagak masih muda padahal sudah tua dan iri dengan ku"

__ADS_1


Lanjut Louis semakin parah, Alexander tidak tau lagi ia harus menghukum anaknya ini dengan apa, sekarang saja Menantunya masih berada di samping Louis.


Ia menatap tajam ke arah Louis seolah mengatakan bahwa berhenti berbicara lagi...


Louis tersenyum miring..


"siapa takut.. Papa mau marah silakan saja"


"Louis, hentikan. Ucapan mu tidak sopan, kau!! Dia papamu sopan sedikit."


Ujar Zenia menggeleng agar suaminya ini berhenti berbicara tidak sopan kepada mertuanya.


louis langsung menutup mulut menurut dengan peringatan dari Istrinya.


Lima belas kemudian..


Sarapan untuk Zenia baru jadi, Louis mengerutkan kening kenapa hanya ada satu saja.. Mana untuknya, ia menatap penuh tanda tanya kepada mama dan bibinya..


"Zenia sayang.. Makan yang banyak biar mama yang suap"


Ujar Lina mengambil sendok mengabaikan Louis.


"Iya.. Mah.. Terima kasih"


Zenia mengangguk menurut..


Louis yang kesal sendiri di abaikan oleh mama dan istrinya, zenia mudah sekali berubah sikap kepadanya tadi saja Istrinya bermanja-manja kepadanya dan sekarang malah di usir saat Mamanya ada di sana.


Ting.. Tong..


Suara bel pintu membuat semuanya spontan saling bertatapan. Beberapa saat..


Ting.. Tong..


"Kau liat siapa yang datang.."


Perintah Lina kepada Louis yang hanya nganggur.


Dengan wajah pias Louis berjalan melihat tamu yang datang kerumahnya..


Krek..


"Mana Zenia..?"


Tanya Rufella yang datang dengan semua anggota keluarganya juga..


Louis tidak menjawab, Rufella menggertakan gigi kesal.


"zenia dimana... Kau ini kenapa di tanya tidak menjawab,"


Teriak Rufella dengan jelas.


"Kau.. Kenapa datang lagi dan siapa yang kau bawa ini..?"


Ujar Louis membuka suara, rufella tampak tersenyum sinis.


"Paman.. Bibi.. Sepertinya menatumu sendiri tidak kenal dengan orang tua Istrinya"


Ujar Rufella menghadap kepada dua orang yang ada di belakangnya tadi.


Louis membulatkan mata mengubah mimik wajah menjadi orang berbeda lalu menyambut hangat kedua orangtua Zenia dengan sangat sopan.


"silakan masuk.."


Ajak Louis bersuara.


"Huh.. Pria aneh.."


Gerutu Rufella kini rasa kagumnya yang dulu sudah runtuh dan menjadi debu saat tau betul sifat Louis yang ternyata sangat menyebalkan setiap saat.


Mereka masuk ke dalam melihat Zenia sedang di manjakan oleh mertuanya..


"Zenia..."


Teriak Rufella tiba-tiba mendekat lalu memeluk sepupunnya. Ia tidak tau bahwa Zenia saat ini masih makan..


"Huhk.."

__ADS_1


Zenia yang terkejut bukan main tersedak..


Louis dan Lina dengan sigap memberikan minum untuk Zenia secara bersamaan..


"Zenia.. Minum dulu."


"Honey, minum air dulu"


Zenia bingung harus mengambil gelas siapa.. Ia tidak mau mengecewakan keduanya jika memilih salah satunya. Rufella melepas pelukan lalu menepuk belakang Leher Zenia.. Pelan-pelan lalu mengambil kan air yang ada di tangan mertua Zenia.


"Minum dulu.. Zen"


Ujar Rufella mendekatkan gelas ke mulut Zenia.


Zenia langsung meneguk air yang ada di gelas itu sekali saja sudah habis.


"Terimakasih... Ruf"


Ujar Zenia tersenyum namun cuma sesaat ketika melihat anggota keluarganya tanpa sengaja sudah berada di dalam rumahnya. Raut wajah Zenia menjadi datar dan tidak mau menyapa kedua orangtuanya lebih memilih duduk kembali di samping Mertuanya.


"Zen.. Aku membawa orang tuamu, kenapa ku tidak berlari memeluknya..?"


Tanya Rufella berbisik ikut duduk di samping Zenia.


"Percuma, mereka tidak pernah peduli dengan ku, kau suruh mereka pulang saja.. Aku tidak membutuhkan mereka hidup ku sudah lengkap cukup dengan suamiku dan keluarganya"


Jawab Zenia sengaja menatap ke arah kedua orangtuanya duduk tepat di hadapannya dengan wajah penuh penyesalan.


Rufella meringis.. Sungguh Ia tau betul bagaimana kedua orang Zenia memperlakukan sepupu nya itu dengan kejam bahkan Zenia sempat mendapat tekanan batin sejak kecil.


"Maafkan aku Zenia.."


Lirih Rufella menggenggam kedua tangan Zenia.


"kau tidak perlu meminta maaf, bukan kau yang membuat mereka seperti itu.."


Ujar Zenia tersenyum hangat kepada Rufella.


"Kau suruh mereka pulang saja.. Pasti tidak nyaman jika ada di sini"


Lanjut Zenia bersuara datar.


Rufella menggangguk paham, ia memeluk Zenia kembali lalu berpamitan pulang mengajak bibi dan pamannya pulang, ternyata Zenia masih membutuhkan waktu untuk saat ini.


Setelah kepergian Rufella dan kedua orang tuanya, Zenia terdiam tatapannya tidak pernah lepas dari pintu, Louis dan yang lainnya juga ikut terdiam beberapa saat, Ternyata hubungan Zenia dan kedua orang tuanya tidak begitu bagus selama ini.


"Honey.."


Ujar Louis mengalihkan Pandangan Zenia kearahnya..


"..."


Zenia berwajah dingin lagi.


"Mereka sudah pergi, jika ingin menangis silakan aku tidak akan menahan mu"


Ujar Louis memeluk istrinya.


Zenia hanya diam dan tidak menangis, wanita itu melepaskan pelukannya..


"Mama.. Aku masih lapar"


Pinta zenia membuka suara dan meminta Lina untuk menyuapinya.


Lina menyanggupinya lalu kembali menyuapkan makanan untuk menantunya ia tidak akan bertanya tentang hubungan Zenia dan kedua orang tuanya sekarang.. Nanti saja.


.


.


.


.


.


Tbc...!!?

__ADS_1


Maksudnya Sam muncul di Eps besok πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


__ADS_2